
Demian menemukan kesadarannya perlahan-lahan ketika tepukan ringan menyapa pipinya. Menepuk-tepuk wajahnya, seperti memanggilnya untuk membuka mata. Bunyi berisik seperti perdebatan dan amukan terdengar samar-samar, berbaur dengan angin laut yang menyapa wajahnya. Meninggalkan jejak dingin di sana.
Demian mengantuk berat, tapi..., entah bagaimana, keriuhan itu sangat mengganggu telinganya.
"Demian..."
"Demian...,"
"Demian!" satu panggilan kali ini terdengar lebih keras dari sebelumnya. Berkat panggilan itu juga, Demian membuka matanya. Perlahan-lahan menerima cahaya samar lentera yang diangkat oleh salah seorang bodyguard yang hadir di sana.
Demian membuka mata dan menemukan wajah Hestia dan Aaron mengisi arah pandangnya. Ekspresi cemas terukir di paras mereka.
"Hes..." gumam Demian.
"Syukurlah kau tidak kenapa-napa." Kelegaan merayap di dada Hestia, ia langsung meraih Demian ke dalam dekapannya.
"Hmmh, apa yang terjadi?"
Kendati kantuk mendominasinya, Demian berusaha keras mengontrol kesadarannya. Ia mencoba bergerak dan bangkit dari bangku kayu tempatnya berada sebelum ia terjatuh kembali di tempatnya. Sialan, mengapa tubuhnya begitu lunglai? Juga..., tunggu, mengapa ia di sini?
"Demian, minumlah." Aaron yang juga berada di sana menyodorkan Demian sebotol air mineral.
Demian menerima botol mineral itu sambil mengerutkan kening bingung."Kenapa kalian sangat berisik? Apa sesuatu terjadi?"
"Kau tidak ingat?"
"Hmm?" Demian saat ini hanya fokus untuk mengumpulkan kesadarannya, ia merasa diliputi perasaan lelah yang luar biasa. Seakan-akan ia bisa tidur kapan saja kalau ia memejamkan mata.
"Demian..." telapak tangan dingin Hestia menyapa pipi Demian, menangkupnya penuh kelembutan. "Apa kau lupa? Jessica, dia melarikan diri."
"Huh?"
Bercanda, ya?
Jessica tidak mungkin meninggalkannya.
"Kau pergi ke pantai bersama Jessica hari ini, dan dia memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri."
"Tidak, bagaimana? Apa maksud--"
Mata Demian melebar terpana. Seakan kantuk yang mendominasinya tak pernah ada, ia mencengkeram lengan Hestia sekuat tenaga. Hestia pasti bohong, pikirnya. Jessica tidak mungkin, dia tidak mungkin...
Ingatannya yang seketika terkumpul sempurna di sana. Seperti puzzle yang tersusun dengan sendirinya, ia mengingat bagaimana semuanya bermula. Alasan keberadaannya di sana, bagaimana Jessica menjebaknya ke dalam tipu daya, dan Demian ingat bagaimana wajah Jessica memudar dalam pandangannya. Hilang bersama kesadarannya.
"Aku tidak mengantisipasi ini sama sekali," ujar Hestia. "Sepertinya Jessica mempunyai bala bantuannya sendiri."
"Temukan Jessica," ucap Demian. Ia memaksakan dirinya bangkit dan berdiri dengan kedua kakinya. "Temukan dia..."
"Demian, kau harus kembali ke Bellamy sekarang. Kau perlu beristirahat."
"AKU TIDAK PEDULI PADA APA YANG TERJADI PADAKU SEKARANG, HESTIA!" Demian lepas kendali, suaranya meninggi penuh intimidasi.
"Temukan Jessica!" tekannya kembali. Penuh emosi.
Hestia menelan ludahnya di sana, membisu tak bisa bersuara. Ia tidak mampu melawan Demian dan disaat bersamaan, ia menemukan Aaron--puteranya--menatap ia tanpa kepedulian apa pun. Aaron hanya melewatinya dan terus melangkah menuju Demian yang melenggang dengan langkah tak seimbang.
