
Demian keluar dari sebuah mini market. Dua kaleng kopi dingin, sebungkus keripik kentang, dan dua kotak kond*m terbungkus dalam kresek transparan.
Satu kaleng dari kopi itu Demian serahkan kepada Adam yang menunggunya di pinggir jalan. Adam menerima kopi dari Demian sambil memperhatikan isi belanjaan rekannya tersebut.
"Seseorang sedang dalam masa primanya," Adam membuat komentar mengejek.
"Seseorang yang normal dan tampan," tanggap Demian, ucapannya membuat Adam mencebik tak senang.
Tidak ada yang salah dari jawaban Demian. Akan tetapi, mendengar nada suaranya yang penuh arogansi selalu sukses membuat Adam keki. Adam lalu menyesap kopi di tangannya sampai habis sebelum meraih lengan salah seorang pemuda yang melenggang kalem di trotoar jalan.
"Berhenti, berhenti..." Adam menahan si pemuda ber-backpack hitam itu. Ia menarik backpack-nya sampai pemuda itu termundur dua langkah.
"A-ada apa?" Si pemuda tanpa nama meneguk ludah. Terima kasih kepada penampilan Adam yang seperti gangster, pemuda yang kemungkinan berusia di awal 20-an itu dilingkupi oleh rasa takut.
"Buang ini," ujar Adam. Dia menyerahkan kaleng kopinya pada pemuda barusan. "Dan jangan buat aku melihatmu lagi, kau memuakkan!"
"E-eh?" Tanpa tau salahnya apa, pemuda itu berujung di pinggir jalan dengan menangkup dua kaleng kopi kosong. Adam yang sudah puas melampiaskan kejengkelannya, pergi bersama Demian setelah Demian juga menyerahkan kaleng kopi kosongnya kepada korban Adam barusan.
Hari ini, seperti yang sudah Oscar perintahkan, Adam dan Demian pergi untuk melakukan transaksi di kapal yang akan berlayar besok pagi. Transaksi itu akan terjadi tepat pukul 1 dini hari. Karena sekarang sudah pukul sebelas malam, Adam dan Demian pun meluncur ke lokasi perjanjian mereka, lebih awal dari rencana.
Jujur saja, menjalankan perintah Oscar cukup menjengkelkan bagi Demian. Terlebih ketika perintah itu berarti ia harus berurusan dengan sekelompok mafia yang menguasai Vegas dengan tangan hitam mereka. Demian, tanpa alasan yang signifikan, hanya benci berinteraksi dengan mereka.
Karena mereka arogan, selalu senang memancing emosinya, beberapa bahkan berani menggodanya. Setiap kali situasi seperti itu terjadi, pertikaian tidak akan bisa dihindari. Mereka akan saling pukul sampai salah satunya tumbang. Untungnya, selama tidak ada yang mati, mereka tidak akan membatalkan transaksi.
Tapi..., pada akhirnya, itu melelahkan.
"Aku sudah mengatakan berkali-kali...," Demian menendang pria yang beberapa menit sebelum ini, meludah di dekat sepatunya. "Aku! Benci! Barang! Barangku! kotor!"
Setiap suku kata yang keluar dari mulut Demian, menyesuaikan jumlah tendangan yang ia layangkan ke perut si bajingan tua yang sekarang berbaring telentang kehilangan kekuatan.
Tidak seperti pria yang berada di bawah kakinya sekarang, yang babak belur dan berdarah dari mulut dan hidung, Demian hanya memperoleh memar di sudut bibir. Sementara Demian berkelahi, Adam melakukan transaksi seolah-olah tidak ada yang terjadi.
"Aku harap kalian belajar untuk berhenti memancing emosinya," Adam berujar pada kepala dari anggota yang memimpin transaksi tersebut. "Dia itu brutal dan haus darah."
"Aku tidak bertanggung jawab pada ulah anggotaku." ucap pria yang berdiri di depan Adam. "Lagipula, bukankah itu pemandangan yang mengagumkan? Apa kau yakin bosmu tidak mau menjualnya pada kami?"
"Nyaringkan sedikit suaramu, kau akan mendapatkan jatah berikutnya." Adam mendengus jengah.
"Kau sepertinya salah paham. Aku tidak bermaksud menginginkannya dalam artian yang menyimpang. Hanya saja, kemampuan bela dirinya cukup kompeten. Dia akan menjadi aset yang bernilai tinggi bila dia bekerja bersama kami."
