
Setelah ditolak mentah-mentah oleh Jessica, pelarian Demian adalah Bronze. Demian butuh alkohol untuk mengobati pahit yang kini dialaminya. Demian kehilangan tenaga. Ia uring-uringan dengan penampilan kering kerontang. Rambutnya acak-acakan, mata cekung dan ekspresi yang keruh.
Demian tidak menyangka ketergantungannya terhadap Jessica sudah mengakar kuat sampai diabaikan oleh gadis itu membuatnya kalut. Demian tidak sanggup dengan segala silent treatment yang Jessica berikan padanya.
Demian lebih rela bila gadis itu memakinya, meneriakinya dan memukulnya daripada mendiaminya.
Haaaaah, ujung-ujungnya, Demian hanya bisa menghela napas.
Ini sudah hari ketiga, dan cara sepasang emerald itu menatapnya masih sama. Jengah, lelah, benci dan sarat akan iritasi. Jessica--tidak peduli betapa keras Demian berusaha mengajaknya bicara--hanya memberikan ekpsresi dingin tak berminat. Dia bahkan tidak bicara.
Rasanya, kepala Demian akan meledak saat itu juga.
"Apa yang dia mau memangnya? Apa permintaan maafku kurang tulus, kurang panjang? Apa aku harus meringkuk di kakinya agar dia mau memaafkanku?" Demian meracau setengah teler.
Sebotol wine berada di genggaman tangannya, dia minum langsung dari sana.
"Tugasmu hanya meminta maaf, apakah orang itu akan memaafkanmu atau tidak bukan kau yang memutuskan. Toh, yang merasa sakit adalah orang itu, bukan kau." Oscar yang kala itu mendengar racauan Demian, menyambung.
"Apa aku tidak sakit? Apa kau pikir aku baik-baik saja?"
"Kau sakit karena kesalahanmu sendiri, dia sakit karena kesalahanmu. Kau tidak bisa membandingkan dua hal itu." Oscar merebut botol wine dari tangan Demian dan menaruhnya ke atas meja kaca. Oscar tidak mau wine itu tumpah dan mengotori karpet barunya.
"Dengar, Demian..., daripada memikirkan apa maunya Jessica, kau seharusnya berpikir apa mau dirimu sendiri?" Oscar kali ini serius.
"Mengesampingkan kau sudah berkata kasar padanya, kau harus bertanya pada dirimu sendiri..., apa akar dari masalah ini? Kau yang sudah berkata kasar dan melarangnya bertemu Jake..., semua ini karena apa?"
"Karena Jake bajingan, apa lagi?"
"Bego! Kau berpikiran dangkal." Oscar jadi gemas sendiri. Rasanya mencubit pipi Demian dengan tang akan cukup untuk melampiaskan kegemasannya.
"Dibandingkan Jake, kau lebih bajingan daripada segala bajingan. Apa kau tidak sadar diri? Dari penilaian objektif, kau adalah sosok yang sangat tidak pantas dekat dengan Jessica."
"Apa kau menghinaku sekarang?"
"Maksudku, Demian..., jika hanya karena Jake bajingan, itu tetap bukan urusanmu untuk ikut campur. Kau saja membiarkan Angela berpacaran dengan Jake, mengapa Jessica tidak boleh? Mengapa kau begitu posesifnya terhadap perempuan yang bukan siapa-siapa?"
"Itu karena..."
Karena...
"Itu yang harus kau pikirkan," tandas Oscar kemudian. "Kau harus jelas terhadap dirimu sendiri untuk bisa berkomunikasi dengan lebih baik."
"Mengapa kau tiba-tiba puitis?" Demian agak takjub dengan ucapan Oscar yang seperti relationship guru. Dia cocok menjadi psikolog andai saja dia tidak candu berjudi.
