
Perayaan di Hello bar hanya berlangsung sebentar. Terima kasih kepada cuaca yang tiba-tiba berangin dan berguntur di luar sana, Jessica cs seketika memencar keluar dari Hello bar untuk pulang.
Jessica merasa tidak puas pada perayaan kecil yang ia buat malam itu, tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak mau teman-temannya terjebak hujan.
"Hubungi aku ketika kalian sudah sampai di rumah," Jessica berpesan sebelum berpisah jalan dengan teman-temannya. Ia menuju satu taksi yang dihentikan Ethan untuknya, dan melambaikan tangan sebelum melesat pulang menuju Elixir.
Saat itu, jam di ponsel Jessica menunjukkan pukul 11 malam. Sementara Jessica membuka pintu cafe pula, rintikan hujan menyapa bumi dengan derasnya. Jessica bergegas masuk dan mengunci pintu. Setelah itu, sambil melonggarkan trench coat cokelat yang ia pakai, Jessica mendaki tangga menuju kamarnya.
Mungkin karena Demian sudah berhenti mengganggunya dua mingguan ini, Jessica tidak merasakan kewaspadaan apa-apa saat ia melenggang memasuki kamarnya. Ia mengira, Demian tidak akan pernah muncul di sana lagi.
Setidaknya, begitulah yang Jessica kira hingga ketika ia melempar mantelnya di sofa dan hendak melepaskan blouse putih yang ia kenakan, sebuah suara deheman mengejutkannya. Berasal dari arah kitchen set yang berada di sudut kamarnya.
"Ekhmm..."
Jessica spontan menurunkan blouse-nya kembali ke posisi semula, mata melebar terpana. Jantung melompat turun ke perutnya.
"Demian?"
"Lama tidak bertemu," sapa Demian. Pria itu sedang bertopang lengan di meja dapur Jessica, senyum miring merekah di paras jahilnya. "Ah, apa aku mengejutkanmu? Kau bisa meneruskan apa yang kau lakukan," kata Demian lagi.
"Haha, kau pikir itu lucu?" Jessica mencebik. Ia--mengabaikan tatapan menggoda Demian yang sialan, terlihat menawan--, memilih menaruh fokusnya pada keberadaan Demian itu sendiri.
"Kapan kau datang? Sebentar..., bukan itu, kenapa kau di sini?"
"Ada apa dengan pertanyaan kejam itu? Aku sudah bilang aku akan sering bermain kemari, kan? Kapan kau akan terbiasa?"
"Akan aneh kalau aku terbiasa."
Jessica memperhatikan Demian lebih dekat dan menyadari kalau sekarang pria itu sedang memakai mesin kopinya untuk membuat minuman.
"Buatkan aku satu," pinta Jessica. Intonasinya berubah manja. Jessica memohon dengan cengiran lebar mekar di parasnya.
Kapan lagi dia bisa meminum kopi buatan Demian? Ini kesempatan langka.
"Aku pikir kau sudah puas bersenang-senang di luar sana," ujar Demian. Ia memperhatikan penampilan Jessica dari atas ke bawah. Jessica yang terlihat menawan meskipun hanya mengenakan blouse putih dan jeans hitam ketat.
Demian menyesal sudah menyela Jessica lebih awal. Jika saja ia membungkam mulutnya lebih lama, ia mungkin dapat melihat pemandangan yang lebih menghipnotis matanya.
"Aku hanya minum tiga gelas," ujar Jessica. "Karena hujan, kami memutuskan pulang lebih awal."
Jessica memasuki area kitchen set-nya dan ikut memperhatikan mesin kopinya. "Haruskah aku membuat makanan?" Jessica bertanya-tanya.
"Aku tidak tau kau bisa memasak."
"Apa kau meremehkanku? Aku adalah pemilik cafe terkeren di Vegas, tau!"
"Waah, dari mana kau belajar menjadi narsis?"
"Aku tidak narsis, idiot." Jessica meninju lengan Demian kesal. "Aku tidak akan mengatakan sesuatu kalau faktanya tidak sesuai."
Demian memperhatikan Jessica yang sekarang menggali isi lemari pendinginnya, mencari-cari sesuatu yang bisa diolah menjadi makanan.
"Jadi, dari mana kau mendapat fakta kalau Elixir adalah cafe terkeren di Vegas?" Demian kembali menaruh perhatian pada gelas kopinya. Ia membuatkan satu cangkir kopi untuk Jessica juga.
"Hmmm, seorang malaikat bernama Oscar Brown yang mengatakannya," jawab Jessica.
Tanpa menyadari dampak ucapannya terhadap Demian, Jessica menutup pintu lemari pendingin dan berkacak pinggang. "Haruskah aku mencuri makanan di bawah? Aku tidak menemukan sesuatu yang bisa dimasak di sini."
"Oscar Brown?" Demian masih terpaku pada nama itu. Mengapa--dari semua orang yang ada, Jessica menyebutkan nama Oscar? Bagaimana bisa? Apa Oscar diam-diam menemui Jessica?
