MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
109. Balas Dendam.


__ADS_3

Bangun pagi di Sorrento, Italy masih terasa sangat asing bagi Jessica. Rasanya seperti ia belum benar-benar terbangun dari tidurnya.


Tempat itu mempunyai keindahan alam yang sangat memukau mata. Terlalu indah untuk terasa nyata. Setiap kali Jessica menapak di balkon kamarnya, Jessica merasa seperti beban di dadanya terangkat. Alam menenangkannya dengan keindahan yang menyejukkan penat di benaknya.


Biru laut Tirenia di depan matanya seperti permata sapphire, seperti oh!


Jessica jadi teringat Oscar yang memiliki iris biru seperti air laut itu.


Akan sangat menyenangkan bila Jessica bisa mengobrol dengan Oscar. Pria itu mempunyai pembawaan santai dan ringan yang membuat Jessica bisa mengobrol dengannya berjam-jam. Oh, bicara soal Oscar juga, Jessica ingat kalau pria itu adalah pemilik Bronze. Fakta mengejutkan itu berlalu di benak Jessica tanpa sempat ia cerna karena sekarang Jessica berada di sini, di Italy.


Jessica penasaran apa yang teman-temannya lakukan di Vegas sekarang?


Perbedaan time zone membuat Jessica sulit menghubungi Dania belakangan ini. Jessica takut salah timing. Terutama sekarang, ketika waktu masih pagi di Italy, yang mana berarti sekarang masih malam di Vegas. Jessica tidak mau mengganggu Dania bekerja atau lebih buruk, ketika dia sedang beristirahat.


"Miss. Jessica," Lisa kembali menyapa Jessica, membawa sandwich yang ia letakkan di atas meja.


Lisa memperhatikan Jessica yang berdiri di depan meja rias, tampil segar dan rapi dalam balutan kemeja hitam oversize dan hotpants berwarna senada. Melingkupi kaki Jessica, sepasang sepatu converse berwarna putih terpasang pas di kakinya.


"Kau akan pergi hari ini?" Lisa bertanya.


"Rencananya," sahut Jessica. "Kau akan menemaniku, bukan?"


"Ah..., akhirnya." Lisa mengangguk agak senang. Selama ini, Lisa agak mencemaskan situasi Jessica. Tamunya tersebut menghabiskan beberapa harinya belakangan dengan berkurung di kamar seperti Rapunzel. Lisa sampai menawarkan dirinya beberapa kali sebagai pemandu wisata, tapi Jessica kerap menimpalinya dengan kibasan tangan.


Lisa takut Jessica kesepian.


"Aku akan mempersiapkan mobil untukmu, Miss." Lisa menyengir riang. "Sebelum itu, sarapanlah dulu. Aku akan menunggumu di bawah."


"Terima kasih, Lisa."


Selepas kepergian Lisa, Jessica mengambil sandwich yang terletak di atas meja. Ia menaruh sandwich itu di tong sampah sebelum melenggang keluar mengikuti jejak Lisa. Jessica sampai hari ini masih belum menyantap apa pun selain apel, pear dan aprikot.


Perut Jessica dipenuhi serat buah. Namun, malangnya itu tidak cukup. Jessica tau tubuhnya melarat membutuhkan makanan berat, sesuatu yang berlemak, beraroma seperti gula, mengandung daging dan kalori.


Tidak mau mati di kamar itu, makanya Jessica memutuskan keluar hari ini. Ia akan menyantap jajanan di Sorrento, memenuhi perutnya dengan makanan cafe dan restoran sebelum kembali ke manor ini dan memaksa dirinya menyantap buah lagi.


"Miss. Jessica." Robin menyapa Jessica yang tak berselang lama, sudah muncul di halaman depan Rhoden manor.


Karena Jessica kerap mengurung dirinya di kamar belakangan, Robin tidak pernah berjumpa lagi dengan Jessica. Setidaknya, tidak untuk beberapa hari ini. Robin merasa--ketika ia menjumpai Jessica sekarang--wanita itu terlihat agak kurusan.


Robin mendengar kecemasan Lisa kalau Jessica sepertinya tidak menyantap makanannya sama sekali. Robin mengira kalau Lisa hanya berasumsi berlebihan, tapi setelah melihat kondisi Jessica, mungkin temannya itu benar.


"Selamat pagi, Robin." Jessica menyapa Robin dan memberikan pria muda itu seulas senyuman sopan. "Apa mobilnya sudah siap?"


