
Air mata Angela belum mengering ketika Demian tiba di hadapannya. Angela masih duduk di tangga belakang Elixir, memeluk lutut. Ia mengangkat wajahnya yang sembab dan menatap pada kedatangan Demian. Tanpa menyuarakan sepatah kata, Angela langsung berdiri dan memeluk Demian seerat-eratnya.
Segala isakannya yang hampir mereda kembali meledak ketika ia bertemu Demian.
Mengerti bahwa Angela sedang dalam keadaan yang cukup emosional, Demian pun membalas dekapan Angela sambil mengusap punggungnya sebagai penenang.
Demian sangat merasa kecewa pada keadaan Angela. Ia pikir, ketika gadis itu memutuskan untuk meninggalkan Jake Allendale, dia setidaknya akan lebih kuat. Namun, dia tidak kuat sama sekali.
Tentunya, tidak semua orang mempunyai kekuatan dalam menghadapi perpisahan. Namun, permasalahan ini sudah diseret terlalu panjang.
Jika Angela tidak ingin kembali pada Jake, dia seharusnya tidak menaruh hidungnya pada segala hal yang melibatkan Jake lagi. Mengapa menyakiti diri sendiri dengan ikut campur terhadap urusan pria yang sudah kau tinggalkan?
"Angela, mengapa semuanya bisa terjadi?" Demian menyuarakan tanya, ia meraih pergelangan tangan Angela dan membawa gadis itu kembali duduk di tangga.
"Apa kau bertemu Jake hari ini?"
"Dia datang kemari, Demian." Angela menjawab sambil menahan isakan. Wajahnya merah dan basah. Lelehan mascara bercampur dengan air matanya.
"Si bajingan itu berani menunjukkan wajahnya di sini?"
"Dia datang menemui Jessica." Jawaban Angela membuat rahang Demian mengencang.
Demian tidak menyukai keterkaitan Jessica dalam konflik Angela dan Jake. Jessica tidak seharusnya mempunyai keterlibatan, dan tidak juga dia pantas disebut-sebutkan. Jessica--demi Tuhan--tidak punya kaitan terhadap permasalahan ini.
Mengapa Jake tidak mau berhenti mengganggu Jessica? Haruskah ia memberikan pria itu pelajaran?
"Dia bilang dia menyukai Jessica," isakan Angela lolos tanpa jeda. "Demian, Jake berbohong, kan? Dia tidak akan segampang itu menyukai wanita lain, kan?"
Demian ingin memberikan 'tidak mungkin' sebagai jawaban. Karena Angela adalah gadis yang tidak gampang untuk dilupakan. Dia adalah perwujudan malaikat yang menebar kasihnya kesana-kemari. Dia--dalam arti lain, lebih mudah dicintai daripada dilupakan. Jake Allendale tidak mungkin segampang itu menyingkirkan Angela dari benaknya.
Namun...
Kendati Demian mengerti pengaruh Angela, Demian juga mengenal Jessica.
Jessica, jika itu Jessica..., Demian percaya tidak akan ada hal yang mustahil. Jake, kemungkinan besar, sudah melabuhkan hatinya pada Jessica. Selain karena dia adalah gadis yang gampang bergaul, Jessica juga mempunyai kemampuan dalam mencuri perhatian pria tanpa perlu melakukan apa-apa.
Dia hanya perlu ada di sana, dan mata akan mengikutinya.
*
Setelah pertikaian kecil yang terjadi pada Angela dan Jake hari itu, Jessica menyadari kalau Demian datang dan menenangkan Angela di luar sana. Jessica mengetahui hal tersebut bukan karena kesengajaan melainkan karena ia menemukan Demian--dengan mata kepalanya sendiri--berlari di gang kecil yang berada di samping Elixir.
Pria itu tergesa-gesa, amarah menguasai parasnya.
Dia pasti marah karena Jake sudah membuat Angela menangis. Sungguh romantis.
Jessica mau tertawa, tapi di satu-waktu merasakan cubitan kecil di dadanya. Dihempaskan ke realita adalah sesuatu yang baik, tapi disatu-waktu juga cukup menyakitkan. Berkat kenyataan yang berada di depan matanya, Jessica kembali sadar diri akan posisinya di hati Demian Bellamy.
