MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
66. Ujian kesabaran.


__ADS_3

"Haaaa~"


Helaan napas Demian lepas dengan lelah. Pria yang melenggang berdampingan dengan beban pikirannya itu--dalam kata lain Erthian--lagi-lagi dipaksa berkunjung ke Elixir. Erthian memaksa ingin pergi ke Elixir dengan dalih menyukai menu breakfast di sana. Dia bahkan mengatakan pada Demian akan pergi sendiri kalau Demian tidak mau mengajaknya ke sana.


Si keparat itu!


Mana mungkin Demian mau melepaskan Erthian seorang diri ke Elixir, siapa yang tau kegilaan macam apa yang akan dia lakukan? Demian tidak mau saudara iblisnya itu dekat-dekat ke Jessica. Demian bisa-bisa membunuh Erthian kalau si keparat itu mendekati Jessica.


Pokoknya tidak boleh!


"Tersenyum sedikit, Demian. Bukankah pacarmu bekerja di sini? Apa katanya nanti kalau dia melihat wajah merengutmu? Sebagai pria, selain kekayaan, ketampanan juga nilai plus yang perlu dipertimbangkan." Jika Demian terus memasang tampang jelek dan kusut, Angela bisa memutuskan Demian. Itu maksud Erthian.


"Jangan mencemaskan ekspresiku, sialan. Kalau kau mau aku tersenyum bahagia, kau seharusnya memintaku mengantarmu ke bandara hari ini."


Serius saja, mau sampai kapan Erthian di sini? Dia tidak berniat menetap lama di Vegas, kan? Dia seharusnya tidak bepergian sembarangan dengan daya tahan tubuh selembek tisu itu.


"Begini saja," kata Erthian, "Setiap kau mengusirku pulang, aku akan menambah jadwal menetapku selama tiga hari di Vegas, bagaimana?"


"Apa-apaan dengan omong kosong itu?"


"Habisnya aku bosan mendengarmu mengusirku."


Erthian membuat Demian bungkam.


Dibandingkan Demian, Erthian adalah pria yang lebih lihai dalam bermain kata. Dia juga tau cara mengalahkan adiknya itu dalam perdebatan tolol seperti barusan. Jika saja Erthian mampu menyayangi Demian dengan ketulusan dan kewajaran, Demian mungkin akan menganggap pria itu sebagai saudara yang menyenangkan.


Sayangnya, dia gila.


"Sarapannya sudah dataaaang..." Dengan suara ceria, Angela muncul dari belakang dengan membawa nampan besar berisi sepiring pancakes banana, secangkir americano dan secangkir kopi hitam biasa.


Keramahan Angela yang memperlakukannya seperti bocah membuat ekspresi Erthian berubah. Erthian menoleransi keramahan, tapi tidak keakraban artifisial (palsu) yang Angela umbar.


"Selamat menikmati sarapannya," kata Angela lagi. Ia melirik Demian sekilas dan senyum ramahnya perlahan mengendur hambar.


"Demian, aku kembali ke belakang," pamit Angela.


Demian mengangguk tanpa bicara.


Setelah apa yang terjadi semalam, merupakan kewajaran bila Angela menjadi agak canggung terhadapnya. Mengingat situasi itu juga..., Demian kembali menghela napas lelah.


Demian begitu mengapresiasi bantuan Angela menyangkut Erthian, jujur saja. Demian juga berterima kasih karena Angela menyadari dan mengapresiasi keberadaannya selama ini.


Namun, meskipun mereka salin bertukar penghargaan, bertukar perasaan adalah situasi yang tidak mungkin sekarang.


"Maafkan aku Angela, aku..., untuk beberapa alasanku sendiri, tidak bisa menjadikanmu kekasihku yang sungguhan. Karena posisi itu hanya untuk orang yang aku cintai, dan sekarang..., perasaanku padamu sudah tidak seperti itu."


Demian bicara penuh keseriusan semalam, dan kehati-hatian. Demian tidak mau terdengar kasar dan jahat kepada Angela. Gadis itu merupakan sosok yang berharga baginya, dan hanya karena perasaan Demian sudah berpindah ke Jessica, itu tidak membuat Demian bisa mengabaikan Angela sepenuhnya.


"Kau sekarang, di hatiku, layaknya seorang sahabat."


Untungnya, setelah mengutarakan isi hatinya kepada Angela dengan kesungguhan dan ketulusan, Angela menerima ucapannya dengan tangan terbuka.


Gadis itu malah mengatakan kalau perasaan Demian tidak bisa disalahkan, dan dia akan tetap membantu Demian berpura-pura menjadi pacar di depan Erthian.


Angela benar-benar gadis baik.

__ADS_1


*


Sementara Erthian menyantap sarapannya, Demian tanpa sadar sudah berpangku dagu di meja. Sepasang iris kelamnya menyorot ke arah meja bar yang hampa oleh keberadaan Jessica. Tumben-tumbennya dia tidak ada di sana.


