MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
62. Niat Terselubung.


__ADS_3

Hari ini--untungnya--Demian tidak singgah ke Bronze dan bermalas-malasan. Pria itu menghilang lagi, dan walau Oscar tidak menanyakan kemana tujuan Demian pagi ini, Oscar tau kalau tujuan Demian paling-paling adalah Jessica.


Toh, cowok itu sedang dilanda patah hati yang luar biasa. Dia mungkin akan mengemis maaf lagi kepada si owner cafe Elixir itu.


Anyway, bicara soal si owner Elixir, Oscar takjub padanya. Oscar mengira gadis itu tidak bisa marah. Well, mungkin dia bisa, tapi amarahnya tidak akan bertahan lama, begitu?


Oscar tidak menyangka kalau Jessica bertahan pada pendiriannya untuk mendepak Demian keluar dari hidupnya.


Itu mengesankan.


Seseorang sudah pasti campur tangan.


Perempuan seperti Jessica, bukannya Oscar bermaksud buruk, adalah tipe perempuan yang pemaaf. Itu tidak buruk, andai saja seluruh penghuni bumi adalah orang baik. Namun, sayangnya penghuni bumi kebanyakan adalah bajingan. Sifat pemaaf yang harusnya berarti baik itu, malah membuat mereka kerap dimanfaatkan. Dianggap lemah.


"Aku jadi penasaran, siapa yang sudah menyetir Jessica sampai dia mempunyai perubahan pada sikapnya? Apa itu si barista?" Oscar menimbang-timbang, tapi segera menggeleng.


Eeiii, Ethan sama lemahnya dengan Jessica. Mereka seperti saudara kembar dalam arti kepribadian.


"Apa Elliot?" Tentunya, dibandingkan Ethan, Elliot adalah pria yang lebih frontal. Dia adalah tipe pria yang akan memukulmu seratus kali bila kau memukulnya sekali. Elliot--meskipun berkepribadian keras--tidak seperti pria yang pandai berstrategi. Dia tidak mungkin mampu mempengaruhi Jessica untuk keras kepada Demian.


Berarti Elliot Winchester juga bukan. Coret.


"Oooh, jadi dia ya..." Satu kesimpulan terakhir adalah Dania.


Wanita sombong yang memandang tinggi dirinya sendiri itu lebih masuk akal untuk mempengaruhi Jessica. Dania yang mencintai dirinya sendiri secara berlebihan.


Dania adalah tipe perempuan yang mempercayai suaranya adalah suara masa, kebenaran mutlak.


Kepercayaan diri dalam suaranya ditambah dengan kedekatannya dengan Jessica..., itu cukup untuk membuatnya menjadi otak kedua Jessica.


"Setidaknya, dia mempunyai teman yang berguna." Oscar tersenyum tipis.


Sekarang ini, pertemanan Oscar dan Jessica belum naik ke tahap yang lebih dekat. Jadi, untuk Oscar mempengaruhi pola pikir Jessica akan sulit terjadi. Karena itu, Oscar merasa tersentuh atas bantuan Dania. Meskipun gadis itu tidak ada niat untuk membantunya.


"Bos..." seorang pelayan datang menyapa Oscar yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya sendiri. "Seseorang dari kelas VIP ingin mengajakmu bermain."


"Lewatkan saja. Aku sedang sibuk sekarang." Sibuk berpikir lebih tepatnya. Kalau mengenai badan, Oscar dari tadi hanya duduk selonjoran di atas sofa. Menikmati semangkuk anggur dan segelas tequila.


Iya, ini memang masih pagi. Memang bukan saatnya untuk menyantap alkohol. Tetapi, Oscar adalah Oscar. Oscar punya gaya hidup yang sulit dimengerti.


"Tapi, Bos..., katanya kau akan menyesal bila menolak bermain dengannya."


"Keparat, siapa memangnya?" Oscar mau tidak mau beranjak dari sofa. Provokasi sialan itu membuat Oscar bertekad untuk mengeringkan kantong tamu VIP-nya tersebut.


"Lihat saja, sebelum dia jatuh miskin, aku tidak akan membiarkannya berhenti bermain!"


