MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
104. Berpetualang di kota Demian.


__ADS_3

Mengikuti ajakan Demian untuk berkencan di Sorrento, Jessica pun mempersiapkan dirinya dengan menggunakan dress terbaik yang sudah dipersiapkan Dania untuknya. Dress berwarna sunset orange bermotif daisy itu melekat indah di tubuh Jessica, membuatnya nampak anggun dan jelita.


Ketika Jessica turun dari kamarnya dan bertemu dengan Demian di lantai pertama, sepasang manik obsidian milik pria itu menyorot Jessica dengan ketakjuban yang kentara. Napas pria itu seperti terjeda. Demian, sambil menatap Jessica, menghampiri gadis itu dengan seulas senyum tipis terukir di parasnya.


"Apa kau siap berpetualang bersamaku hari ini, Princess?" Demian menyapa Jessica dan melabuhkan kecupan lembut di punggung tangan gadis itu. "You're so gorgeous, aku jadi tidak ingin mengeksposmu pada siapa pun."


"Jangan berlebihan," tukas Jessica, ia tersipu luar biasa oleh perhatian yang Demian tumpahkan padanya. Jessica takut dia akan berakhir meleleh lumer di bawah tatapan Demian, dan itu akan berujung memalukan.


Apa ini masih musim panas? Sialan! Wajah Jessica merona sampai ke telinga.


"Kau terlihat semakin menggemaskan kalau malu, apa kau yakin masih kuat berkencan bersamaku? Aku akan menggodamu seharian."


"Demian..., aku akan meninggalkanmu kalau kau menggangguku."


Merangkul pinggang Jessica ke dekapannya, Demian lalu menghujani wajah Jessica dengan kecupan. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu meninggalkanku."


"Yayaya..., terserah." Jessica, karena dilanda perasaan gugup dan malu yang tinggi, jadi mencebik. Jessica masih sulit bereaksi terhadap afeksi Demian yang tumpah-ruah. Selain karena itu mendebarkan, Jessica juga tidak terbiasa dicintai dan dimanja seperti ini.


Uhuhuhu, rasanya sangat memalukan sekali! Jessica bisa mati karena panas tubuhnya sendiri.


"Baiklah, sekarang..." Puas sudah membuat Jessica-nya semerah tomat, Demian pun menarik pergelangan tangan Jessica untuk mengikutinya. Mereka melangkah santai dan beriringan menuju mobil Demian yang terparkir di depan Rhoden manor. Mobil itu adalah mobil jeep hitam yang sama yang sudah dipakai bodyguard Demian menjemput mereka kemarin.


"Karena ada begitu banyak tempat untuk dikunjungi, aku jadi bingung harus memulai dari mana." Sambil bicara, Demian mengutak-atik GPS di mobilnya. "Apa kau punya tempat yang ingin kau kunjungi, Jesse?"


"Mmm, aku tidak pernah ke sini atau membaca informasi apa pun tentang tempat ini jadi...," tatapan Jessica jatuh ke arah Demian, menyiratkan 'Kuserahkan semuanya padamu'.


"Baiklah, kalau begitu..., aku dengar turis banyak singgah ke tempat ini..."


Demian melajukan kendaraannya dan sementara mobil mereka melaju di jalan raya, Demian sesekali melempar tatapannya pada Jessica. Angin bertiup masuk melewati kaca jendela mobil yang terbuka, menyapa wajah Jessica dengan kelembutan yang menenangkan.


Jessica--tidak menyadari perhatian Demian--menatap kepada bangunan-bangunan yang ia lewati dalam kekaguman. Bangunan dengan warna-warni yang cerah berdiri berdampingan di sisi jalan raya, memukau mata.


Pemandangan ini sangat berbeda dari Vegas yang kepadatannya menyesakkan.


Beberapa menit berkendara, Demian akhirnya memarkirkan mobilnya di area parkir. Sebagai permulaan kencan mereka hari ini, Demian mengajak Jessica berjalan-jalan di wilayah Centro Storico. Lebih tepatnya, Demian mengajak Jessica menyusuri jalan belakang di Centro Storico yang omong-omong, menjadi tempat favorite turis kebanyakan.


"Waaaaahhh," Jessica menelan ludah begitu ia menapak di jalan berbatu yang terurai panjang di hadapannya.


