MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
38. Pelarian.


__ADS_3

"Bagaimana kabarmu hari ini?"


Seperti biasa, ketika Jessica menyapa Jake Allendale yang sedang menyantap secangkir kopi di bibir jalan, Jake balas menyapanya dengan sapaan sopan. Jake menaruh cangkir kopinya di atas meja kayu rendah yang berada di hadapannya sementara ia berdiri dan menarikkan satu kursi untuk Jessica duduki.


Jessica merasa seperti tuan puteri.


"Terima kasih," ujar Jessica. "Aku baik-baik saja hari ini, kau juga sepertinya dalam suasana hati yang baik."


Jake tersenyum, "Aku senang karena kau sudah mengajakku bertemu hari ini. Biasanya, di antara kita, yang menginisiasi pertemuan atau sekedar pembicaraan pun adalah aku. Jadi, aku terkadang merasa membebanimu dengan permintaan-permintaanku."


"Kau terlalu overthinking. Aku tidak terbebani sama sekali, kok. Yang ada, aku merasa senang sudah bisa melarikan diri dari pekerjaanku sesekali."


Meskipun ucapan Jessica bermaksud untuk membuat Jake merasa santai, Jake di dalam hatinya masih merasa ada tembok pembatas yang memisahkannya dengan Jessica. Mereka mungkin bisa dikategorikan sebagai teman, tapi di mata Jake, Jessica masih memandangnya seperti orang asing.


Seolah-olah ia hanya seorang tamu yang datang ke dalam kehidupan Jessica dan tidak akan menetap lama.


Padahal Jake merasa nyaman atas keberadaan Jessica.


Gadis itu tidak memandang kekayaannya seperti berhala. Tidak pula ia menaruh dengki di sana dan menganggap Jake musuh umat manusia. Jessica--daripada kebanyakan orang yang pernah Jake temui, termasuk dalam segelintir orang yang meninggalkan kesan istimewa dan berharga di hidupnya.


Mungkin karena Jessica memperlakukannya seperti manusia biasa. Sesuatu yang baik itu rekan-rekan, kenalan dan orang tersayangnya sulit lakukan. Sesuatu yang Angela sendiri, wanita yang sangat ia cintai, tidak mampu lakukan.


"Aku mempunyai pemikiran ini belakangan," Jessica yang berada di depan Jake kembali bicara. "Apa kau mampir ke cafe kami hanya untuk mengencani Angela?"


"E-EHHH?" Jake terperangah. Kenapa dengan pertanyaan Jessica yang mendadak?


"Habisnya, sejak kau dan Angela berpacaran, kau tidak pernah kembali ke cafe kami lagi. Lalu kalian berpisah, kau juga tidak pernah kembali. Apa karena cita-rasa kopi di Elixir tidak meninggalkan kesan apa pun padamu?"


Tidak, masalah Jake bukan karena kopi.


"Aku bukan peminum kopi yang rutin, sebenarnya." Jake menggaruk tengkuk dengan perasaan bersalah. Ia sudah tertangkap basah.


"Jadi kau nongkrong di Elixir pagi dan sore hanya untuk mendekati Angela?"


"Be-begitulah, kurasa." suara Jake merendah lemah.


Jessica mengaduk kopi yang ia pesan, dan setelah itu, ia menunjuk Jake dengan sendok yang berada di tangannya. "Aku kecewa padamu, Jake Allendale."


"Ah..."


"Padahal ada banyak menu istimewa di cafe kami, ada makanan berat dan ringan juga yang mungkin akan cocok di seleramu." Jessica lalu mengomel.


"Apa karena cinta kau jadi menutup mata pada keindahan dan kenikmatan yang berada di sekitarmu? Uh, hatiku sakit membayangkan berliter-liter kopi yang kau minum dari cafe kami dan berujung kau sia-siakan."


Jake mengatupkan bibirnya, ia bingung harus menanggapi keluhan Jessica. Ini pertama kalinya ia mendengarkan Jessica mengoceh kesal di depannya. Jake selama ini tidak pernah membayangkan Jessica akan berkeluh-kesah kepadanya, karena selama ini gadis itu selalu mempertahankan ketenangannya.


