
"Apa yang kalian berempat lakukan?" tanya Demian.
Sejak tadi, ketika Demian berbicara empat mata dengan Angela, konsentrasi Demian terpecahkan oleh keberadaan lain yang bersembunyi di balik tembok. Demian sadar kalau selama perbincangannya dan Angela berlangsung, Jessica bersama kawan-kawannya sudah menguping.
"Apa yang kami lakukan? Kami tidak melakukan apa-apa." Ketika tertangkap basah, orang pertama yang berkilah adalah Dania.
"Jesse?" tanya Demian lagi, kali ini sambil menatap wajah Jessica yang memerah. Dia pasti merasa bersalah.
"Aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya mengikuti Dania." jawab Jessica, ia melemparkan kesalahan pada sahabatnya.
Bagaimanapun, yang sudah mengajaknya menguping adalah Dania dan Elliot. Jessica hanya..., terbawa suasana?
Demian lalu melirik ke arah Elliot dan Ethan.
Sejujurnya, Demian tidak menyangka kalau Ethan akan terlibat dalam kenakalan sahabat-sahabatnya. Ethan--sepengetahuan Demian--tidak seperti Elliot yang cenderung impulsif.
"Aku pikir kalian sudah melihat dan menyaksikan dengan jelas apa yang sudah terjadi...," Demian menghela napas. "Aku tidak perlu menjelaskan situasiku lagi."
"Well, kami tidak akan menanyakan situasimu, tapi..., kami jelas perlu mempertanyakan selera wanitamu sebelum ini, kan?"
"Danii..." Jessica menghentikan Dania untuk mengompori Demian lebih lama. "Ayo kembali ke cafe."
"Aku setuju dengan Jesse," sahut Ethan. Ethan mulai mencemaskan posnya yang kosong. "Elli, kau juga."
"Tsk..., bawel."
Elliot--bersama Dania--melenggang duluan di barisan paling depan. Keduanya nampak belum puas untuk menyudutkan Demian. Tentunya, walau mereka sudah menghabiskan waktu bersama belakangan dengan berdamai dan berteman, keduanya belum bisa melepaskan kebiasaan buruk mereka dalam memperlakukan Demian seperti musuh.
Mengejek Demian dan mengompori pria itu sudah jadi hal yang lebih normal bagi Elliot dan Dania, daripada menaruh peduli padanya.
Hanya Ethan yang memahami situasi Demian dan menerima status pria itu sebagai bagian dari kelompok mereka sekarang. Hanya Ethan yang memberikan Demian keramahan murni tanpa keterpaksaan.
"Apa kau baik-baik saja?" Jessica, sebagai sosok yang ditinggalkan paling belakang oleh teman-temannya, menoleh ke arah Demian yang sekarang belum juga melangkah. Demian bersandar di tembok, mata menyorot Jessica dengan makna yang tak terbaca.
"Aku baik."
"Kau yakin kau tidak sedih?" Jessica agak menyindir. "Kalau kau mau menangis, kau bisa meminjam bahuku."
"Kenapa kau mengira aku akan menangis?"
Jessica mengendikkan bahu. "Kau baru saja kehilangan wanita yang selalu kau katakan 'Berbeda'. Kau mungkin belum rela melepaskannya?"
"Oh, jadi karena itu?"
"Yups."
Demian terkekeh. "Aku mencium aroma kecemburuan di sini."
"Cemburu my head," Jessica berkilah jengah. "Kau sebaiknya tidak menyalah-artikan kecemasanku, Demian."
"Baiklah, mam. Aku percaya kau tidak cemburu." Demian merangkul pundak Jessica dan memberikan kecupan singkat di pipinya.
"Aku memang tidak cemburu!" Jessica menekankan. Karena entah bagaimana, Jessica merasa Demian tidak mempercayainya.
Menyebalkan! Mengapa Jessica harus mencemburui Angela? Siapa wanita itu, memangnya? Jessica tidak cemburu! Mana mungkin! Mustahil!
"Haaa..."
Sementara isi kepala Jessica dipenuhi penyangkalan dan pembelaan diri, Demian menyandarkan dagunya di pundak Jessica. Ekspresinya sedikit merana. "Rasanya..., waktu seperti kembali berputar ketika aku bersamamu."
"Apa maksudnya?"
"Kau tau..." Demian menarik napas sebentar. "Sebelum ini, aku menjalani kehidupan yang statis. Aku berteman dengan Angela sejak beberapa tahun lamanya, dan kendati aku sempat menyukainya, hubungan kami tidak pernah berubah.--
Aku masih sama..., maksudku, dalam beberapa tahun yang berlalu, aku masih sama. Aku masih berkelahi di sana-sini, aku berjudi sesekali. Aku masih menjadi buronan keluargaku."
