MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
14. Malam Sabtu.


__ADS_3

Khusus hari ini, Elixir tutup lebih awal dari biasanya. Alasan utamanya adalah karena sekarang, empat kepala yang bertanggung jawab di Elixir sedang berada di main street, Vegas. Jessica, Dania, Ethan dan Elliot jalan beriringan menuju sebuah club malam terbesar di kota tersebut, Citrus.


Tujuan mereka hari ini hanya satu, yaitu bersenang-senang.


Berpesta seolah-olah ini adalah malam terakhir mereka di dunia.


Jessica--sebagai pengusung utama dari perjalanan liar mereka malam ini, menjadi orang pertama yang juga berlari ke lantai dansa dengan boots hitamnya. Dania mengekori Jessica sambil menarik Ethan bersamanya. Mereka bertiga, minus Elliot yang tidak percaya diri untuk berdansa, menari di lantai dansa dengan gembira.


Senyum mengembang di wajah Jessica, riang ceria.


Haaaa~


Rasanya sudah sangat lama ia tidak merilekskan tubuhnya. Ia terlalu terbenam dalam pekerjaan hingga ia melupakan kenyataan kalau tidak ada yang lebih menyenangkan daripada bergerak sebebas-bebasnya di lantai dansa dengan alkohol mengalir di darahnya.


Suara musik yang keras menggedor telinga, berpadu-padan dengan cahaya yang berkerlip gemerlap dan memantul di mana-mana.


Jessica memejamkan mata, ia melupakan sesaat segala penatnya. Melupakan keberadaan Dania dan Ethan yang mengitarinya, menari bersamanya.


"Karena aku sudah terbiasa melihatnya waras beberapa bulan belakangan, aku hampir lupa kalau dia adalah ratunya club malam." Dania bicara separuh berteriak ke telinga Ethan.


Dania sedang membicarakan Jessica yang jujur saja, terlihat sangat jelita dengan keringat yang membasahi wajahnya. Surai hitam lebatnya terayun ke kiri dan kanan, mengikuti hentakan tubuhnya yang uring-uringan.


"Pastikan saja dia tidak berlebihan," kata Ethan.


Satu-satunya alasan Ethan menemani Dania dan Jessica di lantai dansa adalah karena ia ingin melindungi dua sahabatnya itu dari pria-pria nakal yang menatap keduanya dengan mata memburu ambigu.


"Apa salahnya berlebihan? Jesse sudah lama tidak bersenang-senang." Dania terkekeh. "Aku harap dia bisa melepaskan segala stress-lnya dan kembali seperti biasa."


"Dia akan teler besok."


"Oh, kau mencemaskan yang tidak perlu. Sedikit hangover tidak akan membunuh Jesse. Dia akan baik-baik saja. Lagipula, ada kau dan Elliot yang akan mengawasinya."


Dania melirik ke arah Jessica sekali lagi. Sahabat sekaligus bosnya tersebut menghampiri ia dan Ethan.


"Apa yang kalian bicarakan tanpaku?" Jessica mengalungkan tangannya di leher Dania, membawa sahabatnya tersebut menari dan melompat bersamanya.


"Ethan mencemaskanmu," kata Dania jujur. "Aku tidak."


"Oho? Kau teman yang sangat baik, bukan?"


Dania mengendikkan bahu. Daripada menjawab Jessica, ketika lagu terganti menjadi lebih upbeat daripada sebelumnya, Dania dan Jessica melompat seirama.


Keduanya sangat lepas di sana, menari sepuasnya, segila-gilanya. Musik DJ menggaung besar di sana, mereka bernyanyi bersama dan melupakan dunia.


Ethan mengamati dari kejauhan.


Sementara musik terus menggedor telinga dengan dentuman yang mendebarkan dada, memicu adrenaline dan dopamine di tubuhmu meroket gila, Jessica tiba-tiba menabrak sesosok pria saat ia melompat dan berputar ria.


Saat itu juga, seperti kaset yang tiba-tiba berhenti terputar, segala euforia yang menjalar di tubuh Jessica terjeda. Ia menoleh ke arah pria yang tertabrak olehnya, pria yang sekarang meringis di lantai dansa.


