
"Aku sudah dimanipulasi," ujar Jessica.
Ia mengerang putus asa di depan Ethan yang mengadukkan secangkir kopi hitam untuknya. Jessica--kendati sudah membuat perjanjian pada Demian, terbangun dari tidurnya dengan penuh penyesalan.
Oh, ya ampun!
Bagaimana bisa dia mengizinkan Demian untuk keluar masuk kamarnya? Bahkan bila pria itu mengancam akan melakukan sesuatu yang miring terhadapnya, Jessica masih bisa melaporkan pria itu ke polisi, kan? Dia tidak perlu menjadi gadis tolol yang merasa hanya ada dua pilihan di dunia ini?
"Aku pasti sangat mengantuk sampai aku tidak sadar apa yang terjadi," Jessica membela dirinya sendiri. Dirinya yang semalam sudah bertingkah seperti cewek tolol.
"Aku tidak tau apa yang terjadi," Ethan menyambung. "Apa kau mengalami mimpi buruk?"
"Ini lebih buruk dari mimpi buruk," rengek Jessica. Ia meraih tangan Ethan yang baru saja meletakkan secangkir kopi di hadapannya. "Ethan, aku butuh jimat untuk membuang kesialan."
"Haaaaaaa?"
"Aku serius. Aku bisa gila kalau--" tidak. Jessica tidak bisa mengungkap cerita menyangkut Demian yang menyusup ke kamarnya.
Kenapa tidak bisa? Benar, Jessica juga menanyakan hal yang sama.
Mengapa lidahnya selalu kelu setiap kali ia ingin berbagi cerita menyangkut masalah personalnya pada orang lain? Apa ini kutukan? Demian pasti mengutuknya!
"Aku...., aku bisa stress kalau mengalami mimpi buruk setiap hari." Jessica berkilah tanpa melepaskan genggamannya dari tangan Ethan. "Ethan, kau malaikatku, bukan? Selamatkan aku, please..."
"Aku tidak tau kau percaya pada mitos semacam jimat keberuntungan," Ethan menjawab dengan kekehan.
"Benar, aku juga tidak percaya." Sebuah suara menyapa telinga Jessica. Sangat dekat dengan tengkuknya dan membuat tubuhnya menegang seketika. Suara itu adalah milik pria yang sudah menciptakan teror di benaknya. Demian Bellamy sialan!
"De-Demian..." Jessica menjauhkan wajahnya dari Demian yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Apa dia hantu?
"Kenapa kau di sini?" Jessica melirik gugup ke arah Demian. Ia merasa otot dan dan tulang di tubuhnya membeku sampai menoleh pun terasa sangat sulit.
"Aku ingin memesan kopi, apalagi?" Demian berpindah ke sisi Jessica. Mereka yang kerap duduk dengan jarak dua bangku--sekarang duduk berdampingan dengan siku yang bersentuhan.
Ethan memperhatikan keduanya dengan tanda tanya besar di atas kepala. Kapan mereka jadi akrab?
"Banyak hal baru yang kuketahui hari ini," kata Ethan. Ia menuangkan secangkir kopi lagi untuk Demian. "Aku baru tau kalian saling mengenal."
Memanggil satu sama lain dengan nama depan adalah suatu kelangkaan. Selama ini, Ethan menyadari interaksi Jessica dan Demian hanya sebatas keramahan owner cafe kepada pelanggannya saja. Ia tidak pernah mengira ada situasi yang lebih di sana.
Sejak kapan Jessica memanggil Demian dengan Demian?
Walau Ethan tau Jessica mengenal Demian melalui kisah cinta Demian dengan Angela, Ethan tidak pernah tau kalau Demian juga mengenali Jessica.
"Hmm, begitukah?" Demian melirik Jessica, senyum tipis terukir di parasnya. Ia masih merasa lucu setiap kali ia melihat Jessica.
Gadis itu--tanpa berusaha--sudah menghibur Demian dengan ekspresinya yang kentara tidak nyaman. Seakan-akan dia berjalan dengan banner 'Jauhi aku, Demian!' di dadanya.
