MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
79. Berlawanan.


__ADS_3

Berbaring sambil bersilang kaki di sofa, Oscar Brown tidak menunjukkan reaksi apa-apa ketika Adam--kacungnya--masuk ke dalam ruang kerjanya. Oscar tidak bergerak seinci pun dari posisinya ketika Adam masuk dan menaruh sekoper uang ke atas meja. Menyerahkan hasil pekerjaannya hari ini.


"Kau menjadi sangat santai belakangan ini," kata Adam duluan. Mengkritik si bos yang hanya melewatkan hari-harinya belakangan ini dengan berjudi di Bronze. Dia tidak keluar, dan melakukan misi misteriusnya di sana-sini.


"Aku selalu santai, Adam." Oscar menimpali sambil terkekeh.


"Kau tau, sejak kedatangan Erthian, kau menjadi jarang datang ke Elixir. Apa kau tidak takut Jessica menjadi curiga pada ketidak-hadiranmu? Maksudku..., mengesampingkan itu juga, kau tidak berniat menutupi status Jessica dari Erthian juga, kan?"


"Ingatkan aku kembali, apa status Jessica Cerise di sini, Adam?"


"Pacar Demian?"


"Kesimpulan yang sangat menarik." ejek Oscar. "Apa kau pikir mereka akan bersama segampang itu?"


"Well..., mereka sudah jelas-jelas sangat menyukai satu sama lain." Hanya karena status mereka belum jelas, Adam percaya koneksi keduanya tidak membutuhkan penjelasan. Mereka sangat menyukai satu sama lain, dan Adam sebagai saksi mata dari relasi keduanya tau itu.


Oscar bangkit dari posisi rebahannya, sepatu naik ke atas meja. "Hahahaha..., super. Ternyata kau juga menyadari itu."


"Apa aku kelihatan tolol?" Adam tidak buta. Dia punya dua mata sehat yang bisa melihat dan membedakan mana orang yang sedang jatuh cinta dan mana yang tidak.


"Mereka memang saling mencintai, Adam..., tapi situasinya sudah menjadi rumit." Oscar--kendati sudah lama tidak berkunjung ke Elixir--tau kalau sekarang Jessica menjalin hubungan dengan Jake. Oscar juga tau kalau Demian di blacklist dari Elixir. Sungguh lucu.


"Teman-teman Jessica sudah turun tangan," kata Oscar. "Mengingat riwayat hidup Jessica yang cukup berantakan, kurasa mereka ingin mencegah dia kembali ke era terpuruknya."


"Apa menurutmu Demian tau itu?"


Oscar menggeleng. "Untuk beberapa alasan, Demian terkadang cukup tumpul jika menyangkut hal-hal penting. Dia memandang Jessica yang sekarang sebagai original Jessica, seakan-akan di masa lalu dan di masa depan, Jessica tidak pernah dan tidak akan berbeda dengan Jessica yang sekarang."


"Aku pernah membahas latar belakang Jessica dengannya. Aku ingin memberitahunya beberapa hal, tapi kurasa itu bukan tempatku untuk bicara." Adam mengingat obrolannya dengan Demian ketika di Carson. "Kupikir dia akan menyelidikinya sendiri, tapi nihil."


"Seperti yang kukatakan, dia memandang Jessica sebagai karakter yang enteng." Oscar terkekeh. "Dia pasti keheranan melihat reaksi teman-teman Jessica yang menjadi sangat overprotektif sekarang."


"Apa kau akan mengatakan pada Demian mengenai masa lalu Jessica?" Adam bertanya sambil menyandarkan punggungnya di bahu sofa. "Kau tau, hal-hal mengenai masalah candunya, atau ketika dia di penjara remaja?"


"Di mana letak serunya kalau aku membantu Demian dalam hal-hal yang dia sendiri abaikan?"


Lagipula, tujuan Oscar adalah melihat Demian putus asa. Akan mengecewakan bila ia membantu di sana-sini dan membuat relasi mereka membaik. "Hubungan asmara hanya akan semakin kuat setelah menghadapi berbagai rintangan." Oscar tiba-tiba bijak.


"Bilang saja kau mau menikmati dramanya." Adam mencebik.


"Aku ingatkan padamu, Adam. Jangan ikut campur masalah mereka, oke?"


