
Karena sudah menolak ajakan Jake keluar berkali-kali, Jessica memutuskan untuk memberikan pria itu kesempatan bertemu sekali.
Jessica merasa bersalah karena Jake sangat bersikeras ingin menghiburnya. Jessica pikir, setidaknya, dengan meladeni ajakan Jake keluar, ia bisa sekalian meminta maaf atas penolakannya yang datang berulang.
Bukannya Jessica membenci Jake dan enggan keluar dengan pria itu, Jessica hanya ingin menyibukkan dirinya untuk bekerja sementara waktu. Jessica ingin menaruh fokusnya pada Elixir dan melupakan segala hal yang berkaitan dengan Demian, Angela ataupun Jake.
Tiga serangkai itu adalah sumber nestapanya.
Dengan resolusi itu di kepala, jadi di sinilah Jessica hari ini. Ia mengajak Jake bertemu di sebuah cafe library yang menyajikan berbagai dessert lezat, dan beberapa buku novel yang sedang trending.
Selagi Jessica menunggu kedatangan Jake, Jessica mampir ke rak buku yang ditata rapi di dinding. Jessica memilih salah satu buku bersampul tosca sebelum melenggang kembali ke bangkunya.
Jessica membaca novel dengan santai, ditemani sepiring black forest yang tersaji bersama secangkir kopi.
Seingat Jessica, ia mengajak Jake untuk bertemu tepat pukul sebelas. Namun, lima belas menit setelah jam di tangan Jessica menunjukkan pukul sebelas, Jake belum juga menampilkan batang hidungnya.
"Apa dia lupa?" Jessica bertanya-tanya sambil mengecek ponsel.
Jessica berharap, jika Jake tidak jadi pergi, pria itu bisa melaporkan padanya melalui pesan singkat ataupun telepon. Namun, dia tidak memberikan tanda-tanda kalau ia tidak jadi pergi.
Jessica ingin menghubungi pria itu duluan, tapi Jessica takut dia akan menciptakan kesan tak sabaran.
"Oooh, kalau seperti ini, aku bisa memesan dessert lagi." Jessica menatap piringnya dan merasa agak malu ketika sepiring black forest yang ia pesan telah tandas. Hanya tersisa remah-remah dan jejak cokelat di sana.
'Apa aku kelaparan?' pikiran Jessica menampung kegelian yang kentara di wajahnya.
Jessica kembali menatap pintu cafe sekali lagi, berharap Jake akan muncul di sana dan menyelamatkannya yang hendak memesan sepiring dessert untuk kedua kalinya. Namun, bukannya menemukan sosok Jake, seorang pria yang sangat ia hapal wajahnya malah muncul di sana. Di balik pintu kaca yang transparan.
Kehadirannya di sana membuat beberapa pelayan dan tamu remaja di cafe itu menjadi cekikikan salah tingkah. Wajah berseri-seri sumringah.
"Aaaa, itu siapa? Artis, ya?"
"Oooh, sepertinya begitu. How cuteee, mau minta nomor ponselnya..., huhuhuhu."
"Eh, kok langka-langkanya cowok tampan singgah ke dessert cafe sendirian? Apa jangan-jangan pacarnya ada di sini?"
"Jangan dong. Aku maunya dia single, mau kujadikan gebetan."
"Please, please, masuk sini, please!"
"Musim panas saja kalah panas sama penampilannya, duh. Matahari bisa insecure."
Beragam pujian bersahutan, terdengar cukup nyaring di dalam cafe yang seharusnya tenang.
Bukankah ini library cafe? Mereka seharusnya menjaga etika untuk tidak mengganggu tamu lain yang sedang membaca? Apa etika mereka tidak berarti apa-apa dibandingkan keberadaan pria tampan?
Yaaaah, Jessica tidak bisa menyalahkan mereka juga, sih. Mungkin karena itu Demian Bellamy, Jessica mengerti mengapa kedatangan pria itu menjadi sensasi. Elixir juga seperti itu, awalnya. Jessica--meskipun agak memalukan--juga bagian dari keriuhan itu. Jessica tidak menyangka pria yang pernah ia puji dan puja, sekarang menjadi penyebab kehancuran hatinya.
Eeeergh!
Lupakan masalah patah hati, mengapa Demian berada di luar sana? Apa salah alamat?
Memilih mengabaikan keberadaan pria itu, Jessica langsung mengangkat novelnya setinggi wajah. Ia tidak mau Demian melihatnya di sana. Walau Jessica meragu keberadaannya akan menarik perhatian pria itu, tapi, demi kenyamanan bersama, mari tidak saling mengenal saja.
Ding. Dong!
Lonceng yang tersemat di daun pintu berdenting ketika pintu terbuka.
"Kyaaaaaaa..." Dengung suara bak lebah datang dari para penghuni cafe yang di dominasi gadis-gadis remaja.