"..."
"Namun, setelah aku bertemu denganmu, rasanya waktu berputar dengan begitu laju." Demian agak merasa lucu ketika ia mengingat begitu banyak hal yang sudah terjadi di hidupnya belakangan.
"Relasiku dengan Angela berakhir begitu saja, Erthian tiba-tiba datang dari Italy, masalah yang dulu kerap menghampiriku sesekali, sekarang datang bertubi-tubi."
"Kau tidak berniat mengataiku sebagai pembawa sial, kan?" Jessica menyipitkan mata atas ucapan Demian yang terdengar negatif di kupingnya.
"Aku tidak bermaksud begitu..." tawa Demian spontan merekah. "Aku hanya merasa, ini pertama kalinya aku menjadi kewalahan. Aku merasa waktu berjalan dan aku merasa aku ikut berubah dalam waktu."
"Oh, oh..." Jessica mengusap surai ikal Demian yang masih bermanjaan di pundaknya. "Meskipun pengaruhku terdengar seperti kesialan, aku senang sudah memberikanmu perubahan."
Demian mendekap Jessica lebih erat di dadanya, merasakan kenyamanan yang tercipta ketika ia merengkuh tubuh itu di dekapannya. "Rasanya, menjadi sial bersamamu tidak masalah."
Jessica turut tertawa di dekapan Demian. "Itu akan jadi masalah bagiku. Jangan bicara sembarangan!"
__ADS_1
"Kehidupan seperti apa yang kau inginkan, Jessica?"
Jessica melonggarkan dekapannya dari Demian dan menatap pria itu tepat di sepasang manik kelamnya. "Aku menginginkan ketentraman, Demian. Karena itu, aku harap kau bisa menyelesaikan masalahmu dengan Erthian dan kita bisa menjadi pasangan dengan nyaman."
Mengangguk ringan, Demian lalu memberikan Jessica sebuah kecupan di kening. "Akan aku lakukan," ujarnya.
Mulai sekarang, keinginan Jessica adalah keinginannya.
*
Di hari yang sama, pertemuan Demian tak berhenti di Angela. Ketika menjelang sore, Demian meninggalkan Elixir untuk bertemu Adam.
Kepergian Demian disertai oleh ejekan Elliot yang terkesan berpura-pura takjub. Ia melontarkan kata-kata 'Kupikir kau tidak punya kehidupan lain selain di sini' sambil mencibir jengah. Demian menanggapi ejekan Elliot dengan ucapan yang membuat Elliot mencebik bosan. 'Jangan merindukanku, Elliot. Aku tidak akan lama!'.
"Apa kau tidak bosan mengajak Demian berkelahi?" Jessica bicara dengan Elliot. Ia sedang berada di dapur, membantu Elliot mengolah dessert.
"Aku tidak menyukainya, Jesse. Maksudku..., apa kau serius mau menjadikan pria itu pacarmu?"
"Well, aku tidak perlu mengonfirmasi ulang keputusanku, bukan? Kalau aku tidak serius, Demian tidak mungkin berkeliaran bebas di sini. Lagipula, apa yang salah dari Demy sampai kau tidak menyukainya?"
Elliot mengendikkan bahu.
"Aku hanya merasa kau pantas mendapatkan yang lebih baik, begitu. Dia bahkan tidak mempunyai pekerjaan. Dia tidak punya arah hidup yang tentu. Orang seperti itu hanya menikmati hari ini, mereka tidak punya pemikiran sama sekali tentang hari esok. Dia sangat berbeda darimu."
Mendengar tanggapan Elliot, Jessica pun memberikan anggukan ringan. Ia mengerti maksud ucapan Elliot. Bukankah ketidak-stabilan hidup Demian adalah alasan dia ditolak oleh Angela sebelumnya? Jessica sudah paham, bila di mata orang-orang normal seperti Elliot, gaya hidup Demian yang menyimpang dari norma--terkesan salah.
Hanya saja...
"Aku tidak berharap pasanganku menjadi cerminanku, Ell. Karena kehidupanku sudah begitu stabil belakangan, aku ingin Demian menjadi sosok yang seperti tornado, begitu? Aku menyukainya karena dia tidak stabil sama sekali. Hehehehe."
Elliot menghela napas. "Kau terlalu menyepelekan situasimu."
"Aku hanya tidak mau terlalu memikirkan situasiku dengan berlebihan." Jessica mencomot seiris strawberry di meja dan mengunyahnya lamban, matanya menerawang ke kejauhan. "Aku merasa aku hanya ingin melakukan apa yang kubisa. Aku tidak mau depresi karena terjebak dalam pikiranku sendiri."
