
Jessica menyilangkan lengan di dada, sikap menunjukkan penolakan dan kewaspadaan terhadap keberadaan Demian yang sekarang duduk di seberang meja. Jessica menatap pria itu demi mendapatkan jawaban atas sikap absurd-nya di jalanan barusan.
Jika bukan karena Jessica mengancamnya dan mengecam sikapnya, pria itu mungkin akan masih menundukkan kepalanya dalam-dalam di tengah keramaian.
Sialan.
Mengapa dia begitu dramatis?
Jika Demian bersikap seperti itu, Jessica akan mendapatkan kesulitan dalam menolak keberadaannya. Jessica akan kesulitan untuk meneguhkan pendiriannya.
Karena..., bagaimanapun, melihat Demian dengan ekspresi sendu dan terluka itu selalu berujung membuat Jessica terluka juga. Seakan-akan hati mereka beresonansi, berbagi kebahagiaan dan penderitaan satu sama lain.
Sementara Jessica termenung tanpa suara, Demian memberanikan dirinya untuk mengangkat kepala. Untuk menghadap Jessica, gadis yang sudah ia lukai hatinya.
"Jesse..." mulai Demian, ia berujar was-was. "Maafkan aku, barusan..., aku tidak bermaksud memanipulasimu menggunakan kerumunan untuk memaafkanku. Hanya saja..., ketika aku melihatmu, aku melupakan segalanya. Situasiku, kondisiku..., aku hanya ingin memohon pengampunan padamu."
"..."
"Aku..., aku sudah membuat kesalahan besar karena sudah tidak mempercayaimu. Aku..., aku.."
"Kau tidak perlu meminta maaf." Jessica mengibaskan topik itu dengan tangannya. "Bukan berarti aku memaafkanmu, tapi..., aku mengerti situasimu. Jika aku mempunyai saudara seperti Erthian, aku mungkin tidak akan pernah mempercayai siapa pun."
"Tapi, Jesse..."
"Tapi, itu tidak berarti aku tidak terluka atas tindakanmu." potong Jessica. "Aku sangat kecewa karena kau sudah memilih mempercayai saudaramu daripada aku. Mungkin karena aku tidak mempunyai bukti apa pun, pasti sulit mempercayaiku begitu saja. Lagipula..., hubungan kita masih baru, mempercayai satu sama lain bukan sesuatu yang gampang."
Saat itu juga, rasanya Jessica seperti mengulang ucapan Oscar di kapal.
Jessica sudah memikirkan ini belakangan, situasinya dan Demian. Secara objektif, mereka berdua tidak salah apa-apa. Mereka hanya terjebak kesialan karena masalah eksternal yang menumpuk. Jessica--setelah merenungi situasinya dan Demian, perlahan-lahan menemukan sesuatu yang..., daripada menyebutnya pengampunan, Jessica mengerti.
Jessica mengerti Demian dan hanya seperti itu.
Sayangnya, hanya karena Jessica mengerti. Pengertian itu tidak senantiasa menghapus luka yang sudah Jessica terima beberapa waktu ketika bersama pria itu. Luka yang begitu menyakitkan. Luka yang ia terima dari patah hati dan pengkhianatan yang muncul dari kesalah-pahaman membuat Jessica merasa..., jera.
"Aku tau hubungan kita baru, tapi aku telah melakukan kesalahan padamu. Maafkan aku. Seperti yang kau katakan, hubungan kita masih baru, dan membangun kepercayaan bukanlah hal mudah. Karena hal itu tidak mudah, aku seharusnya lebih berusaha keras untuk mempercayaimu."
"Kau sudah berusaha semampumu." Jessica tersenyum kaku. "Aku tidak akan menuntut banyak darimu, Demian. Tidak..., lebih tepatnya, aku sudah tidak mengharapkan apa pun."
Ucapan Jessica kembali meninggalkan ngilu di dadanya. Demian tidak merasa perbincangan ini menuju jalan keluar yang ia inginkan. Ia tidak menemukan harapan di setiap pertukaran kata mereka, tidak menemukan peluang untuk dirinya dan Jessica kembali bersama.
