MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
47. Perubahan Yang Tiba-tiba.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Wajah Demian mengering kaku. Sebuah panggilan singkat dari seseorang berhasil menghapus bersih ekspresi santai dari ekspresi Demian.


Demian, kendati sejam lalu tertawa ringan, menikmati segelas martini dan mendengar celotehan Oscar yang tidak pernah habis, berubah ekspresi 180 derajat. 


Raut Demian mengeras.


Tangannya terkepal erat, mengepal ponsel yang sudah menjadi media pengubah suasana hatinya.


Oscar yang berada di sana menyadari perubahan suasana hati Demian. Ia menaruh dadu yang ia pegang ke atas meja, wajah menyiratkan tanya 'Apa kau baik-baik saja?'.


Sekilas, dipikiran Oscar, sesuatu yang buruk sudah pasti terjadi. Apakah masalah itu bersumber dari Bellamy atau bukan adalah pertanyaannya?


Tapi mustahil kalau sesuatu menyangkut Bellamy sampai ke telinga Demian langsung. Apa pun itu yang terjadi pada Bellamy--biasanya lebih dulu menyapa telinga Oscar. Dia adalah sumber segala informasi.


Keheranan Oscar bertambah dalam detik yang terus berjalan.


"Siapa yang menghubungimu?" tanya Oscar, kali ini secara verbal.


"Angela..." gumam Demian. Suara lirihnya menyembunyikan amarah.


Saat itu, Oscar sama sekali tidak mengerti situasi yang sedang terjadi. Bila itu Angela, Demian seharusnya tidak semurka sekarang. Apa yang terjadi pada wanita itu sampai Demian kehilangan kendali atas emosinya sendiri? Apa dia ditabrak truk? Patah kaki?


Tidak ada sesuatu yang menyangkut Angela menjeritkan urgensi.


Setidaknya, di mata Oscar, Angela tidak memiliki gaya hidup yang bisa berubah 180 derajat dan membuat dunia gonjang-ganjing dalam keriuhan.


Oke, mungkin ini salah Oscar yang sudah meremehkan keberadaan Angela. Tapi Demian..., dia bukan pria yang gampang meledak dalam amarah terkecuali seseorang memprovokasinya secara langsung.


Provokasi macam apa yang Angela lakukan sampai Demian terlihat seperti singa yang kelaparan?


"Aku akan pergi sekarang," Demian bicara sambil menarik jaket kulitnya di sofa. Ia memakai benda tersebut sambil melenggang menuju pintu keluar. Langkah kakinya lebar.


Oscar mengeluarkan ponselnya ketika Demian menghilang dari jangkauan pandangannya. Ia menghubungi seseorang yang dapat membantunya sekarang, seseorang intel.


"Beritahu aku apa yang terjadi?"


"Itu..." suara di sana meragu tak nyaman. "Apa kau bisa menghubungiku di lain waktu? Situasinya sedang tidak pas sekarang."


"Jangan bernego denganku dan katakan saja!" Oscar tidak suka menunda.


"Tsk, baiklah. Angela dan Jake bertengkar di Elixir tadi..."


"Alasan?"


"Sesuatu menyangkut Jessica, kurasa. Bagaimana kau tau?"


"Hmm..., itu menarik. Bisa kau mencaritahu lebih?"


"Akan kuusahakan."


*


Dua jam sebelumnya.


Jessica sedang membaca sebuah novel romance di tangan kiri, dan menyantap sepiring strawberry di tangan kanan. Jessica menikmati aktivitas paginya hari ini dengan bersantai di Elixir. Ia duduk di meja yang dekat kepada jendela yang terbuka. Menikmati cahaya matahari pagi yang tumpah di atasnya.


Hari itu adalah hari Rabu. Pengunjung Elixir pagi itu cukup sedikit, jadi bantuan Jessica tidak begitu di butuhkan di sana. Karena tidak dibutuhkan, makanya Jessica menepi sendirian sekarang.


