MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
53. Langkah Pertama.


__ADS_3

"Kau terlihat baik-baik saja sekarang. Maksudku penampilanmu. Apa ini artinya kau sudah move on dari kisah cinta sepihakmu?"Jessica bertanya dengan nada jenaka. Ia tidak mau terlalu serius di sana.


Saat itu juga, berbeda dari biasanya, ketika ia akan duduk di bar bersama Oscar, kali ini mereka duduk berduaan di sebuah meja.


Jessica menemani--tidak, lebih tepatnya Oscar yang memilih duduk di sana. Jadi, bisa dikatakan kalau Oscar lah yang menemani Jessica.


Pria dengan kulit semulus pantat bayi itu menyantap pesanannya--seiris cheesecake dan satu cangkir kopi hitam, sambil menyimak ucapan Jessica.


"Daripada move on, lebih tepat dikatakan aku sedang dalam keadaan bertahan sekarang." Oscar memberikan jawaban.


"O-oh, maafkan aku."


"Kau tidak perlu meminta maaf, aku lebih senang bila kau datang dan bertanya padaku. Maksudku, aku merasa seperti mempunyai teman untuk berbagi, begitu?"


"Apakah journalist hebat sepertimu tidak mempunyai teman?"


"Untuk menjadi hebat, itu artinya kau harus berlari di paling depan. Kurasa aku terlalu laju sampai aku tidak mempunyai siapa pun di sisiku."


Kendati ucapan Oscar cukup arogan, entah mengapa Jessica mendengarkan setiap untaian kata Oscar seolah-olah pria itu adalah biksu yang menuangkan petuah agung. Dia mungkin sudah dibutakan oleh pujian yang Oscar tuliskan di website-nya.


"Bicara soal teman, sebenarnya aku mempunyai seseorang yang ingin kujadikan teman. Dia pria hebat dan memiliki banyak beban hidup, tapi dia cukup keren jadi aku senang mengganggunya."


Jessica menunjukkan ketertarikan, "Kedengarannya seperti orang yang baik."


"Nah, kurasa itu cukup berbeda."


"Humm?"


"Maksudku, baik dan hebat..., dia..., orang itu mungkin hebat, tapi di mataku dia tidak baik sama sekali. Jahat, oh, dia adalah perwujudan iblis."


"Eh..., begitukah?" Kalau dia adalah perwujudan iblis, mengapa kau ingin berteman dengannya? Jessica membatin heran.


"Apa kau bingung?"


"Sedikit..., ahahaha. Maksudku, kenapa kau ingin berteman dengan orang yang sudah kau ketahui jahat?"


Pertanyaan Jessica sudah terbaca. Oscar memamerkan seulas seringai sebagai reaksinya. "Karena dia hebat, Jessica. Aku lebih tertarik pada seseorang yang luar biasa daripada orang yang sekedar baik."


"Well, kurasa..., selama itu nyaman untukmu. Jadi, apa yang terjadi? Kau bilang kau ingin berteman dengannya, apa itu berarti kalian belum berteman?"


"Dia tidak ingin berteman denganku," kata Oscar mengaku. "Dia lebih menganjurkanku untuk mencari teman lain."


"Aaaah, apa kau kecewa?"


"Sedikit."


Sudut bibir Jessica melekuk turun, "Tenang saja, kalau dia menolakmu, aku yang akan menjadi temanmu. Lagipula, kita sudah sering bertemu, bicara..., dan lihat, kita juga minum kopi bersama..., kau sudah seperti teman bagiku. Mulai sekarang, kau tidak boleh merasa sungkan."


"Apa owner Elixir selalu seramah ini?"


"Begitulah, kalau kau terkesan, kau bisa menulis fakta itu di blog-mu." Jessica membuat lelucon narsis sebelum mengibaskan tangannya, "Bercanda, bercanda." tukasnya seketika.


"Aku tidak selalu ramah, kok. Aku hanya ramah kepada orang yang ramah padaku."


"Hmmm, aku harus bersyukur kalau begitu. Aku bersyukur bisa membuatmu ramah padaku."


Oscar menyesap kopinya sambil menatap sepasang iris emerald Jessica yang berbinar tenang.


Jujur saja, kendati Oscar mendekati gadis itu hanya untuk mengacaukan isi kepalanya, Oscar tidak merasakan kerisihan apa-apa saat bersama Jessica. Gadis itu menyenangkan, sebenarnya. Dia mungkin cukup naif di beberapa bagian, tapi berbicara dengannya tidak membuat Oscar bosan.

__ADS_1


Jessica Cerise, dia menarik.


*


Pertemuan dengan Oscar berlalu di benak Jessica begitu saja. Tidak ada hal berarti yang membuatnya perlu terpaku lama dan mengenang segala rincian obrolan mereka dengan saksama.


Seperti hal kasual yang biasa ia lakukan hari-harinya, pertemuannya dengan Oscar sudah masuk ke dalam tahap itu juga.