Ia tidak boleh mempunyai harapan berlebih.
"Sudah kuduga, hal-hal semacam friends with benefit bukan gayaku sama sekali." Jessica bergumam sambil menggigit tangkai ice cream-nya yang sudah habis. Dia berbaring telentang di ranjang, rambut menjuntai ke lantai.
Sebuah novel romansa yang ia baca tadi pagi sudah dicampakkannya di atas lemari.
"Jessica Cerise..., jika kau jatuh cinta, kau akan tamat, kiamat! Bodoh, jangan pernah menaruh harapan pada pria bajingan. Mereka cuma romantis di novel, tidak di realita. Sadarlaaaah, sadarla--"
Sebuah kedipan di ponselnya membuat Jessica berhenti bicara.
Pesan dari Demian muncul di sana, menambah kejengkelannya.
[Kau di mana? Aku akan menemuimu sekarang. Mari bicara empat mata.]
Jessica memberi tanggapan pada detik yang sama. Ia cukup takjub terhadap kecepatannya dalam membalas pesan Demian.
[Tidak mau, bicara saja dengan tembok!]
....
__ADS_1
[Apalagi masalahmu sekarang?]
Demian sudah pasti heran. Seingatnya, terakhir kali ia berpisah dari Jessica, tidak ada masalah yang terjadi di antara mereka. Mengapa sekarang Jessica menanggapi pesannya dengan garang.
[Apa aku harus mempunyai masalah terlebih dahulu untuk menolak bertemu denganmu? Jangan menggangguku!]
"Urus saja Angela-mu sana." Jessica mengomel sambil membalas pesan Demian. "Aku harap kalian hidup sejahtera dan mempunyai anak sebanyak-banyaknya! Jauh-jauh dariku, oke? Keparat!"
Jessica sungguh-sungguh tidak mau bertemu Demian sekarang. Dia benci sebenci-bencinya pada pria itu. Kekesalannya memuncak seperti lahar panas yang hendak meledak.
Jessica pikir, kalau ia bertemu Demian, ia akan berakhir dengan memaki pria itu.
"Aku harap aku tidak pernah bertemu denganmu," Jessica bergumam.
Di pikirannya, ia sekali lagi mengingat ekspresi Demian yang berlari menghampiri Angela. Betapa amarah yang membuncah di ekspresinya adalah bentuk dari kepeduliannya yang berlimpah. Dia pasti sangat mencintai Angela, kan? Dia semarah itu!
"Kalau dia mencintai Angela, dia seharusnya tidak mendekatiku!" Jessica dilanda nelangsa. Kejengkelan dan kemuakan yang ia rasakan melunak menjadi kesedihan. Ia mengubah posisi tidurannya menjadi tiarap demi menekan rasa sakit yang menyeruak di jantungnya sekarang.
Ia menekan dadanya dengan bantal dan tangan, seolah-olah menutup luka yang terbuka dan berharap darahnya tidak merembes kemana-mana. Namun itu adalah tindakan yang sia-sia. Hatinya tetap menjeritkan sakit yang tak kasat mata. Tidak ada obat untuk kekecewaan dan keputus-asaan.
"Aku tidak menyukainya sama sekali, kok. Tidak mungkin. Aku..." gumaman Jessica keluar dengan lirih dan lemah.
Saat itu, ia berupaya meyakinkan dirinya bahwa rasa sakit yang kini mencengkeram dadanya bukanlah sebuah cinta. Namun, air mata yang merembes keluar ketika ia mengedipkan matanya adalah jawaban bahwa bibirnya telah mengucapkan dusta.
Cinta itu telah ada sebelum ia menyadarinya, dan sekarang ia dilanda oleh kekecewaan berlipat ganda. Kecewa pada hati yang tidak mampu ia kendalikan, dan kecewa pada kenyataan. Demian Bellamy tidak akan pernah menaruh arti lebih pada keberadaan seorang Jessica Cerise.
*
"Apa yang salah dengannya?" tanya keluar dari bibir Elliot ketika ia menemukan Jessica turun dari kamarnya menggunakan hoodie tebal berwarna merah. Tudung dari hoodie itu menutupi kepalanya, diserut hingga menyerupai dumpling.