"Kami sudah memulai pencarian setelah menemukanmu sendirian di sini." Aaron kembali berujar di sebelah Demian, ia membantu sepupunya tersebut kembali ke mobil.
"Pengawalmu tak sadarkan diri di belakang mobilmu. Dari hasil penyelidikanku, keduanya menerima serangan dadakan. Tidak ada tanda-tanda perlawanan sama sekali dan oh, aku menemukan seragam pelayan keluarga kami di dekat sini."
"..." Demian menerima laporan itu sambil menunduk letih. Ia letih terhadap segala masalah yang terus menimpa kepalanya. "Maafkan aku, ini adalah kelalaianku. Aku tidak menduga kekasihmu akan mempunyai backing-an di belakangnya."
"..."
__ADS_1
"Kau tidak perlu mencemaskan Erthian," ujar Aaron kembali. "Ini bukan ulahnya sama sekali."
"Erthian atau bukan, itu tidak mempengaruhi apa pun." Jessica masih hilang dan Demian tidak tau di mana keberadaan wanita itu sekarang. Dia demam, demi Tuhan. Bagaimana bisa ia melarikan diri dalam kondisi itu? Bagaimana kalau sakitnya bertambah parah?
"Yang ingin kukatakan, Demian..., kekasihmu pergi atas keinginannya sendiri. Itu berarti kita tidak perlu mencemaskan keberadaannya. Maksudku..."
Delikan Demian menghujam Aaron.
"Dia akan baik-baik saja, adalah apa yang ingin aku katakan." Aaron menghela napas. "Untuk sekarang, kembali lah ke Rhoden manor. Kau mungkin akan mempunyai petunjuk tentang hal-hal yang tidak kami mengerti. Petunjuk yang bisa membantu kami menemukannya."
Demian--tanpa menanggapi Aaron lagi--mengikuti ucapan pria itu dan kembali ke Rhoden manor. Mereka berkendara 3 menitan sebelum Demian menapakkan kakinya di kamar Jessica. Di kamar yang masih dalam kondisi yang sama seperti ia meninggalkannya. Dingin angin malam menyapa jendela kamar Jessica yang terbuka. Cahaya rembulan masuk dan menyinari kamarnya yang gulita.
'Kemana perginya pelayan yang seharusnya bertugas melayani kamar Jessica?' Demian bertanya-tanya dalam hati ketika ia menyalakan lampu di kamar itu. Mata Demian menyisiri seisi ruang. Mencoba menemukan kejanggalan.
Melewatkan tempat tidur Jessica yang telah dibungkus oleh seprei baru, Demian pun melenggang menuju lemari. Saat itu juga, ketika ia membuka lemari, Demian tidak menemukan apa pun selain hanger kosong dan satu kotak kado tergeletak di lantai lemari itu.
Seseorang memang sudah membantu Jessica dari dalam, dan entah siapa orang itu..., dia sudah berhasil membawa segala barang-barang Jessica berlalu dari sana. Hampa tak bersisa.
Meraih kotak kado yang tergeletak di sana, Demian membuka kado tersebut dan mengecek isinya.
Demian mengecek isinya dan saat itu pula, ia merasakan darah mendidih di kepalanya. Panas yang merupakan api murka membakar dadanya. Melahapnya dengan buas.
Itu adalah bingkisan pemberian Erthian, lengkap dengan kartu ucapannya yang menjijikkan.
...*...
"Aku tidak mengerti mengapa kita harus melakukan ini? Maksudku..., mengapa kita harus membuang-buang energi untuk mencari wanita yang tidak penting sama sekali? Bukankah dia pergi dengan suka-rela? Dia juga tidak membawa apa-apa, kan? Kenapa kita harus mencarinya?"
"Dia membawa hati bos kita, tolol. Apa kau tidak mengerti situasinya. Ini adalah Romeo dan Juliette yang sedang bertengkar."
