
Sebuah jaket tebal berlabuh di pundak Jessica, menghangatkannya yang sekarang berdiri di lapangan terbuka.
"Apa kau gugup?" Demian--si pemilik Jaket--menoleh jenaka ke arah Jessica. Senyumnya merekah tipis ketika ia menemukan rona tipis terukir di paras kekasihnya tersebut.
Hari ini, di Rabu pagi yang sedikit berangin, Demian bersama Jessica dan Hestia akan berangkat ke Italy. Demian akan pulang, dan hal daripada merasakan kegugupan, Demian merasa tenang ketika ia berhasil membujuk Jessica untuk ikut bersamanya.
Beberapa hari lalu, di ingatan Demian, Jessica begitu menolak ide itu. Jessica tidak mau bepergian mengikuti Demian karena Jessica merasa enggan bertemu dengan keluarga pria itu. Tentunya, alasan Jessica cukup masuk akal. Keluarga Demian, yang mana adalah Erthian, sudah memberikan kesan buruk yang menakutkan.
Demian pikir, Jessica tidak akan pernah setuju pada permintaannya tersebut sampai kapan pun, jadi Demian tidak mengungkit topik itu lagi. Demian juga sudah mengonfirmasi pada Hestia kalau dia tidak akan kembali.
Namun..., kemarin, keajaiban terjadi.
Jessica setuju, entah bagaimana dia setuju.
"Pastikan saja aku tidak akan bertemu dengan saudaramu," adalah permintaan Jessica, dan Demian mengangguk penuh kesungguhan.
"Aku janji, aku tidak akan membuatmu terjebak dalam masalahku lagi. Anggap saja perjalanan ini sebagai sebuah liburan, honeymoon. Kita akan makan enak, berbelanja dan bersenang-senang."
"Aku tidak tau tentang itu, tapi..., selama masalahmu terselesaikan, itu sudah cukup untukku." Jessica serius tentang itu. Ia tidak datang ke Italy untuk mencicipi pizza ataupun spaghetti mereka.
Tidak, Jessica ingin datang ke sana semata-mata untuk memastikan Demian menemukan penyelesaian dalam konflik yang sudah sejak lama mengejar kaki pria itu.
Jessica ingin Demian bebas dan bisa pulang bersamanya kembali ke Vegas.
"Tenang saja. Aku akan mengakhiri semua permasalahanku dan setelah itu, kita bisa ber-honeymoon."
Kembali pada masa sekarang, ketika Jessica dan Demian bergandengan tangan memasuki jet pribadi milik keluarga Bellamy. Hestia melenggang di depan mereka tanpa bersuara banyak.
Wanita paruh baya itu tidak berkata apa-apa terhadap keputusan Demian mengajak Jessica, tidak pula ia memberikan reaksi keberatan ketika Demian meminta Hestia untuk menjaga Jessica selama di sana. Bagi Hestia, ia rela melakukan apa saja selama itu berarti Demian kembali menapak di Bellamy.
"Segala kemewahan ini membuatku tidak nyaman," ujar Jessica. Daripada terkesima pada kemewahan yang terekspos di depan matanya, Jessica malah merinding ngeri.
Situasi ini berbeda sekali ketika ia melihat mobil mewah Jake Allendale. Jessica bahkan tidak mampu membuat lelucon sama sekali.
"Tunggu sampai kau tiba di Bellamy," Hestia menyahut dari depan. Wanita itu menaruh tas tangannya di atas meja sebelum melempar tatapan ke arah Jessica. "Ah, aku nyaris lupa. Kau akan tinggal bersamaku di Rhoden Manor."
Rhoden Manor adalah tempat Hestia menetap saat ini. Rumah itu adalah rumah dari almarhum suaminya, Dean Rhoden. Rhoden Manor merupakan tempat bersejarah yang merupakan peninggalan turun menurun keluarga Rhoden sejak puluhan tahun lalu. Manor itu pula, kendati dikepalai oleh Hestia, merupakan milik dari putera sulung Hestia yang sekarang menempuh pendidikan di London.
"Apa keluargamu akan baik-baik saja bila aku tinggal di sana?"
Jessica menyuarakan tanya karena, sejujurnya, Jessica lebih memilih menetap di hotel daripada tinggal bersama Hestia. Sesuatu tentang Hestia membuat Jessica tidak nyaman. Namun, Demian melarangnya menetap di hotel karena tempat itu tidak aman. Juga, Demian nampaknya begitu mempercayai Hestia, jadi Jessica mau tak mau menurut saja.