Tekad kuat yang dibuat Oscar bertahan beberapa langkah sampai ia menyapa ruang VIP yang berada di lantai dua Bronze. Oscar--dengan penampilan ala dealer--menapak ke lantai dua dan menemukan seluruh meja di lantai itu kosong-melompong.


"Kemana player yang lain?" Oscar menengok ke arah security yang berjaga di dekat tangga.


"Seluruh lantai sudah di-booking, Bos."


"Huh?" Bagaimana bisa Oscar tidak mengetahui ini sama sekali?


Kekesalan yang muncul karena istirahatnya terganggu, mereda tergantikan oleh kewaspadaan. Oscar melenggang tenang menuju satu-satunya meja yang berpenghuni.


Sepasang netranya mengamati enam orang pria berbobot besar yang sekarang melingkupi meja tersebut. Enam orang bersenjata dan berpenampilan mewah. Setidaknya, setelan jas itu mahal.


Melihat Oscar mendekat, keenam pengawal itu membuka ruang untuk seseorang yang sejak tadi duduk di sofa. Seseorang yang bersembunyi di belakang pengawalnya.


Rambut ikal dengan warna cokelat madu dan iris hitam kelabu. Penampilan familiar itu disaat bersamaan terasa asing.


"Aaah," Oscar tersenyum seperti ejekan. "Erthian Bellamy, rupanya. Aku pikir apaan, kau membuatku gugup barusan."


Lebih daripada gugup, sekarang Oscar jantungan.


Erthian berdiri dari sofa, pakaian lengan panjang yang melingkupinya membuat Oscar merasa panas. Sekarang musim semi, duh. Apa dia tidak kepanasan?


Oh, aku nyaris lupa kalau dia penyakitan.


"Apa kau Oscar Brown?"


"Apa itu perlu dipertanyakan?" Oscar percaya Erthian sudah melakukan penyelidikan tersendiri bila dia mampu datang kemari tanpa membuat Oscar sadar sama sekali atas kedatangannya.


Keparat licik.

__ADS_1


"Lupakan saja. Itu hanya kebiasaan yang sulit dilepaskan." Erthian mengitari meja dan menghampiri Oscar yang berdiri gagah tanpa pengawal atau apa pun. Bertingkah seperti prajurit yang tidak takut mati.


Arogan.


"Apa yang tuan tersohor sepertimu lakukan di tempat kumuh ini?" Oscar memulai topik. "Kau yakin tidak salah tempat berkunjung?"


"Itu pertanyaan yang menyinggung, seorang Bellamy tidak pernah melakukan kesalahan."


"Well, kau bisa menyebutnya sebagai pengalaman pertama." Belum sempat Oscar menyunggingkan senyum ramahnya, satu tangan dari pengawal Erthian maju dan meninju wajahnya.


"F--, kenapa tiba-tiba?" Oscar merasakan nyeri di pipinya. Kering kuat buku-buku jari pengawal Erthian tersebut membuat darah merembes di dalam mulut Oscar.


'Sialan, kalau aku sampai kehilangan gigi, aku akan menginjakmu sampai mati.' Oscar membatin sambil mengusap pipi.


"Maafkan aku," ujar Erthian lembut. Ia mendekati Oscar dan menyerahkan sapu tangan. "Aku hanya tidak senang melihatmu tersenyum."


"Jika kau wanita, itu akan terdengar cukup menyakitkan." sahut Oscar.


Mengabaikan kelakar Oscar, Erthian melewati pria itu dan memandang kesana-kemari, mengamati. "Jadi, apa ini tempat Demian bernaung?"


"Apa maksudmu bernaung, dia cuma datang untuk berjudi dan menghilang."


"Oscar Brown, berpura-pura bodoh tidak akan membawa hal baik padamu." Erthian memperingatkan. "Aku tidak cukup tolol untuk tidak tau relasi kalian berdua. Berhenti bersikap seperti kau bisa membodohiku."


"Aku hanya mengatakan kebenaran. Demian datang kemari hanya untuk berjudi. Dia bisa dibilang sebagai lawan yang mumpuni, sebenarnya. Dia pernah menguras habis uang kami karena talenta dan keberuntungannya."


