
Jessica kembali menghubungi Dania, tidak memedulikan kalau sekarang sedang tengah malam di Vegas. Tidak peduli kalau sekarang adalah jam tidurnya Dania. Jessica butuh teman bicara dan bila Demian tidak mampu mengutarakan sepatah-kata pun padanya, Jessica tidak punya alternatif lain selain Dania. Satu-satunya orang yang akan mendengarkannya tanpa menghakiminya hanya Dania.
"Demi tuhan, ya..." Dania--kendati suaranya berat--mendengarkan keluh-kesah Jessica. "Apa yang sedang Demian lakukan, sebenarnya?"
"Aku tidak tau, Dani. Jika aku tau, aku tidak akan sefrustasi ini. Maksudku, apa masalahnya sampai dia tidak mau melibatkanku? Aku pikir dia membawaku kemari karena dia memang ingin melibatkanku...," ucapan Jessica berebutan keluar dari mulutnya, sangat cepat dan menyiratkan emosi yang berkilat-kilat. Dan tak berhenti di situ, Jessica kembali melanjutkan.
"Well, walau aku tau itu adalah masalah keluarganya dan aku tidak punya hak untuk ikut campur..., tapi setidaknya..., aku mau dia berbagi cerita padaku. Aku datang kesini untuk apa, sebenarnya? Liburan? Hell..., kalau dia memang mengajakku kesini untuk liburan, aku lebih baik membeli tiket fery ke Capri island daripada tinggal di rumah duka ini! Aku serius!"
"Kau seharusnya membeli tiket fery itu. Kau berada di Italy sekarang, negara favorite-nya turis-turis. Kau seharusnya bersenang-senang. Oh, ya ampun. Jesseee, ini bukan kau sekali."
"Aku tau. Aku seharusnya kembali ke Vegas."
"Kembali saja kalau begitu!"
Jawaban Dania membuat kening Jessica mengerut tiba-tiba. Sebuah lonceng berbunyi di kepalanya. Seperti ia mendapat wahyu dari surga.
Benar juga.
Mengapa ia membiarkan dirinya dilanda depresi ketika satu-satunya solusi untuk stress yang menumpuk di benaknya saat ini adalah pulang. Dia bisa pulang sendirian, demi Tuhan. Mengapa ia menyiksa dirinya di sini? Jika Demian tidak membutuhkannya, dia sudah seharusnya kembali ke Vegas saja!
"Jesse?" Dania memanggil.
"Aku baru kepikiran sesuatu..." jawab Jessica. "Aku rasa kau memang ada benarnya."
"Huh?"
"Aku sebaiknya kembali ke Vegas saja."
"E-EH?" Kenapa sekarang suara Dania menyiratkan keterkejutan? "Jesse, kau tau..., sebentar, aku tidak serius ketika aku menyuruhmu pulang. Kau jangan mendengarkan omongan orang di jam 3 malam, itu tidak masuk akal. Ucapanku barusan..., anggap saja aku mengigau."
"Meskipun kau mengigau, ucapanmu sangat rasional, Dani. Kau adalah temanku yang terbaik."
"Tidak, tidak." Dania panik. Demian bisa mencincangnya kalau Demian tau dia-lah penyebab Jessica mau pulang ke Vegas. "Aku teman yang buruk, saaaangat buruk. Aku--Jesse, dengarkan aku. Aku impulsif, kau juga..., karena sedang marah, menjadi sangat impulsif."
"Huh?"
"Maksudku, kau harus berpikir panjang. Jangan melakukan sesuatu hanya karena kau sedang marah. Dinginkan kepalamu, tenang..., tarik napas dalam-dalam dan--"
"Aku tidak marah sama sekali, Dania." Itu dia, pikir Dania, mode penyangkalan Jessica. Gadis itu sudah pasti sangat marah kalau sampai dia meninggalkan empatinya dan menghubungi Dania di jam 3 pagi. Ugh, ya ampun!
Bagaimana cara Dania memperbaiki situasi ini?
__ADS_1
"Jesseee, ini hari apa?"
"Sabtu."
"Benar..., ini sabtu. Besok Sabtu." Setidaknya, sampai matahari terbit, bagi Dania, harinya hari ini masih Jumat. "Karena ini hari Sabtu..., bagaimana kalau kau..., ukhm, menunggu?"
"Aku sudah muak menunggu," sahut Jessica, suaranya menyiratkan penolakan. "Aku sudah menunggu seperti wanita tolol di manor ini. Aku sudah tidak bisa bersabar lagi."
"Jesse, Jesse, my baby..." Dania memanja. "Jangan secepat itu menyerah. Kau adalah bos kami, kau adalah pemilik cafe terkeren di Vegas. Kau tidak boleh membiarkan nenek sihir itu mengalahkanmu! Dia akan tertawa bahagia kalau kau menyerah pada perasaanmu."
Oke, Jessica diam. Itu artinya dia menyimak setiap ucapan Dania dan memberikan pertimbangan di sana.
Sedikit lagi, pikir Dania. Ia perlu bijak sedikit lagi.