Musik masih berdengung keras di sekitar mereka.


Jessica mengulurkan tangannya kepada si pria.


"Apa kau baik-baik saja?"


Jessica--melupakan kesenangannya, hanya berfokus membantu pria itu berdiri.


Mungkin karena cahaya yang gemerlapan di sana, Jessica tidak menemukan wajah pria itu familiar di matanya. Hanya ketika Jessica berhasil membantu pria itu keluar dari lantai dansa, barulah Jessica menyadari siapa gerangan yang berada di gandengan tangannya sekarang.

__ADS_1


Jake Allendale.


Wah. Keajaiban dunia macam apa ini?


Sekecil apa kota Las Vegas hingga ia harus bertemu dengan pria yang masih berkaitan dengan bisul di otaknya? Oke, anyway..., si bisul yang Jessica maksudkan adalah Demian.


"Maafkan aku," Jake Allendale--dari penampilannya, cukup teler. Pantas saja ia langsung tumbang ketika Jessica menyenggolnya. Sialan, Jessica sempat merasa bersalah karena sudah menabrak pria itu sangat keras.


Aroma alkohol menguar dari tubuh Jake, seolah-olah itu adalah parfume.


"Aku yang menabrakmu," kata Jessica. "Kau tidak perlu meminta maaf."


"Mmm..." Jake mengangguk, sepasang iris madunya berbinar sayu.


"Apa kau datang bersama temanmu?" Jessica kembali bertanya. Ia mencemaskan Jake yang kesulitan untuk berdiri di kakinya sendiri. Pria itu akan berakhir menjadi keset kaki di Citrus bila ia tidak pulang.


"Angela..."


"Huh?"


"Aku seharusnya bersama Angela." Jake meratap rendah.


Angela lagi, Angela lagi.


"Apa wanita di planet ini tidak cukup sampai setiap pria yang kutemui selalu menangisinya?"


Jessica tidak punya masalah dengan Angela, serius. Jessica hanya murni penasaran. Apa gadis itu sangat menawan?


Yah, itu mungkin.


"Hei..." Jessica mencoba menahan Jake agar tidak tumbang. "Kau sebaiknya pulang. Apa kau punya teman yang bisa kuhubungi? Selain Angela, tentunya." Dia sedang berkencan dengan Demian sekarang!


"Huh?"


"SS street..., Silver Building, room 35..."


"Tunggu, tunggu..." Jessica menepuk pipi Jake berulang-ulang dan saat itu pula, Jake telah kehilangan kesadarannya.


AAAAHHHHHH! SIALAN!!!


*


Untungnya, Elliot Winchester ada di sana. Dia adalah orang yang menyadari situasi sial Jessica dan berdiri untuk membantu.


"Tinggalkan saja dia di parkiran," adalah saran Elliot sebelumnya. Namun, terima kasih atas empati Jessica yang tidak mengizinkannya berbuat jahat, saran Elliot terabaikan.


"Bagaimana mungkin aku membiarkan pria tak berdaya di sembarang tempat. Bagaimana kalau dia dirampok? Tidak, lebih parah, kalau dia dibunuh..."


Terkadang imajinasi Jessica membuat Elliot ingin membenamkan wajahnya di tanah. Gadis itu terlalu paranoid dan naif.


Bahkan bila dia mati, itu bukan urusanmu sama sekali.


Elliot ingin bicara frontal kepada Jessica, tapi menahan dirinya. Karena ia tidak mampu membantah Jessica, Elliot pun menawarkan diri membantu Jessica membawa Jake keluar dari Citrus dan menemukan taksi. Ethan dan Dania masih berada di lantai dansa, tak menyadari situasi keduanya.


"Jesse, kau harus mengurangi membantu orang yang tidak kau kenal sama sekali. Kau bisa dimanfaatkan." Elliot bicara ketika mereka berada di dalam taksi yang sedang melaju menuju SS street. Di antara Elliot dan Jessica, Jake tertidur lelap sambil bersandar di pundak Elliot.