Pemandangan jalan itu saja sudah memukau matanya, belum lagi bangunan-bangunan yang berdempet di gang kecil itu. Beberapa cafe, restoran, rumah dan bahkan gereja tua berada di dalamnya, berpenampilan seperti bangunan dari abad pertengahan.


Di setiap seluk-beluk gang itu yang seperti labirin, Jessica selalu menemukan satu atau dua hal yang memukau matanya. Membuat ia sangat terpana. Jika saja Demian tidak menggenggam tangannya, Jessica mungkin akan melalang-buana mengikuti matanya.


"Tempat ini seperti tidak nyata," Jessica bergumam sambil menyesap kopinya. Setelah beberapa menit berputar-putar, Demian akhirnya meminta Jessica untuk beristirahat di salah satu kedai kopi yang berada di area itu.


"Apa kau juga membawa pacar-pacarmu sebelumnya di sini?"


"Pertanyaan macam apa itu?" satu kacang almond mendarat di kening Jessica, Demian melemparnya.


"Maaf, hanya tiba-tiba kepikiran."


Jessica masih dilanda euforia, sebenarnya. Ia sangat bergembira bisa mengeksplor tempat-tempat seindah ini bersama Demian di sebelahnya. Jessica begitu berbahagia, sampai isi otaknya berlarian kemana-mana. Di luar kendalinya. Makanya dia jadi kepikiran ucapan Hestia di pesawat tempo hari.


"Aku tidak berkencan saat remaja," ujar Demian akhirnya.


"Itu sudah pasti kebohongan, kan?"


"Kau mau mendengarkanku?"


"Maaf."


Demian menghela napas, ia kembali mengambil kacang almond di toples dan mengunyahnya lamban. "Aku tidak mengatakan itu untuk membuatmu merasa spesial atau apa pun. Aku serius..., daripada berkencan seperti normal, hubunganku sebelum-sebelumnya selalu..., apa ya?" Demian bingung mengatakannya, jadi Jessica membantu.


"Penuh hormon?"


"Apa maksudmu?" Demian seketika sewot. Masalahnya, tebakan Jessica mungkin ada benarnya. Namun, Demian tidak mau ditatap seperti itu oleh Jessica. "Aku masih remaja, wajar-wajar saja kalau aku sangat aktif saat itu."


"Aku tidak mengkritikmu atau apa pun." Jessica mengendikkan bahu. "Hanya saja, aku tidak melihat ada perbedaan signifikan dari dirimu yang remaja dengan sekarang."


Maksud Jessica, Demian masih sangat buas di tempat tidur, itu menakutkan. Jessica terkadang bertanya-tanya apakah Demian mempunyai energi yang tidak ada habisnya. Dia terlalu bugar, sebenarnya.


"Jesse..., rasanya aku mulai tidak menyukai topik ini."

__ADS_1


"Oooh, apa salahnya berbicara tentang masalalumu sedikit. Mumpung kita di kotamu, aku ingin tau seperti apa kekasihku ketika dia masih remaja..."


"Kau tidak akan mau tau," ujar Demian, ia bergidik tak senang.


"Mengapa? Apa kau lebih bar-bar dari kau yang sekarang?" Alih-alih mengganti topik, Jessica malah semakin memikirkan dan membayangkan Demian versi remaja.


Apa saja yang sudah pria itu lakukan di masa mudanya. Mungkinkah dia menjalani masa remajanya seperti badboy di novel-novel? Bergelut dengan tiga hingga empat wanita, alkohol dan obat-obat terlarang tiap harinya? Terlibat perkelahian?


Eeeeiii, apa itu memungkinkan?


"Seriusan, apa yang kau bayangkan sekarang?" Demian menyipitkan matanya was-was. Ia curiga pada Jessica yang sekarang jelas sekali sedang membangun sebuah skenario nista di benaknya.


"Demy...," ujar Jessica, ia menatap Demian ragu-ragu saat itu juga. "Mungkinkah, alasan kau tidak mau bercerita soal masa remajamu adalah karena kau pernah terkena..., penyakit kelamin sebelumnya?" Mungkin itu alasan Demian tidak mau bercerita tentang masa mudanya.


"..."


"..."


"..."


...*...


Untungnya, jawaban Demian adalah tidak. Namun, berkat pertanyaan Jessica yang sudah melukai harga diri Demian, Demian menjatuhkan satu hukuman pada Jessica.


"Awas saja. Pulang nanti, aku akan membuatmu tidak bisa berjalan sampai beberapa hari."