Dia begitu terbenam dalam buku bacaannya, menikmati perubahan plot dari ceria menjadi nelangsa hanya dalam beberapa paragraf dan susunan kata.


Jessica begitu menikmati aktivitasnya sampai dia tidak begitu peduli pada seseorang yang menarik satu bangku kosong di seberangnya.


Jessica pikir itu Dania, atau Ethan.


Tidak ada orang lain yang akan menghampirinya terkecuali Dania dan Ethan. Hanya dua orang itu yang mengenalinya di muka bumi ini, dan Elliot. Tapi chef itu sedang sibuk.


Tentu saja sosok semacam Oscar, Jake dan Demian adalah sedikitnya orang yang mempunyai peluang untuk menginterupsi Jessica. Namun, mereka tereliminasi oleh alasan solid.

__ADS_1


Pertama, Jake trauma bertemu Angela, dia tidak akan mampir ke Elixir. Dua, sekarang Angela shift pagi, Demian tidak akan menghampirinya secara terbuka. Ketiga, Oscar..., dia hanya datang dua atau tiga kali dalam sebulan. Dia tidak pernah datang di hari Rabu.


Setidaknya, alasan itu cukup solid di pikiran Jessica yang hanya penuh oleh hal-hal logis. Dia tidak pernah mempertimbangkan keajaiban dunia.


Tidak sampai ia mencium aroma lembut dari parfume pria menyapa hidungnya. Itu bukan Ethan. Jessica tau Ethan risih terhadap perfume, Elli? Dia lebih sering muncul dengan aroma bumbu dan makanan.


Jadi...


"Apa yang kau baca sampai kau begitu tegang?"


Sebuah keajaiban dunia membawa Jake Allendale duduk di depan Jessica, bertopang dagu seraya mengumbar wajah tampannya yang memukau mata.


"Mengapa kau di sini?!" Pertanyaan Jessica spontan, berbaur dalam kecemasan.


Seingatnya, Jake tidak ingin menapakkan kakinya di Elixir untuk sementara waktu karena dia tidak tahan bertemu Angela. Hatinya sakit, katanya. Itu wajar. Yang tidak wajar adalah kedatangannya sekarang.


"Aku memutuskan menghadapi masalahku sekarang," Jake memberikan jawaban yang, phew, bijak tapi tidak membuat Jessica puas.


"Apa kau yakin baik-baik saja? Bagaimana kalau Angela melihatmu bersamaku?" Wanita itu bisa mengatakan ini itu padanya lagi. Menghujaninya dengan caci-maki yang berselimut alasan kepedulian. Jessica tidak mau menciptakan masalah pagi-pagi, sialan.


"Santai saja, Jesse. Biarkan dia melihat. Toh, urusanku padanya sudah usai."


"Ti-tidak..., masalahnya..." Kemana perginya segala trauma dan drama 'Aku tidak bisa bicara pada siapa pun dan sangat depresi' itu? 


'Jake Allendale, kalaupun kau sudah sehat sentosa, kau seharusnya bergembira dan melupakan keberadaanku sekarang. Kau tidak perlu menemuiku lagi sekarang!'


"Shuuush," tukas Jake. "Ini bukan masalah."


Itu seratus persen masalah. Jika Angela keluar dari dapur dan melihat keberadaan Jake di sini, hanya Tuhan yang akan tau reaksinya.


"Kau sebaiknya keluar sekarang," kata Jessica. Kali ini ia menekan kepanikannya dan berujar lebih tenang. "Bagaimana kalau minum kopi di depan blok ini?"


"Di sini juga menjual kopi, kan? Mengapa aku harus minum kopi di tempat lain."


"Yah, itu..."


"Kau tidak perlu mencemaskan situasiku, Jessica. Walaupun aku menyukai kepedulianmu padaku, aku serius ingin berubah dan melepaskan segala beban pikiranku."


"Aku ingin menjadi teman yang tulus, aku ingin berada di sampingmu tanpa alasan terselubung. Meskipun aku mengatakan aku mempunyai beban yang tidak mampu aku katakan, aku ingin mengatakan semuanya sekarang."


