
Adam mengunyah sebuah apel yang dia pungut dari keranjang buah. Sementara bibirnya sibuk mengunyah, mata Adam sibuk bergerilya menyusuri pemandangan presidential suite yang Demian tempati sekarang.
Sebuah ruangan yang menjeritkan kemewahan. Adam merasa seperti manusia yang tidak pada tempatnya. Dia yang berpenampilan urak-urakan ini lebih baik berada di jalanan dibandingkan di sebuah kamar hotel yang lebarnya cukup untuk dihuni lima kepala keluarga.
"Katakan Demian, apa kau mempunyai mimpi indah selama tidur di sini?" Adam mengintip kamar tidur Demian yang harumnya menyengat hidung. "Apa tempat ini surga?"
Demian tidak menanggapi Adam. Dia sibuk mengirim pesan di ponselnya kepada gadis yang sama yang sudah mengabaikannya sejak lima hari belakangan. Padahal pesannya jelas sekali terbaca, apa gadis itu mengabaikannya dengan sengaja? Bodoh, itu bukan pertanyaan lagi.
"Hei, Demian..." Adam kembali bersuara. "Setidaknya, untuk tidur di tempat semegah dan semahal ini, sesuatu yang baik seharusnya terjadi, kan? Maksudku, apa kau mendapatkan mimpi basah setiap malam?"
"Aku tidak tau, apakah bermimpi memukulmu sampai mati termasuk dalam mimpi basah?" Demian jadi melampiaskan kekesalannya kepada Adam.
"Berhenti membicarakan omong kosong dan katakan apa yang membawamu kemari? Jangan bicara kesana-kemari dan menyebarkan napas busukmu di tempatku."
"Sangat menyebalkan. Untuk pria yang sudah menerima bantuan dariku, kau seharusnya berterima-kasih. Berhenti bersikap arogan." Adam--kendati melempar komplain ke arah Demian, berujung mengikuti Demian yang duduk di balkon kamar hotelnya yang memiliki kolam renang dan beberapa bangku lipat.
"Hotel macam apa ini?" kata Adam lagi. Masih terkesima dan ilfeel juga. Kemewahan yang berujung jarang dimanfaatkan itu sangat sia-sia di mata Adam.
Lagipula, berapa persen manusia di dunia ini yang mampu memesan presidential suite? Seberapa sering? Mereka hanya membuang-buang lahan dan bahan bangunan dengan membangun kamar hotel yang mewahnya tidak masuk akal ini.
"Bagaimana perkembangan situasinya sekarang?" Demian memulai pertanyaan. Ia merasa, bila ia menunggu Adam selesai mengamati setiap sudut presidential suite itu, mereka tidak akan pernah bicara.
"Situasi, oh..., Semuanya bekerja dengan baik," sahut Adam. Ia kembali ke mode serius. "Setiap anggota Inferno yang mengejarmu malam itu sudah kuberi pelajaran, tapi malangnya, aku tidak menemukan siapa orang yang membayar mereka."
"Apa mustahil untuk menemukannya?"
"Kurasa. Tidak ada yang mengingat wajahnya secara spesifik selain dia kelihatan seperti pria latin yang berbicara dengan logat Italy kental."
"..."
"Bandara dan dermaga di Vegas tidak memberikan laporan mencurigakan dari turis yang datang ke Vegas beberapa minggu belakangan. Terutama dari Sorrento. Jadi sekarang, jalannya cukup buntu."
Demian mengembuskan napas panjang.
"Apa kau begitu membutuhkan dalang yang melakukan semua ini? Kupikir kau sudah tau siapa pelakunya tanpa mencaritahu siapa."
"Aku membutuhkan si penyuruh ini bukan untuk menemukan dalang yang menginginkan kematianku, aku membutuhkannya karena aku ingin tau caranya menyusup ke Vegas tanpa ketahuan orang-orang Oscar."
Demian lalu membakar sebatang rokok. "Kau tau Oscar mempunyai segala informasi di tangannya, kan? Cukup mengherankan bila dia hanya mengetahui adanya penyerang ketika mereka sudah dalam aksi. Sesuatu yang lebih sedang terjadi, mungkin. Sesuatu yang di luar jangkauan Oscar."
Juga, jika pria itu memang orang Italy, Demian sangat penasaran mengenai apa yang terjadi di Sorrento. Demian ingin menanyai pria itu mengapa mereka begitu terobsesi untuk menyingkirkannya, menangkapnya, atau apa pun itu.
Demian penasaran, mengapa situasi di Bellamy menjadi begitu mencekam?
"Aku akan berusaha menggali lebih dalam lagi," kata Adam kemudian. "Aku juga akan meminta Oscar untuk lebih waspada. Dia terlalu banyak bersenang-senang belakangan sampai dia tidak begitu memperhatikan apa yang kau ucapkan. Terima kasih sudah lebih teliti."