Senyum Elliot mekar dengan layu. "Aku selalu mengharapkan yang terbaik darimu, Jesse. Kau berhak melakukan apa pun yang kau sukai, tapi aku harap kau tidak begitu menekanku untuk menerima Demian dengan tangan terbuka."
"Mana mungkin aku akan memaksamu melakukan itu." Jessica terkekeh.
Jessica--bagaimanapun--memahami Elliot dan kecemasannya. Jessica tidak akan serta-merta memaksa Elliot berpikiran sejalan dengannya hanya karena ia mencintai Demian sekarang.
Jessica masih belum tau apakah pilihannya adalah jalan yang menuju kebenaran, Jessica masih belum tau masa depan yang begitu jauh.
Untuk sekarang, Jessica hanya ingin menjalani hubungannya bersama Demian tanpa pemikiran berlebihan, tanpa tekanan.
Jessica hanya memutuskan percaya pada Demian, bahwa suatu hari nanti Demian mampu membuktikan diri pada Elliot kalau dia sungguh baik.
*
Demian kembali setelah Elixir ditutup.
Ia menapak masuk melalui balkon jendela kamar Jessica dan tidak menemukan gadis itu di mana-mana. Mengira kalau Jessica masih berkutat di lantai bawah, Demian akhirnya turun.
Seperti dugaan Demian, Jessica memang masih berada di cafe, sendirian dengan beberapa lampu telah dimatikan.
"Apa yang kau lakukan sendirian di sini?" Demian menyapa Jessica yang berdiri sendirian di dapur. Kiri dan kanan tangannya terbungkus oleh sarung tangan plastik, tepung menodai sarung tangan tersebut.
"Sedang bereksperimen," sahut Jessica. "Baru pulang?"
"Begitulah. Eksperimen semacam apa ini?" Demian menjadi tertarik. Ia bergabung dengan Jessica di dekat meja dan menyaksikan bagaimana gadis itu mengaduk adonan di mangkuk kaca.
"Aku ingin membuat roti menggunakan resep yang kutemukan di internet tadi..." senyum Jessica lalu merekah tipis. "Tapi aku tidak yakin aku melakukannya dengan baik."
"Jangan ragu duluan," ujar Demian. "Selesaikan saja dulu."
Sambil menyaksikan Jessica mengaduk adonannya, Demian bermain dengan ujung surai hitam Jessica yang diikat asal-asalan.
Gadis itu nampak jelita tidak peduli betapa berantakan kondisinya. Sepasang iris emerald yang fokus juga menambah indah parasnya. Dia begitu indah ketika serius. Sungguh!
Apron merah muda yang melingkupi tubuhnya juga menciptakan kesan imut. Dia seperti wanita yang baru menapak usia 20, bukan 29. Dia sangat menggemaskan.
Demian merasakan kedamaian hanya dengan menatap Jessica. Demian percaya ia bisa menatap Jessica seharian tanpa merasa bosan.
"Apa yang kau pikirkan?" Jessica memutuskan bersuara, keheningan Demian membuatnya heran.
"Aku hanya memikirkanmu," sahut Demian. Jarinya lalu berpindah memegang tali apron di pundak Jessica. "Aku pikir kau akan terlihat sangat menawan ketika memakai apron."
"Matamu mengidap penyakit kronis."
"Aku serius," bibir Demian mengerucut. "Aku rasa, akan lebih mempesona bila kau hanya berdiri di sini tanpa apa-apa selain apron ini."
"Aku lihat otak mesummu mulai bekerja dengan baik, huh?" Jessica mengibaskan tepung ke depan wajah Demian. "Aku menyesal sudah mengajakmu bicara."
__ADS_1
"Aku pikir kau mau aku jujur." Demian lalu terkekeh.
"Aku memang mau kau jujur," ujar Jessica. "Hanya saja..., dalam beberapa kesempatan, aku tidak merasa aku sanggup mendengar kejujuranmu. Terlebih bila itu menyangkut kemesumanmu!"
Demian menanggapi ucapan Jessica dengan tawa renyah mekar di parasnya. Ia menikmati pemandangan wajah Jessica yang merona.
Menghindari godaan Demian, Jessica lalu menaruh fokusnya pada adonan rotinya. Ia mondar-mandir di dapur, berusaha sekeras mungkin mengabaikan seringai iblis Demian.
Jessica menuju oven dan memasukkan adonan rotinya yang sudah tertata rapi di loyang. Setelah men-setting oven, Jessica pun membalikkan tubuhnya menghadap Demian. Matanya memicing tajam.
"Apa yang kau lakukan?" Cetus Jessica, nada suaranya menuding Demian sebagai tersangka.
"Apa yang aku lakukan?" Demian dari tadi hanya bertengger di meja. Hanya matanya saja yang mengikuti pergerakan Jessica dengan seksama.