"O-oh, sudah..., kemari."


Mengikuti Robin, Jessica pun menuju mobil sedan hitam yang mesinnya sudah menyala. Lisa berada di dalam mobil itu, di bangku kemudi. Lisa agak terkejut atas kedatangan Jessica yang terbilang cepat.


"Apa kau sudah sarapan, Miss?"


"Aku tidak mungkin akan berada di sini kalau aku belum makan, Lisa." Jessica berdusta dengan lihainya.


"Benar juga. Maafkan aku." Lisa tersenyum kaku. "Jadi, akan kemana kita hari ini?"


"Aku ingin merental sepeda..," itu adalah rencana Jessica hari ini. Ia ingin menyisiri pemandangan indah di Sorrento sambil bersepeda, singgah mencicipi beberapa makanan lezat, dan bersenang-senang sendirian.


Jessica ingin menyegarkan isi kepalanya, kembali menemukan kewarasannya. Jessica merasa ia bisa gila bila ia terus-terusan bersarang di manor ini.


"Kau tidak perlu merental sepeda, Miss. Kami akan membelikan satu untukmu."


"Hah?"

__ADS_1


Lisa mengangguk. "Itu lebih mudah dan lebih gampang."


"Lebih mudah merental sepeda daripada membeli yang baru, Lisa. Aku hanya akan memakai sepeda itu sekali. Aku tidak berniat menjadi cyclist selamanya atau bergabung di komunitas cyclist juga."


"Hahaha, kau tidak perlu menjadi cyclist selamanya, Miss."


"Itu dia. Makanya, aku lebih memilih merental sepeda saja. Aku tidak berniat membuang-buang uangku untuk barang yang hanya kupakai sekali."


"Kau tidak akan membuang uang siapa pun. Selama kau menjadi tamu di Rhoden, kami akan bertanggung jawab atas segala keperluanmu."


"Pokoknya tidak," sanggah Jessica. Jessica enggan membiarkan Hestia merasa dia berkuasa di atas Jessica. Mak lampir itu bisa mati bersama uang-uangnya, Jessica tidak peduli. "Jika kalian tidak membiarkanku merental sepeda, aku tidak membutuhkan kalian sebagai pengawalku. Aku akan bepergian sendirian saja."


"Jangan bicara seperti itu. Sudah tugas kami melindungimu. Tenang saja, aku akan membawamu tempat turis biasa merental sepeda."


Setelah mencapai kesepakatan bersama Lisa dan Robin, Jessica pun bisa menyandarkan punggungnya di mobil dengan tenang. Jessica merasa lega karena sekarang Rhoden Manor sudah berada jauh di belakangnya. Setidaknya, untuk beberapa jam kedepan, Jessica bisa melupakan segala kegilaan yang sudah menghantuinya di rumah megah itu.


...*...


Mengikuti rencana Jessica, Lisa dan Robin pun mau tak mau ikut merental sepeda juga. Mereka berdua berada beberapa meter di belakang Jessica, mengamati bagaimana nona muda yang merupakan tanggung jawab mereka, sedang mengayuh sepeda dengan tangan terbentang bebas di udara.


"Miss. Jessica, berhati-hati..., kau bisa jatuh kalau seperti itu..." Lisa menegur jengah.


Terima kasih pada setelan jas yang melingkupi tubuhnya, Lisa merasa sangat tidak nyaman saat bersepeda. Tubuhnya tercekik oleh kakunya bahan pakaian yang ia kenakan, dan setiap kayuhan rasanya ia akan merobekkan satu atau dua benang di celananya, itu menakutkan.


"Tenang saja. Aku tau apa yang kulakukan," sahutan Jessica mengindikasikan kalau dia tidak akan mendengar peringatan Lisa. Sahutan itu membuat Lisa semakin depresi.


Bagaimana kalau Jessica jatuh tersungkur dari sepedanya? Lisa dan Robin bisa dicambuk sampai mati oleh keluarga Bellamy. Apa Jessica sama sekali tidak tau kekejaman kekasihnya itu?


Selama Lisa dan Robin mengekori Jessica, Jessica tidak menaruh banyak kepedulian pada keduanya. Jessica menikmati momen sendiriannya ini untuk refreshing. Ia bahkan mendengarkan music dari earphone-nya, bersenandung riang sambil sesekali melepaskan kedua tangannya dari stang sepeda. Jessica menikmati udara laut yang menyapa wajahnya, menerbangkan surai hitamnya.