Jessica turun dari kamarnya, melambaikan tangan sekilas pada teman-temannya di konter, sebelum akhirnya melenggang keluar.
Tidak ada yang tau kemana tuju Jessica.
"Mood-nya turun naik belakangan," Ethan memberikan jawaban, tapi dalam nada suaranya pun, Ethan juga mempunyai kebingungannya sendiri. Jessica memang aneh. Dia terkadang ceria, berbahagia, dan terkadang seperti tadi...
"Dia seperti remaja kasmaran." Dania menarik kesimpulan yang membuat Ethan terkekeh.
"Kita adalah saksi mata," kata-kata Elliot mendukung ucapan Ethan.
"Apa kalian berdua buta?" Dania memegang teguh teorinya, dia sampai berkacak pinggang menentang dua sahabat prianya yang sekarang ditudingnya 'buta'.
Dania lalu melanjutkan ucapannya. "Jake Allendale, Oscar Brown, Demian Bellamy..., apa kalian tidak menyadari tiga cowok super keren itu? Mereka semua datang ke Elixir untuk menemui Jesse, idiot. Sesuatu sudah pasti terjadi.."
"Aku ingin men-support teorimu, Dani. Aku juga sangat ingin Jessica merasakan jatuh cinta dan berbahagia seperti anak perempuan pada umumnya. Akan tetapi, Oscar Brown dan Demian datang kesini cuma untuk meminum kopi."
Elliot setuju pada Ethan. "Lagian, kalau aku menggunakan teorimu, bukankah itu artinya semua tamu reguler pria yang single datang ke sini untuk menemui Jessica?"
"Tsk, tsk, tsk." Dania menggeleng-gelengkan kepala. "Kalian tidak tau aura sama sekali, huh? Tidak heran, kalian berdua sudah single terlalu lama." Dania prihatin.
Tidak seperti Elliot dan Ethan yang 'buta', Dania selalu mengamati sekitarnya. Dia merasa, setiap kali kunjungan Ethan, kunjungan Oscar dan sekarang kunjungan Jake..., mereka semua mengorbit di sekitar satu orang, yaitu Jessica. Ada kemungkinan, musim semi sudah menghampiri bosnya lebih awal tahun ini.
"Meskipun begitu, bukankah Demian adalah pacar Angela? Walaupun dia menyukai Jessica, aku tidak akan setuju bila seseorang mendekati sahabatku secara plin-plan." Elliot sudah membuat voting-nya duluan.
"Pria dengan komitmen dan cepat dalam membuat keputusan adalah pria terbaik, aku setuju."
Ethan menyimak ucapan Dania dan Elliot bergantian.
Sambil mengaduk kopi untuk keduanya pula, Ethan jadi mengingat-ingat kembali situasi yang sudah terjadi belakangan ini. Ethan ingin mencaritahu apakah ucapan Dania mempunyai kebenaran di dalamnya, atau hanya delusi semata.
"Ngomong-ngomong, kemana perginya Jessica barusan?"
"Entah..., kau lihat sendiri dia keluar tanpa basa-basi sama sekali."
"Apa dia tau kalau ramalan cuaca malam ini akan hujan deras?"
Ethan menjeda adukan kopinya. Dia lalu melihat Dania yang baru bersuara. "Coba hubungi dia."
__ADS_1
"Sebentar..." Dania--sambil mengutak-atik ponselnya, lalu berusaha menghubungi Jessica. Ia perlu mengingatkan bosnya tersebut agar keluar tidak terlalu lama, karena kabarnya akan ada hujan deras malam ini.
"Dia tidak mungkin pergi jauh, kan?" Elliot bicara pada Ethan. "Habisnya, dia hanya mengenakan hoodie..."
Jessica kerap keluar dengan penampilan rapi. Jika penampilannya rapi, bersih dan semi formal, biasanya itu berarti dia akan bepergian dalam jangka waktu yang cukup panjang. Namun, bila dia keluar hanya menggunakan hoodie dan hotpants hitam seperti tadi...
Erm...
Itu jarang terjadi, sebenarnya...
"Oh, dia tidak mengangkat teleponnya sama sekali." Dania mengeluh sambil memajukan bibirnya se-centi.
