
"Aku akan menunggumu di pantai."
Sebuah pesan terukir kecil di dalam segulung kertas. Jessica membaca isi pesan itu sebelum melahap kertas itu bersama sushi rolls yang diserahkan Lisa untuk makan siangnya.
Bicara soal situasi Jessica, ini adalah hari keempatnya terkurung di Rhoden manor. Demian tidak menjumpainya lagi setelah diskusi mereka di hari pertama. Walau Jessica tidak tau apakah pertemuan terakhir mereka pantas untuk dikatakan sebagai diskusi.
Mengesampingkan masalah itu, Jessica mulai berhubungan dengan Gianna. Mencari solusi untuk keluar dari sana. Kendati Jessica tidak diperbolehkan bertemu siapa pun, bahkan Hestia, Jessica berterima-kasih atas skill Gianna yang tau cara menghubunginya tanpa perlu bertatap muka. Tanpa perlu ketahuan oleh pihak Demian.
'Aku bersyukur Oscar tidak memihak pada Demian dan mau membantuku,' Jessica membatin sambil menatap keluar jendela. Kepada laut tirenia yang akan menjadi tempat pelariannya.
Oscar mengatakan ia akan membantu Jessica di sana. Itu berarti Oscar tidak mampu membantunya keluar dari sini. Jika Jessica ingin bebas sebebas-bebasnya, ia perlu menemukan cara mencapai pantai itu dengan usahanya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan?" Jessica menopang dagu, ekspresinya berubah sendu. Memikirkan solusi untuk melarikan diri adalah satu hal, tapi memikirkan kalau ia benar-benar pergi, semua yang terjadi di sini akan berakhir membuat Jessica agak sedih. Ia tidak menyangka hubungannya dan Demian akan kandas.
Maksud Jessica, mengapa pengalaman pertamanya dalam asmara harus sesuram ini?
"Aku harusnya berpegang-teguh pada pendirianku untuk tidak jatuh cinta." Jessica melanjutkan monolognya sementara ia beranjak dari sofa.
Jujur saja, Jessica sangat bosan terkurung di dalam kamar itu. Jessica benci terperangkap dan tidak bisa melakukan apa pun. Pemikiran kalau dirinya sedang berada di dalam kurungan membuat Jessica kesulitan bernapas. Ia merasa seperti kembali ke dalam lemari tempat ibunya pernah mengurungnya di masa-lalu.
Kembali kepada kekangan yang menyesakkan.
"Haaaaa..." Jessica mengembuskan napas lelah. Ia mencoba mengusir ingatan suram itu agar tidak muncul di benaknya. Jessica tidak mau dilanda kepanikan tiba-tiba dan kesulitan bernapas. Jessica tidak mau mati tercekik oleh napasnya sendiri. Tidak di kamar ini, di kurungan ini.
"Tenang, Jesse..., kau baik-baik saja, semuanya akan baik-baik saja." Jessica memejamkan mata. Ia mencoba meredakan debaran jantungnya yang menggila. Mencoba mensugesti alam bawah sadarnya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa, ia akan menemukan kebebasannya kembali.
...*...
Di sisi lain, berbeda dari Jessica yang berusaha mengumpulkan ketenangannya, menjaga kewarasannya, Demian Bellamy yang sudah menjadi sumber depresi Jessica belakangan ini nampak sibuk di balik meja kerja barunya. Ia tidak beristirahat barang sejenak saja. Ia nampak seperti pria yang didamba-damba Hestia selama ini. Seorang pekerja keras yang akan mengabdikan diri sepenuhnya pada Bellamy.
Setidaknya, begitulah penampilan Demian di permukaan. Namun, sebagai orang yang sudah mengawasi Demian belakangan, Hestia dilanda kegalauan. Hestia tau ini adalah impiannya. Ia menginginkan Demian menjadi pemimpin Bellamy karena itu adalah posisi ideal untuk keponakannya tersebut. Namun, melihat Demian nampak seperti robot membuat Hestia dilanda kecemasan.
Sosok yang berada di balik meja kerja itu adalah bom waktu.
Hestia merasa..., bila salah sedikit saja, bom itu akan meledak dan meninggalkan dampak yang luar biasa. Demian Bellamy--keponakannya tersebut--akan berujung menghancurkan mereka semua dengan ketenangannya yang menakutkan.
"Demian, aku dengar kau belum ada tidur belakangan." Dalam arti belakangan, maka itu adalah tiga hari belakangan. Hestia mendapat laporan dari asisten baru Demian kalau Demian sudah mendekam di ruang kerjanya tanpa tidur. Dia tidak menyantap makanannya sampai habis dan hanya bergantung pada kopi untuk tetap terjaga.
"Hestia...," Demian mengangkat wajahnya sekilas saja.
"Kenapa kau melakukan ini?"
"Melakukan apa?"
