
[Bagaimana kabarmu pagi ini?]
[Aku baik, kenapa?]
[Kau seharusnya menanyai kabarku balik, Jess.]
Hari ini, ketika Jessica selesai mempersiapkan diri untuk bekerja, ia mengecek ponselnya dan menerima pesan dari Jake.
Mengingat Jessica bukan tipikal wanita yang memiliki ketergantungan terhadap benda elektronik tersebut, ia pun menjawab pertanyaan Jake seadanya. Sampai kemudian dia dikoreksi.
"Berpacaran lewat chat pun harus ada aturannya, ya?" Jessica bicara pada dirinya sendiri sambil membalas pesan-pesan yang dikirim Jake padanya.
Jessica tidak tau apa-apa tentang aturan berpacaran secara 'normal'. Jessica tidak punya pengalaman dalam hal tersebut. Jessica hanya melakukan hal-hal yang biasa ia lakukan.
Ia tidak akan spontan berubah menjadi sosok manis dan berisik di depan kekasihnya. Dia tidak akan tiba-tiba bertanya 'apa menu sarapanmu hari ini?' atau 'Kapan kau akan turun bekerja?'.
Tidak, itu aneh.
"Hahahaa, apa ini penting?" Jessica jadi tertawa sendiri ketika ia membaca pesan Jake yang menyuruhnya bertanya tentang 'Apa warna pakaianmu hari ini?'.
"Siapa yang terlalu bodoh dan menanyakan hal semacam ini?" Jessica mengetik balasannya pada Jake dan..., ekhmmm!
Seorang wanita berdeham di samping Jessica, meminta perhatian atas keberadaannya yang tiba-tiba di sana. Seseorang itu, ketika Jessica menoleh, adalah Angela Lancaster dan mata sembabnya yang kentara.
Jessica menaruh ponselnya ke atas meja.
"Ada apa, Angela?"
"Boleh aku meminta waktumu sebentar, Bos."
"Sekarang?" Jessica belum sarapan, dan memikirkan kalau sosok yang mengajaknya bicara adalah Angela, Jessica merasa ia lebih baik sarapan daripada mendengar omong kosong wanita itu lagi. Jessica tidak mau merusak mood-nya dengan meladeni si gadis dua hati ini.
Tapi..., benar juga.
Jessica mau tau bagaimana reaksi Angela terhadap hubungannya dan Jake sekarang. Apa gadis itu masih melabelinya sebagai gold digger atau, bahasa jujurnya, cewek matre?
"Aku hanya meminta waktumu sebentar," ujar Angela. Ekspresi wanita itu dingin. Sepasang bola mata cokelatnya seperti sepasang mata ikan mati.
"Baiklah, mari bicara, Angela." Jessica mau tidak mau meladeni kemauan gadis itu. Ia turun dari bangkunya dan melenggang mengikuti Angela yang mengajaknya keluar cafe.
Sialan, kenapa harus bicara di luar?
"Aku harap kau tidak mengajakku bicara di Berlin, Angela." Jessica membuat lelucon sambil mengekori Angela. "Aku tidak membawa pasportku sekarang."
"Aku tidak ingin berbicara di dalam karena aku tidak mau menciptakan rumor yang tidak menyenangkan, Bos. Makanya aku mengajakmu bicara di sini." Di sini yang dimaksudkan Angela adalah gang sempit yang terletak di samping Elixir.
Tempat yang sangat familiar, pikir Jessica.
"Aku tidak tau rumor buruk macam apa yang bisa timbul dari pembicaraan singkat, Angela. Terkecuali kau berniat melakukan sesuatu yang brutal, maka hanya dengan itu kau bisa menciptakan rumor buruk."
Sementara Jessica bicara dengan gestur santainya, Angela di sisi lain, menahan ekspresinya agar tetap tenang. Ia sudah diambang batas kesabaran. Ia sudah menangis seharian karena Jake dan Jessica, dan demi Tuhan, Angela ingin siksaan ini berakhir. Ia ingin Jessica jujur di hadapannya sekarang!
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan pagi-pagi begini?" Jessica lanjut bicara, ia sedikit kesal ketika sosok yang mengundangnya bicara malah tak menyuarakan apa pun dari mulutnya.
