
"Kemana kau akan membawaku, Demian?"
Tanya akhirnya keluar dari bibir Jessica setelah ia memasrahkan dirinya diseret oleh Demian yang marah. Tangan pria itu masih mencengkeram erat pergelangan tangannya, tidak mau melepaskannya. Kendati mereka telah melenggang jauh dari keramaian dan dari Jake, Demian tidak menunjukkan kalau dia akan berhenti melangkah.
"Demian!!!"
"Diam dan ikut saja!" sahut Demian.
Tekanan masih kentara di suara Demian, tapi Jessica sudah merasa cukup. Jessica tidak mau diseret-seret lagi. Jessica membiarkan dirinya dalam situasi ini karena ia tidak ingin Jake terkena pukulan Demian, tapi sekarang Jake sudah tidak ada. Jessica sudah tidak ada niat untuk membiarkan dirinya diperlakukan seperti barang yang bisa pria itu perlakukan sesuka hati.
"Lepaskan aku sekarang!" ucap Jessica, kali ini sambil menahan langkahnya. "Demian!!!"
"Aku tidak akan melepaskanmu. Aku bilang kita akan bicara, dan kita akan bicara. Jangan memancing amarahku lebih dari ini, Jessica!"
"Amarahmu, huh? Kau pikir aku peduli pada amarahmu?"
"Jessica!!!" Demian mau tidak mau berhenti melangkah. Ia berdiri tepat di depan Jessica, mata bertemu mata. Suaranya tertahan penuh kekesalan. Penuh kemurkaan. "Ikut aku sekarang!" tekannya.
"Aku tidak mau, Demian. Berapa kali aku harus mengatakannya? Aku bilang aku tidak mau! Cukup! Berhenti melakukan ini padaku!"
"Jessica!!!"
"Berhenti menyebut namaku dengan nada mengancam itu!" Jessica memukul pundak Demian dengan tangannya yang bebas. Ia mendorong Demian dengan kekuatan yang cukup membuat Demian termundur dua langkah. "Aku bilang aku tidak mau! Apa kau akan memukulku juga?"
Demian ternganga.
Demi Tuhan, bila bukan karena ia takut orang-orang Erthian akan mengintai interaksinya dengan Jessica, Demian tidak akan perlu menyeret gadis itu jauh-jauh menghindari keramaian. Dia akan dengan senang hati meneriaki gadis itu menyangkut isi kepalanya yang siap meledak. Dia tidak akan menahan emosinya sejauh ini hanya untuk bicara.
"Jangan bicara omong kosong, Jess. Apa kau pikir aku mampu memukulmu? Apa kau gila?"
"Tidak ada yang mustahil di mataku sekarang, Demian. Kau sangat gampang memukul Jake, kau juga akan melakukan hal yang sama denganku." Jessica menyentak tangannya dari pergelangan tangan Demian dan untung baginya, cengkeraman Demian terlepas begitu saja.
"Jessica? Jake pantas menerima pukulan barusan!"
"Kenapa? Karena dia membuatmu marah? Aku juga membuatmu marah, pukul aku sekalian, sialan!"
"Apa kau pikir aku, Jesse?"
"Kau adalah pria psikopat gila, bajingan keparat, yang sudah muncul di hidupku! Aku tidak mau mempunyai urusan apa pun denganmu lagi, Demian Bellamy! Aku SUDAH, SUDAH mengatakan ini sebelumnya, bagian mana dari ucapanku yang tidak kau mengerti, hah?!"
"Haa..., karena sekarang kau punya Jake kau pikir kau bisa menyingkirkanku begitu saja? Kau pikir aku akan membiarkanmu dengan si keparat itu?"
"Biarkan, Demian, Biarkan! Apa masalahnya denganmu?! KAU. TIDAK. PUNYA. HAK. APA PUN!"
