MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
125. RESTART : Monster Lover.


__ADS_3

Di depan perapian yang menyala, Jessica bersama kawan-kawannya termasuk Oscar dan Demian, duduk bersantai sambil menikmati cokelat panas. Beberapa snack dan biskuit terurai di atas karpet bulu, menjadi bahan cemilan ketika mereka asik bertukar obrolan. Saat itu juga, selimut tebal melingkupi pundak dan pangkuan Jessica. Demian membungkusnya semata-mata agar dia tidak kedinginan.


Perhatian yang berlebihan, kata Dania. Namun Demian mencibirnya dan menyuruh Dania segera cari pacar saja.


"Ini..." Sambil mendengar Oscar mengobrol bersama Elliot dan Ethan seperti pria normal, Demian sesekali menyuapkan cemilan kepada Jessica yang duduk di sisi kanannya. Ia tidak benar-benar peduli pada permasalahan ekonomi yang asik dibahas teman-temannya di seberang meja, Demian lebih peduli pada Jessica yang terlampau banyak diam hari ini.


"Apa kau baik-baik saja?" Demian berbisik setelah menyuapkan sebuah popcorn mentega di bibir Jessica. Ia memperhatikan bibir tipis itu terbuka dan menyentuh jarinya dan Demian merasa seperti berada di musim panas. Tubuhnya memanas luar biasa ketika memperhatikan Jessica, seakan-akan gadis itu menyihirnya.


"Aku baik..." Jessica menyahut. Ia menoleh ke arah Demian dan agak terkejut ketika melihat sepasang obsidian hitam itu menatapnya lekat. Sungguhan, apa Demian ingin membuatnya jantungan?


"Apa aku terlihat tidak baik?" Jessica kembali bertanya.


"Kau lebih banyak diam hari ini."


Aku diam karena aku sibuk memikirkanmu, Jessica ingin menimpali seperti itu tapi..., karena dia masih mempunyai rasa malu, ia menahan diri. Ia memilih berdusta. "Mungkin karena suhunya agak dingin."


"Kemari, aku akan menghangatkanmu."


Menarik Jessica yang sudah terbungkus selimut tebal ke dalam dekapannya, Demian lalu merangkum gadis itu dengan erat di dadanya. Jessica yang tidak mau menarik perhatian teman-temannya, tidak memprotes secara verbal tindakan Demian. Ia hanya mempelototi pria itu kesal.


"Aku hanya tidak mau kau kedinginan," kata Demian, penuh pembualan. Ia hanya ingin mendekap Jessica sekarang. Bersantai bersamanya seperti dunia hanya milik berdua. Rasanya sudah cukup lama ia tidak mendekap Jessica. Demian rindu aroma strawberry yang menguar dari tengkuk pucat itu.


Entah karena berada di dekapan Demian memang memberikannya kehangatan atau Jessica hanya merasa nyaman, Jessica tidak memberontak lagi. Ia membiarkan tubuhnya jatuh di dada Demian sementara dagu pria itu berlabuh di pundaknya.


Oscar, Elliot dan Ethan masih asik berbincang-bincang, membahas berbagai topik yang terkadang ringan dan terkadang cukup berat. Dania, yang duduk sendirian di sofa panjang sudah terlelap entah sejak kapan.


Ketika jam dinding yang terpaku di atas perapian menunjukkan waktu pukul setengah dua belas malam, Ethan akhirnya menginisiasikan agar mereka semua bubar. Oscar dan Elliot setuju-setuju saja, dan setelah itu, Dania pun diangkat oleh Ethan menuju kamarnya di lantai dua.


Jessica yang berada sekamar dengan Dania akhirnya memisahkan diri dari Demian dan beranjak mengikuti langkah Ethan.


"Good night," adalah ucapan perpisahan yang dilontarkan Demian sebelum melepaskan Jessica menyusul kepergian Ethan. Sepasang manik obsidiannya menyorot ke arah punggung Jessica yang berjalan menjauhinya. Perasaan hampa menguasai dadanya begitu keberadaan Jessica menghilang dari hadapannya.


