MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
73. Cocok.


__ADS_3

Air mata tidak berhenti mengucur dari sepasang manik cokelat Angela. Gadis itu menangis tanpa suara, ketertegunannya masih sama. Ia belum mampu mencerna atau bahkan menerima informasi yang sudah ia dengar hari ini. Bahwa, Jake Allendale menjalin hubungan istimewa dengan bosnya, Jessica. Jake--kekasihnya--sudah melupakannya.


Angela merasa hatinya tertikam. Ia telah dikhianati oleh pria yang pernah berjanji akan mencintainya abadi. Pria yang sudah ia berikan hatinya dengan suka-rela. Angela tidak menyangka segampang itu Jake berpaling darinya.


Seketika, segala pengalaman asmaranya bersama Jake kembali terputar di kepala. Mengingatkan Angela betapa manisnya pria itu dulu, murni kata-katanya, halus lembut tatapannya, hangat segala sentuhannya. Angela mengingat segala kenangannya bersama Jake dan bertanya pada dirinya sendiri tentang apa yang salah di sini?


Mengapa Jake pergi?


Jika cinta pria itu abadi, Jake seharusnya tidak menjalin hubungan dengan siapa pun, bahkan setelah Angela meninggalkannya.


Angela tidak bisa menerima ini semua, karena..., jika ia menerima kenyataan kalau Jake benar-benar berpacaran dengan Jessica, itu berarti Jake sudah berbohong padanya.


Jake tidak mungkin berbohong.


Pria itu sungguh-sungguh mencintainya. Jake hanya mencintainya.


"Demian..., apa yang harus kulakukan! Beritahu aku kalau ini semua hanya omong kosong, kan?" Angela menangis sambil menggenggam kedua tangan Demian. Pria itu satu-satunya topangan Angela sekarang. Satu-satunya pria yang dapat ia andalkan.


"Aku tidak tau, Ange. Aku tidak tau apa pun," sahut Demian. Pria itu tidak jauh berbeda dari Angela, ia terpukul atas informasi yang dilayangkan Jessica di depan mukanya. Seolah-olah wanita itu meludahinya.


Demian merasa jantungnya berhenti berdetak saat itu juga. Keterkejutan, kekecewaan dan amarah yang berpadu-padan memenuhi kepalanya, mendominasinya.


Andai saja saat itu tidak ada Erthian di sana, tidak ada iblis yang memantau dan menunggu reaksinya, Demian mungkin akan menghancurkan wajah Jake sampai remuk di sana. Ia akan mematahkan jari-jari yang sudah berani menyentuh Jessica-nya.


Andai saja Erthian tidak ada, Demian sudah pasti mencecar Jessica dengan sejuta tanya. Memastikan kalau apa yang sudah ia ucapkan hanyalah kebohongan belaka.


Oh, betapa Demian berharap informasi itu adalah kebohongan..., tetapi, untuk apa Jessica melakukan itu? Apa hati gadis itu sungguh-sungguh berlabuh kepada Jake?


"Aku harus pergi sekarang, Ange."


Demian mencoba menarik lepas tangannya dari genggaman Angela. Demian tidak bisa berlama-lama di kamar apartemen wanita itu. Demian perlu mengunjungi Jessica dan memastikan ulang apa yang sudah ia katakan sebagai kesalahan. Demian ingin bertemu Jessica, sekarang.


"Pe-pergi?"


"Aku mengerti situasimu, tapi aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku mengantarmu kemari agar kau bisa beristirahat dan menenangkan dirimu sendiri."


Seakan-akan tuli atas penuturan Demian barusan, Angela menatap pria itu dengan wajah marah penuh kesedihan. "Setelah apa yang terjadi padaku hari ini, kau mau meninggalkanku juga? Kau mau pergi dariku, Demian? Apa bersamaku begitu menjengkelkan sampai kau tidak mau menemaniku?!"


"Bukan seperti itu, Ange..."


"Apa kau tidak sadar kondisiku sekarang? Aku berantakan, Demian. Hatiku hancur berantakan. Kau seharusnya menemaniku! Kau bilang kau mencintaiku, bukan? Mengapa kau sama kejamnya dengan Jake sekarang?!"


