
Besok, aku akan pergi dari sini.
Perkataan Demian tadi pagi menggantung di benak Jessica sepanjang hari.
Memang benar, Jessica hanya memperbolehkan Demian untuk menetap di rumahnya selama satu minggu saja. Ia tidak menginginkan pria itu bertahan lama di rumahnya, mengganggunya dan menjadi hama yang merusak ketenangannya.
Memang benar, Jessica menginginkan Demian menghilang. Namun, ketika pria itu benar-benar akan kembali ke dunianya sendiri, Jessica--entah mengapa, menjadi uring-uringan.
Apa yang ia inginkan, sebenarnya? Jessica tidak mengerti dirinya sama sekali. Maksudnya, memangnya kenapa jika Demian pergi? Bukankah ia yang sangat menginginkan satu Minggu ini segera berlalu?
"Aku tidak mengharapkan dia menetap di kamarku selamanya, kan?" Jessica bergumam pada dirinya sendiri yang lagi-lagi terpaku pada pikirannya sendiri.
"Semuanya akan kembali ke seperti semula," ujar Jessica lagi.
Ia tidak perlu menjadi sosok yang mencurigakan. Ia tidak perlu mencuri makanan di dapurnya sendiri, tidak perlu membuat teman-temannya cemas, tidak perlu berkaitan dengan pria misterius nan menjengkelkan yang bertengger di sofanya seminggu belakangan.
Situasinya akan kembali normal, akan tetapi...
Haaa~
Jessica mengembuskan napas panjang.
"Ethan," panggil Jessica. Ia menarik perhatian karyawannya yang sejak tadi sibuk meracik kopi untuk tamu.
"Ada apa, Jesse?" Ethan mendekat sambil mengelap tangannya dengan handuk putih.
"Aku merasa tidak cukup sehat, apa kau mampu menangani sisanya hari ini?" Biasanya Jessica akan menetap hingga pukul sembilan malam, tapi hari ini, ia ingin mengundurkan diri lebih awal dari cafe.
"No problem."
"Sorry," gumam Jessica.
Sebelum ia pergi dari sana, ia memberikan seulas senyum bersalah kepada Ethan yang memberikannya tatapan hangat dan meyakinkan. Ethan, pria itu benar-benar malaikat. Jessica merasa sangat bersyukur mempunyai Ethan di sisinya. Dia luar biasa.
Pada akhirnya, karena tidak mampu berkonsentrasi pada pekerjaan, Jessica memutuskan kembali ke kamar dan menghadapi pria yang sudah menjadi benalu di benaknya seharian--tidak, lebih tepatnya semingguan ini.
Jessica kembali menghadapi pria yang sudah berlarian di pikirannya, menciptakan keriuhan dan kebingungan di pikiran Jessica yang penuh dilema.
Apa yang ia inginkan dari Demian adalah misteri tersendiri bagi Jessica. Oleh karena itu, ia akan berusaha menemukan jawabannya. Jawaban atas keresahan yang membanjiri hatinya dan memporak-porandakan kewarasannya.
Seakan-akan ia menginginkan Demian agar menetap di sana.
Aneh.
Itu tidak benar, tapi hatinya tidak menyangkal kalau sedikitnya, ia berharap dapat melihat lebih lama.
Serius, dia pasti sudah gila!
*
[Kesehatan Erthian sudah membaik. Hanya saja, sepertinya sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Aku belum berhasil menemukan informasi lebih, tapi yang pasti, situasinya sangat buruk di mansion Bellamy.]
Demian membaca pesan itu dengan kening mengernyit. Apa lagi yang terjadi?
Jujur saja, keputusan Demian untuk meninggalkan keluarganya adalah karena ia ingin menghindari segala drama yang terjadi di sana. Demian berharap, dengan ia meninggalkan Italy, ia tidak perlu terlibat dalam drama keluarganya lagi. Baik rumah itu terbakar, runtuh dan diterjang badai, Demian tidak peduli.
Demian pikir ia bisa memulai kehidupan yang tenang di Vegas, tapi..., harapan hanya harapan. Tidak peduli seberapa jauh ia melangkah, drama keluarga itu tetap mengejar bayangannya. Menerornya.
