
"Ahahahahahaha..."
Tawa Jessica pecah seusai ia menerima penjelasan dari Demian mengenai mengapa pria itu menjadi pasif belakangan ini. Jessica tersentuh dalam upaya Demian untuk membuktikan dirinya, tetapi..., tetap saja Jessica merasa upaya Demian terkesan lucu dan menggemaskan.
Bayangkan saja, pria yang selalu bermanjaan dengannya, menempelinya, tiba-tiba memberi batasan dalam skinship mereka. Dia mungkin kesulitan. Itu memprihatinkan dan menggemaskan.
"Kau seharusnya bicara padaku lebih awal, bukan?" Jessica bicara sembari menepuk lengan Demian. Ia mendudukkan dirinya di atas stool besi yang menghadap meja marble di depannya, sebelum kembali tertawa jenaka.
"Meggemaskan sekali," gumam Jessica pada dirinya sendiri.
"Dan semua upaya itu untuk apa?" ketus Demian. "Apa kau pikir stress terhadap Erthian cukup untuk membuatku impoten? Jangan bercanda, Jesse. Kau meremehkan kemampuanku kalau kau berpikir begitu."
"Aku tidak meremehkan, tapi..., itu wajar terjadi. Selain itu, kau juga tiba-tiba menjaga jarak dariku, kupikir kau memang sedang banyak pikiran dan tidak ingin melakukan itu." Jessica berujar panjang. Ia mengelus lengan Demian yang menegang akibat geram.
"Aku tidak mengira kau bisa menjadi sangat pengertian dan mencemaskanku. Itu lucu."
"Aku menahan diriku karena aku tidak mau kau salah paham padaku, tapi kau malah menciptakan kesalah-pahaman yang lebih mengerikan di otakmu."
Padahal, Demian sudah menderita belakangan. Ia bermain dengan tangannya sendiri demi tidak mengganggu Jessica. Demian yang perkasa, cassanova di Las Vegas, bermain dengan tangannya sendiri. Itu saja sudah seperti aib.
Keparat sekali!
"Hahahahahaa..., salah ya?" Jessica--tanpa perasaan berdosa--malah tertawa.
"Tertawalah sepuasmu," sahut Demian. Kendati sebal sudah diasumsikan impoten oleh wanita yang paling menguji kesabarannya belakangan, Demian tidak bisa marah kalau sekarang Jessica tersenyum riang.
"Apa kau marah?"
"Tidak."
"Kau yakin...?"
Menggunakan kesempatan itu untuk menggoda Demian, Jessica sengaja mengompori Demian dengan nada suaranya yang terkesan mencemooh. Jessica ingin balas dendam karena Demian selama ini selalu menggodanya dengan kata-kata vulgar yang memalukan di telinga.
"Padahal, kalau kau impoten sungguhan juga tidak masalah kok. Aku akan mencintai dan menerimamu apa adanya. Aku sungguhan."
"Jesse..., jangan mengujiku."
"Aku hanya bicara jujur, maksudku..., kau lebih dari sekedar laki-laki di mataku. Tanpa melakukan 'kau tau apa', aku akan baik-baik saja hidup berdampingan denganmu. Perasaanku tidak akan menyusut sedikit pun."
"Kau nampaknya sangat bersenang-senang sudah mengataiku impoten, bukan?"
"Tidaaak, jangan salah paham..." Jessica berkilah seraya tertawa, hidungnya sampai mengerut lucu di muka. "Aku bicara seperti itu supaya kau tetap percaya diri. Sekarang ataupun nanti, kalau-kalau situasi itu terjadi, aku akan tetap pfftt...hahahaha..."
"Jessica...?"
"Maaf, maaf." Jessica mengibaskan tangannya, tawa mereda. "Aku hanya bercanda."
Merasa cukup dalam godaannya, Jessica pun meninggalkan Demian sendirian di meja. Jessica kembali teringat pada roti yang ia panggang di oven. Ia mengecek hasil panggangannya yang telah matang sempurna.
Harum aroma roti yang menguar dari oven membuat senyum Jessica mengembang lega. Setidaknya, pikir Jessica, eksperimennya berjalan cukup baik.
