
"Aku tidak tau harus mengatakan apa, serius. Kau hebat masih bisa mengontrol emosimu ketika mendengar Demian berkata begitu. Bila itu aku, aku mungkin akan merobek mulutnya di tempat."
Dania--pada akhirnya--menetap di Elixir malam itu sebagai teman konseling Jessica. Gadis itu duduk bersila di tempat tidur Jessica, tangan bersilang di dada.
Di depan Dania, Jessica bersandar di kepala ranjang dengan wajah yang meredup muram. Tidak mengherankan, pikir Dania. Jessica pasti sangat terluka dituding sebagai wanita penggila harta oleh pria yang dia sukai.
'Demian keparat! Cowok tidak peka! Aku harap jari kelingking kakimu menabrak meja!'
Dania merasakan panas berkumpul di kepalanya, mendidihkan darahnya.
"Pria seperti itu memang tidak tau diri, ya. Hanya karena wajahnya tampan, dia pikir dia bisa bicara seenaknya."
Jessica menyimak omelan Dania tanpa banyak memberikan tanggapan. Rasa sakit yang muncul di hatinya akibat ucapan Demian sudah merobek dadanya, dan seperti luka itu tidak cukup, ia melihat Demian dan Angela berciuman tidak jauh dari balkon kamarnya. Rasa perih di hati Jessica sekarang sudah seperti luka yang disiram oleh perasan jeruk nipis. Ngilu brutal.
"Dani, maaf sudah merepotkanmu belakangan ini. Kau sangat bersemangat membantuku untuk membuat Demian jatuh cinta, tapi pada akhirnya aku malah mengecewakanmu."
"Mengecewakan, bagaimana? Kau tidak melakukan apa-apa, kok. Demian saja yang bobrok dan tolol. Kau tidak perlu menyesali apa pun. Lagian..., percaya padaku, si keparat itu bakal datang ke kakimu dan meminta pengampunan!"
Ah, Jessica meragukan hal itu. Sekarang, Demian sedang berbahagia dengan Angela berada di dekapannya. Pria itu sudah tidak membutuhkannya. Hubungan mereka yang memang tanpa status dan makna, pasti bukan sesuatu yang penting di mata Demian.
Pria itu sudah pasti melupakan kesalahannya sendiri dan sibuk melayani Angela dengan penuh cinta.
"Aku tau arti tatapanmu itu," ketus Dania. "Kau pikir dia pasti tidak kembali, kan?"
"Dia tidak punya alasan untuk kembali," gumam Jessica. "Jika pun dia datang dan meminta maaf, palingan dia hanya merasa bersalah." Tidak ada makna lebih di sana.
"Tsk, dengarkan aku..., Demian pasti kembali, apa pun itu alasannya. Karena itu juga, ingat apa yang kukatakan untuk tidak menyerah sebelum ulang tahunmu?"
"Daniii? Apa kau memintaku lanjut berusaha mengejar cinta pria yang sudah menghinaku?"
"Well..., why not?"
"Dania, dia sudah menghinaku!"
Bagian mana dari kata menghina yang tidak Dania mengerti? Meskipun Jessica jatuh cinta, dia tidak serta-merta membuang harga dirinya. Dia masih mempunyai harkat dan martabat untuk tidak tunduk di kaki pria yang sudah memandang rendah dirinya.
"Aku tau kau marah, tapi..., itu tidak membuat perasaan cintamu padanya buyar begitu saja, kan? Kutanyakan sekarang, apa kau hilang perasaan pada Demian sekarang? Tidak cinta sedikit pun?"
"Itu..." Mustahil. Hatinya yang berdenyut nyeri sekarang adalah hasil dari kecemburuan yang timbul dari mengamati interaksi Demian dan Angela dari balkon kamarnya.
"Aku tau, kau masih menyukainya. Makanya, aku ingin kau tidak berhenti di tengah jalan dan di dalam prosesnya, kita bisa memberikan si keparat itu pelajaran karena sudah menghinamu. Kita bisa membuatnya menangis..., tidak, maksudku kau bisa.."