"Seorang yang bijak pernah bertanya padaku," Jessica lanjut bicara. "Untuk jatuh cinta, kau tidak boleh buta. Tapi, apakah kau akan sungguh-sungguh terjatuh, bila kau tidak buta?"


"Dan jawabanmu?" Jake mendengarkan dengan seksama.


"Jawabanku, aku lebih baik tidak jatuh cinta. Aku tidak mau menjadi buta, tidak mau jatuh kepada siapa pun. Semua itu sia-sia, Jake. Sia-sia. Tidak ada yang lebih loyal padamu selain makanan, percaya padaku."


Itu...,


"Cukup adil," sahut Jake. "Jadi, apa itu artinya kau hanya menaruh hatimu pada makanan?"


"Yups, seratus persen. Karena itu, Elixir sudah seperti anakku sendiri. Tidak ada yang lebih penting di hidupku selain Elixir." Jessica jadi berbunga-bunga.


"Aku senang kau sudah membagikan kisah istimewamu padaku." Jake berujar seraya memperhatikan perubahan ekspresi Jessica yang perlahan-lahan bosan.


Gadis itu mungkin mempunyai satu atau dua hal yang mengganjal di benaknya. Namun, alih-alih menumpahkan isi hatinya, ia menumpahkan cerita yang sama sekali tidak bersangkut-paut dengan keluhannya.


Mungkin ini lah sebab Jessica mengajaknya bertemu. Gadis itu, sama sepertinya, juga membawa beban pikiran yang sulit untuk ia ungkapkan.


"Sebagai sesama pebisnis, aku mengerti kepedulianmu terhadap Elixir." Jake lanjut bicara. "Maafkan aku yang hanya mampir ke cafemu dengan niat terselubung. Kedepannya, aku akan datang kesana dengan niat mencicipi kopi istimewa buatanmu. Bagaimana?"


Jessica jadi tersenyum mendengar ucapan Jake. "Aku akan menunggumu."


*


Bertemu dengan Jake dan berbincang-bincang ringan adalah alasan Jessica meninggalkan Elixir hari ini.


Jessica merasa kepalanya akan meledak bila ia mengurung dirinya di cafe. Jessica butuh keluar dari sana, melepaskan penat yang seperti menjambak-jambak kepalanya. Jessica membutuhkan seorang teman yang tidak akan menaruh kepedulian atau kecemasan berlebihan padanya.


Jake adalah orang yang tepat untuk itu. Jake bukan teman istimewa Jessica, dan pria itu tidak akan bertemu dengannya setiap hari dan mencemaskan kondisinya lagi dan lagi.


Hanya hari ini, mereka bertemu hanya untuk hari ini. Setelah itu, mungkin untuk satu minggu, atau dua minggu? Mungkin, hanya ketika Jessica merasa senggang, barulah Jessica akan bertemu dengan Jake kembali. Mereka sama-sama sibuk, tau.

__ADS_1


[Kau di mana?]


Sebuah pesan muncul di ponsel Jessica, datang dari Demian.


Jessica mengabaikan pesan itu dan kembali menaruh fokus kepada aktivitasnya dan Jake sekarang. Omong-omong, mereka sedang berada di sebuah taman, bermain catur sambil menikmati sepiring kacang almond dan teh madu.


Waktu sekarang menunjukkan pukul empat sore, dan permainan mereka sudah berlangsung setengah jam lamanya.


Tidak seperti pertemuan pertama mereka yang menguras energi, pertemuan Jake dan Jessica hari ini hanya diisi oleh aktivitas-aktivitas ringan dan nyaman.


Anehnya pula, Jake merasa tidak ada perbedaan sama sekali dalam pertemuannya yang sekarang dan pertemuan lalu. Jake masih merasa sangat bersenang-senang dengan Jessica.


Walau mereka hanya duduk santai di cafe pinggir jalan, mampir ke toko buku dan mereview buku-buku yang seru dan bagus, mencicip ice cream, bermain ayunan di taman, dan sekarang..., bermain catur.


Tidak ada yang istimewa dari serenteng aktivitas itu, tapi Jake merasakan ketentraman. Seolah-olah ia menemukan kembali pijakannya, ia menjadi normal bersama Jessica.


"Kau cukup hebat dalam catur," Jessica meringis ketika ratunya kali-kali terdorong mundur oleh pion-pion Jake.


"Haruskah aku mengalah?"