Jessica hendak berbalik dan menunjukkan Demian hasil karyanya, tetapi pria itu telah mendahuluinya. Ia menghampiri Jessica dan melabuhkan dagunya di pundak wanita itu. Sepasang iris hitam Demian jatuh kepada loyang kue yang sudah sukses membuat Jessica-nya menyengir riang.
Betapa mudahnya gadis itu menaruh atensinya pada hal lain cukup membuat Demian merasa risih. Demian merasa tersisihkan hanya karena seloyang kue.
"Aromanya sangat nikmat, kan?" Jessica menyinggung rotinya di loyang, tetapi Demian malah mengendusnya. Menanamkan hidung mancungnya di surai hitam Jessica dan menarik napas dalam di sana.
"Sangat," jawab Demian. Suaranya yang tenang berpadu dengan helaan napasnya yang panas menyapa telinga Jessica, membuat jantung gadis itu terjeda. Panas merayap di wajahnya, menciptakan semburat merah kentara.
"Perasaanku saja atau kita sedang membahas dua topik yang berbeda?"
Jessica tidak yakin kalau tanggapan Demian barusan diberikan untuk rotinya. Tidak, Jessica sangat yakin kalau Demian tidak menaruh atensi pada rotinya sekarang. Pria itu--daripada menaruh perhatiannya pada hasil eksperimen Jessica di meja--malah menghujani tengkuk Jessica dengan kecupan dan gigitan yang jujur saja, membuat Jessica merinding.
"Kau menjadi lebih peka sekarang," Demian berujar sambil memutar Jessica ke hadapannya. Sebelum gadis itu memberikan tanggapan apa-apa, Demian spontan saja melabuhkan kecupannya di bibir Jessica.
Demian sudah menahan diri belakangan ini. Ia sudah melewati cobaan tersulit. Namun, menyadari kalau upayanya malah membuahkan hasil yang tidak terduga, yaitu dianggap impoten. Demian memilih menyerah saja. Ia lebih baik dicap nafsuan daripada impoten, demi Tuhan.
Demian masih belum menerima penghinaan itu. Walau Jessica tidak bermaksud menghinanya, tetapi..., tetap saja. Harga diri Demian terluka.
__ADS_1
"Demy..." Jessica--disela-sela pagutannya--berujar. Napasnya sedikit terengah, lemah.
"Aku pikir kau mau menahan dirimu?" ujaran Jessica bernada jenaka. Ia mengejek Demian di sana.
"Aku berubah pikiran," ujar Demian, sapuan lidahnya menyapa leher jenjang Jessica. Jatuh bersama gigitan dan kecupan yang membuat Jessica meriang. "Kurasa...," lanjut Demian, matanya naik menatap mata Jessica. "Aku perlu membuktikan diriku padamu kalau aku sangat sehat di bawah sana."
"Aku rasa kau tidak perlu melakukan itu..." Jessica berkilah lemah. Ia merasa lututnya saat itu menjadi jelly, ia tidak begitu kuat berdiri. Ia melunak di dalam panas sentuhan Demian dan itu memalukan. Mereka masih di dapur, ya ampun!
"A-aku akan membereskan dapur. Kau sebaiknya berhenti dengan leluconmu."
Jessica menahan dada Demian yang merapat di tubuhnya. Kendati bibir Demian masih mencecapi rahangnya, Jessica berusaha sekuat mungkin lepas dari Demian.
Jessica tidak mau lepas kendali di sana. Selain karena mereka masih di dapur, Jessica juga belum membersihkan dirinya. Ia sudah berkutat di dapur sejak tadi. Ia berkeringat dan merasa cukup kotor.
"Demy--" ucapan Jessica kembali dipotong oleh sebuah ciuman. Bibir Demian melahapnya dalam kehausan, semakin liar dan semakin mendebarkan. Jessica kewalahan atas serangan yang Demian berikan di bibirnya, dan tak berhenti di sana, sekarang tangan Demian turut bekerja juga.