"Tapi, Dania..., meskipun aku menyukainya, aku tidak mau memaafkannya. Aku merasakan benci yang sama besarnya dengan perasaan sukaku sekarang. Aku tidak mau kehilangan harga diriku demi seorang pria."
"Dan kau tidak akan kehilangan apa pun." Dania meyakinkan seratus persen. Dengan sigap, ia meraih kedua pergelangan tangan Jessica dan menarik sobatnya tersebut agar duduk dengan tegap. "Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan, cinta dan pembalasan dendam."
"Tapi..., bagaimana?" Jessica dilema.
"Percaya padaku, mulai sekarang kita akan lompat ke langkah nomor 2." Dania menyeringai seperti iblis.
"Bagaimana dengan langkah pertama? Kita bahkan belum selesai menerapkan langkah itu."
"Lupakan langkah pertama. Kita hanya mempunyai sedikit waktu tersisa. Daripada menghabiskan waktu dengan menggoyahkan perasaan Demian, mari kita hancurkan dia sekalian."
"Ha-hancurkan?" Tidakkah itu agak ekstrim?
"Mari buat darahnya mendidih, hatinya tercabik dan kepalanya dipenuhi oleh racun..., dia akan menderita." Menutup rencana iblisnya dengan cengiran, Dania lalu bertepuk tangan sekali.
Senyum riang menghiasi parasnya, seolah dia barusan tidak mengatakan sesuatu yang mengerikan.
"Anggap saja ini balas dendam sekalian, karena dia sudah melukaimu."
Jessica mengembuskan napas berat. Bukankah rencana ini bertujuan untuk membuat Demian jatuh cinta, mengapa perencanaan Dania terlihat seperti penyiksaan mental? Apa Dania yakin ini adalah jalan yang benar?
__ADS_1
*
Ngomong-ngomong, seperti ramalan Dania, Demian muncul di Elixir keesokan paginya. Surai ikalnya yang agak memanjang, diikatnya dengan karet hitam.
Di sana, di depan pintu masuk Elixir, dia tampil memukau mata hanya dengan penampilan kasualnya. Kemeja flanel biru tua, kaos abu-abu kebesaran yang robek di sana-sini, celana jeans hitam dan combat boots yang berwarna senada dengan celananya.
"Selamat datang di Elixir," Dania menyapa kedatangan Demian dengan tatapan dongkol.
"Mm..." Demian tidak begitu peduli cara Dania menatapnya. Dia lebih tertarik pada pemandangan Jessica yang sedang menggantikan Ethan sebagai barista.
Demian hendak menghampiri Jessica ketika tiba-tiba dari belakang, Dania menarik ujung kemeja flanelnya. Menghentikan langkahnya.
Aura permusuhan yang melingkupi Dania sampai kepada Demian dengan kentara. Demian peka tanpa Dania perlu bicara. Gadis itu jelas-jelas membenci dan memakinya melalui delikan tajam itu.
"Aku tidak membuat reservasi apa pun, aku hanya mampir untuk minum kopi di bar." Demian berujar, mengingat pertanyaan Dania biasanya hanya berkisar menyangkut reservasi meja dan tujuannya.
"Kau sebaiknya hanya minum kopi," balas Dania dingin. "Kalau kau mengatakan sesuatu yang menghina temanku lagi, aku akan membuat mulut kotormu itu merasakan detergen dapur kami."
"Aku bisa mati, kalau begitu?" Demian terkekeh.
Tanpa menanggapi lelucon Demian, Dania tidak menurunkan pandangannya sedikit pun dari si bungsu Bellamy itu. Sepasang manik aquamarine-nya berkilat memendam amarah.
Kekehan Demian mau tidak mau mereda. Sialan, mengapa orang di sekitar Jessica begitu overprotektif?
"Aku hanya membuat kesalahan sekali, tenang saja." tukas Demian. "Aku datang kemari untuk berdamai. Aku tidak akan melukai Jessica lagi, aku menyesal."
