MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
75. Demi Persahabatan.


__ADS_3

BRAKK!


Suara pintu yang dibanting tertutup bergema nyaring tepat ketika Jessica menapak masuk ke kamarnya. Gadis itu--dengan jantung yang berpacu laju--masuk ke kamarnya dan menuju ara dapur. Ia mengambil air minum dan belum sempat ia menghabiskan isinya, gelas itu langsung ia banting ke lantai.


Kepingan kaca berhambur di dekat kakinya, remuk dan basah.


Jessica menatap hasil ulahnya tersebut tanpa ekspresi apa-apa. Dingin di matanya tak mereda, amarahnya masih memenuhi kepala.


Sialan!


Jessica mengusap wajahnya kasar sebelum melenggang meninggalkan segala pecahan kaca itu. Ia menuju tempat tidur dan duduk di sana untuk beberapa lama, untuk meredakan amarahnya. Ia merenung dan memutar kembali segala situasi yang sudah terjadi.


Apa yang sudah terjadi..., huh?


Bahkan, setelah segala hal yang terjadi, Demian masih membela Angela sampai akhir. Tidak peduli apakah Angela berada di posisi yang benar atau salah. Pria itu tidak peduli pada fakta, dia hanya peduli pada Angela. Jessica seharusnya menduga pilihan Demian, tapi dimarahi karena sudah bertingkah 'keterlaluan' pada Angela membuat Jessica turut murka.


Apa dia yang memulai konfrontasi tadi? Apa dia yang sengaja menyeret Angela ke gang sana untuk berkelahi? Semua itu kemauan Angela sendiri! Jika dia tidak siap kalah, dia seharusnya tidak membuka mulut dan memulai masalah.


KEPARAT!


"Apa hanya Angela yang punya perasaan di sini?" Jessica bergumam sambil merebahkan kepalanya di tempat tidur.


Amarah yang membuncah di dadanya belum mereda, dan ketidak-mampuannya dalam melampiaskan amukannya membuat mata Jessica memanas merah. Jessica tidak ingin lepas kendali, tapi bertahan dan menerima segala tudingan yang terjadi hari ini membuatnya tercekik.


Dia ingin segala siksaan ini berhenti.


Dia hanya ingin kembali seperti semula, ketika tidak ada cinta di dadanya.


Saat berbagai hal menyangkut Demian mulai mengisi kepalanya, menyakiti perasaannya..., Jessica seketika ingin melarikan diri saja. Keinginan untuk melupakan segalanya begitu kuat dan hebat.


Penyesalan yang berdatangan berbaur dengan rasa menjijikkan. Ia mengusap lengannya, merinding risih pada tubuhnya sendiri. Memikirkan bagaimana ia terlalu mudah dan murah di depan Demian membuat Jessica marah.


Jessica ingin melarikan diri, tapi...


Tangannya menggapai sebuah koin dari laci nakasnya. Sebuah koin yang diberikan seorang pria dari masa-lalunya.


"Aku harap aku tidak pernah melihatmu kembali ke sini," ucapan pria itu begitu ramah, penuh kepedulian, dan keprihatinan. Ketika pria itu menyerahkan koin tanda kesadarannya tersebut, Jessica menerimanya seraya tersenyum kecut.


"Aku pun menaruh harapan sama," ujar Jessica waktu itu.


Dia tidak akan kembali ke pusat rehabilitasi lagi, karena dia sudah sembuh dan sadar. Dia sudah menyelesaikan rehab-nya. Ia telah bersih dari segala kecanduan yang menjadi media pelariannya.


Jessica sudah tidak seperti dulu, ketika Jessica lebih banyak mabuk daripada sadar. Dulu, ketika stressnya muncul, alat pelarian utama Jessica adalah alkohol. Ia mendewakan minuman itu pagi malam hingga ia masuk rumah sakit beberapa kali karena konsumsi yang berlebihan. Ia tidak mampu berdiri tegap dan selalu muntah di jalan. Beberapa kali juga, ia sampai ditahan di kepolisian karena tidur sembarangan.