Demian mengangkat tubuh Jessica tanpa ringisan atau keluhan apa pun, seakan-akan Jessica seringan bulu. Ia--setelah itu juga--mendudukkan Jessica di atas meja, bibir masih bertaut lekat. Tak ada niat untuk beristirahat barang sejenak.
"Apa yang kau lakukan?" Jessica berjengit panik ketika pagutan Demian turun ke tubuhnya, menyingkap pakaiannya sebatas dada sementara bibir ranum pria itu meninggalkan jejak saliva dari kecupan dan gigitannya yang membuat Jessica mengerang gelisah.
Tidak..., jangan bilang Demian hendak melakukan itu di sini?!
Pemikiran itu membuat Jessica panik. Tidak bisa! Ini di dapur! Tempat ini adalah tempat Elliot bekerja! Jessica tidak mau menodai--Hnggg!!!
Lenguhan lolos dari bibir Jessica begitu Demian menciptakan stimulasi kuat di tubuhnya, menyetrumnya. Jessica spontan saja memejamkan mata. Ia terbenam dalam perlakuan Demian yang lebih buas daripada biasanya, lebih bergairah dan membuat Jessica terengah.
"Kau lihat," Demian mengangkat wajahnya menjauh dari tubuh Jessica yang memerah panas dalam dekapannya, ia menyapa telinga Jessica dan berbisik di sana. "Aku rasa aku terlalu sehat." Demian bergumam, tangannya menuntun jemari Jessica menuju pusat tubuhnya yang sekarang bangkit dengan bangga.
"Bagus untukmu," sahut Jessica. Ia terjebak dalam perasaan malu yang luar biasa. Sangat malu ketika sekarang ia berada di hadapan Demian dengan penampilan yang berantakan. Jessica merasa sangat segan ketika sepasang manik hitam itu memindainya tajam.
"Sekarang..., kau tidak berniat melakukan apa pun di sini, kan? A-aku belum membersihkan diriku, tau. Setidaknya..., biarkan aku mandi terlebih dahulu. Juga ini di dapur--"
"Kau mempunyai banyak hal memenuhi kepalamu, huh?" Demian menyibak rambut hitam Jessica yang lolos dari ikatannya ke balik daun telinga. "Bahkan ketika aku di depanmu."
Jessica membalas tatapan Demian, wajahnya semakin memerah matang saat matanya bertemu dengan tatapan Demian.
Sialan, mengapa mata itu begitu menakutkan?
"Melihatmu seperti ini..." Demian menarik dagu Jessica, memaksa mata emerald itu kembali menatapnya. "Aku jadi ingin mengosongkan isi kepalamu sepenuhnya."
"Huh?"
Tanpa memberikan Jessica tanggapan mengenai makna ucapannya, Demian memilih memberikan praktik langsung di sana. Ia--saat itu juga--kembali melabuhkan kecupannya di bibir Jessica. Jemarinya meraup ke setiap inci kulit gadis itu yang terasa begitu lembut dan hangat di telapak tangannya.
Lenguhan Jessica lolos beberapa kali dalam pagutannya, dan seperti bensin yang tumpah ke atas bara api, suara gadis itu hanya membuat gairahnya berkobar lebih panas lagi.
Hangat telapak tangan Demian merayap di tubuh Jessica, menciptakan sentuhan elektrik di area yang membuat gadis itu mengejang dan menggeliat berulang-ulang. Namun, tidak berhenti di sana, tangan Demian mulai menyusup ke dalam celana jeans-nya. Menyentuh area yang lebih berbahaya, menciptakan stimulasi yang membuat Jessica lupa pada kecupan Demian di bibirnya.
Jessica mengerang dalam kepanikan dan kegugupan.
"Demy..., tidak di sini, please..." Jessica memohon dengan suara yang melunak lemah. Sepasang matanya berkaca-kaca, terlalu mabuk dalam sentuhan Demian yang nyaris membutakan akalnya.
Jika bukan karena sedikit kewarasan yang tersisa di kepalanya, Jessica mungkin tidak akan begitu peduli pada tempat Demian melakukan ini. Jessica tidak akan mengemis lirih pada Demian sekarang, meminta untuk pindah ke kamar saja.