"Aaah, apa perjudian itu juga termasuk dengan mengintai kediaman Bellamy?"


"..."


"Orangmu itu sudah mati, asal tau saja." Erthian kembali ke sofa. Berdiri terlalu lama melelahkannya. "Aku ingin membawa oleh-oleh serpihan tubuhnya, tapi kurasa itu akan membusuk di jalan."


Erthian tersenyum jenaka.


"Aku hanya mempersiapkan jasa untuk Demian," ungkap Oscar.


Sialnya, Oscar merasa bermain tarik ulur dengan si sulung Bellamy ini tidak akan berakhir baik. Lebih baik Oscar bersikap frontal sekarang.


"Jasa itu termasuk dalam melindungi Demian dari serangan keluargaku, bukan?"


Erthian mengulum senyum sekali lagi. "Jangan salah paham, aku menanyaimu ini bukan karena aku marah atau apa pun. Sebenarnya, aku malah merasa sangat berjasa terhadap bantuanmu."


'Mohon maaf, tapi aku tidak salah dalam memahami apa pun, tuh!' Oscar membatin dongkol.


"Demian datang ke Vegas beberapa tahun lalu. Dia sebatang kara, kau..., pria asing yang sangat berjasa sudah rela membantunya. Kau membuatnya tetap hidup hingga sekarang."


'Ucapanmu terdengar bertolak belakang dengan nada suaramu yang menyiratkan kekesalan.' Oscar menyipitkan mata, mempertanyakan makna di balik segala kata manis yang tumpah di atas kepalanya.


"Jujur saja, Oscar..., karena kau sudah memperlakukan Demian dengan baik selama ini. Aku ingin memberikanmu rewards."


"Rewards?" Itu..., mencurigakan.


"Kau mungkin tidak tau ini, tapi aku sangat menyayangi Demian. Karena perpisahan yang panjang, aku banyak melewatkan hal-hal menyangkut dirinya. Aku ingin tau segala hal menyangkut Demian sekarang. Aku ingin belajar mengenai hal-hal terpenting di hidupnya. Apa yang ia suka dan tidak suka..."


"Apa kau bermaksud membeli informasi dariku dengan dalih rewards?"


Erthian mengerutkan kening heran. "Mana mungkin. Rewards atas jasamu sudah membantu Demian selama ini sudah kau dapatkan sekarang. Hal yang aku inginkan..., rewards itu akan menyusul tergantung betapa berharga informasi itu."


"Aku tidak merasa sudah mendapatkan rewards dalam bentuk apa pun sekarang..." Oscar kebingungan.


"Mengapa kau tidak peka sama sekali?" Erthian tersenyum miring. "Kau yang tidak mati di sini adalah rewards yang seharusnya membuatmu bersujud syukur."


"..."


"Anyway..., bagaimana dengan penawaranku barusan? Apa kau mau membantu pria yang begitu mencintai saudaranya ini untuk menjadi lebih dekat kepada Demian?"


Oscar menatap Erthian, seringainya mengembang. "Tentu saja. Aku akan sangat senang bisa berjasa dalam membantu mengakrabkan dua bersaudara."


*


Sekarang.


Setelah panggilan Oscar, Demian akhirnya menapak di Bronze. Kaki-kaki panjangnya membawa ia menuju lantai dua, lantai tempat Erthian berada.


Sepanjang jalan, ada banyak hal berkecamuk di dalam pikiran Demian. Hal-hal yang ingin ia katakan, hal-hal yang ia cemaskan berpadu padan di dalam kepalanya. Namun, saat ia menemukan wajah familiar itu berdiri di hadapannya, segala runut kata yang terpatri di benaknya buyar berantakan.

__ADS_1


Demian terpaku diam.


"Lama tidak bertemu, Demian..."


Dengan keramahan, Erthian menghampiri Demian yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Erthian melabuhkan dekapan hangat kepada adiknya tersebut. Namun, tidak seperti ia mengharapkan pelukan balasan juga, Demian tidak memberikan reaksi apa pun terhadap keakraban itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Erthian.