__ADS_1
"Mmm, dia adalah jurnalis di Las Vegas Guide Room. Kau tau situs itu, kan? Situs yang mempromosikan tempat-tempat keren di Vegas. Waaah, rasanya sangat menyenangkan karena nama Elixir akhirnya disebutkan di sana. Aku sangat terharu sampai mau meneteskan air mata."
Jessica kembali dalam mode fangirl-nya. Ia mengatupkan pipinya dalam telapak tangan, wajah mendamba sosok Oscar yang tidak ia ketahui siapa.
"Huh, jadi..., orang itu, dia me-review Elixir di situsnya."
"Begitulah, jadi kau mau apa? Biskuit atau pie apel?"
"Pie apel kedengarannya enak." Demian membuat pilihannya dan disaat bersamaan, mengakhiri topik menyangkut Oscar Brown yang sudah menjadi sosok hero di mata Jessica.
Sementara Jessica berlari turun ke cafenya, Demian membawa dua cangkir kopi yang ia buat ke sofa. Demian mengutak-atik ponselnya sebentar sambil menunggu Jessica kembali.
*
Tidak hanya membawa sepiring pie apel, Jessica akhirnya membawa sepiring biskuit cokelat juga. Ia menaruh dua piring makanan itu di atas meja sebelum duduk di samping Demian. Karena sofa di kamar Jessica hanya ada satu, Jessica mengambil jarak duduk yang cukup jauh dari Demian.
Jessica memperhatikan kopi buatan Demian di meja dan diam-diam tersenyum senang. Kopi buatan idolanya adalah yang terbaik. Harus diabadikan!
"Aku pikir kau tidak akan kembali lagi," kata-kata jujur itu keluar dari bibir Jessica dengan ringannya. "Aku sudah hidup nyaman belakangan ini."
"Mungkin karena aku tidak mau kau hidup nyaman, makanya aku kembali." Demian menjawab seraya mengejek Jessica. "Jadi, apa kau merindukanku, Jesse?"
"Sangat," sahutan Jessica sarkastik. Mana mungkin dia merindukan Demian.
"Aku juga merindukanmu."
Eh?
Jessica menoleh ke arah Demian dan tidak menyangka kalau pria itu akan berkata demikian. Kenapa dengan otak Demian? Ucapannya sangat tidak biasa, dan tidak menunjukkan kalau ia bercanda. Itu menakutkan, jujur saja.
"Kemana kau belakangan ini?" Jessica mengganti topik dalam kecanggungan. Sambil mengunyah pie apelnya, Jessica menunggu Demian menanggapinya.
"Hmmm..." Jessica manggut-manggut.
Jadi Demian bukan pengangguran.vYah..., itu masuk akal. Tapi pekerjaan macam apa yang ia kerjakan? Jessica menjadi penasaran.
"Aku memikirkanmu dan mencemaskanmu selama aku berada di sana," kata Demian lagi. Kali ini ia mengulur tangannya dan menyapu jejak remah pie yang mengotori sudut bibir Jessica dengan ibu jarinya.
"Aku penasaran, apa yang kau pikirkan selama aku tidak ada?"
"Aku?" Jessica menarik kepalanya mundur dari jangkauan tangan Demian. "Aku tidak memikirkan apa pun," respon Jessica serius.
"Aku dengar kau bertemu Jake Allendale saat aku tidak ada," Demian mencondongkan tubuhnya ke arah Jessica dan memangkas jarak yang ada di antara mereka. "Apa kau jatuh cinta pada si keparat itu?"
"Ew? Apa-apaan?" Jessica mau tidak mau, mundur. "Kenapa dengan tudinganmu yang tiba-tiba? Lagipula, dari mana kau tau mengenai pertemuan itu? Apa kau menguntitku?"
"Jangan meremehkan koneksiku," kata Demian. "Jadi, katakan, apa alasan kau dan Jake bertemu? Kau tidak benar-benar menyukainya, kan? Maksudku..., aku ada di depanmu. Bagaimana mungkin kau bisa menyukai pria lain."
"Kau sepertinya lebih narsis." Jessica menahan dada Demian yang terus menyosor ke hadapan wajahnya. "Kau tau kau bisa bicara tanpa perlu menyudutkanku sama sekali, bukan?"
Demian akhirnya mundur setelah didorong dan dicubit oleh Jessica di sana-sini. "Aku serius, dibandingkan Jake, aku cukup percaya diri kalau aku lebih hebat darinya dalam aspek apa pun itu."
"Hiek, aku tidak peduli."Jessica bergidik. "Lagipula, apa pun urusanku dengan Jake, kurasa itu bukan urusanmu sama sekali. Kenapa kau menjadi peduli pada urusan personalku? Apa mengganggu privasiku tidak cukup untukmu?"
Demian mengendikkan bahu. "Selama kau tidak menyukainya, aku rasa aku tidak akan mempermasalahkan pertemuan kalian."