Rasanya seperti segala beban yang menumpuk di pundaknya ikut tersapu oleh angin, Jessica merasa sangat-sangat bergembira. Ia bisa bersepeda selamanya. Tunggu, haruskah ia bergabung dalam komunitas cyclist di Vegas?


"Ehehehe..., omong kosong apa yang kupikirkan sekarang?" Jessica bergumam pada dirinya sendiri sambil menikmati pemandangan gunung Vesuvius yang kendati jauh, terlihat cukup dekat di mata.


"Ada apa, Miss?"


"Aku ingin singgah ke restoran itu sebentar, apa kalian berdua sudah makan? Aku traktir."


Robin melebarkan mata. "Ti-tidak perlu, Miss. Jessica. Silakan nikmati me time-mu. Kami akan menunggu di luar."


"Kalian yakin tidak mau bergabung?"


Lisa mengulum senyum, mungkin agak heran atas tawaran manusiawi ini.


Jessica benar-benar spesies yang seharusnya tidak berada bersama keluarga Bellamy, pikir Lisa. Dia mempunyai sisi kemanusiaan yang tinggi, dia terlalu normal. Murni. Tawaran seperti ini tidak pernah terjadi pada Robin dan Lisa selama mereka bekerja sebagai pengawal. Rasanya agak mengharukan, dan lucu.


"Kami sangat yakin, Miss. Kami baru menyelesaikan sarapan kami tadi."


"Well, then..." Jessica manggut-manggut saja. "Aku titip sepedaku pada kalian berdua, kalau begitu."


Selepas memberitahu rencananya untuk singgah ke sebuah restoran yang menghadap laut Tirenia, Jessica pun kembali mengayuh sepedanya. Selang beberapa menit perjalanan, Jessica pun sampai ke sebuah restoran yang dia maksudkan. Jessica sudah membaca review mengenai restoran ini tadi pagi, dan Jessica memang berencana datang kemari.


Jessica merasa sangat lega ketika restoran yang terkenal ramai pengunjung itu sekarang cukup senggang. Mungkin karena sekarang bukan waktunya untuk sarapan ataupun makan siang, pengunjung menjadi berkurang.


Dari sepengetahuan singkat Jessica--terima kasih kepada google--kebanyakan restoran di Sorrento menyajikan menu seafoods. Karena pengetahuan singkat itu juga, Jessica tidak heran ketika menu utama di restoran yang ia datangi merupakan makanan laut semua.


Jessica--tanpa cerewet--memilih beberapa menu yang ia anggap berada di kategori harga masuk akal.


Satu fish burger, sepiring spaghetti e Vongole, dan segelas lemoncello sebagai minumannya.


Sembari menunggu pesanannya disajikan di meja, Jessica menerima sebuah panggilan tak terduga dari ponselnya. Nama Dania tertera di sana dan Jessica tidak pernah merasa sangat bahagia ketika melihat nama temannya tersebut muncul di layar ponselnya.

__ADS_1


"God bless America," ucap Jessica. Ia menjawab panggilan Dania dengan ekspresi mengharu-biru. "Daniiii..., I miss you so so much. How are you?"


"Wooww, dramatic. Aku baik..." Dania menanggapi keantusiasan Jessica dengan agak heran. "Kau sendiri? Bagaimana kabar honeymoon-mu?"


Berawal dari satu pertanyaan dari Dania, tanpa bisa mengendalikan dirinya, Jessica menumpahkan segala situasi yang ia alami di Sorrento kepada Dania, tanpa saringan. Jessica berbicara panjang lebar dengan intonasi yang turun naik mengikuti emosinya. Terkadang ia berucap seperti ia mengomel, terkadang ia nelangsa, terkadang lagi ia berusaha bijaksana.


Dania--sebagai pendengar--menyahut dengan energi yang sama. Dania sama marahnya jika Jessica marah, sama kesalnya jika Jessica kesal, sama prihatinnya begitu Jessica menjadi nelangsa.


"Kalau aku tau situasinya akan seperti ini, aku tidak akan melepaskanmu ke sana." Dania berujar jengah. "Ini menjengkelkan. Bagaimana bisa kau bertahan di tempat itu tanpa menjadi gila? Jika aku tiga hari berada di sana, aku akan membakar habis semuanya."