"Aku prihatin kalau hal-hal senormal itu kau anggap puitis," Oscar mendecih. "Tidak mengherankan kalau sekarang kau jadi berantakan dan uring-uringan, hal dasar dalam berhubungan saja tidak sampai ke nalarmu, bagaimana bisa kau berharap Jessica akan memaafkanmu. Tolol!"
"Aku baru memujimu sekali dan kau sudah menghujaniku dengan makian."
"Aku tidak akan memakimu kalau kau tidak tolol." Oscar berdiri dan memperbaiki kemeja hitam yang ia kenakan. "Sebaiknya kau jernihkan pikiranmu dan mandi, prioritaskan mandi. Aku sangat benci melihatmu di Bronze dengan penampilan seperti gelandangan. Kau merusak imej casino-ku."
__ADS_1
"Berisik!"
*
Keesokan harinya, tanpa pernah jera, Demian kembali menapakkan kakinya di Elixir. Demian butuh bertemu Jessica untuk meningkatkan semangatnya. Walau gadis itu akan menatapnya penuh kebencian dan ketidak-senangan, itu lebih baik daripada tidak melihat Jessica sama sekali.
Setelah merapikan kemeja flanelnya, Demian pun memasuki pintu masuk Elixir. Dania--seperti biasa--menatapnya dengan ejekan kentara. Gadis itu bersenang-senang di atas penderitaan Demian.
Demian merasa, kemungkinan besar, Dania adalah orang yang berkontribusi dalam meracuni otak Jessica supaya tidak memaafkannya.
Well, apa pun itu..., Demian tidak akan mundur.
"Selamat datang di Elixir," sapa Dania. Ia tidak bertanya macam-macam karena Dania sudah hapal mati kemana tujuan Demian setelah ini. Dia pasti akan ke konter, memesan kopi dan mencari Jessica.
'Bodoh, kedatanganmu sia-sia.' Dania membatin jenaka. Hari ini Jessica tidak ada di Elixir, Demian hanya membuang waktunya untuk datang.
"Demian..." belum beberapa langkah Demian berjalan memasuki Elixir, suara ramah Angela menyapanya. Melihat Angela yang berlari menghampirinya, Demian teringat pada malam ketika gadis itu memberikan satu ciuman di bibirnya.
Itu adalah kecupan yang datang tiba-tiba. Demian terpana dan kesulitan mencerna situasinya. Hingga kemudian Demian menyadari kalau Angela menginginkan lebih dari sekedar ciuman, Demian pun menarik dirinya mundur dengan ketidak-senangan.
"Maafkan aku, Angela. Kurasa itu mustahil." adalah tanggapan Demian malam itu, sebelum meninggalkan gadis itu berjalan pulang sendirian.
Demian mungkin menaruh rasa pada Angela, tapi itu tidak berarti ia akan melakukan apa saja yang wanita itu inginkan. Terlebih ketika Angela mengajaknya berhubungan badan.
Membayangkan dirinya terbelit dengan Angela di tempat tidur--entah bagaimana--malah membuat Demian merinding.
Sangat aneh dan tidak masuk akal.
"Bagaimana kabarmu?" Angela bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara mereka.
Senyum riang yang melekat di bibirnya menandakan kalau ia sudah melupakan apa yang terjadi malam itu, atau mungkin, dia berusaha melupakannya. Apa pun itu, Demian lebih tertarik pada konter tempat Ethan sedang bekerja tekun.
Di mana Jessica? Biasanya gadis itu akan duduk di sana sambil menyantap sarapannya.
"Demian?"
"Hmm?"
"Apa kau tidak mendengarkanku?" Angela turut bingung. "Aku menanyai kabarmu barusan." Ia mengakhiri ucapannya dengan cemberut.
Haaa~
Demian menghela napas panjang.
Demi tidak membuat Angela marah, Demian pun menurunkan pandangannya kepada Angela yang masih setia memanyunkan bibirnya. "Aku hanya kurang fokus, Ange. Kurasa aku sangat butuh kopi sekarang."