"Aku masih saja tidak mengerti mengapa aku harus terlibat dalam masalah personal mereka."
"Tolol, apa kau anak baru?"
"Aku bukan anak baru, tapi aku tau kalau tuan Erthian adalah bos kita, dia tidak akan memanfaatkan kekuatannya untuk sesuatu yang sia-sia. Meskipun tuan Erthian garang dan menakutkan, dia tidak sembarangan dalam memberikan perintah. Dia tidak akan memanfaatkan kita untuk--"
"Aku akan sangat mengapresiasikan kalau keluhan itu kalian telan kembali. Jika kalian masih ingin selamat, kusarankan kalian berhenti berpendapat apa-apa."
"Tapi, tuan Aaron..., keluargaku sudah mengabdikan hidup mereka bertahun-tahun kepada Bellamy. Bahkan tuan Christian tidak pernah meminta kami bungkam terhadap opini kami sendiri. Pengabdian buta kami selama ini tidak tercipta dari teror, kami mengikuti Bellamy karena kami memang percaya pada keluarga ini sejak lama."
Aaron mengangguk kecil.
"Aku mengerti ucapanmu, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk opini itu. Demian sedang dilanda stress sekarang. Pengabdian kalian tidak akan berarti apa-apa di matanya. Tidak kalau dia sangat marah, segala pengabdian kalian dan keluarga kalian dapat ia buang dalam sekali kibasan tangan."
"..."
"Sekarang, jangan terlalu kesal. Ini pertama kalinya dia menjadi pemimpin di Bellamy, dia masih perlu banyak belajar tentang kekuasaan yang berada di tangannya. Dia akan menjadi lebih baik, tenang saja."
"Aku juga mengharapkan hal yang sama tuan Aaron." Selesai menimpali Aaron, dua pengawal itu pun melenggang menuju mobil yang sejak tadi mereka siapkan mesinnya. Mereka membungkuk hormat pada Aaron sebelum berkendara meninggalkan area parkir.
"Sekarang sudah jam 3 dini hari, dan pencarian belum berakhir sama sekali." Aaron bergumam lirih. "Benar-benar melelahkan. Pantas saja semua orang kesal."
Aaron lalu mengecek ponselnya, membaca pertanyaan yang masuk beruntun di sana. Pertanyaan itu datang dari anggota keluarga lain yang kebingungan pada situasi yang terjadi sekarang.
"Apa ini yang kau rencanakan sejak awal, Thian?" Aaron bermonolog sambil tertawa samar.
Keriuhan ini dan segala kekacauan yang sudah terjadi di tahap pertama Demian memimpin Bellamy akan menciptakan kesan negatif di imej Demian. Orang-orang akan kesulitan dan merasa keberatan. Di sini juga, sikap profesional Demian akan diuji oleh semua orang.
Jika ia bersikap seperti tiran, Bellamy mungkin akan terancam.
Dua kubu yang sebelumnya memilih berdamai dan menerima keputusan Christian bisa saja kembali bergejolak penuh amarah.
"Rasanya seperti kau sedang memberikan pelajaran pada orang-orang yang sudah melawanmu, huh?" Aaron bergumam sambil mengetik pesan pada Erthian.
__ADS_1
[Kau bilang kau tidak akan melakukan apa pun!]
Jawaban Erthian muncul tak berselang lama kemudian.
[Aku bilang aku tidak perlu melakukan apa pun.]
Benar. Tanpa melakukan apa pun, Erthian sudah berhasil merusak hubungan Jessica dan Demian. Tanpa melabuhkan tangannya dan terlibat secara aktif dalam menguras emosi keduanya, Erthian Bellamy telah sukses menemukan senjata yang ampuh untuk melukai adiknya. Benar-benar mastermind gila.
[Hestia akan membunuhmu kalau dia tau kau sudah mendalangi dan mencoreng usaha kerasnya selama ini.]