Jessica lepas kendali di sana, tidak peduli beberapa pasang mata menatap mereka, ia meneriaki Demian dengan murka. Biarkan saja dia menjadi tontonan hari ini. Keparat, Jessica sudah tidak mau menjadi mainan Demian lagi! Dia tidak akan mengalah.
"..."
"Aku tidak mau apa pun darimu, Demian. Sudah cukup. Cukup! Aku sudah menjadi mainanmu, kau sudah mendapatkanku, tantangan apa pun yang ada di kepalamu itu sudah terpenuhi jadi stop! STOP ikut campur dengan urusanku lagi--"
"Tantangan? Apa kau pikir alasanku mendekatimu serendah itu, Jessica? Aku peduli padamu selama ini, aku mendekatimu dan memperlakukanmu dengan tulus! Apa kau memandangku serendah itu sampai kau tidak melihat ketulusanku sama sekali?"
"Siapa memandang rendah siapa? Ketulusan yang kau maksudkan adalah apa, Demian? Segala hal yang terjadi di antara kita bermula dari paksaan. Kau hanya peduli pada dirimu sendiri. Jangan berikan aku omong kosong pedulimu itu! Kau, DEMIAN..., adalah orang terakhir yang peduli padaku di dunia ini."
"Jessica..." Demian mengambil satu langkah maju, "Kalau aku tidak peduli padamu, aku tidak akan.." Tidak akan menyembunyikan keberadaanmu dari Erthian. Tidak menutupi perasaanku sendiri dan bersembunyi. Aku tidak akan peduli bila keberadaanmu terekspos pada bahaya yang lebih besar.
"Kau tidak akan apa, Demian?" Jessica menantang. "Apa yang sudah kau lakukan padaku, murni untuk kebaikanku? Segala hal yang sudah kau lakukan selama ini..., semuanya hanya untuk dirimu sendiri! Demi kebaikanmu dan apa pun itu yang sesuai keinginanmu!"
__ADS_1
"Jessica..."
"Sudah kukatakan, berhenti men-'Jessica-Jessica'-ku, Demian."
Demian membuang napas keras.
"Apa yang harus aku katakan agar kau mau mendengarkanku? Aku sama sekali tidak mengerti? Aku memberikanmu waktu luang untuk menjadi lebih tenang, aku membiarkanmu memecat Angela..., aku bahkan tidak datang ke cafe karena kau memerintah teman-temanmu untuk mengusirku..., aku sudah menuruti segala kemauanmu."
"Apa?" Informasi itu baru. Jessica tidak tau sama sekali tentang keterlibatan teman-temannya yang Demian maksudkan.
"Jadi kau pun tidak tau, huh? Teman-temanmu berkomplot dan mengusirku dari cafe. Aku sudah mengunjungimu beberapa kali untuk bicara, Jessica. Aku sudah berusaha..., aku bahkan mengunjungi kamarmu, but hey..., bravo, kau juga mengganti kunci kamarmu. Menambah pengamanan juga di sana. Nice job."
"Dan?" Jessica menatap Demian seolah-olah pengakuan pria itu tak berarti apa-apa.
"Jessica, aku berusaha keras untuk berbaikan denganmu. Tapi kau yang terus-terusan menolakku, kalian bahkan berbahagia di cafe, mengatakan ketidak-hadiranku menentramkan, kau juga pergi berkencan beberapa kali. Kau pikir aku tidak tau? Kau pikir aku tidak tau apa yang kau dan teman-temanmu katakan di belakangku?"
"..."
"Daripada menyalahkanku dan menudingku egois, mengaku saja, Jessica. Kau sendiri lah yang jengah dengan hubungan ini, kan? Berhenti membuat seperti aku yang menanggung semua kesalahan! Mengapa? Apa kau sudah puas bereksperimen denganku sekarang kau mau mencoba Jake juga, mau membandingkan pria mana lebih baik untukmu, huh?"