__ADS_1
Mereka masih mengaitkannya pada situasi yang terjadi di sana, tidak peduli Demian ada atau tidak.
Situasinya sangat melelahkan!
Demian berharap Erthian segera resmi menjadi penerus di Bellamy. Setidaknya, dengan begitu ia tidak perlu terlibat dalam dua kubu keluarganya yang saling berebut tahta. Demian tidak menginginkan apa pun yang berkaitan dengan keluarganya, demi Tuhan.
Haaaah!
Demian mengembuskan napas gerah.
Dia yang bertopang lengan di pagar balkon kamar Jessica, menatap kepada gang sempit yang berada di samping cafe. Demian kembali teringat kepada malam ketika ia berada di tempat itu, bersama Angela. Demian ingat bagaimana ia terlihat menyedihkan malam itu.
Jessica yang menatapnya dari balkon ini pasti sangat prihatin.
'Tentu saja,' pikir Demian lagi. 'Jessica adalah gadis berempati tinggi. Dia adalah tipe gadis yang akan menangis kalau melihat orang lain menangis. Tch!'
Demian menoleh ke arah kamar Jessica dan menemukan tempat itu menjadi tempat terabsurd yang sudah ia tempati selama seminggu ini. Tidak peduli betapa keras ia berusaha merasionalkan tindakan Jessica, membiarkan pria asing yang memanjat balkonmu dan masuk secara paksa ke kamarmu, menetap di kamarmu sebagai tamu adalah hal yang sangat tidak masuk akal.
Gadis itu sudah pasti spesies langka.
Drrrttt! Drrrttt!
Getar muncul dari kantong saku celana Demian. Dengan segera, ia merogoh saku celananya. Sebuah panggilan dari nomor yang sudah lama tidak menghubunginya tertera di layar, singkat dan jelas.
Angela.
Dari semua orang, mengapa Angela?
"Halo, Ange?" Demian menjawab panggilan itu dengan suara yang tanpa sadar merendah halus.
"Ah, tidak. Tidak sama sekali. Aku..." Cukup santai, sebenarnya. Demian menambahkan di dalam kepala. Ia memperhatikan sekelilingnya dan menyadari kalau langit sudah memudar jingga. Sebentar lagi malam.
"Ada yang dapat kubantu, Ange?"
"Ummm..., tidak. Tidak seperti itu. Aku hanya..., ummm, aku mencemaskanmu." Suara Angela perlahan mencicit. "Kau tau, aku sudah lama tidak mendengar kabar darimu. Aku menjadi cemas."
Hanya dengan beberapa patah kata dari Angela yang mengatakan kalau ia cemas, Demian merasa bumi tempatnya berpijak terhenti. Sudut bibirnya tertarik membentuk cengiran tipis. Angela mencemaskannya. Angela!
"Aku baik-baik saja, Angela." Demian memutar tubuhnya agar ia bisa menyandarkan punggungnya di pagar balkon. Namun, di saat bersamaan, ia menemukan Jessica berdiri di depan pintu. Gadis itu menatapnya, tangan tersilang di dada.
Demian sedikit terperangah atas kemunculan gadis itu yang tanpa suara dan tiba-tiba. Ia sampai melupakan ucapannya.
Jessica berdiri di sana, menatap Demian tanpa sepatah kata. Dalam sepersekian detik ketika mata mereka bertemu pula, Jessica adalah orang pertama yang memutuskan kontak mata mereka. Ia menutup tirai balkon dan kembali masuk ke kamarnya.
Demian terdiam di sana, perasaan asing menodai hatinya. Ia tidak tau apa yang ia rasakan di sana. Ia tidak tau mengapa ia kehilangan fokusnya saat itu juga.
"Demian..." suara Angela kembali menyapa telinga Demian, menyiratkan kecemasan. "Mengapa kau tiba-tiba diam?"
"Huh, Ange?" Demian menggaruk tengkuknya. Gusar. "Maaf, aku hanya..., lupakan saja. Tidak penting."
"Mm, kalau begitu..., apa kau sibuk sabtu malam nanti?"