Sepengetahuan Demian, Angela adalah tipe gadis yang kerap bangun pagi untuk membantu Ethan membuka cafe. Setelah itu, dia akan duduk di meja bar sana, duduk manis menyantap sepiring waffle strawberry.


"Selamat datang di Elixir," suara Dania yang menyambut tamu terdengar sampai ke telinga Demian.


Karena Elixir cukup senggang pagi ini, sedikit berisik menjadi nyaring.


"Waaah, seseorang ganti penampilan, kau menjadi sangat tampan." Dania memuji penuh apresiasi.


"Hahaha, aku hanya mencoba memakai pomade sedikit." suara itu--jika bukan karena suara itu--membuat Demian menoleh.


Jake Allendale memasuki cafe, mengenakan kemeja hitam yang lengannya di gulung hingga siku, celana hitam dan sepatu loafer hitam mengkilap. Rambutnya yang biasa menjuntai lembut, sekarang dipomade dan disugar kebelakang, memamerkan dahi dan keningnya yang membuat dia semakin mempesona.


"Apa yang si keparat itu lakukan di sini?" Demian tanpa sebab mulai memaki.


Erthian yang duduk berseberangan dengannya jadi heran.


"Kau terlihat seperti hendak berkencan dengan penampilan barumu, aku jadi curiga kau datang kemari dengan maksud tertentu." Dania menggoda Jake dengan tatapan meledek.


"Mana mungkin, aku hanya ingin minum kopi sebentar."


"Aww, jangan sebentar. Menetaplah lebih lama, bosku akan turun sebentar lagi. Dia kesiangan hari ini."


Dania--menyadari tatapan tajam Demian--sengaja mengangkat topik yang ia tahu benar akan membuat otak Demian mendidih.


"Waaaah. Jika Jessica melihat penampilanmu, aku takut dia akan jatuh cinta..., habisssnyaaaa..., kau sangat tampan hari ini."


"Ohoo, apa itu pacar Jessica?" Erthian yang ada di sana turut mendengar puja-puji Dania. Dia melempar tatapan menyelidik ke arah Demian yang menunjukkan kebencian.


"Dia bukan pacar Jessica," Demian menampik pertanyaan Erthian dengan intonasi yang menyiratkan kejijikan. Mana mungkin si keparat itu akan menjadi pacar Jessica. Demian akan mengirim pria itu ke neraka kalau situasi itu sampai terjadi.


"Demian, apa kau dan Jessica dekat?"


"Ada apa dengan pertanyaan tolol itu?" Demian menatap Erthian, darahnya mendidih. Jika bukan karena Erthian, Demian tidak perlu berada di situasi gila ini. Dia tidak perlu..., menahan diri!


"Itu tidak tolol kalau itu kebenaran."


"Kebenaran my head." Demian mendengus keki. "Dia hanya owner cafe ini. Kami mungkin berbicara beberapa kali, tapi itu tidak berarti kami dekat!"


Dusta itu terasa menyakitkan untuk Demian. Jika bisa, jika Erthian bukan kembaran setan, Demian ingin agar seluruh dunia tau kalau dia dan Jessica sangat dekat. Namun, itu kemustahilan sekarang. Demian tidak ingin menaruh Jessica dalam bahaya.


"Kalau kalian tidak dekat, kenapa kau sangat marah terhadap pertanyaanku? Tidak, kau sudah marah saat melihat pria barusan datang."


"Aku tidak marah. Aku hanya sedikit jengkel melihat bajingan itu di sini."


"Aku tidak tau kalau jengkel dalam kamusmu setara dengan ingin mematahkan leher orang lain."


"Berhenti menafsirkan reaksiku berlebihan." Walau Demian tidak menyangkal, dia memang ingin mematahkan leher Jake sekarang.


Demi tidak membuat Erthian menarik kesimpulan aneh di otaknya, Demian mau tidak mau memberikan penjelasan tambahan atas reaksinya barusan.


"Aku tidak menyukainya karena dia adalah mantan pacar Angela. Dia sudah membuat Angela menderita, karena itu, melihatnya di sini membuatku ingin membunuhnya."

__ADS_1


"Bunuh saja kalau begitu."


"..."


"Jika Angela sungguh-sungguh mencintaimu, kau seharusnya tidak menaruh kejengkelan berlebihan pada pria yang sengaja kau biarkan hidup. Kalau dia memang membuatmu marah, singkirkan. Namun, kau tidak menyingkirkannya. Bukankah itu berarti kau akan mengompensasi keberadaannya? Meskipun itu menjengkelkan?"


"Shut up!" tukas Demian. Mendengar saudara sintingnya itu bicara, Demian jadi teringat alasannya melarikan diri dari Italy. Sungguhan, Demian bersyukur ia tidak perlu terbenam terlalu dalam di kehidupan suram itu. Jika tidak, ia mungkin akan mempunyai mindset yang sejalan dengan Erthian.