Maaf maaf saja, Jessica bukan gadis yang bisa melakukan telepati. Terkecuali dia mutan dari novel fantasi, maka dia bisa saja berkomunikasi dengan Angela tanpa kata, tapi dia bukan. Mustahil dia mengerti apa yang Angela pikirkan kalau gadis itu tidak mengatakan apa pun.
"Kalau kau tidak kunjung bicara, aku akan meninggalkanmu. Ini omong kosong." Jessica membuat ancaman, dan ketika dia berbalik, ia merasakan kuku-kuku panjang Angela menancap di pergelangan tangannya. Di kulitnya.
"Tunggu sebentar," cekal Angela. "Aku belum mengatakan apa pun!"
"Makanya, bicara! jangan membuang waktuku!"
"Kau pikir bicara sangat gampang, huh? Kau pikir segampang itu aku menyuarakan isi kepalaku di depanmu?"
"Kalau tidak gampang jangan lakukan." Jessica menjawab tanpa keprihatinan.
Jika saja Jessica adalah orang luar yang tidak terlibat apa-apa, hanya seorang penonton dari balkon kamarnya, Jessica mungkin akan bersimpati pada Angela. Namun, ketika ia dihadapkan kembali pada gadis ini, gadis yang hanya Tuhan tau apa masalahnya, Jessica sudah tidak bisa bersabar dan berempati lagi. Jessica sudah kebal.
__ADS_1
"Mengapa kau sangat kejam? Apa ini kau yang sebenarnya? Di depan teman-temanmu kau bersikap seperti sosok baik hati dan ramah, tapi di sini..., ini sudah pasti sifat aslimu, kan?"
"Aku prihatin kalau kau berpikir manusia hanya memiliki satu karakter solid, Angela." Jessica menyama-ratakan tingginya dengan Angela dan menatap gadis itu tepat di mata. "Aku selalu seperti ini kepada orang yang tidak aku sukai, Angela Lancaster! Kau sebaiknya terbiasa!"
"Apa yang sudah aku lakukan sampai kau membenciku, hah?" Angela meninggikan suaranya. Ia mencoba mendominasi konversasi itu dengan suaranya yang melengking. Ia mencoba melahap setiap ucapan Jessica dengan suaranya. "Aku tidak melakukan kesalahan apa pun padamu, dan kau melakukanku seperti ini! Aku..., apa yang sudah kulakukan padamu?!"
Dari tidak suka ke benci itu agak...
Siapa yang tidak mau membuat rumor buruk tadi? Jessica jadi risih sendiri saat suara Angela menusuk kupingnya.
Berisik, ya ampun! Ini masih pagi!
"Kau terlalu menutup mata pada kesalahanmu sendiri, ya? mau kuingatkan bagaimana kau menghinaku hari itu? Kau bilang aku mendekati Jake karena uangnya, kan? Kau pikir aku sudah memaaafkanmu, ya, bajingan. Kau pikir aku akan melupakan omong kosong itu?"
"..."
"Lupa?" Jessica membentak balik.
"Aku hanya mengatakan kebenaran," jawaban Angela sangat menjengkelkan.
Sialan. "Kau tau apa itu kebenaran, Angela?" Jessica mengambil satu langkah lebih dekat ke hadapan Angela. "Kau yang mendekati Jake demi uangnya, itu lah kebenaran."
"Jake mengatakan itu?"
"Kau yang mengatakan itu, tolol!" Jessica sudah mendengar isi rekaman perbincangan Angela dan sahabatnya yang entah siapa. "Kau menginginkan kestabilan, bukan? Jake sudah di depan wajahmu, menuangkan uangnya untukmu, tapi pada akhirnya kau menyerah juga, kan? Makanya..., tau tempatmu sebelum kau menginginkan sesuatu yang di luar jangkauanmu!"
Jessica tidak berniat membully Angela, sejujurnya. Hanya saja, karena perempuan itu duluan memberikannya ultimatum 'Tidak mau menyebar rumor tak menyenangkan' yang terkesan mengancam, Jessica jadi jengkel duluan. Rumor tak menyenangkan, rumor buruk, semua itu maksudnya apa? Terkecuali Angela berniat mengatakan sesuatu yang bisa membuat persepsi salah di sana, barulah rumor buruk bisa tersebar, kan?