"Kau tidak berniat mematahkan kakiku atas pertanyaan konyol, kan?" Jessica mengernyit tak senang atas ancaman Demian. Ia pikir itu terlalu brutal. Namun, Demian hanya menanggapinya dengan kening bertaut jengah.


"Kau sudah tidak tertolong, Jesse." Demian berucap agak iba. Terkadang Jessica terlalu polos untuk dunia, Demian merasa bersalah sudah menjadikan gadis dengan pemikiran murni itu sebagai miliknya.


Setelah meninggalkan wilayah centro storico, Demian pun membawa Jessica keberbagai tempat yang merupakan Ikon di Sorrento.


Mereka berjalan-jalan ke pasar, museum, tempat-tempat bersejarah dan Demian bahkan mengajaknya ke Naples, kota tempat pizza dilahirkan. Mereka berkunjung ke Naples hanya untuk mencicipi pizza yang terkenal paling lezat di kota itu.


Seharian ini juga, Jessica menghabiskan harinya dengan 'makan-jalan-makan' ketahap ia kekenyangan. Segala tempat yang ia kunjungi tidak hanya menyajikan pemandangan yang indah, tapi juga makanan yang lezat tiada dua. Jessica yang pada dasarnya sangat mencintai makanan, tidak bisa menahan diri setiap ia mengendus aroma lezat dari dagangan pedagang kaki lima.


"Demian..." Sementara mereka beristirahat dan menikmati matahari senja di puncak Villa communale park, alunan musik khas Italy terputar samar dari beberapa musisi jalan yang juga menikmati pemandangan matahari terbenam.


Menatap pada pemandangan itu pula, Jessica merasa napasnya terjeda. Ia begitu terpesona pada keindahan alam yang tersaji di hadapannya. Begitu indah. Jessica pikir ia mungkin bermimpi sekarang.


Barangkali, bila ia berkedip, segala keindahan ini akan hilang dari jangkauan matanya. Bila ia berkedip, ia bisa saja kembali berada di Vegas dan semua ini tidak pernah terjadi. Ia tidak mengenal Demian dan tidak pernah pergi ke Italy.


Menyadari kalau Jessica yang berada di sisinya sekarang tenggelam dalam lamunannya, Demian pun membangunkan Jessica dengan sentuhan lembut di pergelangan tangannya. Demian tidak tau apa yang Jessica pikirkan, tapi ekspresi gadis itu nampak muram.


"Apa yang kau pikirkan?" Demian meraih dagu Jessica dan memberikan usapan lembut di rahangnya.


Jessica mengangkat wajahnya dari pundak Demian. Ia menatap pria itu sebentar, sebelum berujar.


"Entahlah..., aku hanya bertanya-tanya..., bagaimana bila segala kebahagiaan yang sudah kualami hari ini ternyata hanya terjadi di kepalaku?" Jessica tersenyum samar. "Rasanya..., aku tidak cukup pantas untuk menerima segala keistimewaan ini."


"..."


"..."


Seusai mendengar penuturan Jessica, Demian ingin mengatakan pada gadis itu kalau dia pantas mendapatkan segalanya. Ia pantas menerima segala kebahagiaan dan keindahan yang yang ada di dunia ini.


Namun, begitu Demian menatap mata Jessica, Demian tau kalau Jessica tidak membutuhkan jawaban saat itu. Jessica hanya ingin mengutarakan isi hatinya tanpa perlu Demian mengoreksinya. Jessica hanya ingin Demian mendengarkannya.


Jadi..., alih-alih memberikan Jessica tanggapan apa-apa, Demian pun bergeser mendekati Jessica. Ia merapatkan jarak di antara mereka dan memberikan Jessica sebuah kecupan dalam di bibir Jessica yang terbuka.


...*...


'Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak pernah bisa lepas dariku?'


Sebuah pertanyaan muncul di benak Demian ketika ia menatap Jessica yang sedang asik mengunyah strawberry di sampingnya.


Jessica tidak menyadari tatapan dalam yang Demian berikan. Ia begitu terpaku pada strawberry segar yang diberikan pedagang buah padanya secara gratis.


Demian, kendati menikmati hari ini dengan penuh kesenangan, kembali pada pemikiran yang kacau begitu ia tiba di mobil. Demian memikirkan sesuatu yang sudah dilewatkannya setiba di Bellamy kemarin. Sesuatu yang tidak ingin ia bagikan kepada Jessica karena Demian tidak mau memperburuk situasi di antara mereka.


