
Ketika malam datang, Jessica keluar dari kamarnya dan melenggang di koridor lantai tiga yang sunyi dan sepi. Jessica menatap kepada beberapa bingkai foto yang terpatri di dinding dan dari foto-foto lawas itu, Jessica menebak kalau mereka semua adalah bagian dari keluarga Rhoden.
Mereka semua, pria dan wanita, terlihat menawan dan elegan, sejujurnya. Jessica bertanya-tanya bagaimana bisa mereka mempertahankan DNA mereka untuk tetap jelita sepanjang tahunnya?
Jessica mengamati satu-persatu gambar di sana sebelum berhenti dan mundur lagi pada sebuah bingkai foto yang berukuran cukup besar.
Dua orang yang sepertinya adalah ayah dan anak berada di dalam foto tersebut. Berpenampilan rapi dan gagah. Melihat foto itu juga, Jessica menyadari kalau wajah si anak yang berada di foto tersebut cukup mirip dengan Hestia. Matanya yang kelam dan dagunya yang terangkat arogan. Caranya berpose di sana mengingatkan Jessica pada wajah menjengkelkan Hestia.
"Itu adalah puteraku." Sebuah suara memberikan jawaban. Jessica menoleh dan melihat Hestia mendaki tangga menuju ke arahnya.
Sheeesh, Jessica menyesal sudah keluar kamar!
"Sepertinya seseorang melewatkan foto keluarga," Jessica menyinggung Hestia yang tidak ada di foto tersebut. Atau mungkin dia adalah fotografernya? Eiii, mustahil. Mereka orang kaya yang mampu menyewa seratus fotografer untuk foto keluarga mereka.
"Aku memang melewatkannya," ujar Hestia. Ia berhenti tepat di depan bingkai foto itu. "Dengan sengaja."
'Uuuugh! Apa pun itu alasanmu, tolong telan kembali cerita apa pun yang hendak kau katakan!' batin Jessica merengek frustasi.
Demi apa pun, Jessica tidak mau mengobrol dengan Hestia. Wanita itu terlalu pandai dalam bicara Jessica merasa ia akan dikalahkan lagi untuk kedua kalinya.
Namun, sayangnya, tidak seperti harapan Jessica, Hestia lanjut bicara. Suara arogan seperti dia tidak pernah salah.
"Hari ketika foto ini diambil, aku berada di mansion Bellamy." Hestia menatap foto itu seperti menatap kepada objek asing. Tidak ada tatapan mendalam di sana, tidak ada nostalgia ataupun kesedihan karena sudah terlibat di dalamnya.
Tidak berarti Jessica mengharapkan wanita itu menjadi nelangsa begitu melihat foto mendiang suaminya, tapi..., keasingan dan keapatisan itu cukup mengherankan.
"Aku ingat sedang mengamati Demian dan Erthian sedang belajar di taman."
Tunggu, apa maksudnya ketika dia seharusnya menghadiri foto keluarga, dia malah mengamati keponakannya di tempat lain? Ibu macam apa ini?
"Aku pikir keluarga sangat bernilai tinggi bagimu, Hestia." Jessica melempar ucapan yang menyiratkan kesinisan.
"Tentu saja, karena keluargaku sangat bernilai tinggi..., keluargaku di Bellamy."
WTF?
"Sejak Maureen, adikku, meninggal. Aku dengan suka-rela mengabdikan diriku sebagai ibu kedua untuk Erthian dan Demian."
"Meskipun itu merisikokan kau menelantarkan suami dan anakmu sendiri?"
"Menelantarkan adalah kata-kata yang..., absurd." Hestia memberikan lirikan pada Jessica, kedua tangan tersilang di dada. "Aku hanya menaruh prioritasku pada Bellamy, tapi itu tidak berarti aku menelantarkan keluargaku sendiri."
Well, menaruh keluarga utamamu sebagai nomor dua di mata Jessica sudah termasuk kategori menelantarkan.