Mendengar reaksi mereka, Jessica langsung tau kalau yang masuk sudah pasti Demian.
Mau apa dia di tempat ini? Jangan bilang dia mempunyai simpanan lain di cafe ini?!
"Ekhm..." Demian--sudah pasti Demian--berdeham di depan meja Jessica. Sedetik setelah itu juga, ketukan dua kali terdengar di depan Jessica. Menimbulkan riak kecil di cangkir kopinya.
"Seseorang sepertinya terlalu serius membaca." Demian kembali dengan tudingan ambigunya.
"Seseorang yang tidak diharapkan datang," Jessica mendongak dari bukunya sekilas sebelum kembali berusaha fokus.
Demi Tuhan, bagaimana bisa dia marah dengan Demian ketika pria itu tau intonasi yang pas untuk menggodanya, mengejeknya? Dia seperti iblis yang menggoda Hawa untuk terjerambab dalam dosa. Dia..., tidak termaafkan!
Sialan!
__ADS_1
'Hanya karena dia berpenampilan keren, berwajah tampan, mempunyai ekspresi manja yang menggemaskan, itu tidak berarti dia baik. Dia adalah pria milik wanita lain, Jessica. Jangan sampai luluh!'
"Apa yang kau lakukan di sini?" Jessica kembali bicara ketika Demian mengisi bangku kosong yang seharusnya dihuni oleh Jake.
"Melihatmu, apa lagi?"
"Omong kosong, kau sebaiknya pergi, aku ada janji bertemu dengan Jake sebentar lagi. Aku tidak mau dia melihatmu."
"Tenang saja, aku juga tidak mau melihatnya, kali. Makanya aku menyingkirkannya."
"Menyingkirkan?"
"Maksudku..., lupakan Jake sebentar, apa kau bisa fokus padaku? Aku sudah lama tidak bertemu dan berbincang baik-baik denganmu. Apa kau tidak bosan marah denganku terus?"
"Aku bosan berurusan denganmu secara menyeluruh, Demian. Berhenti menggangguku, bisa?" Serius, Jessica sama sekali tidak memahami isi kepala Demian saat ini.
Bagaimana bisa dia datang dan pergi ke hidup Jessica sesuka hatinya tanpa menaruh peduli dampak yang ia tinggalkan?
Jessica sudah meratapi kekalahannya beberapa hari belakangan ini dan bukannya pengertian, Demian malah masuk ke kehidupannya lagi dan bertingkah tanpa beban.
'Oh, aku lupa..., di sini hanya aku yang jatuh cinta, kan...' Jessica meratap dengan kesedihan terpendam.
"Dengar, Demian..., aku minta baik-baik padamu, please..., menjauh dariku." Jessica sudah memohon di sana.
Jessica sudah tidak mau terluka untuk kedua kalinya. Jika perasaannya semakin dalam, rasa sakit yang ia rasakan akan lebih sulit disembuhkan. Dia akan terpuruk seorang diri sementara Demian berbahagia dengan Angela.
Jessica sangat mengharapkan pengertian Demian di sana, tetapi...
"Aku tidak mau."
"..."
"Aku tidak mau meninggalkanmu, Jessica. Berhenti mengatakan hal bodoh itu."
Jawaban Demian, kendati tajam dan tanpa pemanis buatan, membuat hati Jessica menggebu. Jawaban itu seharusnya tak membuat ia senang, tapi dalam diamnya, seperti wanita murahan..., hati Jessica membuncah meriah.
Kelegaan merayap di dadanya, mengalahkan perasaan bersalah.
Betapa dia merindukan Jessica-nya yang menggemaskan.
"Jessica..." ujar Demian sekali lagi, kesungguhan yang berpadu dengan kelembutan terpatri di ekspresinya.
Saat itu juga, Demian hendak meminta maaf kepada Jessica atas kata-kata kasar dan hina yang pernah ia utarakan karena kecemburuan. Kata-kata yang berujung membuat Jessica membencinya.
"Jessica aku.."
"Permisi," seorang pelayan wanita datang dan menginterupsi.
Ucapan permintaan maaf Demian yang sudah diatur sedemikian rupa menjadi tergantung di udara, terjeda.
Si pelayan wanita, tanpa perasaan bersalah sudah menyela, tersenyum sambil tersipu-sipu di sana.
Jessica mendongak ke arah wanita itu dengan pandangan bingung. Ada apa?
"Haii..., aku Donna. Aku melihatmu dari jauh tadi dan sangat terkesan dengan wajahmu..." Setelah Donna menginisiasikan pendekatannya pada Demian, wanita-wanita lain yang berada di sana dan menyimpan ketakjuban yang sama terhadap Demian, ikut menyerbu.
"Aku juga..., apa kau y**tuber?"