"Hah?"


"Aku ingin terbuka padamu."


"Kau tidak perlu terbuka..., atau membuka apa pun padaku, tau?" Jessica sulit menafsirkan makna dari ucapan Jake yang berbelit-belit dan rumit. Dia seperti matematika, Jessica hanya mendengarkannya tanpa mengerti apa pun.


Jake meraih tangan Jessica yang masih menggenggam sebuah strawberry.


"Jessica, terima kasih sudah menjadi teman yang setia mendengarkan diamku belakangan. Aku mengatakan aku ingin kau mendengarkanku, tapi selama pertemanan kita, aku tidak pernah mengatakan apa-apa."


"..."


"Aku merasa bersalah sudah membuang waktumu hanya untuk menemaniku yang bisu. Namun, meskipun aku merasa bersalah dan merasa aku harus berhenti mengganggumu..., aku tidak bisa berhenti." Jake mengutarakan segala isi hatinya dengan ketulusan.


Walau tidak ada yang tau apa alasan mengenai dia yang tiba-tiba datang ke Elixir dan memuntahkan racauan panjang ini, tapi ketulusan terasa di setiap untaian katanya.


Apa dia mendapat wahyu akan mati dalam lima minggu lagi? Jessica menjadi penasaran sendiri.


"Itu..., ya..., itu bukan sesuatu yang perlu kau pikirkan." Jessica memaksakan senyuman.


Sementara dia mendengarkan ucapan Jake yang menyiratkan kelembutan dan ketulusan, mata Jessica sulit fokus padanya. Jessica mencari-cari keberadaan Angela. Jessica takut Angela akan datang dan mencincang mereka menjadi lima bagian.


Jessica tidak mau dipandang sebagai orang ketiga..., itu menjijikkan dan mencoreng imejnya sebagai owner.


"Jadi, buku apa yang kau baca?" Jake mengganti topik sesuka hatinya. Ia mengintip ke arah sampul buku Jessica dan menemukan kalau itu adalah novel romance yang sedang naik daun di pasaran sekarang.


"Aaah, aku baru tau kau suka membaca novel."


"Hanya hiburan," jawab Jessica. Ia menaruh bukunya ke atas meja.

__ADS_1


Entah bagaimana, tidak peduli betapa Jake berusaha membuat situasi itu natural dan biasa, Jessica masih merasakan risih mendominasinya. Situasi itu terlalu janggal untuk menjadi sesuatu yang normal.


Meskipun Jake ingin tiba-tiba membuat perubahan dalam pendekatannya melepas trauma, dia seharusnya menghubungi Jessica terlebih dahulu mengenai kunjungannya. Dia tidak bisa datang seperti tornado.


Sesuatu sedang terjadi, sesuatu yang tidak Jessica pahami.


"Jake?"


Saat Jessica bertempur di kepalanya, berusaha menemukan alasan mengenai kedatangan Jake yang tiba-tiba, Angela datang menyapa. Tidak ada kesenangan dalam nada suaranya. Jake menoleh ke arah Angela, dan di sana, belahan hati yang sudah memisah darinya, berdiri.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Angela menjadi impulsif. Dia mendatangi Jake dengan emosi. "Bukankah aku sudah memintamu untuk menjauh dariku?"


Jake beranjak dari tempat duduknya. Keengganan mendongak ke arah Angela membuatnya berdiri. Ia akan berhenti menatap tinggi ke arah wanita itu lagi.


"Aku datang kemari bukan untuk menemuimu, Angela." Jake memberikan jawabannya dengan ketenangan.


Sebagai penonton, Jessica dilanda kecemasan.


"Kau tidak perlu berbohong. Memangnya apalagi alasanmu kemari kalau bukan aku?"


"Aku mengerti kesalah-pahamanmu, tapi aku datang kemari bukan untuk menemuimu. Aku bersungguh-sungguh." Jake bergeser untuk menunjuk ke arah Jessica sebentar. "Aku datang untuk menemui Jesse," lanjutnya.


