MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
51. Tanpa Batas.


__ADS_3

Perjalanan menuju sebuah motel yang bertengger tidak jauh dari lokasi halte bus tadi hanya memakan waktu tiga menitan. Selama perjalanan singkat itu juga, Jessica menggulung dirinya dalam selimut sambil menatap kepada sekeliling mobil.


Jessica bertanya-tanya mengenai mobil siapa yang digunakan Demian untuk mencarinya. Namun, karena Jessica masih jengkel terhadap keusilan Demian, Jessica memutuskan bungkam.


"Kau tidak masalah kalau kita singgah di motel, kan?" Demian menatap Jessica dari kaca spionnya. "Hujannya masih sangat deras, akan cukup berbahaya kalau kita berkendara sekarang."


"Mm," Jessica menjawab dengan gumaman.


Ia menyetujui saja ucapan Demian walau sebenarnya ia menyadari tadi pun, Demian menghampirinya di halte dengan mobil melaju dalam kecepatan penuh. Apa pria itu tiba-tiba takut mati sekarang?


Setelah pertukaran kata singkat mereka, Demian pun menemukan sebuah motel di bibir jalan raya. Lampu neon dari motel itu berkedip-kedip di bawah terpaan angin yang kuat.


Segala urusan yang terjadi di sana, dari berlari meninggalkan parkiran menuju motel, pemesanan kamar dan jalan menuju kamar, tidak ada kata yang keluar sama sekali dari bibir Jessica. Semua urusan diselesaikan oleh Demian sementara Jessica mengekori pria itu dari belakang.


Jessica merasa segan untuk bicara. Rasa malu menghimpitnya sepanjang jalan menuju kamar. Jessica masih tidak menyangka kalau dirinya berani dan percaya diri menginisiasikan ciuman tadi. Seolah-olah ia kehilangan kendali atas kewarasannya sendiri.


Apa yang dia pikirkan sampai-sampai dia berani mencium Demian?


Tidak hanya itu, apa yang sudah mereka lakukan di mobil setelah ciuman itu...


Seseorang, tolong kubur Jessica hidup-hidup!


Rasa malu itu terlalu besar untuk muat di kepalanya, ia lebih baik mati daripada mengingat apa yang sudah terjadi.


Hujan sialan, apa saja yang sudah bercampur dengan angin deras tadi sampai-sampai Jessica kehilangan kewarasannya sendiri? Apa dingin begitu mencekam sampai otaknya membeku?


"Sampai," Demian berhenti di depan pintu kamar nomor 21. Ia membuka kunci dan mempersilakan Jessica masuk duluan. "Ladies first," ujarnya seperti gentleman.


Jessica memperhatikan tingkah Demian dengan cibiran. Melewati Demian, Jessica pun masuk ke dalam kamar motel tersebut.


Tidak seperti di presidential suite tempatnya dan Demian pernah menginap, kamar motel tempat Jessica berada sekarang terbilang cukup kecil dan berpencahayaan temaram.


Tidak ada unsur-unsur di dalamnya yang menjeritkan kemewahan.


Namun, meskipun kemewahan absen dari ruangan itu, Jessica merasa lebih nyaman. Ia setidaknya, tidak perlu merasa terkejut oleh kemegahan dan kemewahan di sana-sini. Ruangan itu berfungsi dengan optimal sebagai tempat menginap dan itu cukup. Jessica tidak membutuhkan apa pun.


"Bagaimana keadaanmu?" Demian bersuara setelah melepaskan jaketnya.


"A-a-aku baik." Jessica kesulitan mengeluarkan suara. Ingatannya kembali ke mobil.


Jangankan bersuara, mengangkat wajahnya untuk menatap Demian saja ia enggan. Jessica lebih memilih menatap kepada dinding. Seolah-olah mahakarya van gogh bergantung di sana, Jessica enggan memalingkan muka.


"Jessica?"


"Hmm?"


"Kau bilang kau akan membayarku, kau tidak akan berubah pikiran, kan?"


"Te-te-tentu..., be-ukhm, berapa? Kau mau berapa? Akan kuusahakan..."


Demian terkekeh atas reaksi Jessica. Segala keberaniannya di mobil tadi telah sirna, tergantikan oleh kegugupan yang kentara. Dia--di sana--terlihat menggemaskan dengan rona di pipinya.

__ADS_1


"Hanya Tuhan yang tau berapa banyak hal yang ingin kulakukan padamu, Jessica." Demian memberikan tanggapan sambil mendekati Jessica yang terus mundur. Gadis itu menghindari langkahnya tanpa ada niat bertatap mata.