Saat itu, di mata Demian, Erthian begitu rapuh. Dia lebih kurus dari terakhir kali Demian melihatnya. Dia juga sedikit pucat. Sepasang iris hitamnya memancarkan kelembutan dan kasih sayang, tapi Demian sangat tau betapa menyimpangnya afeksi itu.


Demian--dihadapkan kepada Erthian--merasa seperti jantungnya dihujam oleh sebilah pedang.


"Demian, apa kau begitu terkejut melihat kedatanganku? Mengapa kau begitu kaku?"


Mendorong Erthian menjauh dari hadapannya, Demian memilih mengamati orang-orang yang berada di lantai itu. Oscar tidak ada di sana, dia kemungkinan sudah diusir oleh Erthian.


"Mengapa kau di sini?" Demian lalu berbalik. Ia mendelik.


"Aku merindukan adikku yang tersayang, makanya aku datang."


Hah, lelucon!


"Erthian," tegas Demian sekali lagi. "Apa kau membawa doktermu bersamamu?"


"Entahlah, kurasa..., mungkin?" Jawaban itu membuat tangan Demian terkepal.


Sialan!


Jika saja pria yang berada di hadapannya sekarang bukan pria penyakitan yang akan tumbang oleh sedikit tiupan angin malam, Demian mungkin akan menghajar pria itu sekarang.


"Ahahahaha, ada apa dengan ekspresimu? Tenang saja, aku tidak datang kemari untuk mati, kok. Aku hanya merindukanmu, Demian. Kau tidak pernah pulang, makanya, kupikir lebih baik aku yang mengunjungimu, begitu?"


Itu adalah omong kosong yang lain!


Demian menahan amukan.


"Kau seharusnya tidak berada di sini, Erthian!"


"Mengapa? Apa aku tidak boleh merindukan adikku sekarang?"


Andai saja Erthian adalah sosok bak malaikat yang akan menumpahkan kasih sayang kepada adiknya, maka apa yang ia ucapkan sekarang akan membuat Demian tersentuh. Sayangnya, dia bukan. Jika ada hal yang paling Demian benci di Bellamy, maka Erthian adalah jawabannya.


"Berhenti mengganggu hidupku. Aku sudah muak berurusan dengan kegilaanmu!"


"Aku tidak mengerti mengapa kau mengatakan ini padaku, padahal aku sangat menyayangimu."


"Erthian..., jangan membuat aku memukulmu."


"Kau boleh memukulku."


"..."


"Tapi kau tidak bisa, karena kau juga menyayangiku, kan? Saudaraku tersayang."


Demian menggeram. "Satu-satunya alasan aku tidak mau memukulmu adalah karena aku tidak mau mengirimmu kembali ke Sorrento dalam peti mati!"


"Terima kasih atas perhatiannya." Senyum Erthian merekah ceria. "Jadi, karena aku sudah di sini..., daripada bertengkar, bagaimana kalau kita saling melepas rindu dengan menghabiskan waktu bersama. Ah, apa kau tau restoran Italy terbaik di kota ini?"


"..."


"Demian?"


Sumpah, demi Tuhan..., sialan!


"Erthian, bagian mana yang tidak kau mengerti? Aku. Tidak. Mau. Kau. Di sini! Aku tidak mau kau berada di hidupku!"


"Jangan bicara begitu, kau melukai perasaanku." suara Erthian seperti ejekan. "Ah, karena aku baru tiba beberapa jam yang lalu, aku akan beristirahat di hotel saja hari ini. Kalau kau merindukanku, kau bisa mampir. Aku menginap di Emperor."


"Erthian..." Segala ucapan Demian memantul. Erthian hanya peduli pada ucapannya sendiri.


"Aku akan sangat senang bisa menghabiskan waktu bersamamu, Demian. Karena itu, jangan merusak kesenanganku." Kendati ucapan itu keluar dari bibir Erthian dengan ringan dan penuh keramahan, tetapi sepasang iris kelamnya menyorot Demian seperti ancaman.


Tubuh Demian mengejang dalam kewaspadaan.


Erthian bajingan, apa sebenarnya yang ia inginkan?

__ADS_1


*


__ADS_2