Hangat yang memudar di dadanya membuat ia menghela napas lemah.


"Kau belum tidur?" Oscar menanyai Demian yang sejak tadi belum beranjak dari sofa.


"Nanti," kata Demian. Jawaban singkatnya ditanggapi Oscar dengan anggukan. Oscar tidak berkata apa-apa lagi dan beranjak menuju kamarnya sendiri.


Begitu ruang tengah di kabin itu menjadi sunyi, Demian berujung mampu mendengar deru napasnya sendiri. Ia termenung di kesunyian, isi kepalanya berantakan.


Ada banyak hal yang memenuhi kepala Demian, dan kebanyakan adalah Jessica. Demian memikirkan kondisi Jessica sekarang. Bagaimana kabar hatinya? Apakah dia masih marah dan masih terluka? Apa yang ia pikirkan dan apa yang ia harapkan?


Demian tau kalau sudah cukup banyak waktu yang berlalu. Namun, Demian tidak tau apa waktu yang sudah berlalu cukup untuk menjadi obat untuk hati wanita itu.


Bagaimana kalau ternyata Jessica masih kesulitan menerimanya? Mengatakan kalau dia tidak membenci Demian mungkin hanya bentuk empatinya saja, kan? Mungkin--jauh di lubuk hatinya--Jessica membenci Demian dan melakukan ini hanya untuk balas dendam?


Tidak.


Tidak mungkin.


Jessica bukan tipe wanita yang akan membalas dendam.


Lantas...


"Kenapa kau belum tidur?" Sebuah suara datang dan menyapa Demian, tapi karena Demian tidak melihat kedatangannya, Demian terperanjat oleh kemunculannya yang tiba-tiba. Sialan, sejak kapan Jessica berada di sana?


Benar. Yang menyapanya barusan adalah Jessica.


"Kau?" Demian bertanya balik. Ia beranjak dari sofa dan menatap Jessica yang berdiri beberapa meter darinya. Gadis itu mengenakan sweater di balik piyamanya. "Apa kau...umm, apa kau membutuhkan sesuatu?"


"Senyum Jessica merekah kaku. "Kurasa," jawab Jessica. "Setelah melihatmu masih di sini, kupikir aku memang butuh sesuatu."


"Ya?"


"Aku perlu bicara denganmu, Demian."


"Ah, oh..., apa itu begitu penting? Maksudku..., sekarang sudah tengah malam, kau sebaiknya beristirahat..." Firasat Demian memburuk begitu ia merasakan keseriusan dalam ucapan Jessica.


Demian dilanda kecemasan. Bagaimana bila Jessica menolaknya? Memutuskan jengah pada keberadaannya? Enggan untuk kembali bersamanya? Bagaimana bila ia berakhir dicampakkan?


Demian merasa ia lebih baik di zona abu-abu ini daripada menemukan kejelasan sama sekali. Ia takut kejelasan yang ia dambakan malah membawanya kepada ujung jurang.


"Aku ingin bicara sekarang," kata Jessica. Ia menapak lebih dekat ke hadapan Demian. Keseriusan di ekpsresinya seperti jarum yang menusuk dada. Demian tidak tau harus mengatakan apa.


"Demy? Apa kau keberatan?"


"Hmm, bukan seperti itu..., hanya saja..., suhunya agak dingin di luar jadi..."


"Aku akan baik-baik saja," sanggah Jessica. "Aku tidak mau menyeret topik ini lebih lama lagi, Demian. Aku perlu jujur padamu mengenai keputusanku, pilihanku. Aku tidak mau menaruhmu di dalam kegelapan. Kita harus jelas di sini."


Demian tidak keberatan berada di kegelapan, sebenarnya. Tapi...


"Baiklah." Demian sudah tidak mempunyai ruang untuk berkilah. Tidak ada hal yang mampu ia lakukan sekarang, selain menghadapi realita. Menghadapi Jessica.