"Demian--"
"Dengarkan aku, aku belum selesai, Jessica! Kau sangat penasaran pada relasi kami bertiga sebelumnya, bukan? Aku dan Jake dan Angela, kau mungkin penasaran bagaimana rasanya berada di antara kami jadi kau melakukan ini..., kau mendapatkan Jake, mempermainkanku dan kau bahkan menghancurkan Angela.--
Aku tidak tau aku melakukan salah apa sampai kau melakukan ini padaku! Kau terus mendorongku keluar dari hidupmu. Tapi tidak..., kau tidak akan bisa melakukan itu, tidak padaku. Kau tidak bisa memanfaatkanku demi kesenanganmu dan mencampakkanku begitu saja!"
"Ada lagi?"
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu bersama Jake."
"Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan , Demian?"
"..."
"Sekarang, simak setiap ucapanmu barusan dan katakan padaku, apa itu murni isi kepalamu? Apa itu yang kau pikirkan tentangku?" Suara Jessica yang berubah menjadi lebih tenang tidak menunjukkan kalau atmosfir di sana berubah menjadi lebih baik. Sebaliknya, sepasang emerald yang berkilat marah itu seperti api abadi yang akan membakarmu sampai mati.
"Demian!" tekan Jessica kembali. "Aku memberimu kesempatan..., apa kau sangat sadar dengan ucapanmu barusan?"
"..." Diam, Demian hanya bisa diam.
Demian tau dia sudah keterlaluan. Demian tau ia sudah mengatakan apa pun hanya untuk memenangkan perdebatan. Ia hanya ingin Jessica mendengarkannya, patuh padanya. Ia tidak menduga ia akan mengatakan hal-hal yang berakhir sebagai bumerang untuknya.
Sempurna, Demian, sempurna!
"Bagus..., karena kau diam, aku akan menganggapnya sebagai kebenaran." Jessica memutuskan.
"Jess--"
"Shuush, Demian, shuussh. Karena kau sudah bicara, biarkan aku mengatakan beberapa patah kata juga."
Senyum yang terlukis di paras Jessica saat itu seperti teror di mata. Demian merasa ia lebih baik mati daripada ditatap penuh kebencian oleh Jessica. Gadis itu--tanpa meninggikan suaranya--menepuk pundak Demian dan memberikan pria itu sebuah kejujuran yang menikam.
"Demian Bellamy..., kau mau tau apa hal yang paling kusesali saat ini, di antara banyaknya kesalahan yang telah kubuat di seumur hidupku," Jessica menatap sepasang manik kelam Demian dengan iris emeraldnya yang tenang. "Aku sangat menyesal sudah mencintaimu."
"..."
"Kau mau tau jawaban mengapa aku selalu mendorongmu menjauh dariku, Demian? Sekarang aku memberikanmu jawaban yang sejujur-jujurnya agar kau tidak perlu repot membangun segala kesimpulan dan cerita spektakuler seperti barusan di benakmu. Aku hanya mencintaimu.., dan seperti yang kukatakan, itu adalah kesalahanku."
__ADS_1
"Jessica..." Intonasi Demian merendah lemah.
"Dengar, aku belum selesai..." Jessica membalikkan ucapan Demian padanya. "Kau, Demian, adalah pria dengan seorang kekasih dan aku--meskipun aku menyukaimu--masih sangat menjunjung tinggi harga diriku. Kau tidak bisa berharap aku akan tinggal di kamarku dan membiarkanmu memiliki akses ke tubuhku sesuka hatimu."
"..."
"Aku tidak akan membiarkanmu merendahkanku seperti itu, Demian. Aku tidak akan membiarkan diriku diperlakukan serendah itu." Mata Jessica perlahan tergenang oleh air mata, emeraldnya basah.
"Aku dan Angela tidak mempunyai hubungan seperti yang kau pikirkan, Jessica. Aku bahkan tidak menyentuhnya."
"Dan..., seperti apa yang sebenarnya?" Jessica siap mendengarkan saat itu juga.
Tapi...
"..."
