MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
9. Obrolan Ringan.


__ADS_3

Aroma sedap dari ramen menguar di kamar Jessica. Hanya ketika ia membuka mata, ia menyadari kalau aroma ramen itu berasal dari Demian yang sedang makan berselonjor kaki di sofa. Pria itu telah berganti pakaian dengan kaos hitam dan jeans denim yang robek di sana-sini. Sikapnya santai sekali, seolah-olah ia berada di rumahnya sendiri.


"Kau sudah bangun?" Demian menyapa.


"Jam berapa sekarang?" Jessica menyadari kalau langit di luar balkonnya telah meredup hitam, malam. Tanpa menunggu respon Demian, Jessica mengecek jam di ponselnya dan ternyata sudah jam 7 lewat.


"Ah, keparat. Aku belum mengecek cafe sama sekali." Jessica bangkit dari tempat tidur dan berhenti setelah mengambil tiga langkah. Ia menengok ke arah Demian dan memiringkan kepala. "Apa itu ramenku?"


"Begitulah." Demian tidak merasa bersalah.


"Bravo..., sekarang kau juga menginvasi dapurku tanpa izin."


"Kau tidak berharap aku mati kelaparan sementara kau tidur berjam-jam di sana, kan?"


"Tsk. Setidaknya bangunkan aku kalau kau mau melakukan sesuatu. Ini rumahku, aku tidak merasa nyaman bila orang asing menyentuh barang-barangku tanpa izin."


"Cukup terlambat untuk itu, bukan?" Demian bermonolog lirih. Ia mengingat kembali kecupan kecil yang ia berikan di rahang Jessica, kecupan yang ia curi tanpa suara dan tanpa sepengetahuan Jessica. Kecupan yang masih terasa asing di bibirnya.


"Apa kau mengatakan sesuatu?"


"Tidak," sanggah Demain. "Aku mengerti dengan maksudmu, aku tidak akan bertindak sesukaku lagi."


"Bagus, kalau begitu."


*


Setelahnya, Jessica kembali turun ke Elixir dan membantu Ethan dan Dania bekerja. Jessica menyibukkan dirinya dengan aktivitas yang tumpah-ruah semata-mata agar ia tidak perlu memikirkan Demian di atas sana. Hanya ketika waktu cafe ditutup, barulah Jessica kembali mengingat keberadaan tamu asing di kamarnya tersebut.


Jessica pun menuju dapur. Ia menghampiri Elliot yang sedang memperhatikan kawan-kawannya bersiap untuk membersihkan alat memasak.


"Elli," panggil Jessica. Pria jangkung dengan sepasang iris biru samudera tersebut menoleh ke arahnya. "Apa masih ada dessert yang bisa kumakan malam ini?"


"Kau ingin dessert malam-malam begini?"


"Aku agak lapar."


"Tidak biasanya." Elliot menaikkan sebelah keningnya, tapi tetap mencarikan Jessica dessert cokelat di lemari pendingin. "Aku masih mempunyai dua gelas panna cotta."


"Aaah, terima kasih." Jessica tersenyum antusias.


Sejujurnya, Jessica mencari makanan untuk Demian. Pria itu adalah tamu di kamarnya sekarang. Walau pria itu adalah tamu yang tak diundang, Jessica tidak mau pria itu mati secara perlahan-lahan karena kelaparan.


Sebelumnya, Demian mungkin sudah menyantap semangkuk ramen dari lemari, tapi bagi Jessica, satu mangkuk ramen tidak akan cukup untuk pria sebesar dan sekekar Demian.


"Kalau kau masih lapar, kau bisa mengecek lemari di belakang. Aku menyimpan banyak makanan yang bisa diolah ulang di sana."


"Aku mengerti. Sekali lagi, terima kasih, Elli."


"Mm."

__ADS_1


*


Ketika ekspektasinya tidak sesuai dengan realita, sudah wajar bagi Jessica untuk merefleksi kembali setiap ingatannya yang membuat ia mempunyai ekspektasi tinggi terhadap Demian. Mengapa dirinya yang beberapa bulan lalu sangat mengidolakan Demian dan beranggapan kalau pria itu lebih keren daripada Jake?


