
Hari Senin yang dinanti-nanti Jessica akhirnya tiba. Hari yang menjadi simbol kesibukan, permulaan dan kembalinya waktu berjalan. Hari Senin ini, di mata Jessica bagaikan hari penentu. Hari yang akan ia ingat sebagai hari bermula dan berakhirnya segala hal yang sudah terjadi dan merumitkan situasi Jessica kini.
Konflik di Bellamy akan berakhir dan mereka bisa pulang ke Vegas. Memulai kehidupan baru yang menenangkan, tanpa kecemasan. Demian akan kembali kedekapannya, dan Jessica akan memaafkan pria itu.
Walau Jessica masih tidak senang sudah diasingkan, tapi, selama Demian kembali padanya dan meminta maaf sungguh-sungguh, Jessica akan mengampuni pria itu.
"Kau sangat ceria, Miss."
Gianna--walau baru sehari bersama Jessica--tidak menunjukkan keseganan sama sekali pada keberadaan Jessica. Sekarang, Gianna sedang mengupaskan buah pear untuk Jessica, dia duduk di teras balkon bersama Jessica yang sedang mengamati gerbang depan Rhoden manor yang sunyi.
Hari ini, keluarga besar Bellamy sedang berkumpul besar-besaran. Christian--si kepala keluarga Bellamy--akan menurunkan mahkota yang membebani kepalanya selama bertahun-tahun ini--kepada salah satu puteranya. Karena event penting itu, Rhoden manor menjadi sangat sepi. Semua orang pergi menghadiri event itu. Memberikan bukti pengabdian mereka kepada kepala keluarga yang baru.
Lisa dan Robin juga pergi bersama Hestia tadi pagi. Jadi, hanya ada beberapa pengawal yang menjaga di depan gerbang, pengawal dari kasta terbawah.
"Aku akan kembali ke Vegas, bagaimana mungkin aku tidak ceria." Jessica menimpali santai.
"Tidak ada tempat yang lebih baik dari rumah sendiri," ujar Gianna.
"Iya, kan? Hehehehe. Seburuk-buruknya Las Vegas, aku masih bagian dari kota itu. Aku menyukai cahaya lampu neon yang berkedip menjengkelkan di sepanjang jalan, gedung hotel yang menjulang, casino dengan musik norak mereka.--
Oh, aku bahkan suka udara lembab ketika sehabis hujan di sana. Aroma sisa makanan yang membusuk di jalan, berbaur dengan air selokan..."
"Ew.., apakah ini yang dinamakan nasionalisme?" Gianna jijik membayangkan ucapan Jessica, hidungnya mengernyit aneh di sana. Reaksi Gianna saat itu juga membuat Jessica tertawa.
"Kurasa...," sahut Jessica.
Jessica tidak tau ia mempunyai itu, kecintaan pada tanah airnya. Tidak sampai dia berada di negara orang dan merengek ingin pulang.
"Aku tidak sabar bertemu dengan teman-temanku."
"Apa kau dan tuan Oscar berteman?"
"Kurasa..., begitu? Aku menganggapnya teman selama ini, tapi sekarang aku tidak yakin lagi. Maksudku, dia sudah menipuku. Aku sampai tidak tau apakah kedekatannya padaku murni karena kami memang klop sebagai teman atau karena dia hanya memanfaatkanku."
"Yaaah, pria itu memang ular." Gianna manggut-manggut paham. "Tapi, setidaknya, kau beruntung dia membantumu, kan?"
"Mm." Jessica mengangguk. "Aku sangat berhutang-budi padanya."
Setelah mengobrol bersama Gianna di balkon, Jessica lalu membuka ponselnya. Ia membaca sederet pesan dari Dania muncul di sana. Menyerangnya dengan setumpuk pertanyaan yang meminta detail mengenai pertemuan Demian hari ini.
Malangnya bagi Dania, Jessica juga tidak tau apa-apa.
