MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
56. Rival Asmara


__ADS_3

Jake Allendale mampir kembali di Elixir hari ini, dan seperti menyiram bensin ke api, kedatangannya bersamaan dengan kedatangan Demian. Dua orang yang sempat menjadi rival dalam memperebutkan hati Angela itu sekarang saling melempar delikan tajam penuh permusuhan.


Tidak seperti dulu, ketika mereka akan menyembunyikan ketidak-senangan mereka satu sama lain, sekarang..., keduanya memamerkan kebencian mereka secara kentara.


Ethan sampai kesulitan mengaduk kopi karena atmosfir di konter itu begitu mencekam dan membuat tubuh membeku dalam kegugupan.


Jessica tidak tahu-menahu perihal itu karena hari ini dia menemani Elliot mengecek supply bahan-bahan dapur Elixir yang baru tiba di gudang dan melakukan pembayaran kepada supplier setianya.


Jessica sama sekali tidak tahu kalau sekarang Jake dan Demian siap menikam satu sama lain dalam kebencian.


"Kau masih mempunyai muka untuk datang kemari, huh?" Demian menyerang duluan. Kendati suaranya tidak agresif, makna ucapannya yang lancang sudah layak sebuah pedang.


"Tentu saja," sahut Jake enteng. "Aku tidak merasa perlu menyembunyikan mukaku, terlebih di sini. Di cafe pacarku sendiri."


"Ha?" Demian nyaris menyemburkan kopi dari mulutnya. "Siapa pacar siapa, idiot? Apa kau delusional?"


"Aku hanya mengutarakan fakta." Jake bicara sesuka hati.


"Ah, si keparat ini..."  Demian menggelengkan kepala, tak habis pikir di sana. "Jessica bukan pacarmu, tolol. Apa kau sudah gila sampai kau menjadikannya pacar imajinasimu?"


Apa diputuskan Angela sudah membuat si keparat ini gila?


"Belum, lebih tepatnya." Jake tersenyum sambil membalas tatapan Ethan yang penuh keterkejutan.


Tentu saja Ethan terkejut, ia bahkan tidak tau sama sekali kalau Jessica sedekat itu dengan Jake untuk menjalin hubungan khusus.


Ethan setuju dengan Demian, Jake pasti sudah gila!


"Jessica bukan pacar siapa-siapa sekarang, dia bukan milik siapa pun." Jake--ditengah tatapan yang mempertanyakan kewarasannya--lanjut bicara. "Karena itu, aku akan mengklaimnya sebagai milikku. Kami sudah berkencan beberapa kali..., jadi, menjadi pacarnya bukan sesuatu yang mustahil terjadi."


"Kencan dengkulku, Jessica menemanimu keluar hanya karena dia bersimpati padamu yang terus merengek mengajaknya bertemu."


Walaupun Demian tidak tau apa alasan Jessica selalu menuruti ajakan keluar dari Jake, itu sudah pasti bukan karena mereka berkencan. Jessica tidak mungkin mau berkencan dengan tikus tanah ini.


"Aku tidak tau tentang itu," Jake tersenyum sambil mengusap dagu. "Kami cukup dekat dalam setiap pertemuan kami. Aku rasa, daripada bersimpati..., Jessica mungkin mulai jatuh hati padaku."


Waaah, Demian sangat tidak habis pikir dengan arogansi si bajingan ini. Apa Jake Allendale benar-benar ingin mati? Mengapa si keparat ini terus-terusan memancing emosinya?


"Aku tidak tau mengapa kalian tiba-tiba menyebutkan nama Jessica," Ethan menyela. "Kupikir kalian sedang membicarakan Angela."


Angela lebih masuk akal untuk keduanya rebutkan, karena sejak awal mereka adalah rival yang menaruh hati kepada Angela dengan tumpah-ruah.


Keberadaan Jessica selama ini tak ayal seorang figuran di depan keduanya, lantas mengapa sekarang mereka menjadikan Jessica sebagai pemeran utama?


Ethan tidak terima sahabatnya diperebutkan seperti barang.


"Aku dan Angela sudah tutup buku," jawaban Jake adalah kebenaran, tapi itu membuat Demian mengernyit tak senang. "Aku percaya, orang yang menjadi kekasih Angela sekarang adalah kau, kan, Demian?"