Oscar bersenang-senang? Apa dia menemukan lawan berjudi yang sulit dikalahkan?
"Apa yang Oscar lakukan belakangan?" Demian meninggikan sebelah alisnya sambil menatap Adam.
"Tidak..., umm, tidak ada yang spesial." Adam mengendikkan bahu, berpura-pura acuh terhadap tatapan Demian yang meragu. "Dia hanya berjudi pagi dan malam."
Demian tidak serta-merta menaruh kepercayaannya kepada ucapan Adam. Namun, ia tidak pula mencecar pria jangkung bersurai platina itu dengan sejuta pertanyaan.
Demian memilih melewatkan topik mengenai Oscar dan ketololannya, dan lompat kepada topik yang cukup menggelitik rasa penasaran Demian belakangan.
__ADS_1
"Mengesampingkan perihal Oscar, bagaimana mengenai permintaanku yang satunya?"
Permintaan yang Demian maksudkan adalah permintaan untuk mengintai Jessica dan aktivitas hariannya. Demian mencemaskan gadis itu, jujur saja. Karena kepribadiannya yang rentan terhadap berbagai macam bahaya.
"Jessica?" Adam memastikan pertanyaan Demian.
"Ya, bagaimana kabarnya? Apa dia masih bertemu dengan si Allendale keparat itu?"
Adam mengernyit heran. Ada apa dengan Demian dan kebiasaannya menyelipkan makian di nama orang-orang?
"Jessica Cerise baik-baik saja, kalau itu yang kau cemaskan. Dia menyantap strawberry setiap pagi dan meminum kopinya sambil bercanda-tawa dengan si barista yang selalu tersenyum itu, Nathan..., atau Ethan?"
"Ethan," koreksi Demian. "Kau tau, apa dia sering keluar belakangan. Aku sudah mengingatkanmu, bukan? Kalau dia keluar, pastikan seseorang mengawalinya. Aku tidak mau dia didekati oleh pria mesum."
"Aku sudah memberitahu anak buahku. Untungnya, belakangan dia tidak pernah keluar malam untuk bersenang-senang. Dia hanya keluar untuk urusan pekerjaan, kau tau..., dia lebih sering pergi dengan sahabat chef-nya itu."
Adam memberikan laporan dengan detail, Demian merasakan kelegaan seakan-akan ia bisa membayangkan aktivitas Jessica nyata di depan matanya.
"Aku terkejut mengenai mengapa kau begitu ingin tau urusan gadis itu. Kupikir kau sudah tidak berurusan dengannya sama sekali. Sepertinya aku salah." Adam berujar sambil menatap Demian, ia memperhatikan bagaimana ucapannya membuat Demian bereaksi tak kalah heran.
"Aku hanya memperlakukannya istimewa karena aku berhutang-budi padanya."
"Begitukah? Sayang sekali, kurasa kalian cukup serasi untuk menjadi sepasang kekasih."
Demian memutar mata, "Kekasih, my head!"
Demian tidak pernah memandang Jessica dalam lensa romansa, dan dipikirannya, pandangan itu tidak akan pernah berubah. Jessica hanya seorang gadis muda yang sudah menolongnya. Seorang gadis muda yang menarik minat dan gairahnya lantaran aroma manisnya yang tidak biasa.
Demian tidak pernah dan tidak akan pernah melihat Jessica sebagai lawan jenis yang ingin ia hak patenkan sebagai pendamping hidupnya. Di mata Demian, posisi itu selalu dan selamanya menjadi tempat Angela.
*
Setelah melenggang kesana-kemari untuk menemukan keberadaan seorang Oscar Brown, langkah Adam pun melamban. Dia sudah menemukan si pecandu judi itu, duduk sendirian sambil mengurai kartu di meja permainan.
Sebelum Adam mengatakan apa pun, Oscar sudah menyapanya duluan. "Bagaimana kabar Demian?"
"Aku baru sampai dan kau sudah menginterogasiku dengan pertanyaan." Adam mengeluh bosan. Ia mengibas-kibaskan kaos yang ia pakai demi melepaskan panas yang melekat di kulit dan bajunya.
Musim panas di Vegas sudah seperti neraka, dan ia mondar-mandir di bawahnya tanpa perlindungan apa-apa selain satu buah kaos longgar hitam dan celana jeans panjang.
"Well, kau tidak berharap aku menyambutmu dengan basa-basi yang membosankan, bukan?"
"Setidaknya berikan aku waktu untuk bernapas."
"Apa kau tidak bernapas di sepanjang jalan kemari?"