"Ange, dengar..., aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan di sini? Apa yang kau inginkan dariku, aku tidak tau apa pun!" suara Demian meninggi dalam emosi. "Aku sangat lelah di sini! Aku..."


Aku muak!


"Kau pasti membenciku, huh?" Angela menarik kesimpulan sesuka hati. "Kau meninggikan suaramu padaku, kau sudah pasti membenciku, kan! Katakan saja, Demian!" Amarah Angela meledak. Ia meraih benda apa pun yang berada di hadapannya dan membanting semua itu ke lantai.


Pecahan kaca, mangkuk plastik dan pot bunga..., semua benda-benda yang dekat dalam jangkauannya ia banting keras ke lantai. Demian--sebagai saksi dari amarah Angela yang tak terkendali--berupaya menenangkan gadis itu.


"PERGI!!! KALAU KAU MAU PERGI, SILAKAN PERGI, DEMIAN! AKU AKAN MATI DI SINI. AKU LEBIH BAIK MATI BILA TIDAK ADA YANG PEDULI DENGANKU LAGI! KAU DAN JAKE LAH YANG MEMBUNUHKU!"


"Angela, tenangkan dirimu..." Demian sedikit was-was usai mendengar ucapan Angela. Emosi gadis itu sedang tidak terkendali, siapa yang tau dia akan sungguh-sungguh melukai dirinya sendiri? Demian tidak mau itu terjadi.


"Jangan mengatakan sesuatu yang bodoh, Angela. Aku peduli padamu, oke? Kau tidak boleh seperti ini..."


"KAU TIDAK MENGERTI, DEMIAN! KAU TIDAK MENGERTI! KALAU AKU TAU SEMUANYA AKAN MENJADI SEPERTI INI, AKU TIDAK AKAN PERNAH MELEPASKAN JAKE PERGI! INI SEMUA SALAHKU! SALAHKU!!!"


Demian menghela napas. Sudah tidak ada kata-kata yang mampu Demian ucapkan untuk meredakan amukan wanita itu. Gadis itu begitu terbenam dalam pemikirannya sendiri, tidak akan ada suara yang mampu menjangkaunya dan menenangkannya. Dia...

__ADS_1


Dengan sebuah keputusan di kepala, Demian mengambil langkah lebar menghampiri Angela.


"Aku ada di sini, Angela..." ujarnya, sebelum menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Ia mendekap tubuh yang bergetar dingin dalam amarah itu dan menenangkannya dengan usapan lembut di punggung. "Aku ada di sini," bisik Demian kembali.


"..."


"Aku tidak akan meninggalkanmu," ucapan Demian, disertai dengan dekapannya yang erat dan hangat--entah bagaimana--berhasil meredakan amarah Angela. Gadis itu balas mendekapnya dan menangis keras di dadanya.


"Kau harus berjanji, Demian. Kau harus berjanji tidak akan meninggalkanku."


"..."


"Demian..."


"Aku janji, Ange. Aku janji."


Dengan keputusan yang ia buat hari itu, Demian terpaksa menelan kekecewaan karena tidak mampu mengunjungi Jessica sekarang.


Demian tidak bisa meninggalkan Angela yang sedang dalam keadaan tidak stabil. Demian tidak mau sesuatu yang buruk terjadi ketika ia pergi. Angela--bagaimanapun--adalah sahabatnya, wanita yang pernah mengisi spot istimewa di hatinya.


*


Di sisi lain...


Dania dan Jessica melanjutkan acara girl's night mereka yang sempat terkacaukan sebelumnya. Kali ini, lokasi untuk girl's night itu adalah kamar Jessica sendiri.


Dengan bermangkuk-mangkuk cemilan yang sudah Elliot siapkan untuk mereka, sekarang kamar Jessica berbagi aroma yang sama dengan dapur Elixir.


Dania--masih dengan pakaian kerjanya--melenggang di kamar Jessica sambil melempar tatapan menggoda ke arah sobatnya tersebut.


"Aku punya banyak pertanyaan untukmu, tapi..., sebelum itu, biarkan aku memujimu girlsss..." Dania gemas dan takjub. Sepasang matanya memindai Jessica dari ujung kaki hingga kepala.