Mengapa..., mengapa ia mengira Demian adalah cowok irit bicara dan eksklusif, ketika pada realitanya, Demian cukup cerewet dan berisik?


Kemana perginya sosok dingin Demian yang selalu menatap Jake dengan permusuhan? Kemana sisi keren itu?


Kenapa sekarang Jessica berhadap-hadapan dengan Demian yang duduk bersilang kaki di sofa, menyantap panna cotta cokelat pemberian Elliot dengan ekspresi kesal?


"Aku tidak suka cokelat, tapi karena ini pemberianmu, aku akan memakannya."--adalah awal mula dari kejengkelan Jessica.


Ia yang awalnya prihatin pada Demian menjadi dongkol dan keki.


"Kalau kau tidak menyukainya, kau tidak perlu menyentuhnya sama sekali." Jessica merengut.


"Kau sangat perhatian, mana mungkin aku akan menyia-siakan perhatianmu." Kata-kata itu akan terdengar romantis bila ini adalah drama romansa, sayangnya tidak. Jessica tau Demian bicara seperti barusan tanpa ketulusan. Dia pasti masih kelaparan.


"Demian?"


"Mm?" Demian mendongak dan menatap Jessica yang sekarang bergerak mendekati meja.


Karena sofa yang berada di kamar Jessica hanya satu, dan sofa itu sedang diduduki oleh Demian, Jessica pun duduk di atas karpet bulu--di lantai, tangan bersilang di atas meja kaca yang mencapai dadanya. Sepasang manik emerald Jessica membulat penuh tanya.


"Aku agak penasaran," mulai Jessica. "Mmm..., kau, perasaanku saja atau bagaimana..., agak berbeda dari yang biasa kutemui di cafe?"


"Kau tidak banyak bicara di cafe, bahkan saat kau sering mampir untuk menemui Angela, kau biasanya hanya duduk dengan secangkir kopi hitam tanpa mengatakan apa-apa."


"..." Demian menyimak tenang.


"Kau menatap Angela bekerja seharian seperti stalker dan yah, kau memang kerap membantunya sesekali, tapi aku tidak mengingatmu sebagai orang yang...aktif?" banyak bicara lebih tepatnya, dan juga menjengkelkan!


"Aku tersentuh."


"Huh?"


"Apa selama ini kau memperhatikanku, makanya kau tau kebiasaanku?"


Kenapa topiknya jadi berputar ke Jessica?


"Hei, aku adalah owner di Elixir." Jessica menjadi defensif. "Sudah wajar bagiku untuk mengetahui satu atau dua hal yang terjadi di bawah. Lagian, salahmu sendiri selalu muncul di sini. Laba-laba di dinding kami pun sudah bisa mengenal wajahmu!"


"Hmm, jadi inti pertanyaanmu adalah..?"


"Kenapa kau menjadi sangat bawel dan berisik? Kau tidak pernah menyahut sapaanku saat di cafe tapi di sini kau bicara panjang lebar dan..., yah." Jessica tidak mau mengekspos pengetahuannya tentang Demian lagi. Akan berbahaya kalau Demian tau dia adalah penggemar Demian sebelumnya.


Jessica bahkan kesana-kemari memanggil Demian dengan nama pendek yang ia buat sendiri. Ugh, akan memalukan bila ia sampai ketahuan.


"Aku tidak tau kau menilaiku seperti itu sebelumnya. Maksudku, hanya karena aku tidak banyak bicara di luar, bukan berarti aku orang yang pendiam. Aku hanya tidak senang bicara panjang lebar di depan orang yang tidak kukenal."

__ADS_1


"Tapi bersama Angela pun kau..." masih terlihat dingin, angkuh dan misterius!


"Angela berbeda," jawab Demian.