Daripada memikirkan Oscar, sekarang Jessica terpaku memikirkan ucapan Dania.


Ingat bagaimana sahabat pirangnya tersebut begitu antusias untuk membantunya menakhlukkan Demian? Sekarang, Dania sudah memberikan Jessica satu intrik yang katanya 'Wajib diikuti!'. Jessica, tidak ingin mengecewakan Dania, awalnya ingin mematuhi sahabatnya tersebut.


Sampai...


"Trik pertama untuk membuat seorang pria menyukaimu adalah, kau harus memastikan kalau dirimu berada di pikirannya secara konstan. Kau tau, seperti duri yang menusuk daging di ibu jarimu, buat keberadaanmu di benaknya menjadi tak nyaman, tak tenang."


"Itu..., deskripsi yang menarik. Tapi aku tidak mengerti aku harus melakukan apa untuk menjadi sebuah 'duri'. Lagipula, bukankah menjadi duri berarti aku akan berujung dibencinya?"


Jessica menanggapi ucapan Dania dengan cengiran aneh bermain di parasnya. Ia bertanya-tanya apakah ini adalah langkah yang tepat?


Jessica tidak mau menjadi pihak yang menguber-uber Demian, tapi..., dia juga tergoda ingin membuat Demian jatuh cinta padanya.


"Sayangku, kau tidak perlu mengambil metaforaku sebagai hal yang literal. Ini hanya bentuk bahwa dia tidak bisa mengabaikan keberadaanmu. Karena itu..."


"..."


"Langkah pertama, Jessica..., kau harus menggodanya."


"Ahahaha, bercanda ya? Aku? Tidak. Tidak mau!"


"Dengarkan aku dulu, idiot..." Dania meninggikan suaranya dengan jengkel. "Apa kau paham definisi menggoda yang aku katakan?"


Di benak Jessica, ketika ia mendengar kata menggoda, maka itu berarti seperti dirinya mengenakan pakaian seksi, kuku-kuku panjang menggerayangi dada Demian, dan lipstick merah darah. Jessica tidak mau tampil seperti itu.


"Si tolol," Dania mengembuskan napas jengah. "Godaan yang kumaksudkan adalah..."


Adalah...


Godaan yang Dania maksudkan, sekarang..., di depan Demian, Jessica akan mempraktikkannya.


Mengenakan kaos putih kebesaran dan hotpants hitam, Jessica duduk dengan kegugupan begitu ia menyadari Demian menapak di balkon kamarnya. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan Demian setelah kejadian malam itu, Jessica masih merasa malu. Tapi tidak boleh, dia tidak boleh kikuk. Dia harus menerapkan perintah Dania.


Pertama-tama...


"Kau harus bertingkah seperti keberadaannya tidak begitu penting. Buat seperti malam panas kalian seperti angin lalu..., sudah kau lupakan! Pria hebat sepertinya pasti merasa heran ketika kau bertingkah cuek."


"Apa kau yakin, Dani?"


"Tsk, turuti saja apa yang sudah kukatakan, dan jangan lupa membuat gerakan polos yang memancing gairahnya. Demian pasti tidak akan melupakanmu, dan ketika dia meminta jatah malam itu..., jangan berikan."


"Mm, baiklah..., kurasa..." Selama anjuran Dania tidak membuatnya kehilangan muka dan harga diri di depan Demian, Jessica pikir ia mampu mengikuti perintah sobatnya itu.


Sekarang...


"Kau datang," Jessica menyapa Demian yang sekarang menapak ke dalam kamarnya. Sepasang manik kelam Demian menyorot ke arah Jessica yang dari penampilannya, tengah sibuk dengan novel yang dia baca.


"Aku sudah mengatakan akan datang," ujar Demian. Ia melempar jaketnya ke atas sofa sebelum melenggang menuju dapur Jessica. Ia masih sesekali melempar lirikannya ke arah Jessica yang anehnya--bersikap cukup tenang.


Demian mengira gadis itu masih menghindarinya, tapi..., sepertinya ia hanya berpikir berlebihan. Jessica terlihat baik-baik saja sekarang.

__ADS_1


Setelah mengambil segelas air mineral, Demian lalu melenggang menuju tempat tidur Jessica.


"Apa ini buku yang sudah membuatmu beku kedinginan di bawah hujan malam waktu?" Demian duduk di depan Jessica dan menarik turun novel tersebut dari pandangan Jessica. Dia di sini sekarang, Demian tidak mau Jessica menyibukkan dirinya dengan buku.


"Jangan menggangguku, aku sedang membaca dengan serius..." Jessica merengut. Ia merebut kembali buku yang dibacanya dari Demian. "Lakukan apa yang kau suka, tapi jangan ganggu aku membaca."


"Kau tau apa yang kusuka," ucapan Demian membuat wajah Jessica spontan memerah. Ia menendang pria itu sebelum bergeser menjauh.