Sengaja menyebut Jessica 'Jesse' demi menunjukkan keakraban di sana.


"Jesse..., huh?" Angela tidak percaya. Itu mustahil dan tidak masuk akal.


"Apa membuatku menderita selama ini tidak cukup, jadi kau datang kemari untuk membuatku cemburu?!"


Sebuah drama yang dilakoni dengan sepasang kekasih yang jelita sudah pasti menarik mata. Jadi, walaupun Angela dan Jake tidak saling meneriaki di sana, ketegangan yang meradiasi di antara keduanya cukup untuk membuat berpasang-pasang mata menatap penasaran.


Sialan, Elixir bukanlah theater. Mereka seharusnya tidak membuat keributan di sini!


"Aku..., membuatmu cemburu? Untuk alasan apa aku perlu melakukan itu Angela? Hari ketika kau meninggalkanku semua yang terjadi di antara kita sudah selesai. Selesai. Kau tidak mempunyai nilai apa pun lagi di mataku!" Jake berujar penuh keseriusan, tatapannya menajam.


"Aku sudah melupakanmu!" tutupnya.


"Omong kosong, kalau kau melupakanku kau tidak akan datang kemari, Jake. Kau kemari untuk melukaiku, kau pikir aku tidak tau...? Jessica hanya alasanmu!"


"Siapa yang melukai siapa, Angela?" Jake ternganga. "Kau yang sudah menghancurkan kita, kau yang sudah melukaiku, jangan melupakan apa yang sudah kau lakukan."


Takut kalau keributan akan terjadi di sana, Jessica akhirnya mengirim sinyal kepada Dania untuk menyelesaikan masalah itu secara rapi. Jessica tidak mau menginterupsi karena situasinya hanya akan memanas daripada sekarang. Dia bagaimanapun adalah tersangka. Objek kecemburuan Angela.


"Apa yang terjadi di sini?" Dania memahami sinyal Jessica dan segera menyela.


"Maafkan aku, hanya keributan kecil." Jake menyahuti Dania sambil menoleh ke arah Jessica. Ia merasa bersalah.


"Jika ada hal penting yang perlu kalian diskusikan, aku sarankan kalian melakukannya di luar. Kami hanya menginginkan ketenangan untuk para tamu-tamu kami. Aku harap kalian mengerti."


Jake mengangguk dan tersenyum tipis. "Aku mengerti."


"Dan kau Angela?"


Angela menelan pahit di kerongkongannya. Ia menganggukkan kepala.


Setelah interupsi dari Dania, untungnya Jake dan Angela meninggalkan Elixir dan bicara empat mata entah di mana. Selepas kepergian mereka pula, Jessica menghela napas lelah. Situasi barusan begitu menegangkan, ia merasa seperti sebuah pedang jatuh di lehernya, siap menebas kepala.


"Apa yang terjadi barusan?" Dania mengerutkan kening heran.


"Kau tidak akan mau tau, Dani." Jessica tertawa hambar. Ia mengibaskan tangannya sebagai isyarat kalau situasinya sudah baik-baik saja. Ethan dan Elliot yang menatap mereka dari kejauhan mengurut dada lega.


Jessica berharap situasinya baik-baik saja, walau sebenarnya ia agak heran terhadap perubahan sikap Jake yang tiba-tiba.


Jessica berharap situasinya akan kembali normal.


Tanpa tau apa yang akan terjadi, Jessica membuat harapan. Tidak tau sama sekali apa yang Jake katakan di luar sana akan berimbas terhadapnya, mempengaruhinya.


Jake dengan api amarah berkobar di dadanya, mengatakan sesuatu yang akan membakar semua orang.


"Aku menyukai Jessica, aku berpikir untuk melakukan pendekatan padanya. Karena itu, kau akan sering melihatku di Elixir, Angela. Kalau kau tidak nyaman dengan keberadaanku, kau bisa berhenti dari sini dan memulai pekerjaan di lain."

__ADS_1


*


__ADS_2