"Kau...," menghukum dirimu sendiri adalah hal yang tersangkut di ujung lidah Hestia. Kendati ia tau Demian sedang dalam kondisi buruk, ia berusaha sekuat tenaga tidak ingin mengakui realita itu. Demian seharusnya baik-baik saja!
"Tidak baik untukmu terlalu bekerja keras, Demian. Kau baru memulai pekerjaanmu di posisi ini. Kau seharusnya perlahan-lahan membiasakan dirimu di sini."
"Aku sedang membiasakan diriku, makanya aku...," Demian menatap lembar demi lembar kertas yang berada di hadapannya.
Kendati ia memahami isi dari berkas-berkas itu, paham cara menanganinya, Demian--jauh di lubuk hatinya yang terdalam--membenci apa yang ia pandang.
"Aku sibuk, Hestia. Kalau kau ada keperluan lain, bicarakan dengan Rio."
__ADS_1
"Demian...," Hestia enggan berlalu dari sana. Ia--daripada menyeret kakinya keluar--malah menghampiri meja kerja Demian dan berdiri di depan meja mahogani itu dengan tubuh menegap kaku. "Apa yang akan kau lakukan pada Jessica?"
"..."
"Kau tidak bisa mengurungnya terlalu lama. Aku berpikir, bagaimana kalau mengembalikannya ke Vegas? Maksudku, dia punya kehidupannya sendiri..., dan cara aku melihatnya..., dia tidak akan mau bergabung bersama kita, Demian. Bagaimana kalau--"
"Jessica tidak akan kemana-mana!" tegas Demian. Ia memberikan Hestia tatapan tajam yang membuat Hestia terdiam.
"Aku sarankan kau berhenti ikut campur urusanku, Hestia. Hanya karena aku diam, bukan berarti aku tidak tau kau sudah mengatakan hal-hal bodoh padanya. Aku tidak akan mengompensasimu lebih jauh lagi."
Hestia meneguk ludahnya, perasaan ngeri bercampur dengan takut melingkupinya.
"Maafkan aku," ujar Hestia akhirnya. "Aku tidak bermaksud ikut campur. Hanya saja..., aku percaya kau pasti lebih paham kalau mengurung Jessica hanya akan mempertambah buruk hubungan kalian, kan?"
"..."
Tentu saja Demian menyadari itu. Namun, apa yang dapat ia lakukan? Ia tidak tau harus mengatakan apa kepada Jessica, tidak ketika sepasang emerald Jessica hanya dipenuhi oleh kebencian yang kentara. Demian tidak mempunyai petunjuk apa pun. Demian tidak tau akan kemana hubungan ini membawanya.
Semuanya menjadi begitu suram dan hitam.
Demian hanya ingin menjadi sosok yang lebih kuat dari siapa pun agar mampu melindungi Jessica. Ia ingin gadis itu berada di tangan yang aman. Demian tidak mau mengulang kembali kejadian malam itu, ketika ia tidak mampu melakukan apa pun selain bergantung pada Oscar. Demian tidak mau berada di pihak yang lemah. Karena itu, solusinya hanya satu..., menjadi pemimpin di Bellamy.
Demian tau Jessica akan mengutuk keputusannya, tapi Demian pikir Jessica akan sedikit demi sedikit mengerti. Toh, keputusan ini ia buat agar mereka bisa bersama dalam kedamaian dan menemukan ketentraman.
Namun...
"Setidaknya, temuilah Jessica sebentar." Hestia kembali bicara. "Beristirahat dari pekerjaanmu juga. Temui Jessica dan coba selesaikan sekali lagi masalah kalian. Jangan mengurungnya tanpa kejelasan, dia akan berakhir stress sendirian."
...*...
"Untuk orang yang tidak dipilih menjadi pemimpin, kau tampak baik-baik saja, Erthian." Di perpustakaan keluarga Bellamy, Erthian yang sedang asik membaca di depan perapian kedatangan seorang tamu. Aaron Rhoden adalah tamu itu, sepupunya yang bertubuh tinggi dengan raut wajah mirip Hestia sekali.
"Mengikuti ibumu kemari, Aaron?"
"Kau tau ibuku datang, huh. Kau sepertinya masih mempunyai terlalu banyak antena di tempat ini."
Erthian menutup buku yang ia baca dan menaruhnya di meja. "Kau harus memperhatikan wanita itu, dia menjadi sangat stress karena Demian."
"Aku akan memperhatikannya ketika aku peduli."
"Anak durhaka."
Aaron menyilangkan kakinya di atas meja. "Anak durhaka my head. Orang tuaku sudah meninggal sebelum aku mampu membantah apa pun darinya."
"Hestia akan menangis kalau dia tau kau tidak memedulikan keberadaannya." Apalagi kalau dia tau Aaron menganggapnya sudah mati.