"Jangan libatkan aku..." tukas Jessica, menjaga ketenangan di suaranya kendati gedoran jantungnya menggila. Sialan, siapa menggoda siapa kalau begini?


'Aku tidak boleh kalah,' batin Jessica. Sekarang adalah saatnya dia memberikan serangan balasan.


Hal yang paling disukai Demian adalah lehernya, Jessica tau itu karena pria itu selalu memberikan perhatian berlebih pada rahang dan lehernya. Dari hujan kecupan, gigitannya, dan endusannya, Demian begitu suka melabuhkan bibir dan tangannya di leher Jessica. Untuk itu, sebagai godaan polos yang akan membuat Demian terpana adalah...


"Sekarang sudah penutupan agustus, aku sangat berharap kalau cuaca panasnya mereda..." Jessica berujar sambil mengambil ikat rambutnya di atas bantal. Ia bicara sambil menatap Demian yang masih betah menatapnya.


"Aku harap musim panas segera berakhir," ujar Jessica lagi, kali ini sambil mengikat rambutnya tinggi-tinggi.


Di depan Jessica, Demian mendengarkan keluhan Jessica dengan sebelah alis terangkat. Ia bertanya-tanya apakah Jessica menyadari apa yang ia lakukan sekarang atau dia hanya terlalu polos?


"Kemari..." panggil Demian, ia mengisyaratkan Jessica agar mendekat ke arahnya. "Biar aku yang mengikat rambutmu."


"Heh? Apa kau bisa?"


Demian menyeringai miring, "Mengikatmu di sini pun aku bisa..."


"Mulutmu semakin kotor setiap kali kita bertemu, apa ini jati dirimu?" Meskipun komplain, Jessica membiarkan dirinya mendekat kepada Demian.


Jessica ingat pesan Dania kalau menjadi rentan dan buta terhadap ancaman membuatmu menjadi sangat diinginkan. Jessica ingin membuktikan teori itu dengan masuk ke dalam perangkap Demian.


Jessica menyerahkan ikat rambutnya pada Demian, jantungnya berdegup kencang penuh keantusiasan.


"Kupikir kau sudah melihat terlalu banyak jati diriku," ujar Demian. Ia menyisir helai demi helai surai lebat Jessica dengan jemarinya. Aroma lembut dari shampo yang gadis itu kenakan sekarang menusuk hidungnya, menggoda gairahnya.


"Apa yang kau lakukan belakangan? Aku mengirimimu pesan beberapa kali tapi kau tidak pernah memberikan tanggapan." Demian berusaha mengalihkan isi kepalanya pada realita. Ia tidak boleh terus berpikir menggunakan selangk*ngannya. Itu terlalu nista.


"Aku bekerja..." kata Jessica, dia kembali menekuni novelnya. "Aku juga ingin menyiksamu."


"Apa tidak membalas pesanku adalah bentuk penyiksaan?"


Jessica mengangguk. "Kuharap itu mempan."


"Apa yang sudah kulakukan sampai kau mau menyiksaku, hmm?"


Tangan yang sebelumnya menyisir surai Jessica sekarang berlabuh di pundak. Jessica menoleh ke belakang--kepada Demian dengan pandangan jengkel. "Pertanyaan yang lebih tepat adalah apa yang belum kau lakukan, Demian! Kau sudah melakukan terlalu banyak."


"Heh...," Demian terkekeh. "Kalau aku sudah melakukan terlalu banyak, kau tidak akan bisa berjalan sekarang. Aku tidak akan melepaskanmu..."


"Bisa kau berhenti membicarakan hal mesum?" Jessica memotong ucapan Demian, ia bergidik tak nyaman. "Aku hanya ingin kau mengikat rambutku, ya ampun! Kenapa kau begitu berisik! Jangan menggangguku!"


"Tsk...,"


Demian mengernyit tak senang begitu Jessica kembali mengabaikannya. Gadis itu duduk membelakanginya sekarang, sibuk membaca novel romansa. Demian di belakang Jessica hanya diperbolehkan mengikat rambut Jessica saja. Seperti hairstylist. Dia bahkan tidak diperbolehkan bicara.


Sementara Demian dilanda kejengkelan dan kecemburuan terhadap novel yang Jessica pangku dengan penuh candu, Jessica di hadapannya menahan tawa lepas dari bibirnya.


Jessica begitu menyukai sensasi dari perlakuan dinginnya ke Demian sekarang. Rasanya seperti ia memegang kendali terhadap emosi pria itu. Jessica menyukai Demian yang mencari perhatiannya, rasanya seperti Demian benar-benar menyukainya.


Apa aktivitas orang yang berpacaran akan seperti ini? Jessica jadi tergelitik ingin menggoda Demian sekali lagi.

__ADS_1


Sekarang, apa yang harus ia lakukan untuk membuat Demian semakin frustasi?


*


__ADS_2