
Ketika Demian bertemu dengan Erthian, saudaranya tersebut membawanya mampir ke sebuah restoran berbintang yang dari segi kemewahannya, begitu menyilaukan. Demian duduk berseberangan dengan Erthian kala itu. Sepiring spaghetti bolognese yang kerap ia jumpai kediaman Bellamy sekarang tersaji di hadapannya. Tampil lezat memukau mata.
Melihat makanan itu, Demian merasakan deja vu. Kenangan buruk seketika menyebar di benaknya, memancing mual di perutnya.
"Rasanya sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama, bukan?" Erthian membuka bicara. Senyum si sulung itu merekah hangat kepada si bungsu yang kini menatapnya waspada. Seakan-akan dia adalah seekor kalajengking raksasa.
"Makanlah, Demian. Aku sudah meminta chef di sini untuk mempersiapkan makanan favorite-mu."
"Sekedar informasi, seleraku sudah berubah banyak semenjak aku meninggalkan Italy. Makanan seperti ini sudah tidak menarik minatku lagi." kata Demian, menanggapi dengan sedikit ketidak-senangan di intonasinya yang tajam.
"Awww, jangan bicara seperti itu. Hanya karena kau berada di benua yang berbeda, itu tidak berarti kau akan melupakan kampung halamanmu sepenuhnya, Demian.--
Jauh di dalam hatimu, di dasar lubuk hatimu, kau masih sosok yang sama. Kau masih adik kecilku tersayang."
Erthian berujar sambil bernostalgia. Di benaknya, ia mengingat Demian di masa lampau. Adiknya tercinta yang selalu membuat kericuhan di dapur hanya karena makanan.
"Apa kau ingat? Kau pernah bertengkar dengan nana karena di pastamu terdapat seekor cicak?"
"Aku ingat bajingan yang sudah merusak makan siangku," ujar Demian, matanya lurus ke arah Erthian.
Masih segar di benak Demian bagaimana Erthian kerap merusak makan siangnya. Si keparat itu akan mencampuri makanannya dengan berbagai bangkai hewan, obat pencahar, dan terkadang--tanpa perasaan bersalah--Erthian akan mencampurkan racun di sana dan membuat Demian mendarat di kasur rumah sakit selama berbulan-bulan.
Karena ulah Erthian, Demian tidak pernah mempercayai makanan di rumahnya sama sekali. Demian hanya akan makan siang di luar, dan ketika makan malam, Demian akan memasak makan malamnya sendiri.
"Itu adalah masa-masa yang menyenangkan, bukan? Aaaah, kita sudah melewatkan banyak hal sebagai saudara."
"Melihatku menderita sudah pasti masa yang menyenangkan bagimu." Demian sama sekali tidak mengerti isi kepala saudaranya ini, demi Tuhan. Demian hanya ingin Erthian segera pergi meninggalkan Vegas!
"Demian..., makanlah. Kali ini aku tidak mencampuri apa pun di makananmu. Percayalah, aku sudah dewasa sekarang. Aku sudah tidak sejahil dulu."
Masalahnya, di mata Demian, Erthian selalu penuh akal bulus yang hitam. Baik ketika ia masih 9 tahun, 17 tahun, 21 ataupun 31 tahun, Erthian masih sama gilanya. Dia tidak berubah, dia hanya bertambah besar secara fisik dan mungkin--, semakin licik.
"Aku tidak lapar," ujar Demian. "Aku datang kemari karena kau dan kroni-kronimu mau menemuiku, jadi..., katakan sekarang. Apa maumu?"
"Tidak sabaran," keluh Erthian.
"Kalau kau tidak mau bicara, aku akan pergi."
"Demian, Demian..." Erthian berujar seperti nyanyian. "Apa kau yakin mau pergi begitu saja? Maksudku, jarang sekali kau memperoleh kesempatan untuk bicara empat mata denganku, tau? Apa kau tidak penasaran..., pada apa yang ingin kukatakan?"
Ucapan Erthian seperti godaan.
Sejujurnya, ucapan Erthian masuk akal, tapi Demian enggan mengakui itu. Erthian yang mengajak Demian bicara pasti menginginkan sesuatu darinya. Walaupun Erthian menyeret pembicaraannya dengan sengaja membuat Demian jengkel, Demian tau kalau Erthian tidak keluar dan merisikokan kesehatannya hanya untuk bernostalgia.
Pria itu adalah iblis dari neraka, setiap gerak-geriknya membawa makna terselubung.
Demian tidak bisa meninggalkan Erthian begitu saja dan mengabaikan bahaya yang kemungkinan datang bersamanya. Demian tidak bisa menutup mata. Dia harus terus waspada pada ancaman yang bernama Erthian.