"Bukan bermaksud meremehkan organisasi kalian," kata Adam kemudian. Ia bicara sambil memperhatikan Demian yang sekarang merapikan kemeja flanelnya.
"Tapi pria itu sudah mempunyai organisasinya sendiri." Dan Adam yakin, hanya dalam satu jentikan jari dari pihak Bellamy, kapal para bajijgan ini akan karam sebelum matahari terbit pagi nanti.
Demian Bellamy adalah keberadaan yang lebih mahal dari permata. Jika para anggota mafia yang kerap mengganggu Demian tau siapa dia, mereka semua akan menjilat sepatunya. Mereka semua akan meringkuk di kakinya.
*
Harapan Demian pagi ini, ketika ia mampir ke Elixir, adalah bertemu dengan Jessica dan memperhatikannya sarapan. Malangnya, harapan itu berujung hampa.
Jessica yang ia harapkan berada di depan meja konter, tidak muncul sama sekali. Hanya ada Dania di sana, duduk bersilang kaki. Ethan berada di posnya, mengaduk kopi sambil sesekali bercerita dengan Dania.
__ADS_1
Sampai akhirnya sepasang iris obsidian Ethan menangkap keberadaan Demian, ia melayangkan sebuah senyuman. "Selamat pagi," sapa Ethan.
"Pagi..." Demian menanggapi bosan.
"Oh, oh, oh..., kupikir siapa yang datang, ternyata Demian." Dania turut membuka suara ketika ia menoleh ke arah Demian.
"Hanya berdua?" pertanyaan Demian mengalir dengan blak-blakan. "Di mana bos kalian?"
"Bosku, Jessica...? Sebentar, sebentar..., karena kau mengungkit Jessica duluan, aku jadi teringat sesuatu." Dania--daripada menjawab pertanyaan utama Demian, malah membicarakan sesuatu yang lain.
Demian merengut tak senang.
"Demian," lanjut Dania lagi, "Apa kau dan Angela berpacaran?"
Apa kaitan topik ini dengan topik sebelumnya, Demian sama sekali tidak paham. "Aku tidak merasa itu posisimu untuk tau, Dania." Kau bukan siapa-siapa, tambah Demian di benaknya.
"Eh, apa kedengarannya agak lancang?"
Demian tidak memberikan jawaban. Dania pasti bisa menggunakan otaknya untuk mengerti bahwa ranah pertanyaannya barusan sudah kelewatan.
"Maafkan aku," kata Dania kemudian. Namun tidak ada ketulusan. "Aku menanyakan ini bukan karena aku penasaran pada hubungan kalian. Aku bertanya karena aku mempertanyakan perilaku Angela."
Alis Demian tanpa sadar terangkat sebelah.
"Maksudku, kalau kalian bersama, dia tidak seharusnya mempertanyakan kedekatan bosku dengan Jake, kan? Toh, mereka sudah putus." Ucapan Dania keluar dan ditutup dengan seringai.
Dania masih belum bisa memaafkan Angela yang sudah berani menghina Jessica dengan pertanyaan biadabnya. Jessica mungkin adalah teman yang pemaaf, dia hanya marah satu menit dan melupakan amarahnya di menit kemudian.
"Jadi karena itu kau menginterogasiku sekarang." Demian kembali teringat ucapan Jessica malam itu. Angela pasti sudah mengatakan sesuatu.
Angela, oh, Angela!
"Daripada menginterogasi, aku hanya menyuarakan kebingunganku."
Demian menghela napas panjang. "Aku dan Ange tidak berpacaran," tukas Demian. "Kurasa itu membuatnya berhak untuk mempertanyakan kedekatan Jessica dan Jake, bukan?"
"Jadi, apa kau juga setuju dengan pertanyaan yang dilontarkan Angela kepada bosku?"
"Aku tidak tau apa saja yang mereka bicarakan, tapi kurasa Angela tidak akan mengatakan sesuatu yang perlu membuatku mempertanyakan ucapannya." Angela adalah pribadi yang baik. Dia hanya patah hati, dia tidak akan berubah menjadi iblis hanya karena dia berpisah dengan Jake.
"Romantisnya," Dania mendengus remeh. "Kalian seharusnya berpacaran."
Demian kembali bungkam. Ia tidak memberikan jawaban.
"Kalau kau merasa Angela adalah sosok yang tidak perlu kau pertanyakan ucapannya, kau sebaiknya menghentikan basa-basimu mempertanyakan bos kami."