Tudingan itu seharusnya membuat Demian mengangguk bangga dan senang.


Bila situasi ini terjadi beberapa bulan lalu, ketika ia begitu mendamba Angela dan menginginkan wanita itu di dekapannya, Demian mungkin akan sangat berbahagia atas Jake yang menarik diri mundur dari persaingan mereka.


Namun, sekarang situasinya berbeda.


Hati Demian merasa tak rela ketika Jake menudingnya berpacaran dengan Angela. Bukan hanya karena tudingan itu tidak benar, Demian...


"Aku tidak berpacaran dengan Angela," tukas Demian. Hatinya merasakan kebimbangan.


"Oooh, tapi kurasa itu akan segera terjadi. Mengingat kalian sangat serasi dan sangat dekat, Angela pasti akan memilihmu." Jake memprovokasi.


Dia tau di mana hati Demian berada sekarang, dan Jake menyadari posisinya sendiri pun tak menguntungkan. Untuk memenangkan Jessica, Jake tidak membutuhkan pesaing lain merusak jalannya. Jake perlu menyingkirkan Demian segera sebelum pria itu menyadari isi hatinya.


Perasaan simpang-siur bergejolak di dada Demian sekarang.


"Aku sepertinya salah paham." kata Ethan kemudian. "Kupikir kalian masih menjadi rival."


"Mustahil..., aku sudah merelakan Angela sepenuhnya kepada Demian." Aku juga tidak menginginkan apa pun lagi darinya selain penderitaan.


Jake menyesap kopi di cangkirnya dengan penuh ketenangan. "Omong-omong, di mana Jessica? Aku datang kemari untuk melihatnya."


"Dia sedang berada di luar sekarang."


"Ah, begitukah? Sayang sekali, padahal aku datang kemari untuk menemuinya." Jake menyerahkan selembar uang kepada Ethan saat itu juga sebagai bayaran. "Katakan pada Jessica aku datang mencarinya, aku ingin dia mempersiapkan diri untuk ajakan kencanku berikutnya."

__ADS_1


"A-ah?" Ethan ternganga. Apa dia tidak salah dengar?


Selepas kepergian Jake, Ethan lalu beralih kepada Demian yang menggenggam gelas kopinya dengan penuh amarah. Kata kencan yang diucapkan Jake barusan membuat darahnya mendidih panas.


Demian tidak akan membiarkan Jake mengambil Jessica darinya. Gadis itu adalah miliknya, bukan milik siapa pun!


"Demian," tegur Ethan. "Apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik...," sahut Demian. Kendati telapak tangannya mendingin. Dia sangat baik.


*


Membantu Elliot di gudang bukanlah sebuah aktivitas yang menyenangkan, tapi harus Jessica lakukan. Walau dalam beberapa kesempatan ia merengek dan ingin berhenti, Jessica kembali berdiri tegap dan melanjutkan pekerjaannya dalam ikut mengecek dan mensortir secara teliti bahan pangan yang tiba.


Musim panas yang tak kunjung mereda di penghujung Agustus itu tambah memperparah situasi. Jessica bermandikan keringat dari ujung kaki hingga kepala. Wajahnya seperti kilang minyak di timur tengah. Sangat kotor dan gerah.


"Selain ini, selebihnya sudah aman." Elliot bicara pada Jessica. Untungnya, hanya ada tiga box tomat yang membusuk, dan supplier yang mengirimkan barang tesebut sudah setuju akan menggantinya dengan stok yang baru.


"Kalau begitu, aku akan kembali ke Elixir duluan."


Sambil melepaskan sarung tangannya, Jessica yang masih terengah karena lelah, melenggang menuju pintu keluar.


Jam menunjukkan pukul 14.39 ketika Jessica keluar dari gudang. Matahari di atas langit Vegas masih bersinar sangat terik--menyengat kepala. Jessica yang saat itu sudah bermandikan keringat dan tulang-tulang yang sudah nyaris patah, melenggang di gang kecil yang terhubung ke pintu dapur Elixir.


Sesampainya di depan konter, Jessica membuat pesanan kepada Ethan yang menyambutnya dengan keprihatinan.


"Apa sudah selesai?" tanya Ethan.