"Karena kau sering kemari, kau jadi kecanduan kopi. Hehehehe." Angela tersipu. Di pikirannya, kecanduan Demian dikarenakan pria itu yang kerap mengunjungi Elixir untuk menemuinya. Demian benar-benar lebih baik dari Jake Allendale.
"Yah..., aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Kopi di sini memang mempunyai cita-rasa yang istimewa." Terlebih bila itu kopi buatan Jessica, Ingatan Demian secara natural memutar kenangan tentang Jessica ketika gadis itu berdiri di balik mesin kopi Aroma strawberry di tengkuknya, hangat dan halus tubuhnya, dan yang paling berkesan adalah, sikutan kuatnya.
__ADS_1
Sungguh nostalgia. Betapa Demian berharap ia mampu kembali ke situasi itu kembali.
"Angela, aku akan ke sana sebentar. Kau..., aku tidak mau menginterupsi pekerjaanmu."
"Ah, baiklah." Angela merasa sedikit tak senang ketika Demian menarik diri dari hadapannya. Walau itu untuk kebaikannya sendiri karena sekarang masih jam kerja, Angela hanya merasa Demian terlalu pengertian. Pria itu sangat memikirkannya.
Setelah memisahkan diri dari Angela, Demian pun menghampiri Ethan.
Satu-satunya pria yang buta terhadap kaitan Demian dan Jessica itu menyambut Demian dengan seulas senyum sopan. "Selamat datang, Demian. Apa kau akan memesan kopi hitam seperti biasa?"
"Mm," Demian mengangguk. "Kau sendirian?"
"Begitulah." sahut Ethan.
"Bagaimana dengan Jessica?" Demian tidak mau mengulur waktu. Menyembunyikan keingintahuan dan bermain tarik ulur sudah sangat melelahkan. Demian hanya ingin tau keberadaan Jessica sekarang. Mengapa gadis itu sering keluar sendirian? Apa dia tidak takut terjebak hujan lagi?
"Jake menjemputnya tadi pagi," kata Ethan, seakan-akan ucapannya bukan sebilah pedang yang menikam dada Demian. "Kurasa mereka pergi berkencan..., kau tau. Hari ini adalah hari minggu."
Hari minggu adalah harinya sepasang kekasih menghabiskan waktu berdua. Demian tau itu, tapi Demian sama sekali tidak tau kalau Jessica adalah kekasih si Jake-keparat-Allendale. Tidak, sudah pastinya mereka tidak berkencan!
Itu omong kosong menjijikkan.
"Apa kau tau kemana mereka pergi?" Demian menahan keki.
"Untuk apa aku tau hal semacam itu?" Ethan tertawa ringan.
"Temanmu sedang berkencan dengan pria yang tidak kau kenali latar belakangnya dan kau malah bersikap santai."
Kemana perginya sikap protektif kawan-kawan Jessica? Mengapa mereka memperlakukan Jake seperti pria normal yang tidak berbahaya sementara Demian memperoleh segala hujan kebencian mereka?
"Mereka akan pulang sore nanti. Apa masalahnya?"
Masalahnya adalah...
Tidak, ini bukan tentang Jake sama sekali.
Demian, apa yang hatimu inginkan?
Demian memejamkan mata, menahan amukannya agar tidak lepas di sana. Tanpa kata, ia langsung beranjak dari hadapan Ethan yang baru saja menyerahkan segelas kopi untuknya.
"Oi, kau mau kemana?" Ethan terperangah.
Siapa yang akan meminum kopi Demian sekarang kalau si pemesan sudah melesat keluar dengan kaki-kakinya yang panjang?
"Sangat aneh," Ethan menghela napas. "Kecemburuannya begitu kentara sekarang. Itu menakutkan."
"..."
"Jessica, apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa kau melibatkan dirimu dengan pria sepertinya?"
__ADS_1
*