Setelah keluar dari pusat rehabilitasi, Jessica sudah tidak menatap alkohol dengan candu lagi. Dia mungkin akan minum sampai teler untuk beberapa kali, tapi itu hanya kala ia bersenang-senang. Teman-temannya pun akan memberinya pengawasan. Jessica--tidak pernah lagi--menatap alkohol sebagai media pelariannya.


Tidak sampai hari ini.


Jessica meninggalkan pusat rehabilitasi dengan harapan ia akan memulai kehidupan baru dengan bahagia. Ia seharusnya tidak memikirkan tentang melarikan diri lagi dan kembali ke sana. Dia tidak boleh membuat Ethan, Elliot dan Dania terbebani atas ketidak-mampuannya mengontrol diri.


Bahkan bila ia tidak bisa mencintai dirinya sendiri, Jessica ingin tetap sadar demi sahabat-sahabatnya.


"Haaaa..."


Jika ia menurut pada bisikan setan yang membawanya untuk kembali pada kebiasaan lama, Jessica tau dia tidak akan bisa kembali normal seperti semula.


"Pikirkan yang lain, pikirkan yang lain..." Jessica mensugesti dirinya sendiri, mendorong pikiran-pikiran negatif yang berseliweran di benaknya seperti racun di kepala. "Pikirkan yang menyenangkan, Jessica. Pikirkan hal yang menyenangkan..."


Jessica mengatur napasnya, berulang-ulang.


Setelah menjadi lebih tenang, Jessica memberikan kecupan pada koin di genggamannya tersebut, sebelum menaruhnya kembali ke semula. Jessica pun melenggang keluar dari kamarnya, menyapa kawan-kawan yang sekarang menatapnya dengan senyum ramah.


Benar..., teman-temannya adalah keluarga utamanya. Cinta yang pantas untuk membuatnya terluka hanya mereka. Jessica--demi apa pun--tidak akan pernah membuat tiga kawan-kawannya kecewa. Dia akan menjadi kuat demi mereka semua.

__ADS_1


*


"Apa kau baik-baik saja?" adalah tanya yang keluar dari mulut Dania.


Ia menyapa sahabatnya yang sejak kembali dari bicaranya dengan Angela, terlihat sangat murka. Dania mencemaskan Jessica, tapi tidak mau terlihat begitu cemas.


Dania berusaha terkesan santai dengan nada suara ringan dan mata yang tidak begitu memperhatikan Jessica, tapi di dadanya, ia takut sesuatu terjadi pada sahabatnya itu.


"Aku baik, kok. Kenapa?" Jessica menanggapi santai. "Aku hanya agak lapar..., soalnya aku belum sarapan sama sekali."


"Salah siapa kau pergi tanpa sarapan?" Elliot muncul dari dapur sambil membawakan Jessica sepiring makanan berat yang masih mengepulkan uap hangat. "Ini..., aku membuatkan makanan favorite-mu."


"Daripada sarapan, ini sudah menjelang makan siang, kan?" Ethan ikut bicara.


"Eeeegh, benar. Aku jadi lapar. Aku juga mau, Elli. Buatkan aku satu."


"Ambil sendiri di dapur." Elliot mencebik.


"Ada apa dengan perlakuan pilih kasih ini, aku benar-benar benci..." Dania merengut, tapi tetap menurut. Ia hendak melenggang ke dapur, tapi sebelum itu, ia melirik ekspresi Jessica.


"Apa kau menginginkan sesuatu dari dapur?" tanya Dania.


"No, thanks. Ini sudah cukup." Jessica menggeleng seraya tersenyum.


"Good, then." Dania lalu beranjak.


Setelah Dania pergi, Ethan dan Elliot melempar tatapan bergantian. Keduanya menyimpan tanya dan cemas pada waktu bersamaan. Mereka mencemaskan Jessica, dan di satu-waktu, juga bertanya-tanya, apa yang sudah terjadi sampai Jessica terlihat sangat murka tadi.