"Orang luar sepertimu tidak punya hak untuk mengkritikku! Kau tidak tau apa pun yang terjadi di antara aku dan Jake!" Angela sudah tidak bisa membendung emosinya, air mata meleleh di wajahnya. "Kau itu hanya pion yang digunakan Jake untuk melukaiku, sadar tempatmu!"
Itu mungkin ada benarnya.
Tapi..., tidak ada yang tau itu kebenaran.
"Aku benar-benar prihatin padamu, Angela. Kau pikir aku tidak tau apa yang terjadi? Aku adalah pacar Jake sekarang, aku tau setiap alasan mengapa kalian berpisah. Ah, aku juga tau kau dan Janette tidak cocok."
Nama Janette Allendale yang keluar dari mulut Jessica membuat tubuh Angela menegang murka. Wanita itu adalah sumber dari segala ketidak-percayaan dirinya. Janette telah merusak keharmonisan hubungannya dengan Jake karena wanita itu selalu ada di sana, selalu mencurigainya, selalu meremehkannya!
"Kau bertemu dengan Janette, huh? Kalian pasti berbahagia sudah menghancurkan hubunganku dan Jake. Kalian sama-sama ular!"
Haaaa~
Jessica menghela napas. Melihat Angela menangis, mau tidak mau, Jessica jadi iba juga. Memang, menjadi iblis bukan perihal yang mudah. Sulit! Serius, sulit!
"Omongan ini hanya berujung dengan kau dan aku menghancurkan satu sama lain, Angela. Aku sudah bosan. Kalau tidak ada yang penting untuk dibicarakan, mari kita tutup sampai di sini."
"Jangan pergi seenakmu," tukas Angela. Dia sepertinya menjadi orang yang belum selesai di sana. "Beritahu aku..." ucap Angela, suaranya sangat putus asa.
"Beritahu apalagi, Angela???" Apa gadis ini tidak lelah melukai dirinya sendiri?
"Beritahu aku, harus sehancur apa aku sampai Jake mau berhenti melukaiku?"
Ugh, itu pertanyaan absurd.
"Apa kita di novel sekarang? Jangan berlebihan." Jessica mengibaskan tangan sambil terkekeh tak nyaman. "Move on saja, Angela. Kau tidak akan mati tanpa Jake. Lagian, bukankah kau sudah punya pacar baru yang menggantung di pundakmu tiap waktu?"
"Demian..., apa Jake mengira aku dan Demian berpacaran?"
"Jake tidak peduli pada hubunganmu dan siapa pun." Jessica serius.
Jika ada yang peduli, maka itu sudah pasti Jessica. Tunggu, apa Angela dan Demian tidak berpacaran? Tapi waktu itu Demian memperkenalkan Angela sebagai kekasihnya di depan Erthian. Mengapa situasi menjadi membingungkan?
"Kau dan Demian memang berpacaran, kan?" Jessica mencoba mengkonfirmasi sekali lagi.
Namun, sebelum Angela menanggapi, seseorang yang menjadi bahan pembicaraan datang menyapa.
"Angela," tegurnya. Suara sarat akan kecemasan.
__ADS_1
'Hahaha, lupakan pertanyaan barusan, mereka sudah pasti berpacaran.' Jessica memberikan kedua orang itu dengan tatapan meremehkan.
Rasanya agak menyakitkan ketika pria yang ia cintai sekarang merangkul wanita lain.
"Kau seharusnya tidak bekerja hari ini. Kau demam semalam..., panasmu juga belum mereda." Demian--seperti pangeran dari negeri dongeng--mengecek suhu tubuh Angela. "Pulanglah dulu...," ujarnya.
'Semalam, huh? Romantisnya...'
"Maafkan aku, Demian. Aku sudah membuatmu cemas." Angela yang tadinya mampu berdiri gagah berani, sekarang menyusut di dalam jaket kulit pria itu. Ia melenggang duluan meninggalkan gang yang sempit itu. Meninggalkan Jessica dan Demian yang sekarang berhadap-hadapan. Adu tatap dengan emosi yang berantakan.