"Aku adalah Bellamy, sejak aku lahir, aku selalu bagian dari Bellamy." Hestia kembali lagi dengan omongannya yang membuat gatal telinga Jessica. "Hanya karena aku menemukan orang lain yang berarti bagiku, kehidupan yang baru, itu tidak mengubah fakta kalau aku akan dan selamanya seorang Bellamy, Jessica."
"Well, okay." Terserah, ya ampun, terserah!
"Demian pun sama."
Oooh, jadi ini arah ucapannya? Jessica mendapat pencerahan.
__ADS_1
"Hanya karena kalian berbagi marga atau apalah itu..., yang sama. Kupikir kau cukup dangkal untuk berasumsi kalau semua orang--termasuk Demian--sama sepertimu, Hestia."
"..."
Hestia tercengang. "Nama Bellamy bukan sekedar marga. Itu adalah identitas, ideologi,..."
Aliran sesat, tambah Jessica dalam hati.
"Seperti yang kukatakan, Hestia. 'Apapun itu', itu tidak berarti Demian akan berbagi mindset yang sama denganmu." Jessica sudah muak dengan usahanya mempertahankan kesopanan, ia mulai menunjukkan sikap lancang. Anehnya, meskipun Jessica bersikap tidak pada 'normalnya', Jessica merasa baik-baik saja. Ia merasa lega. Nuraninya tidak terluka sama sekali. Mungkin Jessica sudah tertular nista karena hidup berdampingan dengan para bajingan ini.
"Kau dan Demian adalah dua orang yang berbeda, berhenti menaruh harapan padanya dan meminta dia menjadi dirimu versi pria. Pemujaan berlebihan seperti ini..., tidak sehat."
"Apa maksudmu?" Hestia merasa jantungnya jatuh ke perut. Siapa yang sudah memuja apa? Hestia tidak mengerti sama sekali, tapi hatinya merasa seperti ditikam duri.
"Kau tau maksudku, Hestia. Dengan bangganya memamerkan kalau kau sudah menelantarkan anak dan suamimu di depanku untuk sesuatu yang kau anggap sangat berarti. Tapi, apa itu benar-benar sangat berarti?--
Nama Bellamy yang kau puja-puja itu, kau tidak mengorbankan apa pun untuk nama itu, kau hanya menghancurkan hidupmu sendiri...,"
"Cukup!"
"Kau berhalusinasi, Hestia."
"..."
Jessica menyeringai tipis di sana. "Kau tidak akan bisa memutar kembali waktumu seperti semula. Kau tidak akan bisa memperoleh waktu yang sudah kau buang sia-sia. Mau bagaimana lagi, sudah tidak ada jalan lain. Kau hanya harus maju dan mempercayai halusinasimu. Aku sangat mengerti."
"Jessica Cerise, kau sudah melewati batasmu."
"Kau tidak tau batas ketika itu menyangkut hubunganku dan Demian, Hestia. Mengapa aku harus menjaga batasku?" Jessica maju selangkah di sana, menggertak Hestia dengan keberadaannya yang terasa seperti raksasa.
Jessica menarik langkah mundur dari hadapan Hestia dan memutar langkahnya meninggalkan wanita itu. Jessica merasa cukup dan puas sudah bisa membalas ucapan tajam wanita itu di taman. Jessica merasa lega. Memang, kemenangan adalah hal terbaik.
"Demian akan menetap di Bellamy," ucapan Hestia membuat langkah Jessica terhenti. Apa wanita ini masih percaya pada omong kosong kalau Demian adalah sosok yang sama dengannya?
"Pengorbananku tidak sia-sia, Jessica. Pengabdianku selama ini akan membuahkan hasil."
Jessica mengendikkan bahunya. Ia sudah tidak mau memperpanjang diskusinya dengan Hestia jadi ia meninggalkan wanita itu sendirian dengan halusinasinya.
Hestia Bellamy, sejak awal Jessica mengetahui wanita itu, Jessica merasa heran mengapa dia masih mempunyai nama Bellamy tersemat di belakang namanya.
Bukankah wanita yang sudah menikah akan mengambil nama belakang suami mereka? adalah tanya yang sempat muncul di benak Jessica. Namun, Jessica tidak mengambil peduli panjang pada perihal itu.