"Kau seharusnya memperingatkan dirimu sendiri."


Oscar kembali merebahkan punggungnya di sofa, senyum merekah jenaka. "Aku dengar mereka ada bertengkar di jalan, aku penasaran apa yang mereka bicarakan."


"Aku tidak menyangka Demian akan membiarkan dirinya lepas kendali seperti itu."


"Dia akan semakin tak terkendali," ujar Oscar. "Dan semakin dia lepas kontrol terhadap dirinya sendiri, dia akan menjadi santapan istimewa seorang Erthian Bellamy."


Bicara soal Erthian, Oscar menjadi agak jengkel ketika mengingat si pucat keriting itu masih berada di kotanya. Pria itu sangat persisten untuk menetap di Vegas. Memang, Erthian mempunyai tujuan terselubung dan tersembunyi di balik kedatangannya kemari. Namun, Oscar berharap dia tidak akan menetap lama.


"Adam yang tolol saja peka terhadap perilaku Demian, mengapa dia tidak?"


"Apa katamu?" Adam jadi tersinggung.


"Bukan apa-apa, Adam. Bukan apa-apa."


Oscar sedang memikirkan tujuan Erthian, tujuan yang sangat kentara, jujur saja.


Oscar tau, untuk menciptakan hasil yang signifikan, Erthian memang perlu lebih teliti dan berhati-hati dalam mengawasi gerak-gerik Demian. Namun, dia sudah 2 minggu di Vegas, dia seharusnya sudah tau pion mana yang bisa dia gunakan untuk mencapai kemenangan.


"Dia tidak sungguh-sungguh percaya kalau Angela adalah pacar Demian, kan?" Oscar menoleh ke Adam. "Erthian, maksudku." tambahnya lagi.


"Tidak ada alasan untuk meragu juga," sahut Adam. "Kalau kau mempertimbangkan latar belakang hubungan Demian dan Angela yang sudah terjalin sejak awal kedatangan mereka di Vegas, sulit memikirkan kalau adiknya itu tidak serius dengan Angela."


"Yaaah, latar belakang itu memang membantu. Tapi, fakta kalau Erthian belum melakukan apa pun pada Angela juga berarti dia menyimpan keraguannya sendiri, benar?"


"Itu..., cukup masuk akal."


"Dia sedang mengoleksi informasinya sendiri." ujar Oscar lagi. "Ketika dia menjadi sangat yakin, kita akan menyaksikan pertempuran dua saudara di sini."

__ADS_1


"Menurutmu, apa yang akan Erthian lakukan?"


Adam merasa sedikit tak nyaman ketika memikirkan kalau pria pucat, lemah, dan lembut seperti Erthian membawa badai bahaya di belakangnya. Rasanya sangat tidak pas. Pria itu seharusnya duduk diam di cafe sambil menikmati sepiring jelly. Dia tidak seharusnya mempunyai otak berbisa.


"Dia pria yang pandai dalam memahami mental Demian. Tidak mengherankan, karena mereka saudara. Kurasa, ketika waktunya tiba, kita akan melihat langsung seperti apa dia bekerja."


'Ketika harinya tiba' adalah hari yang cukup dekat.


*


Setelah bertemu dengan Oscar tadi sore, Adam yang sekarang memasuki sebuah bar bernama Lumon, mengingat kembali ucapan Oscar menyangkut situasi Demian. Bahwa, Adam tidak boleh ikut campur terhadap urusan Demian. Terlebih dalam urusan asmaranya.


Adam tau itu adalah tindakan yang tepat, dan Adam juga merasa ia tidak berminat terlibat.


Namun, tat kala ia melihat Demian uring-uringan di depan seorang bartender, Adam jadi kasihan juga pada Demian.


Maksud Adam, bagaimana bisa dia santai ketika si bajingan yang kerap bertingkah dingin dan arogan itu sekarang menjadi super nelangsa? Bagaimana caranya dia bertingkah normal di sebelah Demian yang jauh dari kata 'normal' tersebut?


"Apa kau berniat minum sampai mati?" Adam datang dan menggeser gelas yang hendak Demian gapai. Gelas berisi whisky itu Adam tenggak sampai habis.


"Berikan aku air putih," perintahnya kemudian.


Si bartender menerima gelas kosong itu dengan anggukan.


"Mengapa kau di sini, Adam? Apa Oscar memecatmu?"