Menepiskan petuah menyimpang Erthian, sekarang sosok yang sudah dicari-cari Demian datang. Jessica--dengan raut muram--turun dari kamarnya. Sebuah croptop hitam melekat di tubuhnya, menggantung rendah dan memamerkan perutnya. Celana jeans longgar dengan warna yang senada dengan croptop-nya, membingkai pinggang kecil dan kaki jenjangnya.


Saat melihat Jessica, sebuah tanya mencuat di benak Demian begitu saja.


'Siapa gerangan yang mengajarkan Jessica berpenampilan demikian?'


"Oh, oh, oh..., Jesse, kau memakai pakaian dengan warna yang sama dengan pakaian Jake," Dania bereaksi dramatis. "Apakah ini yang dinamakan takdir?"


"Apanya yang takdir?" Jessica menatap sobatnya itu dengan geli. Bukannya barusan Dania yang mengiriminya pesan dan memaksa ia untuk memakai pakaian ini? Kenapa dia bertingkah seperti orang gua yang baru pertama kali melihat api?


"Ini sih sudah pasti jodoh, aku percaya ini jodoh! Iya, kan, Ethan?" Dania menarik Ethan ke dalam dramanya. Jake yang berada di sana--menyaksikan keriuhan Dania--hanya memamerkan cengiran tipis di parasnya. Jake tidak keberatan.


"Selamat pagi, Jesse." Jake menyapa Jessica sambil melambaikan sebelah tangannya. "Bagaimana kabarmu hari ini?"


"Cukup baik, kurasa?" Jika menangis semalaman berarti baik. Maka Jessica merasa cukup baik hari ini.


"Sepertinya pertanyaanku sudah salah, ya?" Tanpa aba-aba, Jake tiba-tiba saja melabuhkan jemarinya di wajah Jessica. Ia menyentuh lembut lingkar hitam yang membingkai sepasang iris emerald itu. "Rasanya seperti berkaca pada diriku bulan lalu."


"Apa kau menghinaku sekarang?" Jessica tersenyum masam. Saat itu pun, kendati tangan Jake menyapu pipinya lembut, Jessica tidak memberikan reaksi apa pun. Pikiran Jessica tidak benar-benar berada di sana, ia masih terbenam dalam nelangsa.


"Mau jalan-jalan denganku hari ini?" Jake menawarkan diri sebagai pelipur lara.


Walau Jake tidak tau apa yang sedang menimpa Jessica sampai gadis itu menjadi muram, Jake merasa sekarang adalah kesempatan yang baik untuk mengambil poin tinggi di hati Jessica. Mungkin ia bisa membuat Jessica terlena atas perhatian dan kelembutannya.


"Aku tidak tau, rasanya aku hanya ingin tidur seharian hari ini. Aku sangat lelah dan mengantuk."


"Jangan seperti itu, jangan menolakku..." telapak tangan Jake kemudian berlabuh ke pundak Jessica. Ia memberikan remasan ringan di sana, semata-mata agar Jessica menyadari sentuhannya. "Kau sudah membantuku refreshing selama ini. Jadi, biarkan aku memba--AKH!!"


Plak!!


Rasa sakit yang luar biasa mendarat di punggung Jake tepat setelah sebuah tangan terayun dan menampar punggungnya dengan penuh kekuatan. Si pemukul, bukannya merasa bersalah, melanjutkan ulahnya dengan melabuhkan tangannya di kepala Jake.


"Waaaahhh..., seseorang muncul dengan penampilan baru di sini." Demian--sebagai tersangka--mengacak surai cokelat Jake dengan tangannya. "Style macam apa ini? Kau lebih keren dengan gaya rambutmu sebelumnya"


"Keparat..." Jake menjadi keki. "Apa yang kau lakukan di sini?"


Berbeda dari Demian yang sudah memperhatikan Jake dari tadi dengan tatapan elang, Jake baru menyadari kalau ekor Angela itu ada di sini. "Apa kau tidak punya kehidupan di lain sampai aku harus melihatmu setiap kali aku datang ke sini?"


"Jangan bicara seperti itu Jake, bukankah kita kawan lama? Kau harusnya berbahagia melihatku di sini." Demian lalu meraih tangan Jake yang sempat menyentuh Jessica-nya. Ia menatap jari-jari Jake dengan bayangan kalau ia mematahkan habis semuanya.


"Aku sepertinya sudah pernah memberikanmu peringatan untuk tidak bermain-main di sekitar sini, apa yang terjadi? Apa telingamu tidak berfungsi?"


Demian siap merobek mulut Jake saat itu juga. Amarah yang berkumpul di kepalanya layak didihan lava.


"Aku yang mengundangnya kemari," sahutan Jessica tidak Demian antisipasi sama sekali. Demian pun seketika beralih menatap sepasang emerald teduh itu.


"Jake adalah tamuku, jika kau keberatan melihatnya di sini. Aku sarankan kau yang pergi."

__ADS_1


*


__ADS_2