"Memangnya kenapa kalau aku menyukai dia?" Kenapa Demian bertingkah seperti dia bisa mengatur Jessica seenaknya? Menyebalkan!
"Aku tidak akan setuju, Jake itu bajingan."
__ADS_1
"Seolah-olah kau bukan." Jessica merotasikan mata.
Pada akhir topik yang menjengkelkan itu pula, Jessica pun kembali menaruh fokusnya pada makanan di meja. Sesekali, ia menanggapi pertanyaan Demian dan ejekan yang pria itu lontarkan. Sesekali, ia hanya menanggapi pria itu dengan melayangkan tinju di lengan dan cubitan.
Sampai ketika waktu menunjukkan pukul setengah satu dan pie apel sudah tandas di piring kaca itu, Demian menyerahkan sebuah paperbag mungil berwarna pink kepada Jessica.
"Apa ini?" tanya mengalir keluar dari bibir Jessica sementara ia memindai paperbag tersebut dengan seksama.
"Hadiah untuk perempuan terbawel," kata Demian.
"Aku?"
Demian mengangguk.
"Sejak kapan aku bawel?" Jessica mencebik jengkel, tapi meskipun begitu, ia masih tersenyum senang atas hadiah yang Demian berikan. Pria itu sangat mengejutkan. Kenapa dengan kebaikannya yang muncul tiba-tiba? Apa dia akan bertemu ajalnya?
"Boleh kubuka sekarang?"
"Mm."
Dengan persetujuan Demian, Jessica pun membuka isi dari paperbag tersebut. Setelah berhasil membuka bungkusnya, Jessica menemukan sebuah parfume dengan botol kaca elegan berwarna fuschia berada di dalamnya. Ia memperhatikan nama brand yang tertera di botol kaca itu dan spontan takjub.
"Apa kau yakin ini untukku?" Parfume itu adalah parfume mahal. Jessica tidak yakin ia berani menggunakannya untuk sekali saja. Itu akan sangat sia-sia.
"Aku pikir aromanya akan sangat cocok untukmu," kata Demian. Ia meraih botol parfume itu dari tangan Jessica dan sebelum Jessica memahami apa yang hendak ia lakukan, Demian sudah lebih dulu menyemprotkan isi parfume itu ke tengkuk Jessica. Dingin airnya membuat Jessica membeku seketika.
Aroma manis vanilla menyeruak di udara, tidak begitu tajam. Jessica menyisihkan rambutnya ke sisi lain pundaknya. Ia mengusap jejak parfume yang Demian semprotkan di kulitnya. "Ini..."
Demian dengan tenang bergerak maju.
Jessica membeku. Mata membulat kaku.
"..." Tanpa mampu mengeluarkan suara, Jessica terperangah atas pergerakan Demian yang tiba-tiba merapat ke arahnya. Memangkas habis jarak di antara mereka.
Demian--dalam gerakan yang tidak diantisipasi Jessica sama sekali, tiba-tiba saja menyudutkan Jessica di bahu sofa. Mata bertemu mata.
Sebelum Jessica mampu memproses apa yang sedang terjadi di sana, Demian menyibak surai hitam Jessica dan membenamkan wajahnya di perpatahan leher Jessica yang menguarkan aroma manis vanilla.
Hangat napas Demian berlabuh di leher pucat Jessica. Menciptakan reaksi panas menyebar di seluruh wajah Jessica, mewarnainya merah muda.
"A-apa yang kau lakukan?" Jessica berucap dengan napas tertahan. Kedua tangannya bertahan di pundak Demian. Mencegat pria itu untuk bergerak lebih dekat, walau sebenarnya itu adalah tindakan sia-sia.
Wajah Demian sekarang telah terbenam di tengkuknya.
"Apa yang aku lakukan?" Tanya Demian balik, ia menyusuri leher Jessica dengan ujung hidungnya. Menyentuh jejak aroma manis yang sekarang berbaur di kulit Jessica.
"De-Demian?" Jessica merinding ketakutan. Gugup dan panik berpadu-padan.
"Apa yang kau pikir akan aku lakukan?" bisikan Demian terdengar rendah menawan.
Demian--di keheningan malam yang hanya mendengarkan bunyi deras hujan, melakukan pergerakan yang membuat Jessica menahan napas lama.
Demian, dengan ketenangan ekspresinya, menghirup aroma manis yang melekat di kulit Jessica. Seakan-akan gadis itu adalah oksigen untuknya.
Jantung Jessica seperti berhenti berdetak saat itu juga. Sepasang iris emerald-nya menatap nanar kepada surai ikal Demian yang masih menggelitik rahangnya. Menciptakan kupu-kupu berterbangan di perutnya.
Jessica, saat itu juga, kehilangan daya untuk memproses tindakan Demian yang di luar nalar dan pikirannya.
"Seperti yang kuduga," bisik Demian. Bibirnya bergesekan dengan daun telinga Jessica yang merah merona. "Aroma ini sangat cocok untukmu."
__ADS_1
*