"Kurasa, kurasa..." Jessica menanggapi sambil mengipasi wajah dengan tangannya. Kendati ia berada di ruang yang ber-AC, panas yang dia bawa dari luar masih melekat di tubuhnya.


"Minumlah...," Ethan kemudian menyerahkan segelas besar lemon tea dengan es batu memenuhi separuh gelas tersebut.


"Terima kasih, Ethan."


"Mm..."


Sementara Jessica menikmati segelas lemon tea yang sudah Ethan berikan, Ethan, di seberang meja, menatap Jessica dengan keraguan di matanya. Ingatan mengenai kunjungan Demian dan Jake kembali menyeruak di benak Ethan, mengingatkannya pada pesan Jake untuk menyampaikan kedatangan pria itu.


Tentunya, Ethan akan menyampaikan pesan Jake. Hanya saja, ingatan Ethan tidak sebatas pesan itu saja. Ethan ingat percakapan di antara Demian dan Jake tadi, menyangkut keinginan Jake menjadikan Jessica pacarnya.


Bukannya Ethan ingin menjadi cowok ember yang tidak bisa menjaga rahasia, hanya saja..., menyimpan pengetahuan itu untuk dirinya sendiri membuat Ethan merasa agak terbebani. Ia tidak biasa menyembunyikan apa pun dari Jessica.


"Aku tau aku seperti gembel sekarang, kau tidak perlu mempelototiku." Jessica rupanya menyadari tatapan Ethan.


"Apa ada gembel cantik?" Ethan membuat lelucon.


Jessica terlalu lelah untuk bicara, jadi dia menanggapi lelucon Ethan dengan tawa hambar dan endikan bahu. Saat ini, yang Jessica pikirkan adalah mandi. Namun, sebelum itu, ia perlu menghabiskan lemon tea yang sudah diberikan Ethan untuknya terlebih dahulu.


"Jesse," ucap Ethan. Kali ini sambil menyerahkan sepiring strawberry segar di meja. "Seseorang datang mencarimu tadi."


"Seseorang?"


"Jake Allendale."


"Oh? Dia sudah kembali?" Seingat Jessica, terakhir kali mereka berkirim pesan, pria itu mengatakan dia akan melakukan perjalanan bisnis ke Canada untuk beberapa hari.


"Apa kalian sangat dekat?" Ethan mulai melakukan penyelidikan. Ethan penasaran, siapa tau ucapan Jake adalah kebenaran, kalau dia dan Jessica cukup dekat dan bisa naik jenjang ke pacar.


"Dia mengabariku beberapa kali mengenai situasinya," Jessica menanggapi tanpa benar-benar peduli. Jessica tidak pernah memikirkan kalau kedekatannya pada Jake akan masuk kategori 'sangat dekat' sih.


"Jadi, apa lagi yang dia katakan?" Jessica merogoh saku. Ia mengambil ponselnya dan hendak menghubungi Jake yang sudah datang ke cafe untuk menemuinya. Sesuatu mungkin ingin pria itu sampaikan padanya.


"Dia bilang dia ingin bertemu denganmu lagi ketika kau mempunyai waktu luang."


"Oh, well..., aku cukup menduga itu." Jessica manggut-manggut. Jessica mempunyai cukup banyak waktu luang, sebenarnya. Ia tidak keberatan menemani Jake keluar. Toh, bepergian dengan Jake menyenangkan.


"Jesse..."


"Mm?"


"Apa kau dan Jake..., berkencan?"


Kening Jessica bertaut seketika. Strawberry yang hendak menyapa mulutnya, tergantung di udara mengikuti gerak tubuhnya yang membeku seketika.

__ADS_1


"Apa kau gila?" Jessica mempelototi Ethan dengan keheranan. "Apa-apaan...? Mana mungkin kami berkencan."


"Habisnya, kau kerap jalan berdua dengannya."


Ekspresi Jessica berubah kecut. "Normal. Apa yang kami lakukan itu normal. Apa yang salah dari dua orang teman pergi keluar? Ethan, yaaa, kenapa kau menjadi sepicik Dania?"


"E-eh?"


"Aku tidak berkencan dengan Jake. Buang jauh-jauh spekulasi miring itu. Duh, apa perempuan tidak bisa berteman dengan pria sekarang? Kau seharusnya menanyai apa aku berkencan dengan Elliot sekalian, karena kami sudah menghabiskan waktu seharian di gudang!"