"Boleh aku follow insta-mu?"
"Boleh tau namamu?"
"Insta, boleh share insta-mu saja? Aku punya followers ratusan ribu di sana..."
"Aku influencer loh, apa kau juga sama?"
"Profesimu apa? Yakin bukan model? Mau kukenalkan dengan teman modelku?"
"Kau belum punya pacar, kan? Kalau punya juga tidak papa sih, aku tidak keberatan jadi yang ketiga atau yang keempat..."
"..."
"..."
__ADS_1
Blablablablabla~
Segala macam pertanyaan kemudian saling bertindihan. Jessica yang berada di sana mengamati situasi yang meliputi Demian dengan ketakjuban. Jessica takjub pada keberanian para remaja masa kini yang melakukan pendekatan tanpa basa-basi. Jessica pada masanya--di usia mereka--hanya bisa mendamba pria tampan dari kejauhan.
Mungkin karena kepercayaan dirinya yang kurang, dia jadi menjomblo sampai usia 28. Miris.
'Oh, benar juga...' Sebuah ide muncul di benak Jessica.
Ide untuk melarikan diri, apa lagi?
Mumpung Demian lagi diserang oleh remaja-remaja kasmaran, Jessica memutuskan keluar dari keramaian. Ia menarik tas tangannya sebelum perlahan-lahan menyelinap keluar.
"Terserah Jake mau datang atau tidak, kalau situasinya sudah seperti ini, aku mendingan pulang." Jessica bermonolog sambil melenggang di trotoar jalan.
Saat itu, gaun pendek musim panas yang dipinjamkan Dania padanya berkibar ketika angin bertiup kencang. Jessica berhenti berjalan dan menahan kibaran roknya agar tak mengekspos pakaian dalam.
'Sialan, apa ini pakaian Marylin Monroe?' Jessica memaki Dania di kepalanya.
Jessica tidak mengerti alasan Dania memaksanya memakai pakaian ini. Jika itu untuk memikat Demian, maka alasannya akan masuk akal. Namun, rencana Jessica hari ini adalah untuk berjumpa dengan Jake. Mereka mungkin hanya akan main catur di taman.
Mengapa dia diwajibkan memakai pakaian minim bahan ini?
Haaaa~
Jessica menghela napas lelah.
Bertemu dengan Demian benar-benar menguras tenaga. Jessica kesulitan mengontrol dirinya agar tidak luluh dan melumer di bawah tatapan manik kelam pria itu. Jika Jessica berada di sana lebih lama, Jessica mungkin akan--
"Kau tidak berpikir kau bisa melarikan diri dariku, kan?"
"Eh?"
EEEEHHHHHHH???
Mata Jessica melebar terpana, sosok yang ia hindari sekarang kembali menyapa. Sosok yang selalu sukses membuat jantungnya berdegup dalam ritme cepat.
"Demian, mengapa...?" Mengapa pria itu tidak bisa menghilang dari hadapannya, demi Tuhan? Bagaimana kabar gadis-gadis tadi?
Demian Bellamy, saat itu juga berdiri selangkah di depan Jessica, mata berbinar jenaka. Pergelangan tangan Jessica berada di dalam cengkeramannya yang erat.
"Sepertinya bicara baik-baik tidak akan mempan padamu," ujar Demian.
Ia menatap Jessica penuh pertimbangan dan dalam sepersekian detik yang tak terduga, ia meraih tubuh ringan Jessica dan membopong gadis itu di pundaknya. Dia membopong Jessica! Di pundaknya, seperti karung beras!
Hyaaa!!! Jessica memekik terkejut.
Tindakan Demian yang tiba-tiba membuatnya panik dan meronta-ronta.
Tidak hanya panik, perasaan malu juga membaur satu. Bagaimana bisa Demian memikulnya seperti memikul karung beras? Apa pria itu gila? Ini di depan umum, ya Tuhan!!!
"Demian, turunkan aku!!!"
"..."
"Demian!!!"
Mengabaikan perhatian masa dan rengekan Jessica, Demian melenggang menuju sebuah mobil yang terparkir beberapa meter di depannya. Sebuah mobil familiar di mata Jessica.
Adam berdiri di sana, menatap keduanya dengan kepala menggeleng iba.
"Demian--" belum selesai Jessica bicara, tubuhnya dilabuhkan ke bangku belakang dengan asal-asalan. Rambut dan gaunnya menjadi berantakan.
Demian--si pelaku penculikan--memberikan tatapan jenaka ke arah Jessica. Mengabaikan delikan gadis itu yang menghujamnya seperti tajam anak panah Arjuna, Demian melanjutkan ucapannya. "CD-mu terekspos tuh!", tuturnya dan BAM!
Pintu mobil kemudian tertutup.
"Keparat!!!"
*
Fyi, style Jessica hari ini...
__ADS_1