MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
87. Hadiah.


__ADS_3

Hanya chapter selingan nan ringan, chapter santai santai dulu sebelum karakternya pada baku hantam...wkwkwkwk.gak, lebih tepatnya, ini mengisi masa pendekatan Demian dan Jessica dulu sih. Saling mengenal lebih dalam dan saling memahami setelah sebelumnya salah paham mulu.


Sooo, meskipun fase pendekatan ini agak ringan dan gak gregetan, ini masih menjadi bagian penting buat ceritanya.


Selamat menikmati dan selamat membaca 😚


...****************...


Minat Jessica untuk meng-unboxing kado-kadonya menjadi surut ke jempol kaki ketika Demian pergi. Pikiran Jessica jadi terpaku kepada Demian, alih-alih pada setumpuk hadiah yang berada di hadapannya sekarang.


Jessica mencemaskan Demian, sebenarnya. Mengingat cerita Demian semalam, Jessica menjadi cukup prihatin pada pria itu.


Jessica tidak bisa membayangkan kalau dirinya berada di posisi Demian, dia mungkin akan berakhir menjadi iblis. Jessica mungkin akan berakhir membantai keluarganya sendiri atau lebih parah, terbantai dalam prosesnya. Jessica takjub dan salut pada Demian yang memilih pergi dari keluarganya.


Setidaknya, pikir Jessica, pria itu tidak tertular kegilaan keluarganya.


"Sekarang..., haruskah aku melakukan ini?" Jessica bergumam sambil menarik satu buah kado yang berada di tumpukan teratas. Sebuah nama yang cukup familiar tertoreh di kartu nama yang melekat di kado tersebut.


"Selamat berulang tahun, Jessy. Semoga kau selalu dilimpahkan oleh hal-hal baik. Jangan lupa beristirahat dan selalu utamakan kesehatanmu. Love, Ethan."


Senyum Jessica merekah ketika ia membaca pesan yang tersemat di sana. Sejujurnya, Jessica merasa surat-surat ucapan yang ia terima lebih berharga daripada barang yang terbungkus kertas kado indah itu.


Selesai membaca kartu ucapan Ethan, Jessica pun merobek kertas kado yang melingkupi hadiah pemberian sobat baristanya itu. Di dalamnya, terlipat rapi, sebuah sweater rajut berwarna kopi.


"Aawww, ini imut sekali..." Jessica begitu terkesima pada hadiah yang Ethan berikan. Mungkin karena sebentar lagi memasuki musim gugur, Ethan memberikan sweater yang sesuai dengan outfit autumn Jessica. Jessica sangat berbahagia.


Setelah membuka kado Ethan, Jessica lalu membuka kado-kado lain yang beberapa memiliki kartu ucapan, beberapa lagi hanya sebuah kado dan nama si pemberi tertulis di bungkusannya.


Beberapa hadiah berisi syal, bingkai foto vintage, sarung tangan, snack box, vitamin, lampu meja aesthetic dan beberapa lagi adalah barang unik yang tak terdefinisi gunanya. Well, mungkin sebagian itu adalah pajangan kamar? Siapa yang tau.


"Selamat sudah tua, aku harap kau menemukan jodohmu segera. Xo, Miura."


"Cokelat box ini kubeli di Belgium, tempat yang sangat istimewa. Orang-tuaku dan aku berlibur ke sana pekan lalu. Aku membeli ini untukku, tapi karena kau belum pernah mencicipi cokelat dari Belgium, aku memberikannya untukmu. Selamat ulang tahun. Your lawyer friend, Samuel."


"Beristirahatlah lebih banyak. Dania."


"Aku harap ini sesuai seleramu. Your dear friend, Ellie."


Satu-persatu, Jessica membaca isi kartu ucapan yang tercantum bersama hadiah yang sudah ia terima. Beberapa yang Jessica baca adalah hadiah-hadiah dari teman dekatnya, dan yah, ada Miura dan Samuel juga.


Jessica mau meneteskan mata ketika membaca pesan Samuel. Jessica tidak tau apakah pria itu ikhlas sudah memberikannya cokelat box ini atau tidak. Dia memang tukang pamer!