"Ka-kami bertemu Sabtu malam kemarin..." kata Jessica, mencoba meluruskan kesalah-pahaman Ethan. Tidak, lebih tepatnya, ia sedang berusaha menutup-tutupi kedekatannya dengan Demian.
Tidak ada orang yang boleh tau kalau Jessica menampung cowok bar-bar itu di kamarnya selama seminggu. Jessica tidak mau menciptakan rumor yang tidak perlu.
__ADS_1
"Apa kau ingat, saat Elli dan aku membantu pacar Angela?"
"Mantan pacarnya," ralat Demian.
"Yah, uh..., begitulah. Kami tidak sengaja bertemu dengan..., um...,"
"Kami berkenalan singkat di sana," lanjut Demian. "Aku sangat tersentuh atas kebaikan hati bosmu. Dia rela menenteng pria yang tidak dia kenal."
"Aaaah, jadi seperti itu." Ethan manggut-manggut seraya tersenyum. "Jesse memang sangat baik, bukan? Dia terus menjulukiku sebagai malaikat, padahal dirinya sendiri sangat baik."
"Mm, aku setuju." Demian melirik ke arah Jessica dan kembali berbisik di telinga gadis itu yang memerah. "Kau bahkan rela menampungku di kamarmu, aku sangat tersanjung."
Jessica bergidik seketika. Hangat napas Demian yang menyapu kulitnya terasa sangat menggelitik. Ia mengusap tengkuknya sambil mencubit Demian dari bawah meja.
"Aku hanya mencontoh Ethan," kata Jessica riang. Ia puas sudah membuat Demian meringkuk kesakitan di sampingnya.
"Anyway..., Demian, bukankah shift Angela sore ini, kenapa kau datang pagi-pagi?"
"Oh, benar." Ethan ikut menyahut. "Karena Angela sekarang single, bukankah ini kesempatan besar untukmu?"
"Aku tidak tau kita sangat dekat sampai kau berani memberikan masukan kepadaku menyangkut hal pribadiku." Demian menyinggung Ethan terang-terangan. Suara sarkastiknya membuat Jessica kembali sadar akan betapa berbahayanya Demian. Sialan!
"Aa, maaf, aku sepertinya sudah keterlaluan."
"Tidak masalah," ujar Demian. "Hanya saja, aku cukup penasaran atas perhatian kalian di sini."
"Y-ya?"
"Sepertinya, setiap pegawai di cafe ini menyadari hubunganku dengan Angela. Apa selama ini, tanpa sadar, aku sudah menjadi tontonan dan hiburan bagi kalian?"
Aura Demian menggelap di sana. Atmosfir santai yang sebelumnya berada di sekitar mereka, tersapu oleh kegelapan dan kengerian. Akan sangat berbahaya bila Demian mengetahui Jessica--dari semua orang--bertaruh sepuluh strawberry atas kisah asmara ketiganya. Karena ketakutan itu, Jessica spontan menggebrak meja.
Jessica harus melindungi jati dirinya yang merupakan seorang fans. Demi Elixir dan demi tidak dipukul.
"Yaaaahh!!!" Jessica memiringkan tubuhnya menghadap Demian, ia tersenyum lebar. "Mustahil kami tidak sadar, kan?" tanya Jessica balik, retoris.
"???"
"Sebagai manusia normal dengan dua mata yang masih sehat, aku, Ethan atau siapa pun yang bekerja di sini pasti menyadari hubungan kalian bertiga. Maksudku..., bahkan bila kami tidak mencaritahu, kami pasti ujung-ujungnya mengetahui situasi kalian. Lagipula, penampilan kalian bertiga juga sangat berbeda."
"Berbeda?"
"Y-yah, Jake--maksudku..., sangat tampan, bukan? Dia masuk ke cafe ini berpenampilan sangat rapi, seperti ada cahaya yang melingkupinya. Angela juga, waaah..., sulit untuk mendeskripsikan keindahannya dalam kata-kata, dia sangat menarik mata. Jadi, seperti yang kukatakan tadi, naturalnya, kami pasti memperhatikan kalian, mau tidak mau."