__ADS_1


"Jadi, kau sepertinya sudah menemukan jawaban untuk keputusanmu."


"Aku sudah menemukannya."


Jessica duduk berdampingan dengan Demian dan tak berselang lama ia duduk di sana, Demian langsung melingkupinya dengan selimut tebal yang tinggal di sofa.


"Sebelum itu," kata Jessica, ia menoleh ke arah Demian dan melihat bagaimana ekspresi pria itu berubah menjadi muram, seakan-akan mereka sedang diambang perpisahan. Tunggu, mungkin Demian memang berpikir begitu?


Senyum Jessica merekah samar begitu ia memperhatikan Demian lebih seksama. Pria itu benar-benar dramatis, pikirnya.


"Demian," gumam Jessica. "Aku ingin meminta maaf padamu."


"Huh?"


"Maaf sudah membuatmu menungguku tanpa kepastian apa pun. Maaf sudah menjadi egois dan memanfaatkan loyalitasmu untuk kepentinganku sendiri Juga..., maaf sudah menjadi orang yang tidak berani membuat keputusan.--


Hari itu, ketika di Italy, ataupun hari ini..., aku seharusnya bisa membuat keputusanku. Aku seharusnya tidak membuang-buang waktumu."


"..."


"Tapi..., seperti yang kau lihat, aku menjadi takut pada banyak hal. Aku takut membencimu, aku takut membenci diriku sendiri, dan aku takut semuanya tidak akan berjalan sesuai harapanku. Aku tidak mau terluka, jadi aku menggantung semuanya. Aku menutup mata dari segala konflik dan melarikan diri. Aku jadi menjebakmu dalam posisi yang ambigu. Karena itu, maafkan aku."


"Kau tidak perlu meminta maaf, Jesse. Aku yang memilih posisi ini, karena sama sepertimu, aku cukup egois dan tidak ingin berpisah darimu. Aku lebih baik terjebak di posisi ini dan bisa menghabiskan waktu bersamamu daripada menemukan kejelasan dan berakhir ditinggalkan."


"Apa kau masih menyukaiku, Demian?"


"Aku masih dan sangat menyukaimu, Jessica. Lebih daripada itu, aku sangat mencintaimu dan perasaanku tidak pernah berkurang satu inci pun."


"Apa kau jujur?"


Demian menoleh ke arah Jessica, ekspresi tersinggung terukir di parasnya. Bagaimana bisa Jessica berani-beraninya meragukan cintanya?


Demian ingin memprotes tapi ucapannya tergantung di udara begitu matanya bertemu mata emerald Jessica yang berbinar jenaka. Gadis itu melihat reaksinya seperti hiburan.


"Kau menggodaku, huh?" Demian menabrakkan sikunya dengan siku Jessica. Senyumnya mau tak mau merekah juga. "Padahal aku sangat serius."


"Aku juga sangat serius," kata Jessica, walau suaranya agak jenaka. Situasi menegangkan yang Demian rasakan sedikit melunak dalam kelembutan. Senyum Jessica seperti mentari yang terbit di pagi hari. Hangatnya menceriakan dunia. Demian pikir ia jatuh cinta lagi untuk kesekian kalinya hari ini.


"Terima kasih sudah menyukaiku, Demian." Jessica bergumam. "Terima kasih sudah mau menunggu aku mengumpulkan keberanianku."


"Kau..., apa kau akan menolakku sekarang?"


"Menurutmu?"


"Jessica, apa kau sudah sangat yakin dengan keputusanmu?" Demian mencoba bernegosiasi. Barangkali ia mampu menyeret topik ini lebih lama lagi. Karena demi Tuhan, Demian tidak siap menerima penolakan. Ia tidak yakin mampu jatuh cinta lagi kepada wanita selain Jessica. Gadis itu adalah mutiara di hidupnya.


"Aku sangat yakin," jawab Jessica.