"..."
"Walau aku tau kau bermaksud ramah, aku tidak mau Angela mendengarmu menyebutkan nama bosku dan salah paham."
"Aku hanya bertanya keberadaan Jessica, tidak ada yang perlu disalah-artikan di sana. Angela bukan gadis tolol."
__ADS_1
"Dia tidak tolol, tapi dia jelas punya masalah mental!"
"Dania!" Ethan seketika menyela.
"Aku hanya mengatakan pendapatku," tukas Dania kemudian. Dia menatap Demian penuh ketidak-senangan. "Kalau kau tersinggung, aku tidak menyesal sama sekali. Aku juga tidak keberatan kalau kau tidak kembali ke sini. Kalau bisa, kau sebaiknya membawa Angela pergi dan mencari pekerjaan di tempat lain!"
Puas memuntahkan kekesalannya pada Demian, Dania kemudian turun dari bangku yang ia duduki. Tanpa menoleh ke arah Demian lagi, Dania pun berlalu menuju pintu. Ia menyapa tamu-tamu yang masuk.
"Apa yang salah dengannya?" Demian menoleh ke arah Ethan, penuh kebingungan.
"Itu hanya kebiasaan Dania," ujar Ethan. "Dia cukup protektif terhadap Jessica, dan dia juga pendendam, kurasa? Dia tidak akan puas kalau dia tidak memuntahkan amarahnya."
"..."
"Karena Jessica melarang Dania memarahi Angela, alhasil kau yang menjadi sasaran amarahnya."
"Aku tidak tau, apa masalahnya seserius itu?" Demian terheran-heran. Sekarang masih pagi, dan dia sudah disembur amukan dari gadis yang jarang ia ajak bicara.
"Aku tidak di posisi untuk mengatakan apa masalahnya serius atau tidak. Hanya saja, ucapan Angela hari itu sudah membuat Dania marah besar."
"Apa Angela mengatakan sesuatu yang keterlaluan?"
Ethan tersenyum segan. Ia enggan untuk menyampaikan cerita yang seharusnya tidak menyebar kemana-mana. Namun, dari cara Demian menatapnya, pria itu menginginkan penjelasan yang lebih dari sekedar keambiguan.
"Angela menuding Jessica mendekati Jake untuk memanfaatkannya," kata Ethan akhirnya. "Mungkin karena Jake adalah pria dari kalangan keluarga yang berada, jadi Angela menarik kesimpulan seperti itu."
"..."
"Kau mungkin mempunyai pemikiran yang sejalan dengan Angela, tapi jujur saja, sebagai sahabat Jessica sejak lama, aku tau benar dia bukan gadis yang seperti itu." Ethan menopang kedua tangannya di atas meja, mata menatap Demian dengan keseriusan.
"Karena kami mengenal Jessica sangat baik, ucapan Angela saat itu sudah seperti hinaan untuk bos yang sangat kami hormati."
Demian mengulum bibirnya keki, apa yang harus ia katakan di situasi ini. Apa yang harus ia katakan pada teman-teman Jessica untuk menjelaskan kecemburuan buta Angela?
Angela..., ucapannya sudah melukai tidak hanya Jessica, tetapi juga sahabat dari gadis itu. Dia seharusnya berpikir jauh.
"Omong-omong, Demian..." Ethan menyerahkan secangkir kopi kepada Demian, ia menyunggingkan seulas senyum tipis sebagai kesopanan. "Aku juga menaruh opini yang sama dengan Dania."
"Ya?"
"Walau cara penyampaian kami berbeda, kurasa..., apa yang Dania ucapkan ada benarnya."
"???"
"Situasi di sini akan lebih baik bila kau dan Angela tidak ada."
Ethan tau ucapannya tidak sedap untuk didengar telinga, terutama bila Demian adalah tamu regulernya. Akan tetapi, di satu sisi lain, Ethan merasa ia sudah menyuarakan kebenaran.
"Aku tidak membencimu, tentunya. Aku hanya tidak mau Jessica mendengarkan hal-hal buruk. Dia sudah cukup banyak menjalani hal-hal yang tidak menyenangkan, aku tidak mau dia terlibat dalam masalah romansa kalian."
Jessica sudah banyak menderita, pikir Ethan saat itu juga. Ethan tidak mau Jessica mengulangi fase yang sama ketika ia memutuskan lari dari realita. Ketika Jessica memutuskan alkohol sebagai rute pelariannya.
__ADS_1
*