Melihat reaksi Jessica dan kabut gairah yang perlahan melapisi iris emeraldnya, sisi sadis Demian bangkit seketika. Alih-alih menuruti kemauan Jessica, Demian menyeringai tipis seperti iblis.
Jessica membaca ekspresinya dan tau kalau Demian tidak akan menuruti apa pun yang ia rintihkan dengan lemah saat itu.
Elliot, maafkan aku!
Jessica membatin tanpa bisa melakukan apa pun. Ia tidak mampu memikirkan apa pun ketika dua jari Demian berada di pusat tubuhnya, menggelitik hasratnya.
Jessica, pada akhirnya, mendapati dirinya kembali di sudutkan Demian di meja. Bibir pria itu melahap pundaknya sementara jari-jemarinya bergerak secara natural meluruhkan celana jeans Jessica hingga merosot selutut saja. Demian kembali menstimulasi tubuh Jessica dengan jari-jari panjangnya, menciptakan kenikmatan pada tubuh gadis itu dengan jarinya yang perlahan-lahan basah.
Jessica telah mencapai puncaknya, kepalanya seperti mau pecah oleh gairah.
Ia masih terengah ketika Demian memutar tubuhnya, menekan pundaknya hingga ia bertiarap di meja. Di ringkus sepenuhnya.
Jessica--menyadari apa yang hendak Demian lakukan kini--menahan napas ketika Demian perlahan-lahan memasukinya. Hela napas pria itu berat di telinganya.
__ADS_1
"Sekarang..." bisik Demian. "Haruskah aku membuktikan ketahananku juga?"
"Mengapa kau begitu terpaku pada topik itu?" kendati sulit mengatur napasnya, Jessica tetap menimpali Demian yang memberikan waktu untuk Jessica beradaptasi dengan tubuhnya. Mungkin karena mereka sudah lama tidak melakukan itu, tubuh Jessica menjadi begitu sempit untuknya. Padahal dia sudah begitu basah.
"Sekedar informasi," ujar Demian. Ia membungkuk dekat leher Jessica, menekan tubuh gadis itu di meja. "Asumsi seperti itu akan melukai harga diri pria mana pun."
"Heh, begitukah?" Jessica menoleh seraya terkekeh. "Kupikir kau hanya mencari alasan untuk melakukan ini."
Demian mengecup kening Jessica dan kembali menegapkan tubuhnya. "Kurasa itu juga sebagian dari alasanku. Aku sudah menahan diriku terlalu lama, aku akan melakukan apa yang aku suka."
"Hnnhhh..."
"Aku harap kau mempunyai stamina yang kuat untuk menemaniku malam ini, Jesse."
Merasa cukup pada konversasinya, Demian pun mulai menggerakkan pinggulnya. Ia menghujani Jessica dengan hujaman yang datang berulang-ulang, berawal penuh kelembutan.
Menanggapi serangan Demian pula, lenguhan keluar dari bibir Jessica di setiap hentakannya. Sejuta kupu-kupu seakan mengepakkan sayap di perutnya, menggelitik tubuhnya yang banjir oleh keringat dan saliva.
Seiring tempo Demian meningkat, semakin Jessica kehilangan akal atas kenikmatan dan rangsangan yang bertubi-tubi datang. Jessica lepas kendali atas reaksinya sendiri. Lenguhannya lepas dengan nyaring di sana, berbaur dengan deru napas Demian yang berat.
Pria itu--sama seperti Jessica--hanya mengikuti instingnya saja. Pacuannya yang lepas kendali mengguncang tubuh Jessica hingga gadis itu berpegangan kuat pada pinggiran meja. Jessica mencoba menggapai apa saja sebagai pegangannya, mencoba meraih kewarasannya yang sudah meninggalkan kepala.
Demian membuktikan ucapannya, bahwa ia akan membuat Jessica kehilangan segala kewarasannya. Ia telah menyapu bersih benak Jessica dari segala kecemasan, dan hanya mengisinya dengan panas gairah saja.
