MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
24. Kau Tau.


__ADS_3

Oscar Brown sedang melakukan peran sebagai seorang dealer di salah satu meja judinya. Ia mengocok kartu di depan tiga pria yang siap bertaruh melawannya.


Sementara Oscar terbenam dalam perannya sebagai seorang dealer di sana, salah seorang bawahan Oscar mendekat dan membisikkan sesuatu di telinganya. Permainan yang hendak di mulai tersebut seketika terjeda.


Oscar mencerna informasi yang sampai ke telinganya dan mengangguk samar. Pikirannya seketika meninggalkan meja judi tersebut.


"Adam," panggil Oscar. Adam yang sejak tadi mendampinginya di meja tersebut seketika bergerak maju.


"Ada apa?" tanya Adam balik.


"Hubungi Demian dan suruh dia untuk menemuiku malam ini." Oscar menaruh kartu yang telah dia kocok di meja. Matanya kembali menatap kepada tiga petaruh yang menantangnya.


"Sesuatu yang urgen sedang terjadi," lanjut Oscar lagi. Seringai mengembang tipis di parasnya yang jarang berekspresi.


Sesuatu yang menarik.


*


Angela Lancaster tersenyum riang ketika ia menemukan Demian memasuki Elixir. Demian--setelah meninggalkannya dalam waktu yang terbilang lama, akhirnya kembali muncul di depan wajahnya.


Angela segera melambaikan tangannya ke arah Demian, dan Demian menyambut sapaannya dengan seulas senyum tipis.


Dania yang bertugas sebagai penyambut tamu di Elixir menyaksikan interaksi Demian dan Angela dengan senyuman masam.


Dania masih tidak percaya kalau Demian akan berakhir dengan Angela. Selama ini, Dania mengira dia sudah menang ketika Angela memilih Jake Allendale. Dania bahkan menang bertaruh dengan Jessica, tapi pada akhirnya, pilihan Jessica berakhir menang.


'Apa sih istimewanya seorang Demian Bellamy?' Dania membatin heran. Selain tampan, Dania tidak merasa kalau Demian adalah pria yang cocok untuk dipacari. Kenapa bosnya ngotot mengatakan kalau Demian adalah pria terkeren di dunia?


"Selamat datang di Elixir," sapa Dania. "Apa kau sudah membuat reservasi atau belum?"


"Aku tidak membuat reservasi apa pun," tanggap Demian. Dengan jawabannya tersebut, Dania pun menggiring Demian menuju meja kosong yang berada di dekat jendela kaca.


"Dania," panggil Angela menyela. "Bisa kuteruskan dari sini?"


"Silakan," ujar Dania. Ia memperhatikan wajah Angela yang membuncah bahagia dan lagi-lagi merasa risih. Dania pun berlalu dari meja Demian dan menuju bar tempat kawan-kawannya berkumpul.


"Ugh..." keluh Dania. "Apa ini yang dinamakan kalau orang jatuh cinta itu menjijikkan?"


"Kenapa tiba-tiba?" Jessica yang juga berada di sana, menyahut.


"Ini bukan salah siapa-siapa," kata Dania lagi. "Hanya saja, melihat Angela berbunga-bunga melihat Demian, aku jadi merasa jijik sendiri."


"Apa-apaan?" Jessica tertawa. Sambil mendengar rengekan Dania pula, Jessica menoleh ke sudut lain Elixir untuk menemukan sosok yang membuat Dania merinding jengah.


Tepat di dekat jendela kaca, Demian dan Angela saling bertukar obrolan dengan senyuman. Jessica memperhatikan keduanya dengan pandangan yang tak terdefinisi maknanya. Seolah-olah ada ketidak-nyamanan, berpadu dengan kejengkelan dan masam.


Jessica--entah bagaimana, merasa sedikit mengerti perasaan Dania. Jessica juga, merasakan keseganan yang serupa.


"Apa kau cemburu, Dania?" Ethan menggoda.


"Hah?"


"Kau tau, kalau kau merasa jengkel melihat sepasang kekasih bermesraan itu artinya kau terlalu lama sendirian."


Jessica kembali menoleh ke arah Ethan, matanya melebar penasaran. "Kau serius?"


"Iya. Itu sindrome iri dengki." ejek Ethan lagi. "Kau sebaiknya menemukan pacar, Dania. Kau bisa-bisa menua dengan kebencian pada dunia."


"Hei, jangan bicara sembarangan." Dania melempar Ethan dengan tusuk gigi. "Itu tidak masuk akal."


"Aku serius." Ethan mengaduk secangkir kopi untuk Dania, "Kesepian membuatmu menjadi membenci segala hal yang tidak kau miliki."


"Aww, bijaknya." Elliot bergabung setelah lama berdiam di dapur. Apronnya masih melekat hangat di dada. Ia mendekati Jessica yang duduk di bangku, dan melabuhkan dagunya di atas ubun-ubun Jessica. "Apa yang kalian bicarakan?"


