MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
67. Permainan Oscar.


__ADS_3

Erthian Bellamy sedang membaca laporan dari Oscar. Laporan mengenai orang-orang yang sekarang mengorbit di sekitar Demian. Terutama Angela.


Secara menyeluruh, tidak ada hal yang menarik dari laporan-laporan itu. Kebanyakan orang-orang yang berinteraksi dengan Demian sejauh ini hanya orang-orang tidak penting. Angela termasuk di dalamnya.


Keberadaan gadis itu begitu lemah untuk bisa menjadi...


"Apa ada yang salah?" Oscar--sebagai informan--menatap Erthian yang sejak tadi menampilkan ekspresi gundah. Sesuatu sedang menyumbat otaknya, pikir Oscar, dan Oscar mau tau apa itu.


"Pekerjaanmu sama sekali tidak salah, tapi pekerjaanmu juga tidak memuaskan."


"Huh?" Apa-apaan?


Kalau pekerjaannya dihina, Oscar sudah pasti tersinggung.


"Apa kau yakin kau adalah pemegang jaringan informasi terkuat di kota ini?" Erthian meragu, walau sebenarnya ia sudah mendengar rumor tentang Oscar di sana-sini menyangkut kemampuannya dalam mengumpulkan informasi.


"Aku tidak tau apa yang kau cari. Bukankah kau menginginkan informasi menyangkut orang-orang yang terlibat dengan Demian? Aku sudah memberikan semuanya. Lagipula, selama ini di Vegas, adikmu itu tidak mengasosiasikan dirinya dengan banyak orang."


Ucapan Oscar menyimpan kebenaran. Namun, seperti yang Erthian katakan, itu tidak memuaskan. Seperti ada yang kurang, yang salah.


"Selama Demian di Vegas, dia menghabiskan waktunya sebagai pesuruhku. Dia bertemu dengan beberapa klienku, tentunya. Namun, bisa kupastikan, interaksi mereka tidak pernah berjalan baik." Setau Oscar, setiap selesai melakukan pertemuan dengan klien Oscar, Demian selalu babak belur.


"Jika kau bisa lebih spesifik menyangkut orang yang ingin kau cari, maka aku akan berusaha lebih keras lagi." Oscar melanjutkan ucapannya, kali ini sambil mencomot sebiji anggur di meja.


Sepasang manik licik Oscar berkilat jenaka. Seakan-akan ia sedang bermain kartu di sana, dan lawannya--Erthian--sudah tersudutkan. Oscar menginginkan kartu yang Erthian pegang, rahasia-rahasianya. Oscar ingin tahu alasan mengapa si sulung Bellamy itu berada di kotanya. Oscar ingin...


"Jangan terlalu ambisius, Oscar Brown." Erthian mendongak dari berkas di tangannya. Ia menatap wajah informannya tersebut dengan seulas seringai terpatri tipis di wajahnya.


"Tugasmu di sini hanya memberikan informasi padaku, bukan mendikteku."


"..."


"Jika aku memang memerlukan sesuatu, aku akan mengatakannya padamu. Sekarang, kau bebas pergi. Aku harus beristirahat."


Erthian kemudian melabuhkan setumpuk berkas yang Oscar serahkan padanya ke atas meja. Ia yang bersilang kaki di sofa mengibaskan ujung jarinya sebagai bentuk pengusiran terhadap Oscar.


Oscar--tentunya--tidak terpicu sama sekali atas sikap Erthian yang terkesan arogan. Oscar sudah tau tabiat anak-anak Bellamy itu. Toh, selama ini ia sudah mengasuh satu. Menambah satu Bellamy lagi ke bawah sayapnya tidak akan memberikan pengaruh yang berarti lebih.


Setelah menerima pengusiran dari Erthian, Oscar pun undur diri dari kamar hotel tersebut. Ia--sebagai owner di tempat itu--segera disambut penuh hormat di lobi oleh para pekerjanya. Sebagai tanggapan, Oscar memberikan mereka lambaian tangan ringan yang menyiratkan keramahan. Sesudahnya, Oscar pun menyapa Adam yang menatapnya penuh kejijikan.