"Apa ini ajakan untuk kencan?" Demian bertanya seraya menahan senyuman. Ia tau Angela tidak bermaksud demikian. Toh, Angela sudah mempunyai Jake. Namun, kebiasaan lama Demian yang selalu menggoda Angela tidak bisa luntur begitu saja. Ia merindukan Angela, sejujurnya.
"Kau bisa mengatakannya begitu," tanggapan Angela membuat mata Demian melebar terpana.
Apa katanya?
__ADS_1
"Aku bosan..., aku akan sangat senang bisa bertemu denganmu kembali, Demian."
Apa dia sungguhan? Apa Angela baik-baik saja bila ia menyalah-artikan kedekatan mereka?
Setelah bertukar kata sejenak dengan Angela, Demian sampai pada kesimpulan bahwa Sabtu malam ini ia akan bertemu dengan Angela.
Katakanlah itu kencan atau bukan, Demian tidak peduli dengan konteksnya sama sekali. Yang penting adalah, ia bisa bertemu Angela kembali.
Setelah sekian lama!
Demian melenggang memasuki kamar Jessica dan menemukan gadis itu duduk di tempat tidur, membaca sebuah buku dengan ekspresi serius. Kedatangan Demian tidak membuat Jessica mengangkat kepalanya sama sekali.
Apa yang dia baca? Demian bertanya-tanya.
"Hei..." Demian menyapa duluan. Ia duduk di bibir ranjang Jessica dan menarik turun buku yang berjarak sejengkal dari wajah Jessica saat itu. "Apa yang kau baca sampai kau begitu serius?"
"Sesuatu yang bukan urusanmu," kata Jessica, suaranya terkesan kesal. Demian tidak mengira ia akan mendapat tanggapan tajam dari gadis yang selalu membawakannya makanan pagi dan malam.
"Apa kau baik-baik saja?" Demian bertanya.
"Aku akan baik kalau kau berhenti menggangguku."
"Huh?" Serius, ya?
"Pikirkan urusanmu sendiri," tukas Jessica lagi. Suara keki.
Jessica tidak tau mengapa ia begitu kesal. Sejak ia mendengar Demian sedang berteleponan mesra dengan Angela di balkonnya, Jessica entah bagaimana, merasakan api berkobar di kepalanya!
Sialan, ini tidak masuk akal. Mengapa ia merasa keki terhadap pria yang tidak mempunyai sangkut-paut padanya sama sekali? Mengapa ia membenci Demian yang begitu cepat menjalin hubungan dengan Angela?
Meskipun Angela sudah putus dengan Jake, apa Demian tidak merasakan kekecewaan sedikit saja pada Angela yang sudah mencampakkannya demi hubungan yang hanya bertahan dua bulan?
Bahkan bila ia sangat mencintai Angela, apa dia tidak merasa terluka ketika gadis itu menjadikannya nomor dua?
Hah, kan!
Ini adalah derita seorang penggemar yang hanya memantau di luar garis cerita. Ia seharusnya tidak bersimpati tinggi dan berkeinginan mengatur alur takdir dari orang yang tidak berhubungan dengannya sama sekali.
Bodoh, Jessica, bodoh! Kau bukan siapa-siapa!
"Kau akhirnya menunjukkan jati dirimu juga," Demian beranjak dari tempat tidur. Ia melenggang menuju sofa dan memungut tas besar yang dibawa Adam untuknya. "Kau tidak perlu menunggu besok, aku akan pergi malam ini! Aku tidak akan mengganggumu lagi!"
Demian tertular kesal.
"Apa maksudmu jati diri?" Jessica turut berdiri. "Aku tidak pernah menyembunyikan jati diriku! Aku tidak punya alasan berpura-pura di depanmu, asal tau saja!"
"Kau tidak perlu berpura-pura baik lagi di depanku," kata Demian tenang. Dari dua tas yang ia bawa, salah satunya ia lempar ke kaki Jessica. "Ambil itu. Anggap saja biaya karena sudah merepotkanmu!"
"Hah?"
Demian memakai kemeja flanel hitamnya. Ia pergi dari sana, begitu saja.
Jessica termangu dan terpana.
Mengapa situasinya menjadi buruk secara tiba-tiba?
*
__ADS_1