Elliot takut sesuatu yang buruk yang sudah dikatakan Angela dan akan mempengaruhi mental Jessica. Gadis itu mungkin terlihat santai dan baik-baik saja, tapi dia tidak mempunyai mental baja. Dia--daripada kuat--adalah gadis dengan hati yang cukup rapuh.


"Ah, aku sudah tidak tahan dengan ini..." Elliot jadi bicara sendiri.


"Tidak tahan apa?" Jessica--sebagai sumber stress sahabat-sahabatnya--malah tidak peka.


"Aaaah, aku membicarakan tentang tikus yang kutemui di kamar apartemenku hari ini." Elliot tidak akan mengungkit Angela dan Demian di depan Jessica, tidak mungkin. Nama-nama itu keramat sekarang. Menyebutnya hanya akan membuat mood Jessica berantakan.


"Ya, begitulah..." Elliot tersenyum masam. "Karena itu, aku berencana menyingkirkan habis mereka semua. Sampai tidak bersisa."


"Ah, ah, ah...," suara Dania kembali menyapa. "Entah mengapa, kata-kata itu membuatku setuju. Siapa yang mau kau singkirkan?"


"Tikus di kamarnya, katanya." Jessica yang menjawab.


Dania langsung peka. "Singkirkan saja semuanya, Elli. Aku akan menemanimu kalau perlu."


"Apa kau tidak takut tikus, Dani?"


Senyum Dania merekah tipis. "Tidak ada yang lebih menakutkan daripada aku."


"Ohoo..." Jessica menanggapi seraya tertawa. "Lakukan apa yang kalian berdua mau. Ethan, bagaimana dengan kamarmu, apa kamarmu tidak ada tikusnya juga?"


"Untungnya, kamarku cukup aman. Tapi, bila sesuatu terjadi dan menggangguku, aku akan melakukan apa yang Elliot dan Dania lakukan." Dalam arti lain, Ethan mendukung Elliot.


Jessica--masih tidak peka--mengangguk saja. "Mm, itu benar. Hama memang pantas disingkirkan segera. Kalau dibiarkan, mereka akan beranak-pinak dan menyebarkan masalah."


Elliot dan Dania saling melemparkan tatapan, seringai mengembang lebar dan menakutkan.


Sekarang, saatnya mereka turun ke lapangan langsung!


*


Di hari yang sama, karena Angela memutuskan beristirahat di rumah, Angela tidak mempunyai aktivitas yang berarti selain membuka akun insta-nya. Ia mem-posting foto candid Demian yang di ambilnya diam-diam ketika pria itu duduk bosan di sofa kamarnya, membolak-balikkan majalah fashion di meja dengan ekspresi jengah.


[Terima kasih sudah selalu berada di sampingku.]

__ADS_1


Angela menyertakan caption di bawah foto itu sambil sesekali mengulum senyum. Ia menyukai perhatian yang Demian berikan padanya.


Angela merasa, kendati tidak ada Jake di sisinya sekarang, ia masih mempunyai Demian. Itu lebih baik daripada ditinggal sendirian.


Meskipun ia harus mengemis-ngemis agar Demian tidak pergi, setidaknya, ia tidak kesepian lagi. Ia merasa damai dan--


Sebuah panggilan masuk di ponsel Angela, menyela kedamaiannya.


Dania, adalah nama yang tertera di sana.


"Apalagi sekarang?" Angela merengut tak senang, tapi tetap memberikan tanggapan. "Halo?"


"Halo, Angelaaaa..., bagaimana kabarmu? Bagaimana bisa kau pulang tanpa memberitahu apa pun kepadaku?"


"Maafkan aku, aku tiba-tiba tidak enak badan. Jadi aku memutuskan pulang lebih awal hari ini."


"Ya ampun, aku sangat prihatin, yaaa. Aku harap kau tidak sakit parah." suara Dania tidak menunjukkan kecemasan, sebenarnya. Dia malah kedengaran santai.


"Ini bukan sesuatu yang perlu kau cemaskan. Aku akan kembali bekerja seperti biasa, besok."


"Ohooo, bagaimana kau bisa mengatakan itu. Kau jatuh sakit hari ini sampai-sampai lupa izin pulang..., aku..., sebagai atasanmu merasa sangat bertanggung jawab, Angela."