"Tsk..." Ujung-ujungnya, Demian memaksakan bokongnya menempel di atas bangku empuk itu. Jari telunjuknya mengetuk-ketuk meja kaca di hadapannya, menyiratkan ketidak-sabaran yang kentara.
__ADS_1
"Seperti yang kukatakan," ujar Erthian kembali. "Kau tidak bisa sepenuhnya berubah, Demian. Kau masih adikku tersayang."
Erthian tau kelemahan Demian dan bagaimana otak Demian bekerja. Erthian tau apa yang harus ia lakukan untuk mengalahkan Demian.
"Sekarang..., makanlah." Erthian kembali bertitah.
Mengira kalau pembicaraan seriusnya dengan Erthian tidak akan terjadi sampai ia menyantap sepiring spaghetti yang berada di hadapannya, Demian pun mau tidak mau menyantap makanan tersebut. Kendati tidak ada rasa asing di sana, ataupun bangkai hewan seperti biasa, Demian merasa tercekik ketika sendok besi itu menyapa mulutnya. Kenangan yang berputar di benaknya membawa trauma.
Beberapa menit kemudian.
"Aku sudah selesai," ujar Demian. Tanpa menikmati seinci pun taburan bumbu di piringnya, merasakan bagaimana lembut dan sedap tekstur pasta itu di kunyahannya, Demian berhasil menjejalkan habis isi piring itu ke mulutnya.
Matanya sedikit berair menahan muntah, tapi tidak masalah. Demian sudah melewatkan hambatan tersulitnya.
"Sudah kuduga, melihatmu makan selalu membuatku senang." Erthian tersenyum penuh kebahagiaan. "Rasanya seperti kembali ke masa-lalu. Aku sangat berharap bisa segera kembali mengulang momen ini bersamamu."
"Apa maksudmu mengulang?" Demian lebih baik mati daripada mengulang momen ini bersama Erthian.
"Aah, ini yang ingin kubicarakan, Demian." Erthian menyesap jus jeruk yang berada di atas meja, tersaji untuknya. "Ayah menginginkanmu pulang bersamaku."
"Huh?"
Apa itu alasan Erthian kemari? Tidak..., itu aneh. Erthian yang sakit-sakitan tidak akan datang kemari hanya untuk membawanya pulang, kan? Jika Christian menginginkannya pulang, si bajingan itu sudah pasti memerintah orang yang lebih kuat dan lebih kompeten daripada Erthian. Hestia, misalnya.
Demian lebih ke tipe yang mendengarkan Hestia daripada mendengar Erthian.
"Aku lihat kau mulai merangkai sesuatu di benakmu," ujar Erthian. "Jangan terlalu memikirkan situasinya, Demian. Aku hanya kebetulan ingin mengunjungimu dan ayah ingin aku membawamu pulang sekalian, hanya itu."
"Keadaan di Bellamy menjadi sangat tidak kondusif semenjak ayah kecelakaan." Erthian lanjut memberikan penjelasan. "Tentunya, ayah baik-baik saja. Akan tetapi, para bawahannya mulai membuat kubu masing-masing dan menciptakan masalah yang tidak perlu. Paman Kenan, contohnya. Dia nyaris mati di tangan ayah karena sudah berulah."
Itu..., mengejutkan. Sepengetahuan Demian, Kenan adalah sosok yang sama kuatnya dengan Hestia. Demian tidak menyangka kalau pria itu akan menciptakan pemberontakan kepada Christian, dan walaupun dia nyaris mati dalam prosesnya, dia pasti sudah mengumpulkan banyak pengikut.
Apa karena ketidak-stabilan itu Christian menginginkannya pulang? Tapi untuk apa?
"Aku tidak tau kalau situasi di Bellamy bisa menjadi carut-marut. Itu memprihatinkan, tapi..., aku sudah tidak peduli sama sekali." Demian akhirnya memberikan tanggapan. Bagaimanapun, dia tidak akan mau pulang.
"Jangan bicara seperti itu. Lagipula, bibi Hestia sangat merindukanmu. Ja-lang itu selalu membicarakanmu sepanjang waktu, Selina sampai sakit kepala mendengarnya bicara."
"Daaan..., itu masih bukan urusanku."
"Demian..., kau selalu mengatakan ini dan itu bukan urusanmu, bahkan ketika kau masih di Sorrento bersamaku. Itu menggemaskan, tapi..., apa kau lupa kalau keapatisan itu selalu membawa nestapa padamu?"
(Apatis : acuh tak acuh.)
"Apa itu ancaman yang kudengarkan barusan?" Itu sudah jelas ancaman.
"Aku hanya bernostalgia, Demian. Aku ingat bagaimana hal-hal yang tidak kau pedulikan, berujung membawa kehancuran padamu."