"Aku tau maksudmu. Aku tidak akan membantunya kalau aku tidak mengenalnya, kok."


"Kau mengenalnya?"

__ADS_1


Jessica mengangguk. "Dia adalah customer di Elixir. Setidaknya, dulu dia sering mampir ke Elixir."


'Dia yang merupakan customer juga tidak menjamin alasan kau harus membantunya,' Elliot membatin jengah.


"Seseorang sedang bersenang-senang di luar sana, dan seseorang lagi merendam dirinya dalam alkohol dan frustasi." Jessica bergumam lemah. Ia menatap wajah terlelap Jake dengan keprihatinan.


Pria ini adalah pemenang di mata Jessica, setidaknya..., dua bulan yang lalu, Jake berhasil memenangkan hati Angela. Dia berhasil memenangkan kisah cinta segitiga yang dulunya sangat menghibur mata Jessica.


Jessica pikir, ketika Jake dan Angela bersama, keduanya akan memperoleh happy ending layaknya drama romansa. Namun, realita mengubah sudut pandang Jessica. Hanya karena keduanya bersama, kisah itu tidak berhenti begitu saja. Entah bagaimana, dua orang yang di pikiran Jessica sudah ditakdirkan bersama, sekarang memencar jalan.


"Kenapa dia sangat berat?"


Elliot mengeluh ketika ia dan Jessica menyeret tubuh terlelap Jake menuju Silver building. Silver, seperti namanya, adalah sebuah gedung apartemen berwarna perak. Tingginya menjulang menikam langit malam. Seorang receptionist berjaga di lantai pertama, menyambut kedatangan mereka bertiga.


Sementara Elliot memperkenalkan dirinya kepada si receptionist muda yang berjaga di sana, memperkenalkan Jake Allendale yang merupakan salah satu penghuni di bangunan itu, Jessica memutuskan mundur dan membawa Jake duduk di sofa yang berseberangan dengan meja receptionist.


Karena ini adalah kawasan elite, tidak sembarang orang bisa berkeliaran di sana. Jessica menyadari kalau ia dan Elliot perlu mengonfirmasi identitas mereka terlebih dahulu. Mereka tidak bisa seenaknya mendamparkan Jake di sana dan pergi. Sialan sekali!


Uuppphh!


"Eh?" Jake terbangun dan hendak memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Jessica melebarkan mata.


"Huupp!!"


"Tunggu, tunggu..." Jessica panik. "Jangan muntah di sini! Kau tidak boleh muntah di sini!"


Jake melirik Jessica yang merangkulnya dengan kepanikan.


Siapa?


Pertanyaan itu berkelebat di benaknya.


Tidak ingin Jake memuntahkan isi perutnya di lobi gedung itu, Jessica pun segera membantu Jake menuju kamar mandi yang berada tidak jauh dari sana.


'Kamar mandi pria' tertera di depan pintu. Itu adalah batasan yang tidak seharusnya Jessica lampaui. Namun, karena Jake masih kesulitan berdiri, Jessica menuntun pria itu masuk dan langsung mengarahkannya ke salah satu bilik yang berada di sana.


Jake memuntahkan isi perutnya. Jessica mengurut belakang pria itu dengan air mata tergenang. Jessica tidak bisa melihat orang lain muntah, rasanya ia akan tertular muntah juga.


"Keluarkan semuanya," ujar Jessica. "Jangan sisakan apa pun."


Keluarkan semuanya dan...OH?


"The F?"


Bayangan seseorang tumpah di atas mereka.


Membelakangi cahaya, seorang pria berdiri di depan pintu kamar mandi yang terbuka. Dia--dari semua orang, adalah orang yang tidak seharusnya berada di sana.


"Demian?" Jessica mendongak ke arah pintu, tidak, lebih tepatnya kepada pria yang sekarang menatapnya dengan delikan tajam mematikan.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jessica.


Mengapa di sini?


"Bukankah aku yang seharusnya mempertanyakan hal itu, Jessica?" Demian ternganga.


"Apa yang kau lakukan di sini, bersama Jake Allendale?"


*

__ADS_1


__ADS_2