"Huh?"


"Karena aku mencemaskanmu, akan lebih baik bila kau tidak usah kembali bekerja. Beristirahatlah selama-lamanya."


"Apa--, tunggu, apa kau memberikanku cuti?" Angela cukup terperangah.


"Heeei, kata-katamu begitu tinggi. Apa ini restoran bintang lima? Kata-kata cuti hanya diberikan pada karyawan bergaji tinggi, Angela."


"Jadi..."


"Aku memecatmu, itu jadinya."


"Eh, apa?" Mata Angela melebar terpana. Reaksi terkejutnya pun menarik perhatian Demian juga. "Kau tidak bisa melakukan itu!"


"Aku tidak akan bisa kalau cafe ini punya nenek moyangmu, Angela. Sayangnya, cafe ini bukan milikmu. In fact, cafe ini merupakan milik bosku, Jessica Cerise. Wanita yang sudah kau usik beberapa kali."


"Haaa, jadi dia memerintahmu memecatku?!"


"Hei, kau tidak akan mengharapkan upah dari orang yang sudah kau hina, kan? Binatang pun tidak akan merendahkan diri mereka sejauh itu untuk makanan." Suara Dania yang terkekeh di seberang telepon memicu amarah Angela.


"Ini ketidak-adilan. Kau tidak tau apa-apa, Dania. Jadi jaga ucapanmu. Masalahku dan Jessica adalah masalah pribadi, pekerjaanku seharusnya tidak dilibatkan di sini."


"Sebelum kau mengatakan itu, apa kau sudah berkaca? Siapa yang melibatkan pekerjaan di sini duluan adalah kau, kan? Apa kau lupa..., kau pergi tanpa izin dariku sama sekali..., apa kau benar-benar berpikir cafe ini punya nenek moyangmu?"


"..."


"Kalau kepalamu itu masih bisa digunakan untuk berpikir, ya, Angela. Sikap tidak profesionalmu itu sudah mengganggu pekerjaan di sini."


"Biarkan aku bicara pada Jessica, aku tidak mau mendengar omong kosongmu! Dia melakukan ini karena dia ingin menyingkirkanku, kan? Dia sudah curang!"


"Waaaah, mentalmu memang sudah tidak bisa diperbaiki." Dania mencebik ngeri. "Yang memecatmu di sini adalah aku, Angela. Aku. Bukan Jessica, apa kau tidak paham?"


"..."


"Orang yang mengizinkanmu bekerja di cafe adalah aku, yang mampu memecatmu juga aku. Karena aku adalah atasanmu, tolol. Begitu saja kau sulit paham, ya? Kalau Jessica tidak melindungi pekerjaanmu selama ini, aku sudah pasti memecatmu dari jauh-jauh hari, idiot. Kau pikir aku mau melihatmu keliaran di cafe kami setiap hari?"


"Kau tidak bisa melakukan ini..., aku tidak mempunyai pekerjaan di lain..., aku..." Angela tidak tau harus melakukan apa.


Selama ini, yang membantu Angela menemukan pekerjaan baik dan bagus di Vegas adalah Jake. Jake membantunya menemukan tempat kerja yang wajar dan bergaji standar. Tidak seperti pekerjaan Angela sebelumnya yang asal-asal saja.


Angela terlalu sungkan untuk berurusan dengan orang baru. Tidak, lebih tepatnya dia malu. Angela tidak tau harus mengatakan apa kepada orang asing, tidak tau syarat-syarat yang diperlukan. Dan, untuk memperburuk situasinya, Angela juga malu bertanya, karena bertanya membuatnya merasa tolol.

__ADS_1


"Apa kau pikir aku peduli padamu?" suara Dania kembali menyapa telinganya, tajam dan melukai hatinya. "Selamat tinggal, ya, idiot. Aku akan men-transfer sisa gajimu, dan setelah ini..., jangan pernah hadir di depanku kembali atau aku akan merobek mulutmu!"


...****************...


__ADS_2