Adam jadi menggerutu gusar. "Ah, sudahlah." tukasnya penuh kekesalan. "Berbicara denganmu dan Demian sama-sama menjengkelkan."
"Oh, oh, oh. Apa yang kulakukan, memangnya?" Oscar tertawa.
"Hanya menjadi dirimu sendiri sudah membuatku jengkel terhadapmu," kata Adam. Ia duduk di sofa dan mengikat surai platinanya. "Aku harap musim gugur segera mengakhiri panas membara ini."
"Semakin kau menginginkannya, musim gugur akan semakin lama tiba." Oscar menimpali doa Adam dengan ejekan. "Kau sebaiknya berdoa hujan, itu lebih efektif."
"Apa-apaan? Kalau kau mau, silakan berdoa sendiri. Jangan mengatur apa yang lebih baik aku inginkan terhadap Tuhan."
__ADS_1
Oscar mengendikkan bahu. Ia tidak merasa ingin melanjutkan kritikannya terhadap Adam. Walau sebenarnya ada banyak hal yang bisa dikritik dari anak buahnya itu.
"Kalau kau sudah puas berdoa, berikan aku laporan mengenai situasi Demian di sana. Aku penasaran apa dia, sedikit saja, merasa tertekan dan hampa ditinggal sendirian?"
"Dia baik-baik saja, harapanmu tidak terjadi sama sekali." Adam menyanggah ucapan Oscar sambil menyesap segelas scotch yang diserahkan seorang pelayan padanya. "Demian malah memutuskan akan bertahan di sana untuk beberapa hari ke depan. Kurasa tempat itu sangat membuatnya nyaman. Kau sebaiknya tidak memberikan dia kamar mahal."
"Oooh, jadi dia menunda keluar?" Oscar berbalik dan menatap Adam, punggungnya bersandar di sisi meja. "Apa dia takut orang dari Bellamy masih mengintainya di jalanan Vegas?"
"Sepertinya," sahut Adam. "Apa itu bisa terjadi? Kupikir kau sudah mem-filter manusia yang keluar masuk kota ini, terutama tamu-tamu dari Italy."
"Itu bisa terjadi," Oscar menggulung lengan kemeja putihnya, "Lagipula, keluarga Bellamy bukan sebuah keluarga yang bisa kuremehkan keberadaannya."
"Kalau begitu, Demian tidak akan bisa bersembunyi selamanya, kan?"
Oscar mengangguk tipis. "Kupikir Demian juga tau realita itu. Pertanyaannya adalah, apakah dia sudah siap menghadapi masalah yang akan datang atau tidak?"
Adam jadi ikut berpikir.
"Jadi," kata Oscar lagi. "Apa kau sudah mengatakan apa yang kusuruh kau katakan?"
"Omong kosong itu? Sudah." Adam menjawab dengan malas. "Seperti yang kukatakan, Demian tidak menganggap gadis itu serius sama sekali. Aku menanyakan apa dia memiliki perasaan terhadap Jessica dan dia hanya mengatakan kalau kepeduliannya hanya berlandaskan pada hutang budi saja."
"..."
"Aku tidak mengerti bagaimana bisa kau menebak Demian akan menaruh hati pada gadis itu. Kau tau Demian sudah menyukai satu gadis yang datang bersamanya dari Italy itu, bukan? Seraphina? Alina?"
"Angela, tolol!" Oscar melempar Adam dengan sebuah kartu.
"Pertaruhanku belum selesai," gumaman Oscar keluar dengan seringai. "Aku percaya dia akan menaruh hatinya pada Jessica."
"Mau taruhan?" Adam menantang.
"Baiklah," sahut Oscar. "Aku akan memberikanmu hotel Emperor kalau kau kalah."
"Gila, ya?"
"Bukan pertaruhan namanya kalau kau tidak kehilangan sesuatu yang berharga," Oscar lalu melenggang menuju Adam. "Kalau begitu, Adam..., apa yang akan kau pertaruhkan?"
"Sesuatu yang berharga di hidupku, kah?" Adam menimbang-timbang. "Aku akan menyerahkan motorku, kalau begitu."
"Deal?"
"Deal!"
Setelah berjabat tangan sebagai segel pertaruhan mereka, Adam kembali membuka suara. "Omong-omong, kalau kau begitu yakin Demian akan menyukai Jessica, lantas apa alasanmu menemui gadis itu belakangan? Kupikir malah kau yang menyukainya."
Oscar mencelup gelas scotch Adam dengan jarinya, ia mengambil sebongkah es batu dari sana dan memindahkan es batu itu ke mulutnya.
"Oh, itu..., karena Demian bilang aku harus mendapatkan teman sungguhan daripada mengganggunya, makanya aku berada di sana."
"Untuk berteman?" Adam ternganga.
"Ya, untuk berteman."
*
__ADS_1