"Di Rhoden Manor hanya ada aku dan beberapa pelayan. Kami akan cukup antusias bila menerima satu tamu untuk musim gugur ini."
"Hestia biasanya membuka manor-nya untuk tamu dari kampus terkemuka. Kebanyakan tamunya adalah mahasiswa berprestasi dari kampus-kampus besar di Italy. Mereka berkunjung ke Sorrento dan tinggal di sana, terutama setiap musim panas."
Demian menambahkan sedikit informasi. "Anggap saja bonus liburan."
"Huh..., itu..., menakjubkan."
"Demian mengencani sebagian tamuku ketika dia masih tinggal di Bellamy," ucap Hestia, ia membuka aib keponakannya tersebut tanpa beban.
__ADS_1
"Waaah, pantas saja Demian terlihat sangat excited ketika membahas manor-mu, Hestia."
Eskpresi Demian spontan berubah masam. "Itu karena aku masih remaja."
"Tidak, itu karena kau menyukai wanita yang memancarkan aura kecerdasan dan kepolosan di saat bersamaan. Wanita-wanita seperti..., Jessica." Tatapan Hestia terseret pelan ke arah Jessica. Picingannya yang meremehkan membuat Jessica ingin melompat keluar dari jendela saat itu juga.
Mengesalkan!
"Demian selalu mempunyai tipe tertentu terhadap wanita, aku memperhatikannya tumbuh dengan seksama sampai aku tau benar kebiasaannya." Hestia tersenyum lembut sambil menatap Demian, seakan-akan ia menatap puteranya sendiri.
"Kau tidak akan kecewa bila kau memilih pria seperti Demian, Jessica. Sejauh pengamatanku, pria ini selalu memberikan segalanya ketika jatuh cinta."
"Apa barusan itu pujian?" Demian menatap Hestia sambil menyengir jenaka. Setidaknya, pikir Demian, walau aibnya dibongkar, Hestia mengakhiri ucapannya dengan pujian. Itu lebih baik daripada dijelek-jelekkan.
"Jangan besar kepala," tukas Hestia. "Anyway..., karena perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang panjang, aku harap kalian berdua beristirahat. Aku berada di depan kalau kalian mencariku."
"Baiklah."
Selepas Hestia pergi dari hadapan Demian dan Jessica, Demian lalu menaruh perhatian pada kekasihnya yang sejak tadi tidak banyak bicara. Jessica mungkin merasa agak segan pada Hestia, itu normal. Namun, Demian berharap tembok es yang membatasi mereka dapat luluh begitu saja. Demian tidak ingin Jessica merasakan ketidak-nyamanan.
"Bagaimana pendapatmu mengenai bibiku?" Demian bertanya sambil mengatur tempat tidur Jessica. Berbeda dari tempat Demian yang murni hanya sebuah bangku panjang dan lebar yang bisa digunakan untuk rebahan sekalian, Jessica mendapat ekstra selimut, beberapa plushie dolls dan bantal.
"Entahlah. Aku tidak begitu memikirkannya." Jessica berdusta dengan gampangnya.
Jessica tidak mau mengatakan kalau Hestia begitu mengesalkan, Jessica takut Demian merasa tersinggung. Lagipula, sepertinya Demian cukup dekat dengan wanita itu.
"Well, aku akan memberikanmu sedikit spoiler...,"
"Ini supaya kau nyaman!"
"Aku akan lebih nyaman kalau kau memperlakukanku dengan normal, Demian."
Jessica tau Demian merasa bersalah karena sudah menyeretnya ke dalam masalah pribadi pria itu. Namun, Jessica tidak ingin memperoleh perlakuan istimewa yang jujur saja, ini terlalu berlebihan.
Jessica tidak menyalahkan Demian karena Jessica paham kalau situasi pria itu memang sedang kritis. Jessica datang ke Italy dengan suka-rela, demi Tuhan. Ia tidak datang dengan tujuan menjadi beban.
"Maafkan aku," bisik Demian. Helaan napas pria itu seperti menggambarkan beban berat yang menyumbat di kepala dan dadanya. Demian--kendati berpenampilan santai dan tenang--menyembunyikan keresahan.
Keresahan itu bisa saja terjadi karena dia sudah menyeret Jessica dalam problemanya, tapi..., Jessica merasa tidak hanya itu saja. Demian mungkin..., takut bertemu keluarganya kembali.
Tsk!
Jessica tidak tau sama sekali.