"Sekarang..." Jessica melirik kepada beberapa kado yang belum terbuka. Salah satunya, kado dalam goodie bag raksasa itu, Jessica percaya adalah hadiah dari Janette. Jessica menjadi penasaran, jadi ia menggapai goodie bag itu dan mengeluarkan isinya.


Saat itu juga, di dalam goodie bag yang Janette berikan, sebuah kotak kado yang besar, cukup besar dan berat, dikeluarkan Jessica dengan susah-payah. Setelah membuka pitanya, Jessica pun mengangkat tutup dari kotak kado tersebut.


Di dalamnya, sepasang sepatu berwarna merah muda tertata jelita dengan scarf satin yang membelit di talinya. Rahang Jessica jatuh terbuka, ternganga ketika ia membaca nama brand yang melekat di tas tersebut. Seriusan, Jessica percaya tas itu lebih mahal daripada omset Elixir seminggu.


"Apa dia serius?" Jessica menaruh tas itu dengan gugup. "Waaah, aku hampir jantungan..."


Daripada terkagum-kagum dan jejingkrakan riang, Jessica menerima hadiah dari Janette dengan kengerian. Jessica tidak tau harus berbuat apa pada tas itu. Maksud Jessica, untuk memakai tas mahal, dia juga harus mempunyai pakaian yang mendukung tas itu, kan?


Jessica yang lebih sering berbelanja pakaian di online shop yang menjual barang dengan brand lokal tak terkenal, barang bekas, tidak akan percaya diri memakai tas branded asli.


"Dia seharusnya memberikanku cokelat saja," ujar Jessica, ia bermonolog sambil menaruh hadiah Janette penuh kehati-hatian di meja.


Berpaling dari hadiah Janette, Jessica menggapai sebuah goodie bag yang berisi kotak kado berwarna hitam dengan pita keemasan. Jessica menatap hadiah itu cukup lama karena ia lupa siapa pengirimnya. Karena tidak adanya kartu ucapan di luar kotak tersebut, Jessica pun membuka isinya duluan. Di dalamnya, sebotol wine, setoples cokelat dan dua gelas wine terbingkai indah dan mewah.


Sebuah kartu ucapan berada di sudut kotak tersebut.


"Aku harap kau menyukai hadiahku, Jessica. By, E.B." Jessica membaca pesan itu dan keningnya seketika bertaut satu.


"Erthian Bellamy?" tanya Jessica pada dirinya sendiri. Benar juga, Jessica ingat pria itu menyerahkannya hadiah ini.


"Aaaah, luar biasa, ya. Aku tidak percaya dia memberikanku hadiah juga. Siapa yang mengundangnya?"

__ADS_1


Sambil Jessica bertanya-tanya, pintu kamarnya kemudian terbuka dari luar. Seseorang, lebih tepatnya Demian, masuk ke kamar sambil melemparkan lirikan ke arah Jessica yang sedang duduk bersila di sofa. Kertas kado menggunung di dekat kakinya, robek dan berantakan.


"Kau sudah kembali." ujar Jessica, ia terkejut kalau pertemuan Demian dan Erthian berakhir cepat. Jessica mengira Demian tidak akan kembali sampai nanti malam, atau parah, besok.


"Cepat sekali."


"Aku tidak tau dua jam terbilang cepat tapi..., aku tidak mau berlama-lamaan bicara dengannya."


"Eh, sudah dua jam lebih?" Jessica terlalu asik membuka hadiahnya sampai tidak sadar kalau sekarang sudah jam setengah sepuluh pagi. "Jadi..., hei, tumben-tumbennya kau masuk dengan normal. Biasanya kau masuk lewat balkon."


"Kenapa aku harus masuk lewat balkon kalau aku sudah memperoleh izin untuk masuk lewat pintu depan kamarmu, dengan normal?"


"Entahlah, aku terbiasa melihatmu sebagai kriminal." Senyum Jessica mekar.


Demian melenggang mendekati Jessica sambil memungut beberapa kertas kado yang tercerai-berai di lantai. Demian hendak membuang isinya ke tong sampah yang berada di dekat dapur, tapi, ketika ia membuka tong sampah tersebut menggunakan kakinya, sepasang iris kelam Demian melebar ketika ia menemukan beberapa botol bir kosong menumpuk di sana.