Jessica tidak tau apa pun karena ia tidak dilibatkan dalam pertemuan itu. Jessica juga tidak mau terlibat di sana dan bertemu Erthian sih. Jadi, sampai ketika Hestia kembali atau mungkin Demian datang ke sini, Jessica hanya akan bisa berandai-andai di balkon kamarnya. Menatap kepada dedaunan jingga yang menyebar di sepenjuru matanya memandang.
"Seseorang datang..." Gianna tiba-tiba bicara. Bereaksi pada ucapan Gianna juga, Jessica spontan saja berdiri dari bangkunya. Ia mencondongkan tubuhnya melewati pagar balkon dan menatap kepada segerombol mobil yang datang dan terparkir di halaman depan. Surai hitamnya berkibar ditiup angin.
"Aku akan kembali," ujar Gianna. Keberadaannya yang dekat pada Jessica masih rahasia. Karena itu, begitu beberapa mobil terparkir di depan gerbang, Gianna segera berlalu meninggalkan Jessica yang memerah riang.
Sekarang baru jam sebelas menjelang siang. Cukup mengejutkan kalau pertemuan itu akan berakhir dengan singkat. Jessica mengira dia akan perlu menunggu sampai sore untuk informasi menyebar dan sampai ke telinganya. Namun, sepertinya tidak.
Baguslah, tidak.
Jessica sangat antusias dia berlari meninggalkan balkon dan keluar dari kamarnya. Demian mungkin ada di kerumunan mobil yang tiba. Demian mungkin datang bersama Hestia, menjemputnya untuk pulang.
Jantung Jessica berdebar dalam kegugupan. Semakin dekat langkahnya pada lantai pertama, semakin kuat jantungnya menggedor dada. Seakan ruang di jantungnya tidak cukup luas dan sekarang jantungnya ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Jessica sangat tidak sabar bertemu Demian-nya!
Selesai, semuanya sudah selesai.
Jessica menuruni anak tangga yang terhubung pada lantai pertama, dan ketika ia menatap ke ujung tangga, seorang pria berdiri di sana. Langkah Jessica spontan terjeda.
Pria itu, pria di ujung tangga, menatap sekilas ke arah Jessica. Wajah mengingatkan Jessica pada Hestia. Jessica--seperti deja vu, mengenal pria itu. Dia adalah anak di bingkai foto yang ia temukan kemarin. Anak Hestia. Hanya saja, wajahnya sedikit lebih tegas dan lebih dewasa.
Jadi dia datang. Seingat Jessica, Hestia bilang dia sedang menempuh pendidikan di London.
Pria itu--tanpa menaruh perhatian panjang pada Jessica yang keberadaannya sangat asing--menyapa keberadaan lain yang sekarang memasuki pintu rumahnya bersama Hestia. Melihat sikap serius yang pria itu tunjukkan, Jessica jadi enggan menapak ke bawah. Mungkin ini bukan saat yang tepat untuknya menyapa Demian.
Setidaknya, begitulah yang Jessica pikirkan.
Jessica menarik dua langkah mundur, enggan turun.
Jessica berniat kembali ke kamar saja dan menunggu dengan sabar, tapi ia mengurung niatnya begitu ia menemukan wajah Demian menghampiri si pria di ujung tangga. Jessica memperhatikan wajah Demian yang saat itu nampak tegas dan penuh wibawa. Dia begitu menawan, dan disaat bersamaan, memancarkan aura menakutkan.
"Kau pulang," ujar Demian, mengacu kepada putera Hestia yang kini berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Akan tidak sopan kalau aku tidak menghadiri penobatanmu, bukan? Walau rasanya aku agak terlambat...?" Karena Demian sudah di sini, itu berarti proses penobatan penerus di Bellamy telah berakhir.
"Aku baru saja mau ke sana."
Jessica yang berada tidak jauh dari mereka, menyimak obrolan keduanya tanpa suara, mengerutkan keningnya.
Apa Jessica tidak salah dengar barusan? Putera Hestia--apa dia baru saja mengatakan penobatanmu? Mu dalam artian mengacu pada Demian?