Kendati gadis itu terlihat tenang..., apa ini artinya Demian sudah kehilangan kesempatannya? Apa seperti yang Erthian katakan, ia tidak akan pernah termaafkan?
"Jesse, kita..., aku..."
Bagaimana dengan kita? adalah pertanyaan yang tersangkut di kerongkongan Demian, tak mampu ia ucapkan.
"Aku tidak akan mengikutimu ke Sorrento lagi, kalau itu yang ingin kau katakan. Bahkan bila kau memaksaku, aku tidak akan pernah mengikutimu."
Jessica salah mengartikan keragu-raguan dalam ucapan Demian. Namun, itu wajar. Jessica tidak menemukan alasan lain mengapa Demian mencarinya sampai ke Bologna selain karena fakta Jessica yang sudah melarikan diri dari Sorrento. Kemungkinan besar, Demian ingin membawanya kembali ke neraka itu.
"Aku akan kembali ke Vegas." tegas Jessica kali ini, sepasang emerald-nya menyiratkan keteguhan.
"Aku tidak akan membawamu kembali ke sana, Jessica. Aku..., aku tidak akan pernah membiarkanmu kembali ke sana."
"Oh?" Itu baru.
"Maafkan aku." Demian kembali merasa bersalah begitu ia menemukan sepasang emerald Jessica, ia menunduk dengan hati yang nelangsa. Demian tidak tau bagaimana caranya memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi di hubungan mereka saat ini.
__ADS_1
Ketika ia menemukan keberadaan Jessica dari Erthian, yang Demian pikirkan adalah segera menemukan gadis itu dan meminta maaf. Demian sama sekali tidak tau kalau peluangnya ditolak dan ditinggalkan sekarang berada di tangan Jessica.
Ia tidak berhak meminta perdamaian, tidak ketika ia sudah menciptakan terlalu banyak kesalahan.
"Perasaanku saja, atau kau agak pendiam...?" Jessica menimpali Demian dengan kebingungan. "Apa kau sakit?"
"Huh?"
Jessica menghela napas. "Demian, apa yang kau inginkan?"
"..."
"Ketika kau datang kemari..., kau pasti mempunyai tujuan yang lebih dari sekedar meminta pengampunan, kan? Maksudku..., walaupun kau sudah membuat kesalahan, aku tidak melihatmu sebagai pria yang sangat memikirkan kesalahanmu berlarut-larut."
Demian--di mata Jessica--masih menyimpan karisma dan karakter tipikal badboy yang sering dia baca. Karakter yang enggan meminta maaf, arogan dan kurang empati. Karena itu, ketika Oscar bilang Demian akan datang dan memohon pengampunan padanya sambil berlinang air mata, Jessica sama sekali tidak percaya.
Tidak sampai hari ini tiba, ketika sekarang Demian terlihat seperti dia bisa menangis kapan saja. Netra kelamnya sendu dan kelabu.
"Jesse, apa kau membenciku?" tanya keluar dari bibir Demian disertai dengan ujung jarinya yang meraih telunjuk Jessica di atas meja. Ia memberikan sentuhan ringan di ujung jemari gadis itu, takut-takut. Demian takut sentuhannya akan ditepis dan ditolak Jessica.
Jessica memperhatikan sentuhan telunjuk Demian, sebelum kembali menatap wajah lesu pria itu.
"Aku tidak membencimu," jawab Jessica. Ia sedikit tersenyum di sana. "Lagi-lagi, ada apa dengan pertanyaanmu?" Jessica menjadi risih ketika situasi yang melingkupinya berubah serius.
Bukannya ia membenci pembicaraan serius, hanya saja..., belakangan, situasinya dan Demian selalu penuh ketegangan. Jessica lelah dihadapi situasi yang sama berulang-ulang. Jessica percaya Demian juga merasakan hal yang sama, menilai dari lesu parasnya.