Ingatan Demian seketika kembali pada koin yang Jessica berikan padanya. Koin yang masih menjadi misteri di kepala Demian sampai hari ini.


'Jessica..., dia tidak kembali pada kebiasaan lamanya, kan?' Demian bertanya-tanya seraya mengintip ke arah Jessica yang kini membuka kado yang lain.


Demian mencemaskan Jessica. Demian menyadari ia sudah melukai gadis itu dengan tindakannya, dan malangnya lagi, Demian tidak tau cara menebus kesalahannya itu.


"Demian," panggil Jessica.


"Ya?"


"Kau mungkin tidak tau, tapi aku memperoleh hadiah dari Erthian."


"Hah?" Mendengar ucapan Jessica, Demian segera melesat ke sofa. Dia menatap kepada tumpukan kado Jessica yang sudah terbuka dan digeletakkan rapi di atas meja. "Apa yang dia berikan?"


Jika itu Erthian, Demian tidak percaya kalau saudaranya itu akan memberikan hal yang normal pada Jessica.


"Dia memberikanku wine," ujar Jessica. "Itu, yang di dalam box hitam."


"Aku tau apa yang kau pikirkan, tapi kurasa dia tidak bermaksud apa pun." Jessica menyela tanya-tanya yang mencuat di kepala Demian saat itu juga. "Ini hadiah yang cukup normal, sebenarnya."


Masalahnya, Erthian itu tidak normal. Demian tidak bisa tidak waspada pada saudara iblisnya itu.


"Aku akan membuangnya," ujar Demian kemudian. "Kau tidak boleh menyentuh apa pun pemberian Erthian. Percaya padaku sebelum kau menyesali apa pun."


"Well..." Jessica menatap Demian dan mengendikkan bahu sebagai tanggapan. "Lakukan sesukamu, dia saudaramu."


Jessica juga tidak begitu peduli pada wine pemberian Erthian. Jika ada hal yang Jessica sukai dari kado-kadonya maka...,


"Waaaah..." cengiran jessica merekah. "Kapan dia mengirimkannya? Kapan?"


"Kapan apa?" tanya Demian, heran.


"Ini..., lihat!" Jessica menunjukkan sebuah kotak perfume berwarna merah muda yang sekarang berada di genggamannya. "Ini hadiah dari Oscar Brown. Keren, kan? Astaga..., padahal aku tidak ingat sudah mengundangnya. Maksudku..., aku tidak mempunyai kontaknya atau apa pun..., tapi dia memberikan ini. Huhuhu, aku sangat terharu."


"Luar biasa, ya. Bagaimana bisa kau menjadi antusias terhadap hadiah pemberian dari pria lain?"


Jessica mengangkat alisnya sebelah. "Apa masalahnya? Oscar sudah seperti super hero bagiku. Dia juga temanku sekarang. Tentu saja aku senang sudah menerima hadiah darinya."


"Kau bicara seperti kalian pernah bertemu saja."


"Kami memang sering bertemu," sahut Jessica. Tanggapannya membuat mata Demian nyaris melompat keluar dari soketnya.


"APA?" Sejak kapan?


"Kau mungkin tidak tau, tapi Oscar adalah reguler di Elixir." Jessica memberikan penjelasan sambil menaruh hadiah Oscar ke atas meja, berdekatan dengan hadiah Janette.


"Aku sangat senang sudah bisa mengenalnya. Dia adalah pria yang sangat bijaksana. Wajahnya tampan juga."


"Bilang saja kau mau memuji wajah tampannya," ujar Demian, sedikit masam. Bagaimana bisa Jessica memuji Oscar tampan? Pria ular itu sangat buruk rupa di mata Demian, kepribadiannya bersaing buruk dengan Erthian!

__ADS_1


"Dia memang tampan," balas Jessica, sengaja memanas-panasi Demian. Ia lalu mengambil satu kado lagi dan terkesiap saat membaca kartu ucapannya. "Aaaww, ini dari Jake."