"Elli, kau tidak bekerja?" Dania menyerang sobatnya tersebut.


"Aku istirahat." kata Elliot. "Lagian, aku sekarang punya asisten chef di belakang."


"Ah, aku juga mau asisten barista di sini. Biasanya, kalau aku ke belakang, yang menggantikanku hanya Jessica." Ethan ikut mengeluh.


"Itu salahmu sendiri karena sangat cerewet," Jessica menyemprot Ethan balik. "Aku sudah memberikanmu tiga karyawan yang bisa kau latih, tapi kau memecat mereka semua."

__ADS_1


"Aku tidak suka anak muda yang sok tau menyentuh mejaku," ketus Ethan.


Selagi mereka berbagi curhatan di sana, Demian dan Angela yang berada di sisi lain ruangan juga saling bertukar kabar. Demian menyimak setiap celotehan Angela dengan sepasang iris kelam yang memandang Angela dengan kelembutan.


Angela terus bicara, tapi keriuhan dari arah meja bar menarik perhatian Demian untuk beberapa kesempatan. Ia menoleh ke arah Jessica cs yang sibuk menggosip sesuatu di sana. Memperhatikan mereka pula, Demian menjadi penasaran pada apa yang mereka bicarakan. 


Mengapa Jessica bisa dengan entengnya tertawa? 


Sedekat apa mereka sampai Jessica bisa bersandar nyaman di dada sahabatnya? Elliot Winchester, bukan? Pria itu mendekap Jessica dari belakang dan dengan santainya melabuhkan dagunya di kepala Jessica. Seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang berbahagia.


Demian membayangkan bila ia melakukan hal yang sama, Jessica bisa membeku panik dan segera mendorongnya. Sangat tidak adil!


"Demian," panggil Angela.


"Hmm, ya?"


"Apa yang kau perhatikan?" Angela menoleh dan mengikuti arah pandang Demian. Tidak begitu jauh dari mereka, Angela menemukan Jessica cs bersenda-gurau di meja bar.


"Ah..., apa kau memperhatikan mereka?" Angela bergumam, merasa tak nyaman. "Maafkan aku, mereka memang sangat berisik. Kau pasti sangat tidak nyaman."


"Huh, tidak, tidak." Demian menggeleng. "Aku tidak masalah."


"Mereka adalah bosku," kata Angela lagi. "Melihat mereka berempat, aku terkadang merasa iri."


"Kenapa dengan pengakuanmu yang tiba-tiba?"


Angela mengendikkan bahu, ekspresinya sayu.


"Kau tau, sebelum ini..., aku, kau dan Jake adalah sahabat baik. Aku penasaran, andai saja aku tidak memilih salah satu dari kalian, apakah aku bisa kembali seperti sedia kala, seperti mereka?"


""Jangan membicarakan yang bukan-bukan," tukas Demian. "Berbeda dari mereka berempat, kau tau aku dan Jake memiliki intensi berbeda untuk mendekatimu."


"..." Angela menunduk murung.


"Aku dan Jake memiliki perasaan istimewa padamu, Ange. Kami tidak menginginkan hubungan pertemanan atau apa pun itu. Kami memang ingin kau memilih salah satu dari kami, dan kau sudah membuat pilihan. Kau tidak membuat kesalahan."


"Maafkan aku," kata Angela. "Aku seharusnya memilihmu waktu itu."


"Mmm..."


*


"Apa dia tidak bisa menghubungiku lewat pesan seperti biasa?"


"Jika dia bisa, maka aku tidak akan menghubungimu sekarang."


Di smoking area yang tersedia di luar Elixir, Demian berbicara kepada Adam di telepon. Pria itu--Adam, sudah menghubungi Demian beberapa kali. Ia membuat saku celana Demian bergetar aneh, seolah-olah Demian sedang mengantongi vibrator.


Demian kesal dan akhirnya dia melarikan diri ke smoking area ini, sebuah area khusus untuk perokok.


"Aku harap kau segera kembali, ini topik yang urgen menyangkut dirimu sendiri, tau!"


"Adam, kau mulai bawel sekarang. Apa kau mau aku menyumpali mulutmu dengan sepatuku?"


"Tsk..., aku hanya menyampaikan pesan Oscar."


"Perhatikan nada bicaramu, hmmm? Jangan pikir aku akan melepaskanmu hanya karena alasan tolol itu!"


Demian memberikan Adam peringatan sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.


Sialan, apa lagi yang terjadi sekarang? Demian merasa ketenangannya terus diganggu dari berbagai arah.


"Haruskah aku membunuh mereka semua?" Demian bertanya-tanya sambil menatap kepada atap kaca. Ia mengembuskan asap keluar dari kerongkongannya.


Seorang pria paruh baya yang kebetulan berada di sana, mendengar ucapan Demian dan terperangah. Pria itu dengan tergesa-gesa meninggalkan smoking area, meninggalkan Demian yang memancarkan aura menakutkan.