"Tsk!" Dania pada akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya dari kemeja flanel Demian. "Aku akan memegang ucapanmu sekarang, tapi aku tidak akan mempercayaimu."
Mengabaikan peringatan sobat Jessica yang terkesan seperti gigitan serangga saja, Demian pun berjalan menuju konter tempat Jessica berada. Ekspresi gadis itu spontan mengeras ketika ia menyadari kedatangan Demian.
Ugh, ditatap seperti itu oleh Jessica membuat jantung Demian sakit.
"Seseorang masih mempunyai wajah untuk muncul di sini." Jessica berujar setelah Demian duduk tepat di hadapannya.
Saat itu juga, daripada menanggapi Demian dengan kata-kata, Jessica menatap pria itu tepat di mata. Tatapannya penuh keseriusan dan kejenuhan yang berpadu-padan. Ditatap seperti itu oleh Jessica, Demian jadinya meneguk ludah.
"Di mana Ethan? Tumben-tumbennya kau bekerja sendirian..."
"..."
"Ermm..." Sialan, Demian mati kutu di bawah tatapan itu. Kemana perginya Jessica yang penuh empati dan selalu memperlakukannya dengan baik hati? Gadis itu tidak bersungguh-sungguh menginginkannya musnah, kan?
Jessica..., Demian sama sekali tidak tau harus berbuat apa.
"Apa tujuanmu kemari?" Jessica akhirnya bersuara. Demian pikir gadis itu akan mendiamkannya dan memperlakukannya seperti kuman.
"Aku datang untuk menemuimu, apalagi?" Demian memamerkan cengiran lebar di parasnya.
Sebisa mungkin, ia ingin Jessica luluh terhadap ketampanannya. Demian tidak mau gadis itu memusuhinya. Demian yang jarang tersenyum, yang jarang menunjukkan emosinya, sekarang tersenyum lebar dari telinga ke telinga. Ini adalah kejadian langka.
'Lihat betapa keras aku berusaha memohon pengampunanmu, Jessica. Kumohon, berhenti menunjukkan ekspresi kejam itu. Aku lebih suka kau tersenyum.'
"Huh, apa kemarin tidak cukup, jadi kau datang untuk menghinaku lagi?" Jessica meninggikan sebelah alisnya. Eskpresi wajahnya tidak melunak gembira. Yang ada, ia semakin menunjukkan ketidak-senangan.
Keparat! Mulut yang keparat! Mengapa mulutnya bisa mengatakan hal tolol kemarin? Demian benar-benar benci pada mulutnya sekarang.
Tolong, berikan Demian jus deterjen sekarang juga. Demian perlu membersihkan mulut kotornya yang sudah melukai hati Jessica.
"Jessica, apa yang terjadi kemarin adalah kesalahanku. Aku menyesal sudah mengatakan itu padamu. Aku tidak berpikir panjang, aku marah, terlalu marah sampai aku tidak berpikir panjang. Serius. Aku hanya..., aku hanya tidak senang kau berurusan dengan Jake. Aku sampai mengatakan hal jahat."
"Kau terlihat sangat jujur kemarin, aku takjub. Mungkin amarahmu sudah menunjukkan isi hatimu yang sebenarnya. Kau pasti berpikir aku perempuan materialistis yang mendekati pria kaya seperti lintah."
"Jesse..."
__ADS_1
"Jangan!!!" ucap Jessica, penuh penekanan. "Jangan pernah memanggilku seperti itu lagi. Kau bukan temanku ataupun siapa pun di hidupku. Kau hanya..., tamu di sini."
Hujan anak panah mendarat di dada Demian saat itu juga.
"Jessica..., aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu. Aku tau kau tidak mungkin seperti itu. Aku salah, aku mengatakan hal-hal yang salah. Karena itu, sekarang aku menyesal. Namun, sama sekali, tidak pernah ada di pikiranku kalau kau adalah orang seperti itu."