"Aku sudah tidak mempermasalahkan situasi yang lalu," ujar Jessica. Ketulusan tersirat di dalam suaranya. Ia menatap Demian dan berusaha meyakinkan pria itu kalau apa yang ia ucapkan adalah kebenaran. "Aku..., aku lelah mempermasalahkan situasi yang sama."
"..."
"Situasi yang sudah terjadi, aku mengerti. Aku memahami pilihanmu. Karena itu, aku tidak akan membencimu ataupun menyalahkanmu."
Situasi yang ia hadapi kini hanya akan ia anggap sebagai sebuah kesialan, ketidak-berhasilan, kegagalan, sebuah pengalaman pahit yang akan ia kenang dan jadikan pelajaran kedepannya.
"Jessica, apa yang akan terjadi pada kita?" Demian akhirnya memberanikan diri membahas topik yang sudah menyumbat benaknya. "Aku..., aku masih sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu, aku tidak bisa merelakanmu. Aku mengerti aku sudah membuat kesalahan, aku kejam padamu, dan aku egois..."
Demian mengambil napas sejenak, matanya sedikit berkaca-kaca begitu ia menatap keteduhan di ekspresi Jessica. Gadis itu telah menemukan kedamaiannya, dan yang paling Demian takutkan adalah, dirinya tidak dilibatkan dalam kedamaian itu. Jessica barangkali telah merelakannya.
Itu adalah tindakan yang tepat, jujur saja. Siapa yang mau bersama dengan pria yang sudah melukaimu terlalu banyak? Demian mengerti bila Jessica ingin meninggalkannya, hanya saja..., Demian tidak bisa hidup tanpa Jessica.
Katakan ia berlebihan dan dramatis, tapi Jessica adalah sosok yang sudah menerimanya, mengesampingkan latar belakangnya yang hina, Jessica menganggap ia tidak berdosa. Jessica selalu menemukan cara untuk memahaminya, bahkan sekarang.
"Demian," Jessica bergumam rendah dan pelan. "Apa yang ingin kau lakukan sekarang?"
"Ya?"
"Kau bilang kau sudah meninggalkan semuanya, kenapa?"
"Aku..., aku tidak menginginkan kehidupan itu. Seperti yang sudah kukatakan di sana, aku memilih posisi itu karena aku ingin melindungimu, tapi, bila kau tidak ada di sana. Pilihan itu hanya akan berujung sia-sia."
Jessica menarik napas berat di sana. "Apa keluargamu akan baik-baik saja? Kau tau..., semua orang menginginkanmu mengisi posisi itu, bukan? Bahkan Hestia."
"Kelihatannya mungkin seperti itu, tapi..., haha..., ada banyak pihak yang menentang kepemimpinanku. Aku memang tidak cocok untuk menjalani pekerjaan seperti itu, sebenarnya.-
Tidak ketika aku tidak mempunyai kepedulian sama sekali pada keluargaku. Aku bisa membawa mereka semua jatuh ke neraka, dan aku tidak akan merasa iba."
Tawa Demian merekah kaku. Daripada terdengar jenaka, ucapannya lebih seperti cemoohan pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Erthian akan menjadi pemimpin di Bellamy sekarang, aku rasa..., itu memang tujuannya dari awal setelah menciptakan kekacauan ini. Dia berhasil menarik 90 persen bagian dari keluarga kami untuk memihaknya."
"Apa kau akan baik-baik saja?" tanya Jessica. Kelembutan suaranya memancing senyuman merekah di paras Demian. Seulas senyuman yang menyimpan ketenangan dan kelegaan.
"Aku akan baik-baik saja," jawab Demian. "Kurasa...,"
Bila Demian bersama Jessica, Demian percaya diri ia akan baik-baik saja. Namun, jawaban itu belum pasti. Jessica masih belum memberikan jawaban atas pertanyaannya, harapannya. Jessica masih mempunyai tembok tak kasat mata yang membatasi mereka.
"Demian..."
"Hmmm?"
Senyum mekar samar di wajah Jessica sebelum ia lanjut berucap dengan nada jenaka. "Apa itu artinya sekarang kau pengangguran?"