"Haaah, apa yang dia berikan?" Demian maju duluan.


Awas saja hadiah Jake lebih bagus daripada hadiahnya, Demian akan melempar hadiah pria itu keluar balkon.


"Sabar..." tukas Jessica. Ia menjadi agak sewot ketika Demian duduk di sebelahnya dan ikut memegang hadiah pemberian Jake. "Kenapa kau sangat penasaran?"


Setelah berebut hadiah Jake dengan Demian, Jessica akhirnya berhasil membuka hadiah Jake. Hadiah yang pria itu berikan seketika membuat Jessica tercengang, Demian di sebelah Jessica turut terpana.


"Apa dia gila?" Demian bergumam, menyuarakan tanya. "Apa dia gila?" ulangnya lagi.


"Diamlah sebentar," ujar Jessica, walau dia setuju pada Demian. Apa Jake gila?


Mengapa Jake memberikannya sebuah kalung dengan bandul berlian? Dia bukan wanita dari film Titanic, demi Tuhan!


"Haaa, aku sekarang mengerti mengapa Angela meninggalkannya. Dia pasti pria yang suka pamer harta."


"Kenapa kau sinis sekali? Setidaknya Jake memberikanku hadiah, kau sama sekali tidak memberikanku apa pun, oh, kau juga sudah mengacaukan pestaku semalam." Jessica memprotes ucapan Demian dengan ekspresi tak senang.


"Aku memberikanmu sesuatu!"


"Apa?"


Demian--beranjak dari sofa--dan menarik kadonya dari tumpukan. Satu-satunya kado yang penyok dan kumal. Bungkusannya pun tidak begitu rapi.


"Ini..." Demian mengangkat kadonya ke hadapan Jessica dan ketika ia melihat kondisi kadonya kembali, Demian menjadi tidak percaya diri. "Jangan melihat dari kemasannya." tukas Demian segera.


"Ini..., kadomu?" Jessica agak takjub.


"Apa kau pikir aku akan datang ke acaramu tanpa hadiah apa pun."


"Well, kau tidak seperti pria yang akan memberikan hadiah pada siapa pun."


"Memang tidak," tanggap Demian. Ia kembali melabuhkan bokongnya di sofa, dekat pada Jessica. Sepasang iris kelam Demian menyorot ke arah Jessica yang sekarang membolak-balikkan kotak kadonya dengan penasaran. "Aku hanya memberikan hadiah padamu."


"Haruskah aku memujimu romantis?" Jessica bertanya sambil membalas tatapan Demian, senyum jenaka terpatri di wajahnya.


"Tidak perlu mengatakan apa yang sudah kau pikirkan."


"Eeeeww, kuharap ini bukan sesuatu yang mesum."


Demian mencebik. "Kau benar-benar meremehkanku, ya? Apa aku semesum itu di otakmu?"


"Tidak hanya di otakku," kata Jessica, sambil merobek kado Demian. "Kau juga mesum di realita."


Setelah berhasil merobek kertas kado Demian, Jessica pun menemukan sebuah kotak perhiasan berwarna hijau di balik bungkus kado barusan. "Apa kau memberikanku perhiasan, Demy...."


Jessica menatap Demian dengan seulas cengiran bermain di paras jelitanya, mengejek Demian yang sekarang merona.


"Buka saja," tukasnya.


Menuruti ucapan Demian, Jessica pun membuka kado itu dan menemukan sebuah gelang melingkar di dalamnya. Gelang yang didesain elegan dengan permata emerald menjadi hiasannya.


"Itu..., aku melihatnya beberapa minggu lalu dan kepikiran kalau itu sangat pas untukmu." Demian berucap kikuk. Ia merasa agak malu ketika hadiahnya terekspos di depan mata Jessica. Demian tidak tau apa yang Jessica pikirkan terhadap hadiah pemberiannya, Demian hanya berharap Jessica tidak menertawainya.


"Itu tidak semewah pemberian Jake tapi...,"


"Aku menyukainya." potong Jessica, Demian spontan menoleh ke arahnya. "Aku sangat menyukainya. Terima kasih."


...****************...


Ps. Hadiah Demian.


__ADS_1


__ADS_2