"Jika bukan karena Demian, aku mungkin akan membeli tiket penerbangan ke Vegas sekarang." Jessica menyahut tak senang. "Tempat ini sangat indah, Dani..., aku serius. Hanya saja, aku tidak bisa berbahagia sama sekali. Aku menjadi tupai di sini! Aku sangat merindukan makanan yang dibuat Elli. Aku harap aku bisa segera kembali."


"Tenang saja, kalau kau kembali, kami akan memberikanmu makanan favorite-mu. Aku akan membuatmu mati kekenyangan."


"Yah, itu kedengarannya agak menakutkan."


"Jangan menafsirkan ucapanku dengan kesungguhan," tukas Dania. "Anyway, karena Demian sedang sibuk, kau jadi tidak bisa menemuinya belakangan ini?"


"Begitulah."


"Bagaimana bisa?"


"Seperti yang sudah kukatakan, dia punya banyak kerjaan.."


"Tunggu, Jesse..." Dania menyela. "Kau seharusnya menjadi sosok yang berada di puncak prioritasnya. Bagaimana bisa kau membiarkan dia mengesampingkanmu? Banyak pekerjaan tidak membuatnya bisa meng-ghosting-mu berhari-hari. Kalian masih berada di kota yang sama, demi Tuhan. Kau juga bilang dia tidak pernah menghubungimu lewat telepon, bukan?"


"Yups. Terakhir kali dia menghubungiku, itu adalah tiga hari yang lalu."


"Jessica, oh, Jessica. Jika aku berada di posisimu, aku akan menjadi pembunuh."


Jessica tau kefrustasian yang Dania tunjukkan dalam suaranya. Namun, Jessica--di sisi lain--ingin menjadi wanita yang pengertian terhadap pasangannya. "Aku ingin memberikan dia ruang untuk menyelesaikan masalahnya."


"Kalau dia merasa dia akan sangat sibuk di sana, dia seharusnya tidak menyeretmu ke sana. Dia seharusnya membiarkanmu sendiri di sini, aku bisa melindungimu lebih baik. Setidaknya, aku tidak akan pernah membuatmu makan apel selama beberapa hari. Kau bisa mati kekurangan gizi, ya ampun!"


"..." Jessica terdiam, ia mencerna ucapan Dania dengan sedikit kekecewaan di hati. Jessica merasa kecewa karena entah bagaimana, ia menyetujui ucapan Dania.


Jessica pikir, bila Demian akan menyibukkan dirinya seperti sekarang sampai harus mengabaikannya berhari-hari, pria itu seharusnya tidak membawa ia kemari. Untuk apa segala kunjungan ini kalau pada akhirnya Jessica akan disisihkan?


"Dengar, Jesse..." suara Dania berubah menjadi lebih ambisius dari sebelumnya, seperti ia dirasuki oleh sosok yang berbeda. "Sekarang sudah waktunya kau melakukan balas dendam!"


"Hah?" Entah bagaimana, Jessica bisa membayangkan Dania menyeringai seperti iblis di seberang telepon.


"Mari membuat pangeranmu stress sedikit. Dia sudah berani mengabaikanmu, jangan biarkan dia berpikir dia akan bebas setelah mengabaikanmu! Dengarkan aku, kawanku. Aku tau apa yang harus kau lakukan sekarang!"


"Oke..., then?"


Then...,


Jessica keluar dari restoran itu dengan jari-jemari yang mendingin dalam keantusiasan. Jessica merasakan energi mengalir di nadinya, entah itu reaksi dari fish burger yang mendekam di lambungnya sekarang, atau karena ucapan Dania yang memotivasinya untuk terlibat dalam rencana gila.


Apa pun itu, Jessica sangat setuju pada ucapan Dania.


Jessica tidak akan memberikan pengampunan pada Demian yang sudah mengabaikannya beberapa hari ini! Jessica percaya ia perlu memberikan kekasih keritingnya itu sedikit pelajaran!


"Miss. Jessica, apa kau ingin melanjutkan bersepeda?"


"Mm, kurasa." Jessica tersenyum tipis. "Apa kau tau tempat yang ramai turis di dekat sini?"


"Ramai turis?"


Jessica mengangguk.

__ADS_1


Tanpa membiarkan Lisa dan Robin mendengar ucapannya, Jessica lanjut berujar dengan suara rendah yang hanya mampu mencapai telinganya. "Aku butuh tempat yang ramai turis."


...*...


__ADS_2