Sungguh manis dan lugu. Demian menjadi sangat tidak sabaran ingin melahap gadis itu.


"Kau tidak berniat melarikan diri lagi, kan?" Demian berhasil menangkap Jessica yang menghindari langkahnya. Terima kasih pada kamar motel itu yang kecil, Demian tidak perlu langkah besar untuk menggapai Jessica.


"Jessica..." goda Demian kembali, ia bicara sambil menarik pinggul Jessica merapat ke arahnya. "Aku tidak akan membiarkanmu melarikan diri."


Mau tak mau menoleh, Jessica pun membalas tatapan Demian. Tidak seperti Demian yang penuh keantusiasan, Jessica meradang dan tersipu. Wajahnya merah padam, berbaur dengan peluh yang menyeruak dalam kegugupan.


"Baiklah," gumam Jessica. "Lakukan apa yang kau suka..." balasnya pada akhirnya. Jessica tidak keberatan melakukan itu kepada Demian, ia hanya tidak nyaman dalam memberikan persetujuan verbal. Itu terasa begitu tabu.


"Kau yakin aku boleh melakukan apa pun yang kusukai? Apa kau sanggup?" Demian memperpanjang godaannya.


"Apa kau meremehkanku?" Jessica membalas dengan keberanian sebesar kacang. Dia hanya menggertak Demian karena sudah menggodanya terus-terusan. "Asal tau saja, aku mempunyai cukup wawasan kalau hanya menyangkut ini..."


"Kalau begitu...," Demian lalu melepaskan kaos hitam yang ia kenakan, "Aku tidak sabar melihat wawasanmu diaplikasikan padaku."


Mengakhiri basa-basi itu dengan sebuah ciuman, Jessica menemukan dirinya kembali terhempas ke atas ranjang. Demian memagutnya penuh tuntutan. Saliva meleleh berantakan, napas mengerang dalam keagresifan.


Jessica memejamkan mata, larut dalam dominasi Demian sepenuhnya. Dalam gerak naluriahnya, ia menggapai tengkuk Demian dan membalas pagutan yang pria itu berikan.


Waktu pun terus berjalan di sana. Deras hujan di luar jendela meredamkan suara erangan Jessica yang semakin nyaring di telinga. Ia menahan napasnya, terengah. Sentuhan yang diawali dengan ciuman itu membawanya ke dalam aksi yang lebih liar lagi.


Demian--membuktikan ucapannya yang akan melakukan apa yang ia sukai terhadap Jessica, sekarang memanfaatkan bibir Jessica untuk kesenangannya. Jessica, karena provokasi murah Demian pula, menuruti tantangan pria itu dan berujung tersedak beberapa kali.


Salivanya mengalir hingga leher, tumpah-ruah akibat tekanan yang Demian berikan ketika ia menjadi tidak sabaran.


"Kau terlihat manis seperti ini," gumam Demian sekali lagi. "Haruskah aku melatihmu setiap hari?"


"Uhkkk!" Jessica terbatuk-batuk setelah Demian melepaskan tangkupan wajahnya, saliva yang bercampur cairan menjijikkan meleleh dari mulutnya. Saat itu juga, Jessica merasa rahangnya akan lepas akibat milik Demian yang begitu..., tidak masuk akal.


"Apa kau mau aku mati tersedak?" Jessica hendak mengelap sudut bibirnya ketika Demian bergerak maju dan menjilat habis tumpahan dan lelehan yang mengotori wajah gadis itu.


"Kau tidak akan mati," ujar Demian. Jilatannya tak berhenti di dagu Jessica, ia terus turun ke dada sementara tangannya menarik Jessica agar naik ke atas pangkuannya. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu mati."


"Apa kau Tuhan?" Jessica merintih ketika gigi-gigi Demian kembali meraup kulitnya, melahapnya dan memberikan hisapan yang menggelapkan mata. Kabut kembali mengaburkan pandangan Jessica. Panas yang merayap di tubuhnya tiada dua.


"Bisa kau berhenti menunda-tunda?" Jessica sudah dibatas kesabarannya. Panas yang membakar jantungnya sekarang mendesak aksi yang lebih dari sekedar pagutan dan hisapan. Jessica menginginkan Demian mendekapnya, merasukinya dan menghilangkan kewarasannya.


Ia ingin lepas selepas-lepasnya. Buas dan beringas.


Jessica menginginkan Demian..., sekarang.


"Seseorang tidak sabaran," Demian membisik telinga Jessica sambil membenarkan posisi duduk Jessica di atasnya, tepat berada di titik yang sempurna.