"Eeeeh? Mungkin dia hanya ke mini market." Elliot mencoba berpikir positif.
Ethan di sisi lain, merasakan kekhawatiran. Ia menatap ke arah pintu tempat punggung Jessica menghilang. Dalam hati, ia berharap kalau gadis itu akan segera kembali.
"Kalau hujan turun, aku akan mencarinya nanti..." Ethan membuat inisiatif.
Sementara tiga sekawan itu menunggu kembalinya Jessica dari perjalanan misteriusnya, sesosok pria datang menghampiri mereka. Mengenakan jaket kulit hitam, jeans biru dan kaos putih, pria itu tampil dengan eksotis. Kulit tannya nampak begitu pas dengan kombinasi warna yang ia kenakan.
Demian Bellamy tampil seperti model di majalah pria. Dari ujung kaki hingga kepala, penampilannya layak sesosok pria yang sering muncul di puisi cinta. Pria yang kerap dideskripsikan sebagai pematah hati wanita.
"Hai..." Demian tau dua dari tiga kepala yang menyorot ke arahnya sekarang menaruh ketidak-senangan atas kunjungannya. Namun, bagaimana lagi?
Demian sudah memanjat balkon kamar Jessica dan mencari keberadaan gadis itu di sana, tapi nihil. Demian hanya menemukan handphone Jessica tergeletak tak bertuan di atas tempat tidur.
Demian berharap ia bisa menemukan Jessica di cafe, tapi melihat konter hanya diisi oleh tiga sekawan itu, jawabannya adalah tidak.
"Hai, Demian." Ethan memberikan sapaan balasan. "Apa kau akan memesan kopi yang sama hari ini?"
"Sebenarnya..., err..., tidak."
"..."
"Aku mencari Jessica."
Dania nengernyit tak senang. "Apa kau datang kemari sebagai perwakilan Angela yang patah hati? Jangan bilang kau mau melabrak bosku dengan omong kosongmu. Asal tau saja, ya, Jessica tidak mendekati siapa pun. Yang mendekatinya adalah kalian!"
"Apa aku mengatakan sesuatu?"
"Huh?"
Demian menatap Dania dengan ketegasan yang cukup menakutkan. "Apa aku mengatakan sesuatu yang mengindikasikan hal tersebut?"
"Pacarmu sudah mengatakan hal itu sebelumnya kepada Jessica, tidak menutup kemungkinan kau melakukan hal yang sama." Elliot menjadi penopang opini Dania. Dia tidak mau sobatnya itu terintimidasi oleh Demian yang semakin keki.
"Aku hanya bertanya di mana keberadaan Jessica, apa pun yang hendak kukatakan padanya bukan urusan kalian."
Bahkan bila ia mengatakan sesuatu yang menyakitkan, Elliot dan Dania tidak berhak ikut campur pada perihal yang diluar urusan mereka.
"Jessica di luar." Ethan satu-satunya yang tidak memusuhi Demian.
Ethan merasa ia sudah cukup mengatakan kalau ia tidak menyukai keberadaan Demian di Elixir. Ia tidak perlu menjadi landak berduri dan berguling di sekitar Demian sebagai bentuk permusuhan. Ethan lebih bijak dari dua sobatnya yang siap memuntahkan lahar dari kepala.
"Jelasnya kemana?"
"Entahlah. Dia tidak mengatakan apa-apa."
Demian kembali dilanda kebingungan. Apa yang Jessica lakukan sekarang dan kemana dia pergi? Apa dia menemui Jake lagi?
"Demian," tegur Ethan. "Sebentar lagi hujan. Dari laporan cuaca, hujannya akan semalaman dan cukup berangin. Jessica tidak menggunakan pakaian yang cukup hangat tadi, dia juga tidak membawa payung..., bila kau tidak keberatan..."
"Aku akan mencarinya," tukas Demian seketika.
Reaksinya membuat Dania dan Elliot saling melemparkan lirikan heran.
Jika reaksi Demian seperti barusan, apa artinya teori Dania adalah kebenaran?
__ADS_1
Apa Demian Bellamy menaruh rasa istimewa terhadap bos mereka?
*