"Jangan buat aku mencongkel matamu, Adam." Oscar memberi peringatan jenaka sementara Adam membukakan pintu mobil untuknya.


"Maafkan aku, aku hanya tidak terbiasa melihat ekspresi palsumu itu." Adam lalu menyusul masuk. "Kau terlihat seperti manusia normal di sana, aku merasa iba pada mereka. Mereka tidak tau kalau mereka mengabdikan diri kepada iblis."


"Kalau begitu kau juga iba pada dirimu sendiri, kaki tangan iblis."


"Kurasa begitu..." Itu agak ironis. "Jadi, bagaimana pertemuanmu dengan si sulung Bellamy itu?"


"Seperti yang kuduga, dia tidak gampang untuk dipermainkan."


"Lagian, untuk apa kau mempermainkannya?"


"Adam, Mempermainkan manusia adalah bentuk perjudian lain..." Oscar terkekeh. "Dia mempunyai insting yang tajam, aku bisa mencium intensinya dari kejauhan..."


"Intensi?"


Oscar menyeringai tipis. "Alasannya datang ke Vegas, kupikir aku bisa mengeliminasi beberapa kemungkinan setelah melihat ekspresinya hari ini."


"Apakah karena itu kau memutuskan mengantar berkas itu sendiri?" Sebenarnya, Oscar bisa menjadikan Adam kacungnya seperti biasa. Namun, Oscar memilih mengantar berkas itu sendiri.


"Habisnya, kau tidak punya mata yang bagus, Adam."


"Aku cukup sayang dengan mataku," tukas Adam. "Aku tidak mau melihat dunia dari sudut pandangmu."


"Tidak seru!"

__ADS_1


"Hanya kau yang menganggap mempermainkan orang sebagai keseruan."


"Salah, ya?"


"Apa itu perlu dipertanyakan?" Kalau Oscar bukan bosnya, Adam mungkin melempar bosnya itu ke dalam bendungan Hoover untuk dijadikan tumbal proyek. Dia iblis, serius, iblis!


"Anyway...," Malas meladeni Adam yang ujung-ujungnya akan menghina kepribadiannya, Oscar mempunyai inisiatif lain. "Bawa aku ke Elixir," perintahnya kemudian. "Aku sudah lama tidak bermain dengan bonekaku."


"Boneka, huh?" Sejak kapan Jessica Cerise menjadi boneka, ya Tuhan?


"Karena dia imut dan menggemaskan, dia terlihat seperti boneka."


"Iya, terserah." Pasrah sudah pasti menjadi pilihan paling tepat dalam meladeni kegilaan bosnya yang tiada akhir.


*


Hari ini, untungnya, Demian tidak datang.


Setelah kejadian kemarin, ketika Jessica mengusir pria itu, Demian nampak sendu. Jessica sampai mengira--mungkin saja--ia telah salah dalam bicara dan melukai Demian dalam prosesnya. Namun, setelah Jessica memikirkan situasinya kembali, berulang-ulang, Jessica tidak merasa ada yang salah dari tindakannya.


Secara rasional, sudah benar ia mengusir Demian yang bersikap kurang ajar terhadap tamunya. Perilaku itu sangat tidak diterima di Elixir yang terkenal dengan imej tentram dan nyaman. Jessica tidak mau menodai tempat kerjanya dengan mentolerir kekejaman. Meskipun itu adalah Demian...


Tapi rasanya menyakitkan. Ditatap penuh kekecewaan oleh sepasang manik kelam itu seakan ia telah membuat pilihan yang salah.


Kejam!


Demian begitu kejam.


'Mengapa dia bersikap seakan-akan dia terluka?' Jessica membatin kesal.


Padahal, pihak yang harusnya terluka di sini adalah Jessica. Dia sudah dihina, patah hati, dan sekarang, pria yang dia sukai malah membully temannya. Jake Allendale tidak salah apa-apa ketika Demian mengganggunya.