Entah bagaimana, mengungkit Angela selalu membuat pria itu menjadi nelangsa. Jessica pikir momen penolakan Demian sudah berlalu cukup lama. Hei, 1 bulan itu waktu yang cukup untuk move on, bukan? Tapi sepertinya hal tersebut tidak berlaku untuk Demian. Nampaknya, dia masih terluka atas penolakan Angela.


Kasihan, Jessica jadi ikut nelangsa. Bagaimanapun, ia turut menyaksikan hari patah hati Demian. Ia ikut menonton bagaimana kata-kata Angela meremukkan hati pria di hadapannya.


"Kenapa kau tiba-tiba menatapku dengan iba?"


"Ya? Hah? Aku?" Jessica terperangah.


"Apa kau prihatin padaku, Honey?"


"Ck, mana mungkin." Jessica merotasi matanya. Berlagak tidak peduli walau ekspresi miris itu kentara sekali.


Demian tidak tau bagaimana cara Jessica bertahan hidup di kota penuh dosa ini dengan segala kepolosan dan empatinya yang gampang dipermainkan.


"Anyway, apa keberadaanku dan sikapku sudah mengecewakanmu?" Demian tidak mau menyeret topik mengenai Angela dan dirinya lebih lama, jadi ia memutar tanya ke arah Jessica. "Bagaimana aku di matamu, Jessica?"


"Eh?"


"Karena kau selalu memperhatikan customer-mu, apa kesanmu terhadapku selain kalau aku pendiam dan penikmat kopi hitam?"


'Kau tampan, sangat-sangat tampan, rambut ikalmu sangat menawan, kulit tan-mu dan otot kekarmu bisa membuat wanita mimisan, dan secara menyeluruh, aura berbahaya dan tajam yang terpancar darimu sangat menggoda. Aku..., tidak mungkin mengatakan itu!'


Jessica meneguk ludah malu atas pemikirannya yang rancu.


"Aku tidak menyimpan kesan istimewa terhadapmu. Maksudku, kau tidak begitu mengesankan." Ini adalah kebohongan. Namun, demi menjaga nama baik cafe Elixir, Jessica tidak boleh ketahuan mengagumi pelanggannya dalam diam. Itu menjijikkan dan menakutkan.


"Heeeh, begitukah?" Demian mengulum senyum. Ia yang sejak tadi masih berkutat dengan segelas panna cotta cokelatnya, kembali menyendok makanan manis itu dan menyuapkannya pada Jessica yang duduk di seberang meja.


Jessica menerima suapan Demian tanpa pikir panjang. Entah karena atmosfirnya yang nyaman, Jessica tidak begitu ambil pusing pada tingkah Demian. Mungkin dia sudah muak dengan makanan manis itu dan memberikan sisanya pada Jessica. Siapa yang tau apa isi di balik surai keriting itu?


"Jadi, Jessica..., kalau pria sepertiku tidak mengesankan bagimu, maka pria seperti apa yang akan membuatmu terkesan?"


"Hmm?" Itu pertanyaan sulit. Mengutarakan tipe pria idamannya pada Demian sama saja seperti ia mendeskripsikan Demian, ia pada akhirnya akan ketahuan.


Demian menyuap Jessica lagi, dan diterima lagi.


"Apa kau menyukai pria yang seperti malaikat di bawah?"


"Huh?"


"Hmm, kalau aku tidak salah mengingat, namanya Ethan, bukan?" Demian berujar sambil memiringkan kepala. Ia memperhatikan dengan seksama bagaimana Jessica ******* habis panna cotta yang melumer di sudut bibirnya. Saat itu pun, Demian menyadari betapa rentannya Jessica terhadap bahaya yang bernama pria.


Saat itu pula, Demian memutuskan memalingkan pandangannya dari Jessica. Kendati obrolannya dan Jessica terus bersahutan hingga nyaris pukul satu malam, Demian dengan pertahanan diri yang menyaingi para biksu, berhasil melewati malam itu tanpa terpengaruh oleh gairahnya yang menggebu.


*

__ADS_1


__ADS_2