Demian pun menoleh ke dalam cafe. Saat itu..., ia tidak menemukan Jessica di meja bar yang sama. Teman-teman gadis itu juga sudah memencar ke posisi mereka semula.


Jika Jessica tidak berada di sana, apa artinya dia...


Demian memiringkan kepala, seringai jahil merekah lebar di parasnya. Demian mematikan rokoknya dan segera keluar dari smoking area.

__ADS_1


Demian..., sebelum berurusan dengan segala urusan yang membuat kepalanya berdengung stress, butuh sedikit hiburan.


Jessica adalah hiburannya sekarang.


Katakanlah itu adalah pemikiran yang kejam dan tak manusiawi, tapi Demian sendiri bukanlah pria baik hati yang menjunjung tinggi hal-hal bermoral an bermartabat. Demian adalah bajingan, monster..., orang-orang yang mengenalnya, yang tau kebusukannya, tidak berani berurusan dengannya.


Demian adalah monster dan Demian tau itu. Karena itu juga, ketika ia mendorong Jessica kembali ke dalam bilik kamar mandi yang baru terbuka, Demian tidak merasa berdosa sama sekali.


Ia, daripada merasa bersalah, sangat menikmati perubahan ekspresi di wajah Jessica. Gadis itu ternganga dan terpana. Bibirnya yang sedikit terbuka, terlihat menggoda.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Jessica, suaranya rendah menahan marah. "Ini kamar mandi wanita!"


"Aku mau berpamitan," kata Demian. Membuat alasan asal-asalan.


"Apa?" Jessica jelas sekali tidak paham. "Apa maksudnya pamit?"


"Pamit, pulang? Apa lagi?"


"Apa kau akan pergi selamanya?" Hanya itu alasan yang masuk akal bagi Jessica.


Demian sudah mendorongnya ke kamar mandi dengan paksa, membekap mulutnya, menekan ia di dinding dan memaksanya untuk bertatap muka. Mustahil dia tidak mempunyai alasan apa pun yang masuk akal mengenai kegilaannya.


Jadi, apa ini artinya Demian tidak akan pernah mengunjunginya lagi?


"Jangan terlalu senang," tukas Demian, ia mengguyur harapan Jessica dengan kekecewaan. "Aku akan kembali besok atau lusa."


"Huh?" Lalu, apa-apaan dengan tindakannya sekarang?


"Seperti yang kukatakan," ujar Demian. "Aku hanya ingin berpamitan."


"Bercanda, ya?"


"Aku juga mau melihatmu sebentar."


"Kau bisa melihatku di luar, kau tidak perlu..., ugh, menjauh sedikit bisa?" Jessica merasa tidak nyaman di bawah apitan Demian. Panas tubuh pria itu yang merekat di tubuhnya membuat jantungnya berpacu gila.


"Bisa saja, tapi aku tidak mau." Demian jelas-jelas menggodanya di sana. Ia memperhatikan bagaimana wajah Jessica berubah merah di bawah tatapannya. Seperti kelopak bunga sakura yang mekar dengan indah.


"Apa kau memakai parfume yang kuberikan?" Demian kembali mengungkit hadiahnya.


"Kenapa kau mau tau?"


"Karena aku melihat temanmu menempelimu seperti singa kelaparan." Demian kembali teringat pada sosok Elliot yang mendekap Jessica. Itu pemandangan yang memuakkan mata.


"Teman? Siapa?"


Oh, Jessica bahkan tidak sadar sama sekali. Demian jadi semakin keki.


"Kau tidak boleh terlalu polos terhadap pria, Jessica."


Demian memberikan Jessica peringatan ringan. Ia menarik dagu Jessica agar mendongak ke arahnya. Emerald bertemu manik obsidiannya yang kelam.


Dalam tatapan mereka yang bertubrukan, jari-jemari panjang Demian merayap turun ke rahang Jessica, kepada daun telinganya, surai lebatnya, tengkuk dan pundaknya.


"Kau adalah santapan yang sempurna," bisikan Demian mengandung bahaya.


"A-apa kau kanibal?" Jessica membuat lelucon di sana, senyumnya mengembang paksa.


"Aku tau kau memahami maksud ucapanku," Demian kembali menundukkan wajahnya di leher Jessica, ia menghirup aroma manis strawberry yang masih merekat di tubuh gadis itu seperti candu.


"Kau tau apa yang kumaksudkan," bisikan Demian seperti godaan. "Baiklah, aku akan pulang sekarang."


"..."


"Jangan merindukanku," ujaran Demian memantul di Jessica, tidak tercerna di otaknya. Jessica begitu terpana pada jejak sentuhan Demian di kulitnya.


Jessica terhipnotis oleh cara manik obsidian itu menatapnya dengan bahaya, seperti singa yang mengundangnya untuk berdansa.


"Aku harap aku tidak tau apa-apa," keluh Jessica pada akhirnya. Ia merosot di tembok kamar mandi sambil menekan perutnya yang mengepakkan seribu kupu-kupu.


"Apa yang kau mau, Demian Bellamy?"

__ADS_1


*


__ADS_2