"Lupakan saja," tukas Jessica. "Bukankah kau bilang ingin memberikanku spoiler menyangkut bibimu."
"Oh, benar..."
...*...
Hestia Bellamy sesungguhnya adalah pribadi yang baik, setidaknya begitulah menurut Demian. Hestia menaruh loyalitas tinggi kepada keluarga Bellamy sejak masa mudanya, ia bahkan rela menikah dengan keluarga Rhoden demi memperkuat dan memperluas bisnis keluarga Bellamy.
__ADS_1
Hestia, di mata Demian, layaknya ibu kedua. Wanita itu merawat Demian dan Erthian sejak kecil. Sejak Maureen Bellamy--ibu Demian--meninggal dunia.
Hestia sebenarnya adalah pribadi yang baik dan bijaksana, tetapi, karena ia tumbuh dan dididik keras oleh keluarganya, Hestia menjadi sosok yang cukup keras dan tegas.
"Mungkin karena dia adalah seorang profesor di masa mudanya," Demian berujar kala itu. "Dia menjadi agak galak. Kau tau, kalau orang-tua terlalu banyak berurusan dengan remaja bandel, mereka menjadi penyihir."
"Kau baru saja mengatai bibimu seperti penyihir, bukan?"
"Ahahaha..., itu..., rahasiakan itu darinya." Demian melirik Jessica dan tersenyum samar. "Aku harap kau dan Hestia bisa hidup berdampingan dengan damai."
"Kau tidak perlu mencemaskanku, Demy. Meskipun kami tidak berdamai pun, aku masih mampu menoleransi satu atau dua minggu hari-hari yang tidak menyenangkan." Selama Demian akan pulang bersamanya, Jessica tidak keberatan berbagi atap bersama wanita yang selalu menatapnya dengan delikan tajam.
"Itu dia masalahnya, kan? Aku tidak mau kau merasa tidak nyaman."
"Aku lebih tidak nyaman bila aku memaksakan diriku membaur dengan keluargamu." Tidak ketika mereka memperlakukannya seperti hama.
Jessica tau cara Hestia menatapnya sangat berbeda dari tatapan kebaikan atau sekedar kecanggungan. Jessica sudah puas ditatap seperti itu ketika ia masih di penjara remaja. Pengawas yang dulu mengawasinya selalu menatap ia dengan mata memicing meremehkan; Penuh kesinisan. Seakan-akan keberadaannya tidak diharapkan.
"Maafkan aku, sepertinya aku menaruh terlalu banyak ekspektasi padamu."
"Kau seharusnya memikirkan situasimu terlebih dahulu." Jessica menyandarkan kepalanya di lengan Demian. "Ketika kita mendarat nanti, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku pertama-tama perlu bertemu dengan ayahku. Bagaimanapun, dia adalah orang yang sudah memaksaku pulang."
"Apa yang akan kau katakan ketika dia memintamu menjadi penerusnya? Apa kau akan baik-baik saja bila kau menolak tawarannya?"
"Aku tidak tau," jawaban Demian meragu.
Banyak hal yang tak tentu di benak Demian saat ini.
Bahkan ketika Demian mendengarkan ucapan Jessica menyangkut intensinya pulang, Demian tidak benar-benar yakin sekarang. Demian tidak yakin pada apa yang hatinya inginkan.
Demian masih memikirkan hari di lobby hotel malam itu. Hari ketika ia menemukan Jessica menangis di dekapannya.
Ingatan itu meneror benaknya. Muncul di mimpinya sampai ia memilih tidak memejamkan mata.
Demian takut situasi buruk itu terjadi kembali dan menimpa Jessica. Demian ingin melindungi sosok yang sangat berarti baginya. Namun, pada hari itu, Demian dihadapi pada realita kalau dirinya tak berdaya. Ia tak mempunyai kekuatan di tangannya. Jika saja ia mempunyai kekuatan lebih dari Erthian, kekuasaan..., jika...,
"Demian..." suara Jessica menyela pemikirannya. Demian mengerjapkan mata. "Aku tau situasi ini agak berat untukmu, karena itu..., aku ingin kau tidak mencemaskanku. Fokus saja pada hal yang paling penting, oke?"
"..."
"Aku percaya padamu."
Seulas senyum tipis merekah di wajah Demian, ia merangkul Jessica erat di dadanya dan memberikan gadis itu hujan kecupan di wajahnya. "Kau adalah yang terpenting bagiku."
Karena Jessica sangat penting baginya...,
Demian, mungkin saja, mengubah keputusannya.
...*...
__ADS_1