"Katakanlah Demian sedang bertindak seperti bajingan sekarang, tapi..., seperti yang dia katakan, kau akan mengerti ketika semuanya selesai. Jadi..., bagaimana kalau menunggu sampai dia benar-benar menyelesaikan masalahnya?" Suara Dania mencicit ragu. Apa ucapannya sudah benar?
"Kau tau bukan itu masalahnya, Dani. Aku butuh dia membutuhkanku. Aku mau dia mempercayaiku. Kenapa memangnya kalau dia menceritakan apa pun padaku sekarang? Apa yang akan terjadi?"
"Itu masalahnya, my darling. Makhluk bernama pria itu..., mereka tolol. Sangat-sangat tolol. Mereka tidak paham cara berkomunikasi seperti manusia normal. Kau tau Demian, kan? Kau ingat dia rela-rela menipumu demi sesuatu yang dia pikir lebih baik untukmu? Mungkin sesuatu yang sama sedang terjadi."
"..."
"Kau tidak bisa meninggalkannya, maksudku..., kau bisa, tapi..., apa kau mau meninggalkannya? Hubungan kalian baru seumur jagung, Jesse. Kalian butuh..., berkompromi? Tidak, apa kata yang tepat?"
Apa ini bagian dari mengigaunya juga?
"Ah!" Dania ketemu kata yang pas. "Kalian butuh memahami satu sama lain."
Kata semudah itu, bagaimana bisa dia melupakannya?
"Daniii..., apa yang bisa kulakukan tanpamu?" Jessica, dengan amarah yang sedikit mereda, mendudukkan dirinya di lantai, punggungnya bersandar pada bibir tempat tidur.
"Mengapa menjalin hubungan menjadi sesulit ini? Aku hanya ingin kehidupan yang nyaman bersama Demian, tapi mengapa rasanya mendapat ketenangan itu sangat sulit?"
"Kau akan mendapatkan ketenangan yang kau inginkan. Ini hanya masa-masa sulit yang biasa di alami pemula. Maksudku, karena kalian baru bersama, ada beberapa hal yang perlu kalian sesuaikan, adaptasi, sesuatu yang perlu kalian pahami satu sama lain.--
Setelah semua itu terjadi..., begitu kau memahami pasanganmu, percaya padaku, kau akan menemukan ketentraman yang kau inginkan."
"Apa kau merasa begitu?"
"Oh, my baby..., believe me." Dania berucap dengan suara yang menyiratkan kasih sayang, dan hanya mendengarkan suaranya, Jessica merasa tentram. Jika tidak ada Dania, pikir Jessica, ia akan berakhir gila di rumah megah ini.
__ADS_1
"Dani..., maafkan aku sudah merepotkanmu, terutama ketika kau sedang istirahat..."
"Oh, apa yang tidak akan kuberikan padamu? Santai saja."
Senyum Jessica merekah tipis seketika. "Dani..."
"Mm?"
"Aku mengatakan aku ingin kembali ke Vegas, kau tau, seperti tadi. Namun, sebenarnya, aku tidak yakin aku bisa kembali ke Vegas dengan gampangnya."
"Apa maksudmu?"
"Aku hanya mempunyai firasat buruk..., kau tau. Aku..."
Jessica tidak tau bagaimana mengatakannya. Mungkin dia memang sangat paranoid sampai dia merasa setiap langkahnya di awasi. Bahwa, keberadaan Lisa dan Robin yang ditugaskan sebagai escort-nya mungkin mempunyai tugas lain, Jessica tidak tau.
Jessica tidak mempercayai siapa pun.
"Jesse, katakan padaku..., apa yang kau cemaskan sekarang?"
"Aku...," Jessica tidak mau terdengar gila di telinga Dania. "Bisa kau menemui Oscar Brown untukku?"
"Huh?"
"Kau ingat aku pernah menceritakannya. Dia teman Demian..., tidak, partner? Semacam itu."
"Ya, aku ingat. Ada apa dengannya?"
"Hanya...,aku butuh orang yang kupercayai di sini. Aku percaya padanya, jadi..., kurasa dia mampu memberikanku hal itu."
"Sheesh, Jesse..., apa kau gila? Apa kau pikir orang seperti itu bisa menembus keluarga mafia?"
"Aku tidak tau, tapi dia bisa melindungi Demian selama ini jadi..."
"Oh, oh..., baiklah. Aku akan menemuinya untukmu. Sekarang, bersantailah sedikit. Okiie?"
"Mm, Okay."
Setelah telepon Jessica dan Dania berakhir, Jessica yang masih bersandar di bibir tempat tidur, mendongak menatap langit-langit kamar. Ucapan Dania masih segar di benaknya, meminta ia untuk bersabar dalam menghadapi Demian. Bahwa, mungkin saja Demian mempunyai hal lain yang memang tidak bisa dia katakan.
"Mari lihat sampai kapan aku bisa bersabar," Jessica berujar pada dirinya sendiri. Senyum terukir miris.
__ADS_1
...*...