"Aku diperintahnya untuk mengawasimu," ujar Adam. "Dia takut kau nekad terjun ke Hoover dam karena depresi."


"Siapa yang kau sebut depresi?"


"Kau."


"Aku?" Demian tersinggung. "Aku?" ulangnya lagi.


"Biar kuralat, daripada depresi, lebih tepatnya patah hati?"


"Aku tidak patah hati, tolol. Apa kau pikir diriku? Aku..., Demian Bellamy."


"Masa bodoh dengan Erthian!" sinis Demian.


"Kau tau kedatangan Erthian ke Vegas untuk mengincarmu, kan?"


"Biarkan dia berusaha, aku akan mematahkan kakinya."


Adam menggelengkan kepala. Demian sudah teler, pikirnya. "Kau harus menangani saudaramu terlebih dahulu kalau kau ingin bebas melakukan apa pun. Kalau kau terus melarikan diri, kau hanya akan berakhir sendirian tanpa kepastian."


"Apa kau berniat mengguruiku sekarang? Kau..., Adam? Kau sebaiknya memotong rambut pirangmu itu sampai habis dan menjadi biksu." Demian tau apa yang Adam katakan adalah kebenaran, karena itu, mendengarkan ucapan Adam membuat Demian jengkel.


"Aku hanya mengingatkan sedikit." Adam menautkan kiri dan kanan jarinya di belakang kepala dan menjadikan telapak tangannya sebagai sandaran. "Kau bebas mendengarkanku atau tidak. Toh, pada akhirnya, yang menderita adalah kau."


"Aku tidak akan menderita," sahut Demian, dan saat itu pun, ekspresinya berubah lebih tenang dan lebih fokus.


Demian paham, suatu hari nanti ia harus berhenti berlari. Ia tidak bisa selamanya bersembunyi di kota pendosa ini dan berharap kedamaian abadi. Sebuah tornado yang tersemat di belakang namanya--Bellamy--adalah kutukan yang tidak bisa ia hilangkan. Tidak peduli betapa jauh ia merantau dan mengitari bumi.


Selamanya, nama Bellamy itu akan menjadi identitasnya.


Jika ia menginginkan kedamaian dan ketentraman, maka, seperti yang Adam katakan, ia harus menghadapi hal yang paling ia hindari selama ini. Ia harus menghadapi Erthian Bellamy dan segala kroni yang berdiri men-support saudaranya tersebut.


Demian tau ia tidak bisa berlari selamanya, tetapi..., menghadapi keluarganya sendiri adalah hal yang paling ia benci.


*


Mungkin karena namanya terus disebutkan seharian ini, Erthian yang sejak kemarin hanya bersantai di hotel dan tidak melakukan apa-apa, menjadi bersin-bersin. Hidungnya gatal tiba-tiba, seakan ia baru saja menyedot debu dengan hidungnya.


Melihat Erthian tiba-tiba flu, seorang bodyguard pribadi Erthian jadi mendekat dalam kecemasan. "Apa kau baik-baik saja, bos?"


Akan buruk bila Erthian jatuh sakit. Dalam arti buruk di sini, mereka yang bertugas mengawal Erthian bisa menerima hukuman mati. Mereka tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Jadi..., sedikit kejanggalan dalam gerak Erthian, mereka spontan menunjukkan kecemasan.


"Aku baik," sahut Erthian malas. "Ini hanya flu biasa."


Mungkin karena cuaca di Vegas agak jauh berbeda dari Italy, Erthian menarik kesimpulannya sendiri.

__ADS_1


Di Italy, kendati musim panas menjadi sangat panas, angin laut masih bertiup kencang dan memberikannya atmosfir yang menenangkan. Di Vegas, hanya ada cuaca panas dan lebih panas. Tidak ada angin yang memberikanmu ketenangan, yang ada hanya polusi udara dan suara yang datang dari sepenjuru arah.


Mengabaikan bodyguard-nya yang menunjukkan ekspresi resah, Erthian menggapai ponselnya di meja dan membaca serentetan pesan yang masuk di sana. Kebanyakan pesan itu datang dari Selina.


[Kapan kau akan kembali?]


[Apa kau tau paman Kenan-mu tidak bisa berjalan lagi?]