Atmosfir tenang dan sedikit suram yang melingkupi mereka sedikit bergeser ke arah ceria begitu Jessica mengganti intonasinya. Ia--tanpa usaha keras yang kentara--telah berhasil mengibas kabut yang melingkupi konversasi mereka, mereda di udara.
"Kau bisa mengatakannya seperti itu." Jawaban Demian disertai sedikit kekehan. Ia terkekeh dengan ekspresi masam. Bagaimana bisa Jessica membuatnya tertawa ketika ia sedang dalam keadaan yang gundah-gulana?
Demian sekarang diibaratkan berdiri di ujung jurang yang curam. Satu penolakan dari Jessica, ia akan runtuh dan jatuh dari jurang tersebut. Ia seharusnya ketakutan, cemas, dan terbenam dalam keputus-asaan. Ia seharusnya tidak tersenyum di sana.
"Demian," ucap Jessica. "Aku tidak tau harus memberikanmu jawaban apa sekarang. Setelah semua yang terjadi, aku tidak yakin aku ingin hubungan ini berjalan kembali. Maksudku..., aku tidak mau melukaimu, aku tidak mau kau melukaiku. Situasinya sangat absurd. Aku tidak yakin aku mau jatuh cinta kalau aku harus mengalami banyak penderitaan dalam prosesnya."
"..."
"Tapi, aku tidak ingin kehilanganmu juga. Jadi, kurasa, mungkin aku agak egois sekarang."
"Aku juga tidak ingin kehilanganmu sama sekali, Jesse." Demian bersungguh-sungguh.
"Kalau begitu, apa kau..., mmmm, mau menungguku?"
"Ya?"
"Aku masih mencari-cari jawaban mengenai apa yang harus kulakukan untuk kita, setelah semuanya. Ini adalah tindakan egois jadi kau berhak membuat pilihan, kau tidak perlu menungguku tanpa kepastian..."
"Aku akan menunggu," Demian menjawab laju. Ia bahkan tidak menunggu Jessica menyelesaikan ucapannya. "Aku lebih baik menunggu daripada kehilanganmu."
Daripada penolakan, Demian lebih baik bergantung pada harapan yang walau kecil, adalah harapan. Demian tidak ingin membuang peluang ini. Ia ingin memenangkan Jessica-nya kembali. Walau itu berarti ia harus memulai dari awal, tidak, situasi ini lebih baik. Demian lebih memilih mengulang semuanya dari awal, dengan begitu..., ia bisa memperlakukan Jessica-nya dengan layak dan sempurna.
Ia tidak akan memanjat balkon kamar gadis itu dan membuatnya ketakutan. Tidak melewati batasan yang berujung membuat Jessica tak nyaman. Ia tidak akan bersembunyi dalam memberikan Jessica afeksi. Ia akan menjadi pria yang menyapa Jessica dengan percaya diri, dan membuktikan cintanya pada dunia, pada semua orang.
"Aku akan menunggumu, karena itu..., kau boleh mengambil waktu sebanyak apa pun yang kau mau. Aku akan berada di sisimu sepanjang waktu."
"Apa itu artinya kau akan kembali ke Vegas?"
Demian mengangguk terlampau ambisius. "Tentu saja."
Jessica merasakan beban yang menumpuk di dadanya terangkat begitu Demian mendekat dan memberikannya pelukan erat. Rasanya, saat itu juga, Jessica menemukan tempat sempurna untuknya berada. Seperti puzzle yang menemukan tempatnya, ia merasa lengkap di dalam dekapan Demian. Jessica menarik napasnya dalam-dalam, menghirup keberadaan pria itu seperti oksigen yang sempat hilang.
Membalas dekapan erat Jessica pula, Demian memejamkan mata dan menenggelamkan wajahnya di surai hitam gadis itu yang menguarkan aroma favorite-nya.
"Terima kasih masih mau memberikanku kesempatan, Jessica." Demian bergumam penuh kelegaan.
"Terima kasih sudah mau mencintai monster sepertiku."
Jessica mengangguk sambil tersenyum sayu.
"Mau bagaimana lagi, kau adalah monster favorite-ku."
__ADS_1
...*...