"Yang membawa kehancuran padaku adalah keberadaanmu. Segala hal yang sudah menimpaku, terjadi semata-mata karena kegilaanmu, Erthian. Jangan menyalahkan hal lain."
__ADS_1
Erthian terkekeh. "Kau bicara seolah aku tidak pernah memperingatimu sebelumnya."
"Mengancam lebih tepatnya," ralat Demian. Demian sangat ingat bagaimana Erthian akan mengacaukan hidupnya bila ia menolak perintah si bajingan itu. Demian sangat hapal kebiasaan Erthian dan itu memuakkan.
"Aku tidak akan tunduk padamu hanya karena kau sudah mengancamku berkali-kali, Erthian. Dalam arti lain, aku tidak akan pernah mau pulang bersamamu ke lubang neraka itu!"
Keputusan Demian sudah bulat. Ia sudah bersumpah tidak akan menginjak tanah neraka itu, tidak terkecuali Erthian mati.
"Baiklah, kalau itu keputusanmu. Aku tidak di posisi berhak untuk memaksamu." Erthian tersenyum sayu. "Lagipula, kau akan pulang bersamaku. Aku tau karena aku selalu mematuhi perintah ayah, Demian. Aku menjadi penerusnya karena aku tidak pernah gagal dalam menjalani perintahnya. Kau tau fakta itu, kan?"
"..."
"Demian, kau akan pulang. Aku akan membawamu pulang." Erthian tersenyum riang. "Sampai bertemu lagi dalam waktu dekat. Pastikan kau mengemasi barang-barangmu."
"Apa yang akan kau lakukan, Erthian?" Demian seketika berdiri ketika ia melihat Erthian berdiri. Perbincangan ini belum berakhir, tidak untuk Demian. Ia tidak tau apa yang sedang otak iblis itu rencanakan.
"Entahlah..., mungkin aku hanya akan menunggu kedatanganmu. Bagaimana dengan itu?"
Demian tidak akan percaya pada kebohongan Erthian yang kentara. Dia sudah pasti mempunyai rencananya tersendiri.
"Erthian!"
"Oh, anyway..., Angela menangis sangat histeris malam itu." Erthian berhenti sebentar di samping Demian. "Dia merasa sudah ditipu olehmu, Demian. Bagaimana bisa kau melakukan itu, yaa? Kau melukai wanita yang sangat jelita."
"..."
"Hahaha..., kau harus melihat bagaimana sedihnya dia malam itu. Dia menangis dengan ekspresi menjijikkan. Aaaaah..., sudah kuduga, kau tidak akan jatuh cinta pada wanita sepertinya. Mustahil sekali, mustahil." Erthian bicara sambil tertawa riang. "Kau tidak berubah sama sekali, Demian."
"..."
"Itu melegakan."
Itu menyenangkan bagi Erthian. Setidaknya, Erthian tau kartu apa yang perlu ia mainkan.
"Aku akan membunuhmu kalau kau berani melakukan sesuatu yang buruk di sini, Erthian!" Ancaman Demian dan caranya bicara terkesan begitu menggemaskan di mata Erthian. Daripada merasakan kewaspadaan, Erthian meraih pipi adiknya dan memberikan usapan lembut di sana.
"Aku sangat ingin melihatmu mencoba, Demian."
Jika Demian memang sanggup membunuhnya, pikir Erthian, saudara bungsunya itu tidak akan berada di Vegas sekarang. Demian tidak akan bernapas di kota para pendosa ini, Demian tidak akan melarikan diri.
"Aku tau, Demian..., jauh di lubuk hatimu..., kau juga sangat menyayangi saudaramu, bukan?"
Saat itu, tanpa mampu menanggapi Erthian yang telah berlalu, Demian jatuh merosot di kakinya, jantung berdegup liar dalam amarah yang membuncah. Demian menatap kepergian Erthian dengan mata yang memerah menahan amukan.
Demian begitu marah pada kenyataan ia tak sanggup menyentuh Erthian. Ia tak sanggup menjadi pembunuh untuk menyingkirkan Erthian. Demian tidak sanggup menjadi iblis yang mampu membunuh saudaranya sendiri.
Pada akhirnya, ketika Demian berhasil menyeret kakinya pergi dari restoran itu, Demian memuntahkan segala isi perutnya di bibir jalan raya. Segala spaghetti yang ia sumpal di mulutnya, keluar bersama segala kejijikan yang mengendap di kerongkongannya.
Jessica, Demian mengingat wajah gadis itu..., dan hanya saat itu lah dia merasa sedikit lega.
__ADS_1
Demian sangat membutuhkan Jessica.
...****************...