
"Terima kasih sudah datang," kata Ethan.
Ethan berdiri menyapa seorang pria yang datang menemuinya di sebuah cafe yang terletak di ujung Almond Street.
Sekarang sudah jam 5 sore, sekarang adalah jam-jam Elixir menjadi sangat sibuk. Mengingat acara ulang tahun Jessica dilaksanakan pukul 7 malam nanti, segala persiapan harus selesai sore ini juga. Elixir sudah pasti sangat sibuk sore ini dan bukannya membantu Dania mempersiapkan acara, Ethan duduk santai menyesap secangkir kopi bersama Demian Bellamy di cafe lain.
"Sebelum ini, mungkin beberapa waktu yang lalu, tepatnya...," kata Ethan kembali. "Dania memintaku untuk bicara pada Jessica. Dia ingin aku memberikan masukan dan nasihat ini dan itu kepada Jessica mengingat dia menjadi sangat nelangsa."
Demian menyimak ucapan Ethan dalam diam. Hatinya merasa seperti ditusuk duri ketika ia mendengar informasi terkait kondisi Jessica belakangan ini. Demian mengetahui, sedikitnya, ia adalah orang yang mempengaruhi buruknya suasana hati Jessica.
"Aku tau aku harusnya bicara dengannya tapi..., seperti yang kau lihat, aku merasa bicara padamu lebih tepat."
"..."
"Apa kau tau hari ini adalah hari ulang tahun Jessica?"
Demian mengangguk. Dia sudah mendengar informasi itu dari orang-orang Adam. Demian juga sudah menyiapkan sebuah hadiah kecil untuk Jessica. Demian berencana menaruh hadiah itu di balkon kamar Jessica nanti, tanpa perlu menemui gadis itu sama sekali.
"Aku tau," tanggap Demian kemudian.
Senyum Ethan merekah tipis. "Apa saja yang kau ketahui menyangkut Jessica, Demian?"
"Ya?"
"Aku tidak tau kapan kalian mulai dekat, tapi..., sudah pasti sesuatu terjadi..., hubungan kalian berevolusi menjadi lebih dekat juga. Kalian pasti sering bicara, kan? Maksudku, aku tidak ingin ikut campur. Hanya saja, aku mau tau seberapa dalam dan seberapa banyak hal yang dapat kukatakan padamu hari ini."
"Aku..." Demian membuka mulut, tapi ragu untuk menyahut. Dia tidak tau banyak tentang Jessica dan itu memalukan baginya.
Demian mencintai Jessica dan hal-hal yang ia ketahui mengenai gadis itu hanya hal-hal samar saja.
Demian tau dan mengerti gerak-gerik Jessica, ia hapal intonasinya, ia merasa ia sangat mengerti Jessica. Hanya saja..., secara menyeluruh, informasi solid menyangkut gadis itu tidak pernah benar-benar tumpah ke dalam otaknya.
Demian tidak tau apa yang Jessica suka, tidak suka. Apa yang membuatnya marah, apa yang membuatnya sumringah..., Demian tidak memahami hal-hal semacam itu.
"Aku tidak di posisi untuk membicarakan hal-hal yang tidak Jessica bagikan padamu," ujar Ethan.
Melihat reaksi Demian, Ethan sudah tau kalau Jessica tidak pernah menjelaskan apa pun menyangkut situasinya di masa lalu pada Demian. Itu memprihatinkan. Tidak heran mengapa pria itu melakukan hal-hal yang tidak ia ketahui akan berujung melukai Jessica.
"Demian," ucap Ethan. "Jessica yang kau sukai sekarang, dia terlihat sangat mandiri, mempunyai pemikiran yang kuat dan logis, dan sangat baik hati..., tetapi, dia tidak selalu seperti itu."
"..."
"Untuk beberapa waktu, dia adalah sosok yang sangat rapuh. Kau mungkin menyadari ini, kami sebagai sahabatnya menjadi sangat overprotektif jika itu menyangkut Jessica, dan sejujurnya, sikap kami bukan tanpa alasan sama sekali."
__ADS_1
"Apa yang ingin kau katakan, Ethan?" Demian merasa sedikit heran begitu Ethan bicara dengan keambiguan.
Demian memang sempat lupa menggali masa lalu Jessica, mengingat ia tidak pernah ambil pusing menyangkut latar belakang gadis itu juga. Namun, bila Ethan bersikap dan berbicara seperti ini, sesuatu yang sangat buruk mungkin pernah terjadi.
"Aku ingin bicara padamu mengenai Jessica, Demian. Karena aku merasa kau akan lebih paham mengenai apa yang perlu kau lakukan. Kau tau, sebagai sahabat Jessica..., aku ingin mempercayaimu sedikit saja. Kendati teman-temanku sudah mengutuk keberadaanmu, aku tidak mau seperti itu."
Ethan ingin memberikan Demian kesempatan. Sebuah peluang untuk tidak menjadi bajingan.
"Hal yang perlu aku lakukan, apa maksudnya?"
"Aku ingin kau bicara dengan Jessica." pengakuan Ethan membuat Demian nyaris tertawa. Apa Ethan lupa kalau Jessica sangat membencinya sekarang?