"Jadi..., seperti itu, huh?" Sekarang, apa itu artinya ia dan Jessica akan berpisah?


"Begitulah," jawab Jessica, ia meraih jemari Demian yang terpaku lemas di lututnya. Sentuhan ringan Jessica memberikan reaksi luar biasa pada Demian ke tahap ia menoleh ke arah Jessica dengan kegugupan.


"Demian," gumam Jessica. Ia mengumpulkan tekad kuat untuk mampu menyuarakan keputusannya. Pipi merah merona hingga ke telinga.


Sambil menatap Demian pula, ia menyuarakan kata-kata yang sudah seharusnya ia ucapkan sejak lama.


"Mau memulai ulang hubungan kita dari awal?"


"..." Eh?


EEEEEHHHHHH???


Bercanda, ya?


Tunggu, ini serius?


"Ka-kau..." Demian tergagap penuh ketakjuban. "Kau serius?"


"Ya-yah, kalau kau keberatan..., aku...umm..."


Tanpa aba-aba, Demian langsung meraih wajah Jessica ke dalam tangkupan tangannya. Ia menyentuh kulit halus yang merona itu di dalam tangannya, merasakan kalau ia nyata.


Setelah itu pula, tanpa menunggu Jessica menyelesaikan ucapannya, Demian spontan saja menghujani Jessica dengan kecupan-kecupan yang penuh cinta dan damba.


Perasaan lega berbaur dengan keriangan dan kebahagiaan memenuhi dadanya. Demian seperti melayang hingga ke surga, ia tidak menyangka di malam dingin ini, ia malah menemukan kehangatan yang tiada tanding.


"Terima kasih," gumam Demian. Keningnya dan kening Jessica bertautan. "Terima kasih tidak menyerah padaku. Terima kasih sudah mau kembali bersamaku."


Mata Demian terpejam.


Mencoba menyimpan momen ini dalam-dalam di benaknya, di tempat teraman yang tidak akan pernah ia lupakan. Di hatinya, di dadanya.


"Terima kasih, Jessica."

__ADS_1


"Mm." Jessica mengangguk sambil tersenyum senang. Ia meraih Demian ke dalam dekapannya dan memberikan pria itu kecupan ringan di dahinya.


"Terima kasih sudah mau menungguku, juga." Jessica berujar, senyumya mekar dengan lebar.


"Jadi..., apa ini hari jadinya kita kembali bersama?" Demian ingin memastikan situasinya sekali lagi.


"Mmm."


"Kau serius, kan? Kau tidak akan meninggalkanku?"


"Mm."


"Jesse, apa kau menyukaiku?"


Demian melonggarkan dekapannya dari Jessica demi bisa menatap emerald gadis itu yang berbinar ceria. Ketika mata mereka bertautan di sana, Demian merasakan panas merayap di sekujur tubuhnya, membakarnya.


"Apa pertanyaan itu masih membutuhkan jawaban?" Jessica berujar sambil membelai lembut pipi Demian. Senyum terukir di paras gadis itu penuh kelembutan. Penuh kasih sayang.


Tanpa memberikan jawaban, caranya menatap Demian sudah menjelaskan bagaimana isi hatinya terdalam. Betapa ia mencintai Demian dan rela membuka lembaran baru semata-mata agar ia tidak kehilangan pria itu. Semata-mata agar mereka bisa kembali bersama, mengesampingkan rasa takutnya terluka.


Demian berbahagia, seakan-akan ini hari pertamanya terlahir ke dunia. Ia menatap Jessica dan kembali mendekap gadis itu seerat-eratnya.


Kali ini, dalam hati Demian, ia bersumpah tidak akan pernah melepaskan Jessica dari dekapannya. Ia tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama.


""Terima kasih sudah hadir di hidupku," gumam Demian, suaranya merendah penuh kesungguhan. Ia ingin Jessica mendengar pengakuannya sebagai keseriusan, bukan sekedar ucapan yang keluar karena euforia dan kebahagiaan sesaat. Demian ingin Jessica tau kalau keberadaan Jessica adalah kebahagiaannya.