Pipi Jessica merona hingga mencapai telinga, ia menangkup wajah Demian di tangannya dan memberikan pria itu ciuman yang dalam di bibirnya.


Demi apa pun, Jessica hanya menginginkan Demian bungkam sekarang. Jika pria itu terus menggodanya, Jessica takut ia akan meledak seperti kembang api di malam tahun baru.


Ia takut ia tidak sanggup dan meleleh di dalam dekapan pria itu.

__ADS_1


Jessica memejamkan mata, dalam pagutannya yang menciptakan suara decapan dan saliva, Demian perlahan-lahan memasukinya. Memenuhi desiran gairahnya yang sudah mencapai batas. Saat itu juga, Jessica melupakan pagutannya dan melenguh resah.


Suaranya meninggi dalam ekstasi.


Setiap tekanan yang Demian berikan, pacuannya yang  memabukkan, memberikan Jessica euforia yang tiada dua. Ia melupakan segala hal yang memenuhi benaknya, segala keluh-kesahnya, namanya..., yang Jessica sadari saat itu hanya lah betapa ia berharap waktu agar tidak pernah berlalu.


Demian--tidak jauh berbeda dari Jessica--larut dalam gairahnya yang menguasai kepala. Tanpa bisa mengendalikan tubuhnya sendiri, ia memutar Jessica ke dalam posisi yang membuatnya mampu berpacu lebih buas lagi. Lebih dan lebih.


Demian, melupakan kewarasannya, batasannya..., mengeluarkan sisi buasnya secara membabi-buta.


Jessica yang berada di bawahnya, membalakanginya, berupaya meraup apa pun sebagai pegangannya.


Saat itu pula, di dalam badai hujan yang sedang deras di luar sana, Jessica dan Demian terjebak dalam panas gairah yang membutakan mata dan akal sehatnya. Jessica melupakan dunia, tidak mengingat apa pun selain fakta bahwa tubuhnya, jiwanya mendambakan Demian tanpa batasan.


Keinginan yang berpadu dalam erangan, jeritan dan desau napas yang bersahutan.


Jessica, dalam dekapan Demian, begitu menyadari betapa ia akan hancur dalam obsesi yang merayap di dadanya saat ini. Ia tidak menginginkan Demian pergi. Ia ingin panas itu bertahan lama di kulitnya, menjadi miliknya.


"Demy---hnnhh--" Jessica melenguh sambil menahan jerit lolos dari bibirnya, tangannya merangkum bantal seolah ia akan jatuh dari sana.


Telapak tangan besar Demian menyelimuti jari-jarinya yang mengepal putih. Hangat telapak tangan pria itu seperti penenang dari euforia yang membuat jantung Jessica melonjak gila.


Jessica--di bawah Demian yang kembali menghujaninya dalam kecupan dan pagutan, merengkuh tengkuk pria itu erat.


Di bibirnya, sebuah kata nyaris lolos menciptakan bencana...


Jessica meneguk ludah dalam keterpanaan..., keterkejutan...


Nyaris saja, pikirnya.


Nyaris saja ia mengakui isi hatinya pada Demian yang mendekapnya.


'Aku mencintaimu,' --kata-kata yang tersangkut di ujung lidahnya begitu tabu. Jika ia mengatakannya sekarang, ketika Demian sendiri sedang terbenam dalam ekstasi dan gairah birahi, akankah pria itu memberikan tanggapan yang serupa...


Ataukah panas api yang membakar mereka akan padam seketika?


Demian Bellamy tidak mencintainya, Jessica nyaris lupa.


Jessica percaya, segala sensasi yang dirasakan tubuh mereka saat ini, tidak lain dan tidak bukan hanya sebuah gairah wajar bagi Demian. Toh, dari rumornya, Demian adalah pria yang buas dan liar di jalanan Vegas. Hal-hal semacam berbagi ranjang sudah pasti bukan sesuatu yang tabu lagi untuknya. Itu mungkin bagian dari kesehariannya.


Jessica percaya, bahkan bila pria itu menggila di tubuhnya, menyentuhnya dengan nafsu liar yang membuatnya terengah..., Demian tidak akan menyimpan arti mendalam di sana.


Ini hanya *-**, tidak lebih.


Tidak ada perasaan yang perlu dipertimbangkan.


Hanya gairah dan nafsu yang memburu.


Apa yang Jessica rasakan sekarang di dadanya, di hatinya, Demian..., tidak merasakan hal sama.


*

__ADS_1


__ADS_2