Jika Jessica berada di posisi Jake, Jessica mungkin akan sangat marah. Untungnya, Jake mempunyai kontrol emosi yang tinggi. Dia memaklumi ulah Demian dan sempat-sempatnya, menenangkan Jessica.


Apa-apaan, ya? Mengapa pria di Bumi tidak seperti Jake Allendale saja? Demian..., dia seharusnya mencontoh Jake.


"Lama tidak mampir, bapak Oscar."


"Siapa yang kau panggil bapak? Apa aku kelihatan seperti bapak-bapak?"


Jessica tertawa garing. "Hanya bercanda..., cowok babyface sepertimu lebih seperti remaja belia daripada bapak-bapak."


"Babyface?" Oscar baru pertama kali mendengar orang mengatakan itu menyangkut wajahnya.


Biasanya, kebanyakan orang akan mengatakan wajahnya menjijikkan dan memuakkan. Terutama Adam, Adam saja sampai eneg saat melihatnya tadi pagi.


"Mm, babyface." Jessica memberikan tanggapan sambil memasang ekspresi agak bimbang. Apa ada yang salah? Mengapa eskpresi Oscar terlihat rumit?


"Apa itu jenis hinaan lain?" Oscar menyuarakan kebingungannya.


Tentu saja, Oscar tidak tolol untuk tidak mengerti maksud kata babyface. Dalam artian umum, itu berarti dia mempunyai wajah yang awet muda. Namun, karena selama ini dia lebih sering dihina, Oscar tidak mau salah mencerna ucapan Jessica sebagai pujian.


Lagian, bisa saja itu hanya ejekan sarkastik, kan? Mungkin Jessica tidak sungguh-sungguh?


"Eh, bagaimana bisa itu hinaan?" Jessica agak terkesiap atas pertanyaan Oscar. "Itu pujian, loh. Pujian. Habisnya, kau terlihat sangat muda..., seperti remaja di awal usia 20-nya. Aku tidak bermaksud negatif. Serius."


Bagaimana mungkin Jessica bermaksud negatif kepada pria yang sudah menjadi superhero di cafenya? Sejak Oscar memberi review menyangkut Elixir di blognya, pendapatan Elixir meningkat dua kali lipat. Pengunjung juga berdatangan, dari lokal hingga turis.


"Jadi begitu, ya? Maafkan aku. Aku jarang mendapat pujian menyangkut wajahku." Oscar jujur di sana. "Kebanyakan kenalanku beranggapan aku mempunyai wajah yang menjijikkan. Hahaha."


"Kenalanmu sudah pasti orang-orang toxic. Kau seharusnya menghindari bergaul dengan orang-orang yang merendahkanmu. Kau sangat baik, kau seharusnya diperlakukan dengan baik."


"Aww..., aku tersentuh." Oscar kembali tersenyum.


Di pikirannya sekarang, Oscar teringat Adam yang sering memakinya. Tidak berarti pria itu toxic atau apa pun, sebenarnya, Adam hanya bicara jujur. Karena itu, meskipun sudah dihina berkali-kali, Oscar tidak tersinggung sama sekali.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, mengesampingkan kenalanku. Mengapa kau sangat mendung? Padahal cuaca di luar sangat terik?"


"Ekspresiku dan cuaca tidak mempunyai kesinambungan apa pun."


"Itu..., kurasa cukup benar. Namun, aku berharap kau lebih ceria karena cuacanya sangat baik."


Jessica mengangguk seraya tersenyum masam. "Oscar..., terima kasih sudah peduli, tapi memang tidak ada yang terjadi, kok. Aku hanya..., mungkin karena tidak ada yang terjadi, aku jadi seperti ini."


"Apa itu artinya, secara default, kau orang yang berekspresi muram?"


"Bisa saja..." Jessica menghela napas jengah. "Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Meskipun ada banyak pekerjaan yang bisa kutangani, aku..., aku hanya tidak mempunyai energi untuk melakukan apa pun."


"Kedengarannya seperti penyakit hati." Oscar meramalkan sesuka hati. "Tidak nafsu makan, nafsu bicara, nafsu bekerja dan nafsu untuk melakukan apa-apa."