"Aku tau permintaanku terdengar konyol, tapi..., bila kau bicara jujur dari hati ke hati dengan Jessica, aku percaya dia akan memberikanmu kesempatan untuk bicara padanya."
Demian menghela napas. "Kalau kau tidak tau, aku sudah berusaha melakukan apa pun untuk memiliki kesempatan bicara dengannya. Namun, Jessica sepertinya sudah membenciku sepenuhnya.--
Aku tidak mau merusak suasana hati Jessica dengan muncul di depannya lagi. Lagipula, kau tau sendiri aku tidak mempunyai peluang untuk bicara dengannya lagi, kan? Aku benar-benar di-blacklist."
"Apa itu artinya kau menyerah?"
"Aku tidak tau. Mungkin? Aku mungkin akan menyerah bila itu yang terbaik untuk Jessica."
Ethan mengangguk-angguk kecil ketika mendengar tanggapan Demian. Ia menatap pria bermanik obsidian kelam itu dengan keprihatinan.
Jika lawan bicaranya sudah menyerah, Ethan tidak mau menyia-siakan waktu untuk membuat pria itu kembali maju. Ethan tidak mau menjadi orang yang memaksakan dua hati untuk menyatu ketika keduanya telah memilih berpisah.
"Tunggu, hanya itu saja yang ingin kau katakan?" Demian meninggikan alis ketika ia melihat Ethan sudah bersiap-siap untuk pergi.
"Begitulah. Aku sudah tidak menemukan alasan mengenai mengapa kita perlu bicara lagi, Demian."
"Eh, tapi mengapa?" Jika mereka akan bicara, setidaknya bicaralah sampai selesai. Demian tidak mau mendengarkan sepenggal cerita hanya untuk digantung setelahnya. Demian ingin kejelasan mengapa Ethan mengundangnya ke cafe tua ini.
"Karena kau sudah menyerah terhadap Jessica, aku tidak mau memintamu melakukan sesuatu yang hanya akan berujung sebagai keuntunganku."
"Tapi, bila aku tidak menyerah, sesuatu yang kau inginkan itu akan menjadi keuntunganku juga, begitu maksudmu?"
"Begitulah."
Demian mengerutkan dahi, "Apa itu?"
Ethan berdiri sambil memperbaiki tuxedo hitam yang melapisi kemeja putihnya. "Aku pikir kau sudah menyerah?"
"Well, kalau itu bisa membuat hubunganku membaik dengan Jessica. Aku rela melakukan apa saja."
__ADS_1
Ethan menatap Demian seraya mengulum senyum tipis. "Seperti yang kukatakan, aku ingin kau bicara dengan Jessica. Itu saja."
"Itu..., apa artinya kau mau aku..., tidak, sebentar. Kau akan memberikanku jalan untuk bicara dengan Jessica, begitu maksudmu?"
"Begitulah."
"Bagaimana?" Jessica sudah tidak mau mendengarkannya. Bahkan bila itu Ethan yang memberikan waktu untuk mereka bicara, Demian tidak percaya kalau Jessica akan mau mendengarkannya. Demian tidak percaya Jessica akan memaafkannya.
"Demian," ucap Ethan, sepasang iris teduhnya menunjukkan keseriusan. "Jawabanmu kali ini akan menjadi kunci dari rencanaku hari ini."
"Jawaban?" Jawaban apa?
"Apa kau mencintai Jessica, Demian?"
"Itu..., apa itu perlu kau pertanyakan lagi?"
"Ya atau tidak?"
Demian mengangguk mantap. "Ya."
"Baiklah, kalau begitu..., apa kau siap mengakui hal itu di depan umum?"
"Hah?"
"Aku tau kau dan Jessica belum bersama, aku juga tau belum ada kejelasan di antara kalian berdua. Karena itu, Demian..., jika kau ingin Jessica mendengarkanmu, percaya padamu, aku menginginkanmu jujur kepadanya."
"Tapi, kenapa di depan umum?" Bagaimana kalau Erthian mendengar pengakuannya, mengetahui isi hatinya?
"Karena bicara empat mata saja pada Jessica tidak akan berarti apa-apa. Dia tidak akan pernah mendengarkanmu dan mempercayaimu. Jika kau mencintainya, sudah saatnya kau memperlakukan dia dengan baik, Demian. Berhenti menjadikannya sosok rahasia yang hanya kau jumpai kapan pun kau suka."
"..."
"Tunjukkan padanya kalau kau sungguh-sungguh mencintainya, tunjukkan pada semua orang kalau perasaanmu bukan sebuah aib yang perlu membuatmu mengerucut malu. Jika kau meragu pada anjuranku, kau akan kehilangan kesempatan ini di lain waktu, Demian. Tapi, kalau kau percaya, kau mempunyai kesempatanmu sampai pesta malam ini selesai."
Demian tidak bisa. Dia tidak bisa melakukannya. Bagaimana mungkin ia melakukannya?
"Aku percaya, sebenarnya, tanpa aku memberikanmu anjuran panjang seperti ini, kau juga sudah tau sendiri apa hal yang paling Jessica inginkan, bukan?"
...Kau tau, Jessica sangat menginginkan pembuktian dan keberanianmu....
"Jangan menyia-siakan waktumu, Demian. Waktu terus berjalan."
...****************...
__ADS_1