[Dia bisa menangis. Aku tidak peduli.]
Jawaban yang Erthian berikan meninggalkan kesan dingin yang arogan.
Andai saja Aaron adalah anak pada umumnya, anak yang mengapresiasi dan mencintai keberadaan ibunya, Aaron mungkin akan marah mendengar tanggapan Erthian. Malangnya untuk Hestia, Aaron bukan anak seperti itu lagi. Aaron sudah mencampakkan Hestia dari hidupnya. Ia hanya mengenal wanita itu sebagai Hestia Bellamy, bukan ibu yang akan ia cintai dan ia sayangi.
[Apa kau punya rencana lain untuk memperbaiki ini?]
[Aku tidak tau apa pun.]
Dusta.
Aaron tau Erthian berdusta.
Barangkali si keparat pucat itu juga tau di mana Jessica berada.
Apa karena tim pencari Jessica datang dari pihak yang mendukung Demian, Erthian jadi enggan turun tangan. Dia sebegitu senang melihat kubu Demian menderita, bukan?
[Kau yakin kau tidak tau apa pun?]
[Aku hanya tau satu hal yang mampu memperburuk suasananya, jadi tidak akan kukatakan. Tidak sekarang.]
"Berandalan," Aaron mengumpat di kesendiriannya.
Tau kalau Erthian tidak akan membantunya dalam memperbaiki situasi sekarang ini, Aaron pun mengantongi ponselnya kembali.
Aaron memasuki rumahnya dan melenggang tenang di sana. Ia hendak kembali ke kamarnya. Hanya ketika Aaron menemukan kamar Hestia tidak tertutup rapat, langkah Aaron pun melambat. Ia mendekat ke pintu kamar Hestia dan menemukan sosok yang sudah tidak ia anggap sebagai ibu itu sedang mondar-mandir di kamarnya. Telepon terapit di telinga.
"Dia pergi tadi sore, kami sempat berpikir dia akan pergi ke bandara Naples tapi kami tidak menemukan keberadaannya sama sekali. Jadi, dia mungkin menuju Roma melalui kapal..."
"..."
"Kalau kau menemukannya..., hubungi aku segera. Cerise, namanya Jessica Cerise."
"..."
Memperhatikan Hestia yang belum tidur dan sibuk menghubungi siapa saja yang dapat membantunya menemukan Jessica seperti hiburan tersendiri bagi Aaron. Menakjubkan melihat Hestia rela mengorbankan tidurnya, jam istirahatnya hanya untuk menemukan wanita yang sangat berarti bagi Demian. Dia bahkan sangat tertekan.
Alangkah indahnya pemandangan itu kalau segala pengorbanan dan pengabdian yang ia berikan sekarang diberikannya pada keluarganya sendiri. Pada Aaron.
Namun, situasi itu mustahil. Aaron tau itu mustahil.
Daripada menyapa Aaron penuh cinta, yang Aaron ingat tentang Hestia adalah bagaimana wanita itu mengunci diri di kamar seharian untuk tidur. Mengabaikan Aaron yang sudah merindukan keberadaannya, mengabaikan Aaron yang membutuhkan kasih sayangnya juga.
Setiap harinya, Hestia akan kembali dari mansion Bellamy dengan ekspresi lesu dan letih. Dia dalam kondisi itu juga akan menghindari puteranya, suaminya..., semata-mata untuk mengumpulkan energinya. Energi yang dikeesokan hari akan ia tumpahkan kepada anak-anak Bellamy.
Haaa~
Aaron menghela napas lelah.
Nostalgia menyapanya ketika ia berjaga terlalu lama.
"Aku harap kesibukanmu tidak berujung sia-sia, Hestia." Aaron bergumam tulus di sana.
__ADS_1
Jika wanita itu sampai meninggalkan anak dan suaminya demi pengabdiannya pada Bellamy, setidaknya, jangan sampai pengorbanan itu hampa. Jangan sampai ada penyesalan.
...*...