"Kau baru sampai tadi pagi, Aaron. Kau tidak perlu memaksakan dirimu mengikuti formalitas yang tidak perlu."
"Bagaimana mungkin aku melakukan itu?" Aaron Rhoden--putera Hestia--menampakkan senyum samar biasa. "Aku harus memberikan sumpah loyalitas kepada sepupuku yang sekarang--ah, haruskah aku menyebutmu sebagai atasanku?"
"Jangan bercanda."
Aaron terkekeh. "Bagaimanapun, selamat sudah menjadi pemimpin di Bellamy. Ibuku berusaha sangat keras untuk mewujudkan impiannya itu. Dia pasti sangat bangga padamu."
"Pemimpin?"
Hanya saat Demian hendak membalas ucapan Aaron, Demian mendengar suara lirih yang begitu familiar menyapa telinganya. Menginterupsi perbincangannya dan membekukan seluruh tubuhnya. Jessica Cerise berdiri di puncak tangga, sepasang emerald menyorot ke arah Demian dengan tatapan penuh keraguan.
Aaron ikut mendongak ke arah tangga dan merasakan kebingungan di sana. Seperti ketegangan tiba-tiba mengudara di antara mereka. Aaron dengan peka membuka ruang untuk keduanya. Aaron melirik ke arah ibunya--Hestia--,tapi ia hanya menemukan wanita tua itu mengulum senyum tipis.
"Jesse," Demian menyapa Jessica, satu langkah mendaki anak tangga. "Sejak kapan kau di sana?"
Jessica tak memberikan tanggapan pada pertanyaan yang menurutnya sangat tidak penting sekarang. Jessica hanya berdiri di sana, menunggu Demian memberikannya penjelasan atas ucapan Aaron barusan.
"Apa kau..., menjadi pemimpin...?" Jessica melafalkan kata yang sangat ia benci itu di mulutnya.
Ketidak-percayaan merekah pahit di dadanya, membuat ia merinding terpana. Ini pasti rekayasa, kan? Dia pasti salah dengar! Demian tidak mungkin menjadi pemimpin di keluarganya! Bukankah pria itu begitu membenci latar belakangnya, benci pada keluarganya dan menolak menjadi bagian dari mereka?
"Aku datang untuk menemuimu," ujar Demian. "Mari bicara di kamar."
"Huh?"
Demian mendaki tangga satu-persatu ke hadapan Jessica, dan ketika ia berada selangkah di depan gadis itu, Jessica menarik satu langkah mundur. "Aku akan mendengarmu, Demian."
Jessica menekan kebingungannya yang sekarang berpadu-padan dengan kemurkaan. Jessica tidak mau marah tiba-tiba kepada Demian tanpa mendengar penjelasan pria itu terlebih dahulu. Jessica--demi Tuhan--berusaha sekuat tenaga untuk memberikan Demian kepercayaannya. Memberikan pria itu kesempatan dan kesabarannya yang hanya seujung kuku.
Mengikuti ucapan Demian, Jessica pun melenggang tenang di koridor yang terhubung ke kamarnya. Sepanjang perjalanan itu, Jessica menahan gejolak di dadanya, menahan pahit yang menyebar di kerongkongannya. Seakan-akan sebilah pisau sedang tersangkut di lehernya. Jessica tiba di kamar dan langsung melempar tatapan tajam ke arah Demian.
"Jessica, kau mendengarkan semuanya dengan jelas."
"..."
"Aku..., mulai hari ini, aku akan menjadi pemimpin di Bellamy."
Ha...
Hahahaha...
"Bercanda, ya?"
"Aku serius, Jessica."
"Tidak, tunggu..." Apakah memungkinkan untuk jantung Jessica meluncur jatuh ke perutnya, karena demi Tuhan, Jessica merasa jantungnya copot barusan? Berhenti berdetak, berhenti berfungsi!
"Demian..., apa kau sadar dengan yang kau katakan?"