Sejak pertama kali Demian memanjat balkon kamar Jessica, menemukan gadis itu yang bergetar ketakutan di sudut kamarnya, Demian sama sekali tidak mengira keterkaitan mereka akan mendalam ke tahap ia tidak akan mampu melepaskan gadis itu dari pelupuk matanya. Ia tidak akan pernah membiarkan Jessica lepas dari jangkauannya.


Jessica Cerise adalah sosok pertama yang mengetahui rahasianya dan tidak mengutuknya. Jessica rela menerimanya yang tidak sempurna, mau berkompromi atas keberadaannya yang seperti bajingan dan berandalan. Jessica bersimpati pada kemalangannya dan rela mengorbankan privasinya demi pria yang baru ia kenal dalam semalam.


Jessica sudah melakukan banyak hal untuknya yang tidak berguna, dan Demian sangat mengapresiasikan kebaikan gadis itu untuknya.


Demian..., tanpa tau sejak kapan, sudah jatuh cinta kepada keberadaan Jessica.


Kepingan kosong di hatinya akhirnya menemukan sosok yang bisa mengisi ruang di sana. Seperti kepingan puzzle yang menemukan tempat yang sempurna. Jessica adalah satu kepingan terpenting di kehidupannya, yang bila tidak ada, maka hidupnya tidak akan pernah sempurna. Ia akan selalu merasa hampa, sia-sia dan tak berguna.


"Jessica Cerise,"


"Hmmm?"


"Kau menjadi sangat tenang. Apa kau ketiduran?"


Jessica tertawa samar di dadanya. "Bagaimana bisa aku tidur kalau jantungmu sangat berisik di telingaku?"


"Ah?"


Jessica mendongak dan menatap wajah Demian dari bawah. Melihat wajah pria itu yang selalu rupawan membuat senyum Jessica merekah menahan kegemasan. Betapa indahnya pria yang sekarang menjadi miliknya.


Meskipun orang-orang melabelinya sebagai monster di jalanan Vegas, Jessica tidak merasa label itu pantas. Demian lebih seperti pangeran. Pangerannya. Dia terlalu jelita dan sempurna untuk dijuluki berbahaya. Dia memukau mata seperti fatamorgana di padang pasir yang panas.


"Demian Bellamy," panggil Jessica balik.


"Hmm?"


"Sekarang kau akan terikat padaku," ujar Jessica. "Sampai kapan pun, aku tidak akan melepaskanmu dari genggamanku. Apa kau paham itu?"


Demian menunduk dan memberikan satu kecupan di bibir Jessica, hangat menjalar di wajahnya.


"Aku paham, ratuku."


Demian adalah pangerannya, dan kalaupun pria itu memang monster seperti yang dirumorkan, Jessica sudah tidak masalah sekarang.


Karena monster itu miliknya, kekasihnya.


...TAMAT...


Author's note :


Hello guys..., akhirnya Monster Lover tamat...:""""



Meskipun ending-nya terlampau simple dan gak dramatik..., saya lega udah bisa menyelesaikan cerita yang udah saya buat. /nangos/


Point paling sulit menurut saya adalah menulis ending scenario, ya...makanya belakangan jadi mageran karena pengen melarikan diri dari tugas buat menamatkan cerita ini..., huhuhu.



Saya gak tau apa ceritanya menyesuaikan ekspektasi kalian atau enggak tapi..., SEMUANYA, MAKASIH BANYAK UDAH BACAAA SAMPAI ENDING....😭😭😭😭 YOU ALL THE BEST...💕💕💕💕💕 I LOVE YOU GUYS SO MUCH...🥲🥲🥲


Mohon maaf atas keamatiran saya dalam menulis. untuk kedepannya, saya akan berusaha menulis cerita yang lebih bagus lagi...I love you all. See you in my next journey 😚


__ADS_1


...LOVE, VIPER...


__ADS_2