"Mengapa kau melakukan itu?" Demian membuka suara. Jessica menatap pria itu dengan kening mengerut bertanya. Apa lagi sekarang?
"Aku tidak tau apa yang kau katakan."
"Angela...," ujar Demian, nama yang ia ucapkan membuat kening Jessica menernyit tak senang.
"Kau tau Ange sudah cukup terluka, kan? Apa kau tidak melihat kondisinya? Mengapa kau masih mengatakan hal-hal kasar padanya?"
Angela sangat hancur, pikir Demian. Gadis itu tidak bisa berhenti menangis, dia sampai sakit semalam.
Emosi Angela sangat tidak stabil, Jessica seharusnya menyadari itu dan tidak menambah stress Angela.
"Apa?"
"Aku tau kau bisa lebih baik dari ini, Jessica."
"Tunggu, kau tidak tau apa pun." Jessica mengepalkan tangan. Apa-apaan ucapan Demian barusan?
"Sekedar informasi, aku bisa menjadi lebih buruk atau lebih baik tergantung kepada lawan bicaraku, ya. Kau pikir aku akan diam saja hanya karena seorang wanita bermata sembab menghinaku?"
"Dia tidak menghinamu..."
"Waaaaahh, tunggu, jangan bilang kau akan mengatakan hal yang sama..., 'Aku tidak menghina tapi aku mengatakan kebenaran' begitu? Tsk. Serius ya, Demian? Aku lupa kalian berbagi mindset yang sama."
Benar-benar soulmate.
"Aku tidak mengatakan dia benar, tapi..."
"Tapi kau maunya aku mengalah saja karena bukan aku yang menangis, begitu maksudmu, kan?"
"Jesse..."
Jessica mengangkat tangannya, menahan Demian agar tidak bicara. "Jangan pikir, hanya karena aku tidak menangis, aku tidak merasakan apa-apa setelah dihina berulang kali olehnya, ya. Jika dia tau mentalnya lemah, dia seharusnya tidak mencari masalah duluan denganku!!!"
Demian menghela napas. Ia mengerti apa maksud Jessica, tapi di satu-waktu, Demian juga memahami kritisnya situasi Angela. Gadis itu sedang tidak stabil.
"Jessica. Hentikan omong kosong ini, please?"
"Katakan itu pada pacar keparatmu! Suruh dia menghentikan omong kosongnya! Kalau dia masih mencintai Jake, jujur saja. Jangan mendatangiku berulang-ulang dan meminta apa pun. Datangi Jake, keparat. Apa susahnya, huh?!"
"Aku tidak membicarakan mereka," tukas Demian setelahnya. Ia menatap Jessica tepat di sepasang emeraldnya yang murka. "Aku memintamu berhenti dengan omong kosong pacaranmu itu!"
"Huh?"
"Kau dan Jake..., itu tidak mungkin terjadi." Demian meraih pergelangan tangan Jessica, menatap jejak genggaman Angela yang meninggalkan luka di kulitnya.
"Kenapa itu tidak mungkin?" Jessica menantangnya.
"Jessica!!! Kau bersamaku malam itu, kau pikir aku akan percaya kalau kau berpacaran dengan pria lain setelahnya? Perasaan bukan sebuah permainan, Jessica." Itu mustahil.
"Bicara untuk dirimu sendiri. Kau menghabiskan hari denganku ketika kau mempunyai Angela sebagai kekasihmu. Kau pikir hanya kau yang bisa seperti itu?"
"..."
"Kau terus menjadikanku mainanmu, Demian. Ini memuakkan. Berhenti menyentuhku! Sekarang, aku sudah mempunyai Jake sebagai kekasihku. Aku--setidaknya--ingin menjadi sosok yang loyal. Kau juga sebaiknya melakukan hal yang sama."
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Jessica."
__ADS_1
"Aku tidak melakukan apa pun, Demian. Kau yang melakukan ini padamu dirimu sendiri. Aku berhenti. Aku tidak mau menjadi mainanmu lagi, jadi menghilang dari hadapanku dan jangan pernah kembali!"
...****************...