"Ya."
"Kalau begitu, apa kau sadar dengan pilihanmu?" Jessica menekan dadanya, seakan-akan ada luka lebar menganga di sana. Jessica menahan cubitan kecil yang muncul dan menciptakan rasa ngilu di jantungnya. "Jadi..., kau akan meninggalkanku?"
Sepasang netra kelam Demian melebar geram. "Itu tidak akan terjadi," tekannya.
"Apa maksudmu tidak akan terjadi? Kau pikir..., aku..., aku akan bersamamu..., di sini?"
"Ya. Aku akan melindungimu, Jessica. Kita tidak perlu mengakhiri segalanya. Aku tidak perlu membuat pilihan apa pun. Kau selalu menjadi prioritasku, Jesse. Hanya saja, pilihanku hari ini tidak perlu menjadi penghalang di hubungan kita."
"Ah..., ahahahaha..., kau tau kau mengutarakan omong kosong, kan?"
Jessica tidak tau harus bagaimana menanggapi Demian di sana. Pikirannya porak-poranda. Kekecewaan, kesedihan, dan kemurkaan, semuanya membaur satu dan menciptakan api biru berkobar di dadanya. Membakar sekujur tubuhnya dengan panas yang luar biasa.
"Jessica," Demian mendekati Jessica, tangannya meraih kedua pergelangan tangan Jessica dan membawa tangan gadis itu ke dadanya. "Aku melakukan ini untukmu. Aku hanya memikirkanmu."
__ADS_1
"Jangan," suara Jessica lepas dengan rendah, tapi penuh amarah. "Jangan jadikan aku alasanmu."
Ekspresi Jessica meredup gelap. "Aku tidak pernah meminta apa pun darimu, Demian. Dan kuingatkan kau kembali, ini bukan hal yang sudah kau janjikan padaku ketika kau membawaku ke sini!"
Jessica menarik lepas tangannya dari genggaman Demian, matanya memanas dalam kekecewaan. Ia membuang tatapannya dari Demian, mencoba memperoleh ketenangan. Ia tidak ingin meledak dalam tangisan di sana, ia tidak mau kekecewaan mendominasinya. Tapi, Tuhan..., itu tidak mudah.
"Jessica, dengarkan aku..." Tidak hanya Jessica yang frustasi di sana, Demian pun sudah menduga reaksi Jessica. "Aku tidak punya pilihan lain! Aku harus melakukan ini agar aku bisa..., aku hanya ingin kita bisa bebas bersama Jessica."
"Apa mereka mengancammu? Apa mereka memanfaatkan keberadaanku untuk mengancammu?"
Demian menggeleng.
"Lalu...?" Jessica tidak mengerti sama sekali. Mengapa Demian mengkhianatinya seperti ini?
"Apa yang sudah mereka lakukan? Kau tau kau selalu bisa jujur padaku, bukan? Mengapa kau melakukan sesuatu yang tidak pernah ingin kau lakukan? Bukankah kau pergi ke Vegas untuk menghindari semua ini?"
"Aku memang! Aku memang ingin menghindari semuanya..., tapi aku berubah pikiran, Jesse."
"..."
"Aku menginginkan ini. Aku tidak memperoleh ancaman apa pun, aku tidak dipaksa oleh siapa pun. Aku hanya..., aku menginginkan ini untuk kita."
"Jangan melibatkan aku sama sekali." Jessica memberikan penegasan sekali lagi. "Aku tidak mau ini, Demian! Aku hanya ingin kembali ke Vegas bersamamu!"
"Jesse, aku mengerti kau kecewa..., aku mengerti situasinya tidak seperti ekspektasimu. Aku sudah mengingkari janjiku dan kau pantas marah..., tapi..., aku hanya ingin kau mendengarkanku." Demian meraih lengan Jessica sekali lagi dan tepisan kuat yang ia terima ketika Jessica menolak sentuhannya beresonansi kuat dengan ngilu yang merambat di dadanya.