Jessica yang waras tidak akan pernah berada di dalam posisi Demian memegangnya kini. Jessica tidak akan membiarkan Demian mengekspos tubuhnya, mengangkat dan membaliknya sesuka hati, saling membelit rumit.
Jessica tidak akan membiarkan cairan tubuhnya tumpah di lantai dapur Elixir kesayangannya, mengotori meja dengan peluhnya.
Jessica yang waras tidak akan mendesahkan nama Demian dengan saliva mengalir tipis di dagunya. Mata terpejam erat sementara Demian mengguncang kewarasannya hingga mencapai nirwana.
Mereka saling berbagi kehangatan yang berbaur dengan sedikit kebrutalan. Demian yang tiada ampun dalam permainannya, menjadi begitu buas dan beringas. Setiap hentakannya dan hujamannya seperti akan melelehkan otak Jessica di sana. Gadis itu bergetar di bawah dominasinya, kalah kuat dalam laju pacuannya.
Erangan lolos tak tertahankan. Napas tersendat tak karuan.
Saat itu pun, tidak berhenti di meja dapur Elixir, dalam perjalanan Demian membawa Jessica kembali ke kamar, ia tetap tak melepaskan gadis itu dari dekapannya. Tidak membiarkan tautan mereka terpisah.
Hingga akhirnya Demian memiliki ruang yang lebih aman dan nyaman, Demian pun kembali menyerang Jessica tanpa ampunan.
Jessica yang tidak mengkritik atau membenci tindakannya, menerima segala kegilaan Demian dan kebuasannya di sana. Ia menangkup wajah pria itu dan memberikannya kecupan sebagai bentuk penerimaan.
Bahwa, tak peduli betapa buas mereka malam ini, segila apa mereka berbagi intimasi, yang bersenang-senang bukan hanya Demian sendiri. Jessica pun, sangat merindukan momen ini.
Jessica tidak pernah membenci Demian sama sekali.
Keesokan harinya, ketika Jessica tersadar dari tidurnya, ia terbangun dalam keterkejutan luar biasa. Jessica mengingat kondisi dapur, jujur saja. Ia belum membereskan sisa-sisa peperangannya dengan Demian semalam.
Bagaimana jika Elliot menemukan kondisi dapurnya dan--
"Aku sudah membereskan semuanya, tidurlah kembali." Mendengar suara Demian, Jessica berbalik dan menyadari kalau Demian berbaring di tempat tidurnya. Pria itu bertelanjang dada, celana jeans hitam melekat di kakinya.
Penampilan pria itu cukup segar, lebih segar daripada Jessica yang penuh oleh bercak-bercak merah. Kulit Jessica sekarang sudah dipenuhi oleh kissmark dan bitemark.
"Jam be--" Jessica berhenti bicara ketika suara yang lolos dari bibirnya terdengar serak.
"Pfft..." Demian terkekeh. "Kau terlalu buas semalam, suaramu sampai hilang."
"Aku...ekhmm, aku?" Jessica menyipitkan tatapannya. "Ingatkan aku kembali, siapa yang sudah membuatku tersedak berkali-kali." Jessica memprotes ucapan Demian.
Jika hanya karena lenguhannya yang kencang semalam, Jessica tidak akan sampai kehilangan suara. Masalahnya adalah keterlibatan Demian yang memanfaatkan mulutnya untuk melakukan hal-hal yang menurutnya 'seksi'.
Jessica sampai tersedak berkali-kali karena Demian menghujam keras pinggulnya di bibir Jessica, membuat miliknya menghujam kerongkongan Jessica sampai mata gadis itu banjir oleh air mata.
Jessica mengira ia akan mati di sana karena tersedak, tapi Demian tidak memberikannya jeda. Dia hanya memenuhi gairahnya sendiri dan membuat Jessica menelan habis cairannya yang tumpah dan memenuhi mulut Jessica. Jika bukan karena bisikan 'I love you, Jessica' yang ia ucapkan setelah memaksa Jessica menelan cairannya, Jessica mungkin akan melempar pria itu keluar dari balkon semalam.
Pria itu membaca kelemahannya dan memanfaatkannya.
Menyebalkan!
Sialan!
__ADS_1
...****************...