"Jangan mengalihkan pembicaraan jadi tentangku," tukas Aaron akhirnya, dia datang menemui Erthian bukan untuk membahas hubungannya dengan Hestia yang sudah sejak lama ia campakkan. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Aku membaca..." Erthian menyahut tenang. "Aku tidak punya urusan lain, jadi aku hanya akan bersantai dan membaca buku-buku yang baru rilis tahun ini."
"Omong kosong, aku bicara serius, tolol. Kau tidak akan membiarkan Demian menjadi pemimpin begitu saja, kan? Bukankah posisi itu adalah impianmu sejak kecil?"
Mendengar mimpinya disinggung, Erthian mau tidak mau jadi teringat pada masa-lalu. Ketika ia dan Demian masih di sekolah dasar dan bagaimana ia begitu mendamba keberadaan ayahnya yang sangat menakutkan dan berwibawa. Erthian--daripada menaruh keengganan pada Christian, saat itu begitu takjub pada Christian yang bisa membuat orang tua murid lain meringkuk ketakutan di hadapannya.
__ADS_1
Sejak saat itu juga, Erthian membulatkan tekad kalau dia ingin menjadi sosok seperti Christian. Dia mendeklarasikan mimpinya itu kemana-mana, pada setiap temannya. Pada Demian yang menatapnya seperti anak tolol, dan pada Aaron yang mencemoohnya dan mengatakan kalau posisi itu untuk Demian.
Erthian mengingat semua itu dan senyumnya merekah sayu.
"Itu adalah kenangan yang menggemaskan, bukan?" Erthian berujar dengan suara yang penuh nostalgia. "Aku begitu merindukan hari-hari seperti itu kembali. Kau tau, ketika aku masih cukup kuat untuk memukulmu dan ketika Demian masih begitu takut padaku..., aaaah. Tumbuh dewasa memang menjengkelkan."
"Malah itu yang kau pikirkan?"
"Aku tidak tertarik memikirkan hal lain."
Aaron menghela napas. "Kupikir kau akan melakukan pemberontakan dan meminta perubahan pada ayahmu. Tapi melihatmu sangat santai hari ini, mungkin aku hanya berekspektasi tinggi."
"Kau memang berekspektasi tinggi. Aku--bagaimanapun, tidak akan pernah membantah keputusan ayahku. Beliau sampai sekarang adalah idolaku. Aku percaya keputusan yang dia buat adalah kebenaran dan aku akan..., merelakan? Menerima?"
"Kenapa kau malah mempertanyakanku kembali?"
Erthian terkekeh. "Aku hanya lupa kata yang tepat untuk mengekspresikan kepatuhanku."
"Anyway..., apa yang sebenarnya sedang terjadi di rumahku? Maksudku, mengapa Demian sangat terpaku pada wanita itu? Kudengar mereka bertemu di Vegas dan blablabla..., tapi..., aku tidak menyangka dia akan se-emosional itu kepadanya."
"Demian sudah dewasa, caranya jatuh cinta dan menyerahkan hatinya juga menjadi lebih dewasa dan lebih matang daripada sebelum-sebelumnya."
"Meskipun begitu, kudengar dari Hestia kau sudah melakukan sesuatu..."
"Apa Hestia menggosipkanku yang bukan-bukan?"
Tatapan Aaron menyelidik seringai misterius yang merekah di wajah Erthian. "Kau..., apa kau sudah gila?"
"Ada apa dengan tudinganmu yang tiba-tiba?"
Aaron menghela napasnya panjang-panjang. "Aku hanya merasa kau semakin mirip dengan iblis."
"Itu pencemaran nama baik. Aku ke gereja tiap minggu."
"Sejak kapan nama Bellamy baik?" Aaron mencemooh. "Kau dan keluargamu sudah terkenal kotor sejak puluhan tahun. Tanpa dihina pun, kau sudah hina."
"Mau lidahmu kupotong?"
Tidak takut sama sekali pada ancaman Erthian, Aaron lalu melanjutkan. "Kembali ke topik sebelumnya, kau tau..., si pacar Demian. Aku melihatnya hari itu, kupikir hubungan mereka akan berakhir begitu saja. Tapi, melihat reaksi Demian sekarang. Sepertinya itu tidak akan terjadi."
"Hmmm..., itu akan terjadi." Erthian menjawab santai. "Aku sudah memastikan itu akan terjadi."
"Ha~ Apa itu bagian dari keterlibatanmu juga?"
"Aku tidak melakukan apa pun. Berhenti menuduhku sembarangan." Erthian menyilangkan dada sembari bersandar di bahu sofa. "Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya penonton."
"Yayaya, seperti aku akan percaya padamu."
Erthian mengulum senyum.
"Mana mungkin aku melakukan sesuatu," ujar Erthian kembali. Senyumnya merekah tipis. "Aku tidak perlu melakukan apa pun."
...****************...
__ADS_1