"Kata-kata dan kesimpulan itu tidak akan pernah keluar dari mulutmu kalau kau tidak berpikir seperti itu. Well, mau bagaimana lagi, ini bukan pertama kalinya aku dihina seperti ini. Kau dan kekasihmu itu sudah pasti berbagi pikiran yang sama. Tidak mengherankan!"
Ya ampun, kekasih? Apa karena semalam? "Angela bukan kekasihku."
"Maafkan aku, aku tidak peduli."
Jantung Demian rasanya seperti diremas oleh tangan tak kasat mata. Sepasang iris emerald yang kerap menatapnya penuh keramahan, sekarang mendingin kelam. Rasanya sangat menyakitkan. Demian sama sekali tidak menginginkan ini.
"Jessica, apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?"
"Apa kau sudah siap memesan atau tidak, sir?" Jessica mempertahankan profesionalitasnya kendati sekarang ia masih merasa kesal setiap kali ia menatap wajah Demian. Bayangan pria itu yang bercumbu dengan Angela bermain di benaknya, menusuk-tusuk otaknya dengan imajinasi menjijikkan dan menyakitkan.
'Dia pasti menghabiskan malam dengan Angela dan datang ke sini seperti pria tak berdosa.' Jessica semakin marah.
Maksud Jessica, jika Demian sudah mempunyai Angela di hidupnya sekarang, mengapa dia masih menguber-uber kaki Jessica seolah-olah ia tidak ingin melepaskan Jessica? Apa dia tidak serius dengan Angela? Atau dia memang bajingan yang senang mempermainkan hati wanita?
Cih.
Yang mana pun itu, Jessica tidak akan memberikan pengampunannya dengan mudah.
Seperti pesan Dania, Jessica akan menyiksa batin pria itu. Buat dia marah dan menyesal.
"Haaaa.." Demian mengembuskan napas berat. "Buatkan aku kopi hitam, satu."
Mendengar pesanan Demian, Jessica pun segera membuat pesanan pria itu.
Mereka berdiri berseberangan dengan sebuah meja panjang terbentang setinggi dada. Mereka berada cukup dekat di sana, tapi tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir mereka.
Demian tidak mampu mengatakan apa-apa. Tidak ketika ekspresi Jessica menunjukkan kalau dia masih murka. Jessica juga, enggan bersuara lantaran ia takut hatinya melunak.
"Jesse..." Dari arah dapur, Ethan akhirnya menampakkan diri. Si barista yang sekarang beraroma seperti biji kopi itu muncul dan bergabung dengan Jessica di balik meja. Ia sesekali melempar lirikan ke arah Demian.
"Maaf sudah menyibukkanmu." kata Ethan.
Senyum Jessica seketika mekar tipis, "Kau tidak menyibukkan siapa pun."
Melihat Jessica bicara dengan Ethan dengan ekspresi santai dan senyum yang mengembang ringan, Demian jadi menelan kekesalan. Jika saja mulutnya tidak bicara sembarangan kemarin, Jessica mungkin akan memperlakukannya dengan cara yang sama. Emerald itu akan melunak kepadanya dan senyum manis itu akan tumpah untuknya.
Aaaaah, keparat! Sekali lagi, Demian memaki dirinya sendiri.
"Anyway," Jessica melepas apron yang ia kenakan dan menaruhnya di atas meja. "Aku akan keluar seharian hari ini, jika ada sesuatu yang urgen, silakan menghubungiku."
"Kau..." belum sempat Ethan menyelesaikan ucapannya, Demian duluan memotong bicara.
"Kau akan kemana?" tanyanya, suara besar.
Jessica melempar tatapan heran ke arah Demian sebentar.
"Bukan urusanmu," sahutnya, dan itu membuat Demian membeku tak terima. Lehernya seperti habis menelan sebilah pisau. Ia kesulitan bicara kendati hatinya menjerit marah.
Demian marah pada Jessica yang tidak mau memaafkannya, dan sangat marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menyalahkan Jessica.
Sekali lagi, yang salah di sini adalah dirinya sendiri.
TSK!!!!
*
__ADS_1