"Hubungan ini tidak perlu berakhir, Jessica. Kau dan aku masih bisa bersama. Kau tidak perlu memikirkan apa pun. Aku akan memberikanmu ketentraman yang kau inginkan. Kau bisa tinggal bersamaku, kita bisa ke Vegas kapanpun kau mau untuk mengecek cafemu. Kita..., sialan, semuanya bisa diatur, Jessica!"
"Kau tau aku menginginkan ketentraman, tapi kau menumpahkan segala masalah ini di kepalaku?" Jessica mendorong dada Demian, mendorong pria itu penuh kekuatan. "Apa yang tentram dari tempat ini? Hanya seminggu di sini dan aku merasa aku lebih baik mati! Kau tidak tau apa pun! Aku membenci semua orang yang ada di sini, Demian. Bibimu yang selalu merendahkanku, atau saudaramu yang selalu menerorku! Aku membencimu dengan keputusanmu!"
"Kau tidak perlu memikirkan mereka lagi, aku bisa memberikanmu apa pun yang kau mau sekarang! Kau tidak perlu berurusan dengan mereka kalau kau tidak mau..., hanya..."
"Aku mau pulang." Jessica memotong ucapan Demian. Suaranya dingin menikam. "Hal terakhir yang bisa kau berikan padaku hanya..., kembalikan aku pada tempatku semula, Demian. Aku..., aku tidak menginginkan apa pun di sini."
"Jessica!"
Setelah mengutarakan keinginannya, Jessica memutuskan mengabaikan Demian sepenuhnya. Ia mengambil langkah lebar menuju lemari dan mengeluarkan kopernya dari sana. Jessica hendak mengemas barang-barangnya ketika koper besar yang ia taruh di tempat tidur tiba-tiba dirampas Demian dan di lempar ke ujung ruang.
BRAKKK!!!
Jessica spontan membeku diam. Ia dilanda keterkejutan oleh bunyi besar dari koper itu yang terbang menghantam lantai.
Tanpa memberikan jeda dalam tindakannya, Demian pun menarik paksa pundak Jessica hingga menghadap ke arahnya, menatapnya. Mata bertemu mata.
"Kau tidak akan kemana-mana!" tekan Demian, suaranya rendah menakutkan.
"Aku akan menemuimu kembali ketika amarahmu mereda. Untuk sekarang, aku akan memberikan waktu untukmu beristirahat. Kita akan bicara lagi nanti."
"..."
"..."
"Apa?" Menemukan kontrol dirinya kembali, Jessica spontan mengerutkan keningnya. Ia mengejar langkah Demian yang menuju pintu. "Aku tidak mau bicara apa pun padamu! Aku mau kembali ke Vegas!"
"..."
"DEMIAN!!!"
"Aku sudah bilang aku tidak akan melepaskanmu, bukan?"
"Huh?"
Demian menatap kepada Lisa dan Robin yang berada di depan pintu yang terbuka. Delikan tajamnya membuat dua pengawal itu mengerucut di bawah intimidasinya.
"Jangan biarkan dia keluar!" titah Demian seperti raja. "Jika dia sampai melarikan diri dari sini, kalian berdua akan mati!"
"Eh?" Apa?
Jessica menatap punggung Demian yang begitu asing di matanya. Aura mengintimidasi yang menguar tak kasat mata dari tubuh pria itu sangat bukan Demian. Setidaknya, itu bukan Demian yang biasa Jessica kenali. Itu bukan Demian yang ia cintai. Pria itu..., monster.
"Kau tidak bisa mengurungku di sini! Demian!" Jessica mencoba menapak satu langkah keluar dari kamar itu ketika Lisa tiba-tiba mendorongnya masuk dan menutup pintu tepat di depan hidungnya. Dengan tersegelnya ruangan itu juga, mata Jessica melebar terbuka. Ia ternganga.
Apa ini..., bercanda?
__ADS_1
Demian..., Demian serius mengurungnya?
...*...