"What the hell, my sisterrrrr? Penampilanmu sangat cantik hari ini. Sudah kuduga, kau memang lebih pantas mengenakan dress daripada jeans-jeans tua di lemarimu itu. Kau terlihat lebih aesthetic begini."


"Aku serius, kau seperti cewek insta. Kalau kau membuat akun insta, kupercaya followers-mu akan lebih tinggi daripada si Angela itu."


Dania sangat menyukai penampilan Jessica hari ini. Bukan hanya karena gaun hijau itu sangat pas di tubuhnya, juga karena Dania TAU Jessica pasti akan terlihat sangat cantik dengan dress. Dania sudah menasihati pilihan fashion Jessica selama ini, tapi bosnya tetap tuli.


Mungkin patah hati membuat dia menjadi sadar fashion, entahlah. Apa pun alasan Jessica berubah, perubahannya hari ini sangat-sangat wajib mendapati semua jempol.


"Aku tidak berminat menjadi selebgram," ujar Jessica. Ia lalu duduk di sofa dan mencomot satu cupcake strawberry di sana. "Lagian, wajah dan kepribadianku tidak cocok untuk hal semacam itu."


"Hei, wajahmu itu sangat cantik dan unik tau. Juga, apa yang salah dari kepribadianmu?"


"Aku tidak suka menjadi perhatian publik, itu dia masalahnya." Jessica jujur di sana. Jangankan naik level sebagai selebgram, mempunyai akun insta saja Jessica enggan.


"Well, itu ada benarnya." Dania manggut-manggut usai mendengar alasan Jessica. "Oke, then..., mengesampingkan masalah gaunnya sekarang..., aku tidak akan basa-basi, katakan padaku, apa yang terjadi?"


"Apa yang terjadi?"


"Jesseeeee, kau tau apa yang kutanyakan! Kau tidak bermaksud menutupi apa pun dariku, kan?"


"Aku tidak bermaksud menutupi apa pun. Kalau kau bertanya tentang Jake, itu terjadi begitu saja."


"Hah?"


"Kami bertemu semalam. Aku mengunjunginya karena dia habis kerampokan. Pria malang. Anyway, setelah berbincang-bincang, aku merasa kami mempunyai kecocokan, jadi yah..., kami memutuskan jadian."


"HAH? Kecocokan bagaimana?" Tidak mungkin masalahnya sesepele itu!!!

__ADS_1


Jessica bersandar di sofa dan sedikit bernostalgia. "Kami mempunyai alasan yang berbeda, tapi tujuan kami sama. Hal-hal semacam itu. Jake ingin membalas dendam pada Angela karena sudah menyakitinya, jadi dia ingin aku menjadi pacarnya untuk membuat Angela insecure dan cemburu..."


"Gila, ya? Kenapa kau setuju pada hal sejahat itu?"


"Seperti yang kubilang, aku juga mempunyai alasanku sendiri."


Dania mengerutkan dahi, ngeri. Apa yang sudah terjadi pada sahabat baik hatinya yang akan meneteskan air mata bila melihat kodok terlindas di jalan raya?


"Begini..., Dania. Aku..., aku sudah kehilangan cara untuk menyingkirkan Demian. Maksudku, kecuali aku pindah ke tempat lain, yang mana tidak mungkin, aku tidak akan bisa menyingkirkan pria itu dari hidupku." Jessica memberikan penjelasan.


"Aku butuh hubungan ini demi menepikan Demian. Tidak hanya dari kehidupanku, tapi juga kepalaku." tambahnya.


"Apa itu artinya..., meskipun kalian mempunyai alasan masing-masing, hubungan kalian..., serius?"


"Jake maunya seperti itu. Dia tidak mau menjalin hubungan palsu denganku. Jika kami akan berpacaran, dia ingin hubungan kami sungguhan."


"Tanpa cinta?"


"Aku akan belajar menyukainya. Tidak ada yang mustahil, Dania. Berhenti menatapku seperti itu?"


Saat itu, Dania menatap Jessica seperti menatap badut ulang tahun. Tatapan konyol.