"Kau menatapku dari tadi."
"Aku memang menatapmu, apa salahnya? Aku hanya sedang memandang kekasihku bekerja."
Jessica mencebik. "Yang salah adalah caramu menatapku. Itu tidak menyenangkan. Kau seperti kakek-kakek mesum yang sering mengintai wanita di kereta."
"Apa kau pernah melihat kakek-kakek mesum di kereta?"
"Aku adalah salah satu korban delikan menjijikkan mereka, asal tau saja."
"Huh?" Alis Demian terangkat sebelah. Memikirkan pria-pria lain telah menatap Jessica-nya dengan nafsu membuat amarah Demian terpicu.
"Apa kau masih ingat wajahnya?" Tanya Demian membuat Jessica mengerutkan kening heran.
"Apa?"
"Kalau kau masih ingat, antar aku ke depan mereka. Biarkan aku mencongkel mata mereka dan membuat mereka memakan bola mata mereka sendiri."
"Waaaaah, apa itu slogan di Bellamy?" Jessica jadi teringat pada ucapan Erthian di interaksi pertama mereka.
"Kenapa tiba-tiba membahas slogan keluargaku?"
Demian tidak mengerti pergantian topik Jessica yang begitu drastis. Tentunya, Bellamy mempunyai slogan dan prinsip, tapi mencongkel mata orang untuk dijadikan santapan bukan slogan mereka sama sekali.
"Habisnya, Erthian pernah memberikanku ancaman serupa."
"Erthian? Dia mengancammu?" Si penyakitan keparat itu!!! Apa dia begitu tidak sabar tidur di peti mati?
Jessica menghampiri Demian lebih dekat, "Kalian mungkin bermusuhan, tapi kurasa..., kalian memang agak mirip, bukan?"
Dari surai ikalnya, iris kelamnya, raut wajahnya..., Demian dan Erthian nyaris mirip. Hanya perbedaan warna kulit lah yang membuat perbedaan mereka menjadi kentara. Erthian terlalu pucat sementara Demian berkulit tan.
"Kami tidak mirip sama sekali," ujar Demian. Ia menarik Jessica ke hadapannya, rapat di antara kakinya yang terbuka. "Kau seharusnya memujiku lebih unggul dan lebih baik darinya."
"Kurasaaa..., tanpa dipuji pun kau sudah unggul, bukan?"
"Menurutmu begitu?" Demian menjadi besar kepala.
"Kau memang lebih baik daripada Erthian, Demian. Aku jujur sekarang." Sambil bicara, Jessica menautkan kedua jemarinya di belakang tengkuk Demian. Dada bidang pria itu ia gunakan sepenuhnya sebagai sandaran. Hangat tubuh mereka berbaur di dalam ruangan yang beraroma seperti makanan.
Cengiran Demian memudar dalam kegugupan. Ia takut sesuatu bangun dan mengerupsi dalam kedekatan mereka yang serapat ini. Demian masih merasa segan untuk melakukan sesuatu yang intim kepada Jessica. Demian tidak ingin Jessica menyalah-artikan cintanya.
"Maafkan aku..." Jessica menarik dirinya duluan dari Demian, cengirannya mengembang hambar. "Aku hanya bercanda..., maaf sudah membuatmu tidak nyaman."
"Huh?"
"Aku tau kau punya banyak beban pikiran" ujar Jessica. Ia mengacak surai ikal Demian dengan kelembutan. "Aku hanya ingin mengusilimu karena kau nampak serius belakangan ini."
"Aku...," beban pikiran apa?
"Ambil sebanyak-banyaknya waktu yang kau inginkan." sahut Jessica. "Aku tidak masalah sama sekali."
"Tunggu..., aku sama sekali tidak mengerti?"
"Oh, aku dengar stress bisa menjadi alasan kau tidak bisa..., maksudku, bukan berarti aku mengatakan kau impoten..., cuma..., terkadang, kalau kau banyak pikiran..., hormon dan segala macam tidak bisa membuatmu...kau tau..,"
"Apa kau mengira..., aku tidak menyentuhmu karena aku punya masalah di bawah sana?"
"Daripada di bawah, di kepala mungkin..." Jessica mengira Demian tidak bergairah karena dia sedang banyak masalah. Itu wajar, sebenarnya. Yang tidak wajar adalah ekspresi Demian sekarang.
Kenapa dia terlihat begitu syok?
"Jesse..." Demian berujar sambil menahan tubuhnya agar tidak tumbang. Ia merasa begitu dipermalukan ketika kejantanannya dipertanyakan. Jessica..., mengira dia impoten???
Penghinaan macam apa ini?
"Demian? Apa kau baik-baik saja?"
__ADS_1
Demian seperti ditombak dari belakang.
...****************...