"Mengalah ketika kau tau kau bisa menang, apa kau meremehkanku?" Jessica mendongak menatap ke arah Jake. "Aku akan lebih senang kalau kau bersungguh-sungguh. Setidaknya, aku tidak akan merayakan kemenangan yang bukan untukku."


"Kau menjadi sangat bijaksana." Jake terkekeh. "Apa karena kau berteman dengan pria bijak yang bertanya masalah asmara padamu tadi? Menyangkut ah..., tentang menjadi buta dan jatuh cinta?"


"Aku sedang belajar menjadi bijak untuk membenarkan kesalahanku."


"Eh?"


Jessica lalu tertawa. Ia menatap Jake dengan kening terangkat jenaka. "Bercanda. Aku hanya bercanda. Aku tidak akan mencari pembenaran terhadap kesalahan yang sudah kubuat."


"Jessica,"


"Hmm? Mau main lagi?"


"Ku-kurasa." Jake kembali mengatur pion-pion caturnya seperti semula.


"Jessica," panggil Jake lagi.


"Ya?"


Jake ingin menanyakan sesuatu kepada Jessica, sebuah pertanyaan yang menggantung di ujung lidahnya. Namun, ketika ia membuka mulutnya, segala pertanyaan itu buyar dan tergantikan dengan : "Mau minum-minum setelah ini?"


"Tidak, tidak sama sekali." Senyum Jake merekah tipis. Ia miris pada dirinya sendiri yang kesulitan mengungkapkan keluh-kesah yang memenuhi dadanya. Segala kesedihannya, dan segala fenomena baru yang bergumul di dadanya.


"Mana mungkin aku jera, kau adalah teman minum terbaik."


Jessica manggut-manggut saja. "Aku harap kau tidak mengatakan itu di depan teman-temanku, mereka tidak menyukai fakta itu."


"Mm, bukankah itu wajar?"


Kota ini adalah Las Vegas, duh. Ini adalah kotanya para pendosa. Bukan situasi asing bila seorang gadis seperti Jessica mempunyai kebiasaan mabuk-mabukan. Jessica juga adalah gadis dewasa yang bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Seorang teman seharusnya hanya bisa membatasi temannya dengan peringatan ringan, bukan kecaman.


"Dalam beberapa kasus, itu wajar."


Jessica tidak memberikan kejelasan panjang. Namun, tidak pula ia memberikan reaksi kalau apa yang teman-temannya lakukan adalah kesalahan. Sebaliknya, reaksi Jessica seperti mengatakan kalau teman-temannya berada di tempat yang benar.


[Jessica?]


[Apa kau pergi bersama Jake Allendale?]


[Jawab panggilan teleponku!]


[Jesse...]


Serentetan pesan itu kembali muncul. Malas merasa terganggu, Jessica lalu mematikan ponselnya. Ia bersandar di bangku dan menghela napas jengah.


Demian sudah memiliki Angela, dia tidak seharusnya menghubungi Jessica. Jessica merasakan sakit kepala ketika ia kembali terjebak dalam pertanyaan yang sama. Apa mau Demian, sebenarnya?


Apa tindakan mereka malam itu tidak membuatnya merasa bersalah pada Angela?


Jika dia mencintai seorang wanita, sudah tugasnya untuk tetap loyal pada satu wanita itu saja, kan? Kenapa dia membagi perhatiannya kepada Jessica.


'Aku sudah cukup menerima tudingan menghina dari Angela, aku tidak mau mengalami situasi yang sama lagi menyangkut keberadaanmu, Demian!'


*


Malam harinya, di sebuah bar yang menyajikan sebuah live band, Jessica dan Jake duduk berdampingan sambil menyesap segelas cocktail. Mereka berada cukup jauh dari panggung demi menghindari musik yang menggedor kuping. Saat itu juga, Jake berbisik di telinga Jessica.

__ADS_1


"Apa kau terganggu dengan keramaiannya?" tanya Jake.


Jessica menggeleng enteng. "Tidak masalah," jawabnya agak keras. "Aku juga mau melihat penyanyinya," Jessica berujar seraya bercanda.


"Oh, apa kau tertarik?"


Di depan sana, di bawah cahaya lampu yang teduh, seorang penyanyi dari band tersebut bersenandung merdu. Namun, kendati penyanyi pria itu memiliki suara yang membuatmu terlena, Jessica malah salah fokus kepada parasnya yang terbilang tampan ala-ala rockstar.