Tidak sampai tadi.
Jessica menemukan jawaban mengapa Hestia begitu terpaku pada Demian dan itu menjengkelkan. Begitu terobsesi untuk menjadikan Demian pemimpin di Bellamy.
Hestia yang menelantarkan keluarga utamanya demi Bellamy di mata Jessica sudah sangat gila. Itu sama seperti seseorang yang mengutamakan pekerjaan daripada keluarga, tapi mengatakan kalau ia gila bekerja demi keluarga. Hal-hal seperti itu omong kosong.
Jika dia memang mengutamakan keluarganya, dia seharusnya tidak menelantarkan suami dan anaknya demi apa pun.
Apa dia pikir, bila dia berhasil dalam pengabdiannya menjadikan Demian kepala di Bellamy, aksinya dalam menelantarkan anaknya sendiri selama ini dapat dibenarkan? Itu tidak akan pernah benar.
__ADS_1
Dia tidak akan bisa berpaling pada anaknya dan mengatakan 'Lihat, ini yang sudah kusibukkan selama ini sampai aku tidak sempat mengurusmu, sekarang kau mengertikan?'. Dia tidak akan mendapatkan anggukan dan ancungan jempol!
Menjengkelkan.
Jessica menghela napas panjang-panjang.
"Aku harap Senin segera datang," gumam Jessica. Setidaknya, ketika Senin tiba, segala konflik penerus di Bellamy akan terselesaikan. Demian akan undur diri dari hadapan keluarganya dan mereka bisa bergandengan tangan ke Vegas. Yay, hidup bahagia. Happy ending.
Oke. Itu imajinasi yang berlebihan.
"Aku lapar. Sialan!" Jessica menarik selimutnya sampai kepala. Lapar membuatnya gila.
...*...
Keesokan harinya, hari minggu..., Jessica yang bersantai di balkon mendapat kunjungan dari seorang pelayan yang membawa sebuah nampan berisi makanan. Keberadaan pelayan wanita itu cukup baru, pikir Jessica. Karena biasanya yang datang adalah Lisa.
"Selamat pagi, Miss. Jessica." Sapaan itu ramah di telinga.
Jessica menoleh ke arah si pelayan dan memberikan anggukan. "Pagi."
"Aku membawakan sarapan lezat pagi ini. Apa kau menginginkan sesuatu sebagai tambahan?"
"Uh..." Jessica melirik isi nampan tersebut dan jujur saja, itu sangat menggiurkan.
"Kau tidak perlu menahan lapar lagi, Miss. Jessica."
"..."
"Aku membuat ini special untukmu, langsung dari tanganku."
"Eh?" Apa wanita ini kepala chef di Rhoden manor?
"Anyway..., tuan Oscar sangat mengapresiasi permintaanmu." ucapan si pelayan membuat mata Jessica melebar terpana. Oscar? Oscar? Orang ini..., orangnya Oscar?
"Aku Gianna, aku akan berada di sekitarmu dan mengawasi keamananmu, Miss."
"E-eh? Bagaimana dengan Lisa dan Robin?"
"Mereka tidak mengetahui apa pun tentangku, karena itu..., ini rahasia."
"Bagaimana bisa kau menyelundup ke sini?"
"Tuan Oscar akan memberikanmu jawaban itu. Untuk sekarang, simpan saja topik ini untuk obrolan kalian di masa depan."
Hangat merekah di dada Jessica, menyebar ke seluruh organ di tubuhnya. Jessica dilanda kelegaan. Terima kasih pada Oscar, akhirnya Jessica bisa benar-benar makan.
"Silakan menyantap sarapanmu seperti biasa. Kau tidak perlu mencemaskan apa pun lagi. Semuanya sudah terkendali."
"Terima kasih, Gianna."
Akhirnya, demi Tuhan. Akhirnya...
__ADS_1
Segala situasi sudah terkendali. Tinggal menunggu senin, dan mereka bisa kembali ke Vegas.
...*...