Jessica mengomel panjang.


Tidak, bukan berarti Jessica marah besar pada Ethan. Jessica hanya jengah terhadap asumsi yang terus berdatangan menyangkut hubungannya dan Jake Allendale.


Tidak cukup Angela yang menyudutkannya dan mengatai dia sebagai perempuan yang mengejar-kejar Jake, sekarang temannya tersayang malah menanyai masalah kedekatannya dengan Jake lagi.


Jessica yang memang sudah gerah akibat aktivitasnya yang menguras tenaga, menjadi kesal luar biasa ketika pertanyaan Ethan menyapa telinganya. Darah Jessica masih panas karena matahari yang menyengat kepalanya tadi. Jessica bisa memakan orang kalau dia iritasi.


"Kau merusak mood-ku, Ethan...," Jessica lompat turun dari barstool, ia memungut satu strawberry gemuk dari piring dan melahapnya habis dalam sekali gigitan. "Jangan menanyakan omong kosong lagi, oke?"


Sambil tersenyum kikuk, Ethan menelan perasaan bersalahnya karena sudah mencurigai Jessica.


"Maafkan aku." katanya. Di kepala Ethan saat itu juga, apa yang Jessica katakan cukup masuk akal. Jika Jessica memang berkencan dengan Jake, dia pasti akan memberitahu teman-temannya. Ethan seharusnya tidak menarik kesimpulan sembarangan.


Ha~


Semua ini gara-gara perbincangan Demian dan Jake sudah meracuni isi kepalanya.


Meninggalkan Ethan, Jessica pun menghubungi Jake selama perjalanannya menuju kamar. Tidak membutuhkan waktu lama, panggilan itu terhubung pada dering ke-dua.


"Halo," sapaan Jake ramah.


"Aku dengar kau mampir ke cafe hari ini. "


"Begitulah. Aku datang untuk mengunjungimu."


"Aku sedang sibuk di gudang, maafkan aku.." Jessica mendaki tangga menuju kamarnya. "Bagaimana perjalananmu di Canada? Apa seru?"


"Tidak ada yang seru. Aku hanya fokus bekerja di sana. Selesai mengurus pekerjaan, aku langsung kembali ke Vegas segera."


"Kau seharusnya tidak terburu-buru, sekarang masih musim panas..., kau seharusnya ke pantai dan bertemu dengan wanita keren."


"Aku sudah punya wanita kerenku."


"Oh, Angela?" Jessica tidak menyangka kalau Jake masih kepikiran terhadap Angela. Well, sepertinya memang benar tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk move on secepat kilat.


"Kenapa kau menyebutkan namanya, merusak mood-ku saja."


Ucapan Jake membuat Jessica agak terkejut. "Y-yah..., habisnya, perempuan keren yang mengorbit di kepalamu hanya dia, kan?"


"Kalau isi kepalaku hanya Angela, aku tidak akan menghubungimu sekarang."


"Maksudnya?" Jessica terlalu konslet akibat sengatan matahari untuk bisa memahami ucapan Jake yang mistis.


"Maksudku..."


"Tunggu sebentar," Jessica memotong ucapan Jake ketika ia tiba di kamar.


Sekarang, daripada mendengarkan ucapan Jake, Jessica sedang terheran-heran menatap keberadaan Demian di sofa.


"Kapan kau datang?" tanya Jessica.


Seingat Jessica, perjanjian yang ia buat dengan si keriting tampan itu adalah, Demian hanya boleh berkunjung kalau Jessica sedang berada di kamarnya. Jika Jessica tidak berada di kamar, Jessica tidak mau Demian di sana.


Maksud Jessica, siapa yang tau apa isi kepala si kriminal keriting itu? Bagaimana bila ia menyembunyikan barang-barang berbahaya di kamar Jessica?


"Dari tadi pagi..." sahut Demian.


"Jake, aku akan menghubungimu kembali nanti. Sesuatu yang urgen terjadi. Tidak, tidak..., hahaha. Santai saja, bukan masalah serius, kok. Anyway..., bye."


Demian yang tadinya sedang duduk santai di sofa akhirnya berdiri. Mata menyalang jeli.


"Apa pendengaranku saja, atau kau barusan memang menyebutkan nama Jake?"

__ADS_1


*


__ADS_2