"Mustahil memalingkan mata dari pria tampan," ujar Jessica. Ia bicara sambil terkekeh samar.


Jake yang berada di sebelah Jessica jadi menggigit bibir saat melihat senyum Jessica. Ia menarik bangkunya mendekati Jessica dan berbisik sekali lagi di telinga gadis itu.


"Apa itu artinya kau juga tidak bisa memalingkan mata dariku?"


"Ya?"


"Kurasa..., aku juga cukup tampan, kan?"


Jessica tertawa. Ia terkejut pada lelucon Jake yang muncul entah dari mana.


Maksud Jessica, dia pikir Jake adalah pria kalem yang tidak akan mengeluarkan lelucon narsis. Lelucon semacam itu hanya cocok untuk Demian karena Demian adalah pribadi yang arogan. Jake di sisi lain, lelucon itu malah membuatnya menggemaskan.


"Apa kau mau aku memujimu juga, pria tampan? Uwuu..., imutnya."


Jessica menepuk surai cokelat Jake yang halus. Ia memperlakukan pria itu seakan-akan usia mereka terpaut jauh. Seakan-akan, Jake berusia 10 tahun lebih muda darinya. Jake jadi merasa godaannya berakhir sia-sia.


Apa Jessica tidak menatapnya sebagai pria?


Sementara Jessica kembali menikmati live band di depan sana, Jake menopang dagu di meja sambil menatap Jessica. Ia bertanya-tanya, bagaimana bisa ia mengabaikan keberadaan Jessica selama ini? 


Apa cinta benar-benar membutakannya hingga ia menutup mata pada keberadaan seputih Jessica yang meradiasikan kehangatan dan keramahan yang menenangkan?


"Terima kasih sudah menikmati music dari band kami, kami akan tampil lagi minggu depan, pastikan kalian datang dan menyaksikan kami di tempat--"


Selagi si penyanyi berpamit undur diri di depan sana, Jessica membalikkan tubuhnya untuk menghadap Jake yang ia lupakan sejenak.


Saat itu pula, ketika ia nyaris menabrak kening Jake yang berada terlampau dekat di belakangnya, sebuah tangan lain menarik dahi Jessica mundur. Tarikan itu pula menciptakan keterkejutan pada Jessica. Ia terkesiap dan nyaris terjungkal dari bangkunya. 


Jessica melebarkan mata, ia kehilangan keseimbangannya.


Bayangan kepalanya menabrak lantai marmer dari ketinggian bangku yang ia duduki berpadu-padan dengan suara ambulan yang muncul begitu saja di benaknya. Menakutinya.


Kepalanya bisa pecah.


Dia mungkin akan gegar otak.


Bagaimana bayaran rumah sakit?


Sial..., sial, sial! Ini tidak keren sama sekali.


Seseorang, tolong....


Seseorang...


Eh


Keterkejutan yang berpadu dalam kepanikan itu terjeda ketika dua buah tangan merangkum pundaknya, menahannya dengan kekuatan yang cukup untuk menopangnya, tapi tidak menyakitinya.


Jessica mengerjap dalam kebingungan.


Seseorang memang datang dan menolongnya? Malaikat, kah?


Jake berada di depan Jessica, berusaha menggapai Jessica yang nyaris jatuh di depan matanya.


"Apa kau baik-baik saja?" Jake turut panik.


Jessica hendak menjawab kecemasan Jake dan disaat bersamaan ingin melihat ke belakangnya. Jessica ingin berterima kasih kepada siapa pun itu yang sudah menyelamatkannya dari biaya rumah sakit yang mahal luar biasa.


"Aku baik, aku..."


Jessica, dalam sepersekian detik yang terasa lama, kehilangan suara ketika tangan si penolong berpindah ke pinggangnya. Mendekapnya. Membuat segala otot dan otaknya membeku terpana.


Belum sempat ia menoleh, sebuah suara menyapa daun telinganya.


"Apa kau sudah puas bersenang-senang?" Bisikan itu datang dengan napas panas yang berembus di tengkuknya. Menyapu kulitnya.


Suara itu milik Demian Bellamy.

__ADS_1


*


__ADS_2