Jessica mempercayai Demian dan Jessica ingin Demian mempercayainya. Maka, sebagai kekasih Jessica, Demian akan bersikap seperti itu.

__ADS_1


Walau...,


Demian memejamkan mata.


Jessica adalah sosok istimewa baginya, karena itu, demi apa pun, Demian tidak ingin menciptakan luka di hati Jessica lagi. Hidup gadis itu sudah penuh pengalaman pahit, dia sudah mengalami hal-hal mengerikan. Demian tidak mau menambah keberadaannya dalam pengalaman mengerikan itu. Karena, bila sekali lagi ia membuat masalah, Demian percaya Jessica akan benar-benar hilang dari genggamannya.


"Apa kau sudah siap untuk kembali?" Demian memaksakan suaranya agar terdengar ceria.


"Mm..." Jessica mengangguk riang.


'Apa yang harus aku lakukan?' Demian berpikir keras sambil melajukan mobilnya di jalan raya.


"Jessica..."


"Ya?"


"Mau menikah?"


"Hah?"


Menengok ke arah Jessica, Demian lalu tertawa jenaka. "Aku hanya merasa..., semua yang terjadi hari ini sangat mendekati sempurna. Bila kita menutupnya dengan pernikahan, tidakkah menurutmu hari ini akan menjadi hari yang sangat legendaris?"


"Apa kau serius?"


"..."


"Demian? Kau bercanda, kan?"


"Entahlah. Aku hanya ingin mengabadikanmu di sisiku."


Jessica mendengus. "Itu keinginan yang mustahil. Walaupun kau menikahiku, aku tidak serta-merta akan abadi di sampingmu."


"Apa itu artinya kau akan meninggalkanku?"


"Kalau aku mati, mungkin?"


"Jangan terlalu suram!"


Jessica lalu tertawa. "Kurasa..., kalau kau melakukan sesuatu yang tak termaafkan, aku akan meninggalkanmu."


"Sesuatu yang tak termaafkan itu seperti apa?" Demian meneguk ludah. Jika bisa, Demian ingin mengetahui hal itu jauh-jauh hari. Dengan begitu, ia akan tau apa hal yang perlu ia hindari.


"Perselingkuhan, mungkin? Kekerasan padaku?"


"Hanya itu?"


"Selama kau tidak menyakitiku dan mengkhianatiku, Demian. Kupikir aku tidak akan meninggalkanmu."


Demian seperti menelan batu. "Aku tidak akan pernah melakukan hal-hal itu. Segala hal yang akan kulakukan kedepannya, semuanya demi dirimu, Jessica."


'Aku harap, ketika hari itu tiba, kau akan mengerti mengapa aku mengambil pilihan yang kubuat.'


"Kenapa kau menanyakan sesuatu yang aneh?" Jessica menjadi tak nyaman. Seingat Jessica, mereka membicarakan masalah pernikahan barusan.


"Karena aku tidak mau kehilanganmu, aku berencana mengikatmu di hidupku."


Jessica meringis jijik atas ucapan Demian yang terdengar klise baginya. Ucapan Demian di telinga Jessica seperti ucapan Alecto di novel fantasy-nya. Karena Alecto adalah sosok yang posesif.


"Kau harus berhati-hati dalam mengikat orang di hidupmu, Demian. Bisa saja orang itu adalah sumber penderitaanmu."


"Aku lebih baik menderita bersamamu daripada tanpamu."


"Oooowwwww,, klisenya. Aku mau muntah! Demian, ada apa denganmu? Kau menakutkanku?"


Demian menoleh ke arah Jessica dan menoyor kening gadis itu jenaka. "Aku hanya memenuhi ekspektasi cowok romantis versimu."


"Jangan melakukan itu!" Jessica menangkap pergelangan tangan Demian dan memerikan telunjuk Demian gigitan ringan. "Aku akan memukulmu kalau kau menoyorku."


"Itu menakutkan," cibir Demian. Ia memelankan laju mobilnya sebelum mendekati Jessica dan memberikan gadis itu kecupan kuat di pipinya.


'Aku tidak akan pernah membiarkanmu lepas dari jangkauanku, Jessica.' Demian bersumpah di hatinya.

__ADS_1


...*...


__ADS_2