"Apa-apaan?" ucapan Oscar membuat tawa Jessica merekah. Sedikitnya, ia merasa konyol atas ucapan Oscar yang bisa dikatakan sebagai..., kebenaran?


Ugh. Memalukan! Mengapa dia seperti ini?


"Jadi..., apa ini karena pria?" Oscar melanjutkan tebakan. "Kau tau, kau tidak perlu membohongiku. Tapi, kalau kau tidak mau membicarakannya, tidak masalah."


"..."


"..."


"Aku mungkin tidak mau membicarakannya." Jessica mengaku. "Demi kebaikanku, aku tidak ingin membicarakannya."


"Beberapa hal memang lebih baik tidak dibicarakan, tapi..., beberapa hal lain perlu dibicarakan semata-mata untuk memperoleh kelegaan."


"Menurutmu begitu?"


Oscar mengangguk. "Kau hanya perlu memilah dan memilih hal yang ingin kau bicarakan dan tidak. Kau juga bisa menyampaikan cerita tanpa menuangkan detail ke dalamnya. Hanya seperti kepingan-kepingan puzzle..."


Jessica mendengarkan penuturan Oscar yang selalu berhasil membuatnya terkesima. Pria itu, dia selalu pandai dalam memberikan Jessica petunjuk.


"Kalau begitu..., tanpa menebak apa pun. Bisakah kau memberikanku tanggapan yang jujur?"


"Kurasa..., tapi ucapanku tidak akan membantu. Toh, pendapat adalah sesuatu yang subjektif. Semuanya akan kembali pada dirimu sendiri."


"Meskipun begitu, aku ingin mendengar jawabanmu."


Karena Oscar adalah sosok yang bijak, Jessica ingin tau..., apa pendapat Oscar mengenai situasinya sekarang. Jessica ingin mencari pembenaran atas pilihan yang sudah ia buat. Pembenaran atas keputusannya untuk move on dari Demian.


Senyum Oscar kembali merekah. "Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?"


"Umm..., begini..., menurutmu..., apakah menyerah adalah pilihan yang tepat..., maksudku, ketika kau tau kau tidak akan berhasil, apa menurutmu sebaiknya..., aku menyerah?"


Demian adalah pria yang berada di luar jangkauan tangan Jessica, sekarang. Menginginkan cintanya ketika dia sudah memiliki wanita lain di benaknya, itu adalah kesalahan.


Jessica tau benar jawaban untuk pertanyaannya. Namun, suaranya sendiri tidak cukup. Jessica ingin lebih banyak suara menariknya menjauh dari jurang keputus-asaan itu. Jessica ingin, tidak hanya logikanya, tapi hatinya juga, sadar atas kesalahannya.


"Menyerah sudah pasti adalah pilihan yang ideal." Oscar memberikan tanggapan dengan santai. "Tapi, kalah setelah mencoba juga mempunyai karismanya tersendiri. Kau menjadi lebih dewasa, lebih berpengalaman dan lebih paham atas kekuranganmu."


"Tapi, bagaimana jika berkeinginan untuk menang pun adalah kesalahan." Menyukai pria yang sudah mempunyai kekasih adalah kesalahan! Jika ia memaksa Demian mencintainya, ia, berarti, melukai Angela dalam prosesnya.


Kemana harga dirinya sebagai wanita?


"Kalau memang sudah ada pemain lain yang menjadi juara, kau sebaiknya menyerah." Oscar mengulum senyuman, racun ia campurkan dalam ucapannya.


"Masih ada banyak permainan yang bisa kau mainkan, Jessica. Jangan terpaku pada satu hal."


Jika Jessica menyerah dari Demian, pikir Oscar, maka itu akan menjadi permainan yang seru.


Oscar ingin melihat bagaimana si bungsu Bellamy itu berusaha mengejar cinta yang sudah dia campakkan tanpa sadar.


Oscar ingin melihat pria itu kesulitan. Karena, sebuah permainan tidak akan seru tanpa tantangan.

__ADS_1


*


__ADS_2