Bagaimana Demian mengatakannya? Demian tidak mau mengekspos permasalahan keluarganya pada Jessica, ia tidak mau gadis itu takut padanya, jijik padanya. Latar belakang keluarganya sudah terlampau hitam dan kusam.
"Aku menunggu Demian, apa, seperti apa?"
Demian menghela napasnya. "Jess, aku hanya ingin kau menungguku. Aku tidak mau kau bersama dengan siapa pun selain aku."
"Oh,oh..., jadi kau tidak bisa memberikan penjelasan apa-apa, kan? Biar kucoba simpulkan. Apa kau berpacaran dengan Angela tapi kau hanya berhubungan badan denganku, begitu, maksudmu?"
"Jesse..."
"Masuk akal, dia pasti belum bisa move on dari Jake. Membiarkan pria lain menyentuhnya, aku mengerti betapa risihnya itu." Jessica mengambil selangkah mundur ketika Demian hendak menyentuh lengannya.
"Apa pun itu...," tukas Jessica. "Aku sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan, Demian. Aku serius ketika aku mengatakan aku menyesal sudah mencintaimu. Terima kasih atas pembicaraan hari ini, aku menjadi mengerti betapa rendahnya keberadaanku di matamu."
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Jessica. Jessica..."
"Kau mengatakannya dengan sangat lancar, Demian. Akui omonganmu tadi dengan percaya diri. Apa yang sudah kau katakan adalah apa yang sudah kau pikirkan. Aku memberikanmu kesempatan, tapi kau tidak mengatakan apa pun..., kau sangat yakin alasanku mendekatimu adalah untuk bereksperimen dengan kalian bertiga..."
"..."
"Tapi mau tau apa yang kau lewatkan, Demian?" Jessica tersenyum masam. "Kau yang sudah masuk ke kamarku secara paksa malam itu. Kau yang sudah memutuskan masuk ke dalam hidupku! Aku tidak melakukan apa pun untuk mendekatimu!"
"Kau benar, oke, kau benar..., aku sudah mengatakan kesalahan, Jesse...," Demian melunak sepenuhnya di sana. Ia tidak tau cara menghentikan air mata itu mengalir dari mata Jessica. Ia tidak tau cara memperbaiki hati yang sudah ia remukkan karena ulahnya.
"Jangan menyentuhku!" Jessica menepis tangan Demian yang kembali menyentuh pundaknya. "Aku sangat sadar dengan ucapanku sekarang, Demian, dan biar kau paham, akan kukatakan ulang. Aku. Membenci. Mu!"
"Jesse, kau marah..., aku paham kau marah, kau sangat berhak marah. Lakukan apa yang kau inginkan padaku. Kau boleh memukulku atau apa pun, tapi jangan menghindariku Jessica."
"Kenapa? Apa kau sudah menahan dirimu terlalu lama, gairahmu hampir meledak kalau kau tidak berhubungan badan denganku? Apa wanita tidak ada di Vegas, Demian?"
"..."
"Kau mau tau sesuatu...," Jessica mengeluarkan dompet dari tas tangannya. Saat itu juga, ia mengeluarkan beberapa lembar dollar dari sana. "Ada banyak wanita malam di Vegas, Demian! Beli satu untukmu dan menjauh dariku!"
Menutup ucapannya, Jessica melemparkan berlembar-lembar dollar itu ke wajah Demian yang sekarang hanya bisa menelan kepahitan. Bahkan ketika Jessica melenggang meninggalkannya, Demian tidak mampu mengejarnya. Tidak mampu membuka langkah untuk mencegahnya.
Jessica mencintainya, fakta itu seharusnya membuat ia berbunga-bunga. Namun, terima kasih atas kebrutalan ucapannya, terima kasih atas ketidak-pekaan dan kasar sikapnya, ia telah berhasil meremukkan hati yang mencintainya.
Hati yang ia dambakan, ia remukkan.
...****************...
__ADS_1