Demian bertopang dagu di meja, sepasang iris kelamnya memperhatikan Jessica yang jelas sekali--salah tingkah. Pipi dan telinganya memerah.
"Kalau begitu, bagaimana denganku?"
"Ada apa dengan...,"
Demian menyesap kopinya sebentar, sebelum kembali menggoda Jessica dengan pandangan jenaka. "Apa yang menarik dariku sampai kau, mau tidak mau, memperhatikan?"
__ADS_1
Geez!!!
Apa dia mengharapkan pujian sekarang?
"Jessica?"
"Aku..., oh?" Jessica turut menyesap kopinya yang belum tersentuh sama sekali. Dalam sekali tegukan, ia menghabiskan secangkir kopi tersebut. Beberapa tetes merembes keluar dari sudut bibirnya, mengalir di rahangnya.
Demian memperhatikan lelehan itu dengan mata terpana. Lagi-lagi, pikirnya. Keinginan untuk mencecap kulit pucat itu menyeruak di benaknya.
"Aku melupakan sesuatu di kamarku, aku akan pergi dulu..." Jessica menyeka lelehan kopi di lehernya dengan tisu di atas meja. Tanpa memberikan respon pada pertanyaan Demian pula, Jessica berhasil melarikan diri dari sana. Setidaknya.
"Aku selamat," gumam Jessica lega.
Demian di bawah sana menatap kepada jejak tisu Jessica di meja.
*
Di Bronze, kamis malam.
Kendati hujan turun deras di luar sana, situasi di Bronze masih damai seperti biasa. Setiap meja masih dilingkupi oleh para pecandu judi. Chips warna-warni menyebar di sana-sini, suara kocokan kartu dan dadu. Semuanya berpadu-padan di bawah cahaya lampu.
Demian yang sudah menetap di Bronze untuk beberapa malam, kembali bermain bersama Oscar.
Seorang wanita yang tidak Demian kenali siapa berada di sampingnya. Bergelayut manja di lengannya. Di seberang meja Demian, Oscar masih betah dalam pakaian dealer-nya. Dia melayani Demian bermain untuk kesekian kalinya malam ini.
"Katakan Demian, apa kuncinya sampai kau tidak pernah kalah? Apa kau menghitung setiap permainan dengan rumus peluang?"
"Apa aku ahli matematika?" Demian bicara sambil menekan batang rokoknya di asbak.
"Masalahnya, aku belum pernah melihatmu kalah sekali. Ini mengecewakan."
Demian menoleh kepada wanita yang masih setia merangkul lengannya. Sialan, lengan Demian kram. Juga..., kenapa wanita itu sangat harum? Dia seperti taman bunga! Sangat menyengat hidung dan membuat risih pernapasannya.
Demian lebih suka bila Jessica yang berada di--Eh?
"Demian...?"
"Ya?"
"Kau mau beristirahat?" kendati terdengar peduli, maksud Oscar sudah pasti menyangkut perihal lain.
Mungkin karena Oscar melihat Demian menatap wanita di sisi kirinya terlalu lama, Oscar mengira Demian ingin berhenti bermain kartu dan mulai bermain dengan wanita itu. Bila kasusnya memang seperti itu, Oscar tidak masalah menyerah. Lagipula dia sudah dikalahkan berulang-ulang.
Demian mengerti maksud ucapan Oscar. Ia pun kembali menatap wanita di sebelahnya yang sekarang turut menatapnya kembali. Sepasang iris hazelnut dengan eyeliner yang terukir tajam itu menyorot ke arah Demian, merayu.
"Well, then..." Mungkin tidak ada salahnya bersenang-senang.
Demian sudah terlalu sibuk sampai ia mengabaikan kebutuhan nalurinya. Ia perlu melepaskan segala kepenatan tubuh dan mentalnya. Ia perlu melupakan seorang gadis berkulit pucat yang kerap mengotori benaknya dengan ilusi-ilusi gila.
Benar, Demian perlu melupakan Jessica Cerise yang sudah bersarang di kepalanya, menggugah naluri iblisnya.
__ADS_1
Ia butuh mengalihkan perhatiannya.
*