Oh, mengenai Kenan Bellamy, pria itu tertangkap basah sebagai sosok yang menginisiasi kecelakaan Christian beberapa minggu lalu. Sebagai hukuman dari Christian, Kenan ditembak di kiri dan kanan lututnya.


Erthian tidak bersimpati sama sekali terhadap situasi Kenan, kendati dia paham Kenan membahayakan Chris semata-mata agar Erthian naik posisi sebagai pemimpin resmi.


[Erthian, kalau kau sudah selesai dengan urusanmu di sana, kembalilah. Mansion menjadi tegang setelah kau menghilang. Kau tidak berniat berlama-lama di sana, kan?]


[Thian?]


"Haaaa..., kenapa ja*lang ini sangat berisik?" Erthian melempar ponselnya ke atas tempat tidur. "Haruskah aku menyingkirkannya?" Erthian kembali bertanya-tanya sambil menggaruk dagunya.


Di pikiran Erthian, keberadaan Selina sudah kehilangan makna. Tentu, dulunya gadis itu sangat berguna untuk membuat Demian naik pitam, tapi sekarang..., Demian bahkan tidak peduli apakah Selina sudah mati atau tidak. Demian sudah membuang Selina sepenuhnya. Karena itu, Erthian juga sudah tidak melihat nilai lebih dalam diri Selina.


"Carlos, apa ada hal yang menarik dari Demian hari ini?" Erthian bicara kepada salah seorang bodyguard-nya.


"Tidak ada yang istimewa, Bos. Dia hanya menghabiskan waktunya di bar dan berjudi."


"Bagaimana dengan Elixir? Apa dia berusaha singgah ke sana lagi?"


"Setelah beberapa kesempatan, dia mulai menyerah, Bos."


Erthian mengangguk ringan. "Lalu, bagaimana dengan situasi di cafe itu?"


"Mereka akan mengadakan acara tertutup minggu depan, aku dengar bosnya akan berulang tahun ke 29. Jadi, mereka mengundang beberapa orang..."


"Aaaah, aku harus datang, kan?" Erthian menunjukkan ketertarikan.


"Huh?"


"Aku harus mendapatkan undangan untuk ke sana, bagaimana pun caranya."


"Kau yakin? Maksudku, itu tidak mustahil hanya saja...," akan aneh bagi Erthian Bellamy datang ke pesta ulang tahun seorang wanita yang tidak mengundangnya, dan tidak menganggap penting keberadaannya.


"Aku mendapatkan firasat yang sangat baik menyangkut acara ini," kata Erthian kembali.


"Maafkan aku, tapi..., apa ini berkaitan dengan tuan Demian?"


"Apa aku akan tertarik pada hal selain adikku, Carlos? Gunakan otakmu." Erthian mendumel bosan. "Aku tidak akan datang ke kota ini kalau bukan karena adikku, asal tau saja."


"Maafkan aku, hanya saja..., aku tidak mengerti keterkaitan keduanya bos, maksudku cafe ini dan tuan Demian..."


"Kau akan tau ketika waktunya sudah tepat," kata Erthian.


Erthian--sama seperti Carlos yang masih memandang situasinya dengan abu-abu, meragu--mempertaruhkan segala teori yang berputar di benaknya dalam waktu. Erthian percaya, bila ia bersabar sedikit saja, ia akan menemukan jawaban dari keambiguan yang ia temukan di antara Demian dan Jessica Cerise.


Erthian percaya pada instingnya.


"Lalu, bagaimana dengan rencanamu terhadap Angela, Bos?"


"Jika teoriku salah, kita akan melancarkan rencana yang sudah kukatakan sebelumnya."


"Teori ini..., sampai kapan kita harus menunggu pembenarannya?"


Tidak seperti Erthian yang santai, Carlos adalah bawahan Christian. Ia diperintahkan untuk membawa Erthian pulang dalam keadaan baik-baik saja, dan tentunya, segera.


Carlos tidak bisa membuang-buang waktu lama di kota itu tanpa kepastian.


"Jangan khawatir, Carlos." Erthian beranjak dari tempat tidur dan meregangkan punggungnya sedikit. "Kita akan pulang sebelum musim panas berakhir."


"Kita itu..., kita semua?"


"Dan Demian juga," sahut Erthian, bermaksud menenangkan. "Aku akan membawanya pulang seperti yang ayah inginkan."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2