"Habisnya, kau sadar tidak kalau yang kau dan Jake lakukan itu adalah omong kosong? Bagaimana caranya kau belajar mencintai pria lain ketika hatimu ada pada Demian? Kau mencintai cowok itu, bukan? Kemana perginya rencana kita yang ingin membuat Demian jatuh cinta?"


Jessica tersenyum getir.


"Rencana itu sudah kubuang, Dania. Dengar, aku tidak membutuhkan cinta sekarang. Terutama bila itu cinta Demian. Aku tidak mau mendapatkan cinta dan mengorbankan harga diriku sebagai gantinya."


"..."


"Aku adalah wanita, aku tidak mau melukai wanita lain dengan keserakahanku." Jessica serius di situ.


Di pikirannya, bila ia terus mengejar Demian, ia akan berujung seperti karakter-karakter wanita yang ia benci. Wanita murahan yang tidak mempunyai moral. Wanita yang rela menanggalkan harga dirinya demi pria. Menurut Jessica, ia lebih baik terluka daripada jatuh ke level serendah itu.


"Apa kau merasa, dengan kau berpacaran dengan Jake, Demian tidak akan mendekatimu lagi?"


"Dia tidak akan mendekatiku." Jessica percaya diri. "Ketika Jake berpacaran dengan Angela, Demian berhenti mengganggu Angela. Setidaknya, sampai gadis itu menghubunginya kembali. Situasi yang sama akan terjadi padaku. Meskipun Demian tidak menyukaiku, dia akan membuat batasan untuk tidak menyentuh pacar orang."


"Waaaah, kau sudah memperhitungkan ini dengan matang, bukan?"


"Semua ini demi diriku sendiri, aku tidak ingin gegabah lagi. Aku tidak boleh dimanfaatkan lagi, Dani. Aku tidak boleh menyerah kepada Demian. Aku harus menyelamatkan diriku dari cinta yang akan menghancurkanku."


"Selama itu baik untukmu, aku akan mendukungmu. Aku hanya menyayangkan kalau sekarang rencana kita sudah bubar di tengah jalan..." Dania tersenyum masam.


"Kau sudah membantuku sebisamu, kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Aku belajar banyak darimu, tapi..., aku tidak bisa mengincar pria yang sudah mempunyai kekasih, kan?"


Dania mengangguk. "Aku mengerti. Jadi, sekarang kau dan Jake..., apa yang akan terjadi ke depannya?"


"Dia memintaku mencoba hubungan ini dengannya..., mencoba membuka hati dan belajar untuk mencintai satu sama lain. Walau alasan kami menjadi kekasih cukup menyimpang dan tak dapat dibenarkan, Jake mau aku menjalaninya dengan santai terlebih dahulu."


Jessica menyilangkan lengan di dada. Ia sedikit tidak nyaman menjadi kekasih Jake, sebenarnya. Namun, bila itu berarti ia mampu menyingkirkan Demian, Jessica rela melakukan apa pun.


"Jika hubungan ini tidak berhasil, aku akan putus dengannya." Jessica menambahkan penjelasannya di sana. "Setidaknya, sampai situasiku dan Demian mereda..., lalu Jake juga sudah mencapai tujuannya..., kupikir, bila tidak ada ruang untuk mencintai satu sama lain, aku akan mengakhiri hubungan kami."


"Wah, wah, wah..., memikirkan perpisahan ketika kalian baru menjalin hubungan saja sudah agak salah, kan?" Dania menggelengkan kepala, sudah tidak habis dengan isi kepala sahabatnya.


"Iya, kan. Aku juga berpikir demikian." Senyum Jessica memudar seiring tatapannya jatuh ke arah balkon kamarnya yang terbuka. Kenangan seorang pria yang kerap muncul di sana membuat Jessica merasa marah. Ia marah pada dirinya sendiri yang sudah gampang jatuh hati.


"Benar juga," gumam Jessica. "Aku akan mengganti pintu balkonku besok..."

__ADS_1


...Aku harus menutup seluruh pintu masuk yang bisa membawa pria itu ke hatiku!...


...****************...


__ADS_2