MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
54. Alecto.


__ADS_3

"Aku sudah memikirkan ini," kata Jessica tiba-tiba. Ia menoleh ke arah Demian yang sejak beberapa menit lalu, hanya bermain dengan rambutnya.


Mendapati Jessica yang tiba-tiba bicara pula, Demian pun tertegun sesaat. Sepasang iris kelamnya menyorot ke arah Jessica, memperhatikan wajah gadis itu yang bersih tanpa noda. Pucat kulitnya membuat Demian teringat pada malam wajah itu begitu merah. Ketika miliknya berada di dalam rangkuman bibir merah muda itu...


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Demian, mengalihkan isi kepalanya yang kacau.


Pikiran sialan! Demian ingin membentur kepalanya ke tembok.


"Apa kau juga memanjat tembok kamar Angela?"


"Huh? Mengapa aku melakukan itu?"


"Karena kalian dekat, kau pasti sudah melakukan hal jahat untuk mendekatinya." Jessica menengok ke arah Demian dengan tatapan menuding. "Apa yang sudah kau lakukan?"


"Kenapa kau memikirkan hal yang tidak penting?" Demian menunduk mendekati wajah Jessica dan gadis itu tak bergerak mundur menghindarinya. Sepasang iris emerald itu malah menatapnya dengan makna curiga.


"Aku tidak melakukan hal buruk, oke? Tidak kepada Angela..., dia berbeda."


"Ohoo, jadi kau adalah tipe pria seperti itu, ya. Yups. Terima kasih. Aku membencimu sekarang."


"Huh?"


Trik menggoda kedua adalah..., buat Demian tertarik untuk membuktikan dirinya tidak bersalah. Dia akan melakukan berbagai hal yang berujung membuatmu merasa spesial. Jika kau merasa spesial, kau sudah berhasil membuatnya berpikir kalau kau spesial.


Demian menarik Jessica hingga gadis itu bersandar miring di lengannya. Mata bertemu mata.


"Apa maksud ucapanmu barusan? Apa aku sudah melakukan kesalahan?" Demian menatap Jessica dan sekali lagi mencuri tatap ke arah bibirnya.


Sialannya, Demian ingin mengulang apa yang sudah terjadi malam itu. Mengulangnya dengan versi yang lebih panas lagi.


"Kau tau, aku sangat benci dengan pria yang memperlakukan gadis yang dia cintai dengan istimewa sementara pada gadis lainnya dia menjadi brengsek. Seperti dirimu," Jessica memaksakan dirinya bangkit dari tangan Demian yang mencengkram pundaknya. "Bersikap baik bukan keistimewaan. Kau seharusnya baik pada semua orang."


"Huh, begitukah?"


"Begitulah." Jessica mencebik.


"Aku mengerti maksudmu, tapi aku tidak buruk pada semua orang." Ujar Demian lagi. Dia--demi menahan Jessica menghindar dan mengabaikannya, menarik Jessica naik ke atas pangkuannya. Ia mendekap gadis itu seperti kursi lipat yang dipaksakan muat.


"Apa-apaan? Aku mengeluh panas barusan..." Jessica memberontak di dalam dekapan Demian. Sedikitnya, saat itu juga, Jesica tidak membenci kedekatan yang terjadi di antaranya dan Demian saat ini.


Jessica sangat menikmati dan terbuai oleh interaksi yang terjalin di antaranya dan Demian. Ia merasa ia semakin jatuh cinta, tapi ia tidak yakin ulah dan intriknya akan mempengaruhi perasaan Demian juga.


"Lepaskan aku," perintah Jessica. Ia menatap Demian dengan ketegasan yang dipaksakan. Pipinya merah padam.


"Tidak, dengarkan aku dulu..." Demian tidak mau menurut. Sebaliknya, ia makin merapatkan kepala Jessica di dadanya, tidak memberikan ruang untuk gadis itu bergerak menghindarinya.


"Apa yang aku lakukan padamu hanya terjadi padamu," ujar Demian. Suaranya yang tenang membuat Jessica menegang. Apa yang harus ia katakan sebagai tanggapan? Tatapan Demian begitu panas dan mencairkan segala keberaniannya barusan.


"Jessica..." Demian menunduk dan memberikan satu kecupan di bibir merah muda Jessica, meraup rasa manis yang melekat di lidahnya. "Aku hanya melakukan ini padamu," bisik Demian ketika pagutannya merenggang.


Seutas saliva terhubung di antara bibir mereka yang hanya berjarak sejengkal.


"Apa kau masih penasaran pada apa saja yang hanya kulakukan padamu?" Demian membalikkan situasi itu dan membuat Jessica tersudutkan.


Mengingat pesan Dania agar ia tidak boleh menyerah dengan gampang, Jessica spontan mendorong rahang Demian menjauh dari wajahnya. Ia melompat lepas dari dekapan Demian dan mengambil jarak aman.


"Aku tidak bertanya agar kau bisa melakukan hal mesum," tukas Jessica. "Aku hanya penasaran dan sekarang rasa penasaranku sudah hilang. Kau masih menjengkelkan."


Demian berpikir bahwa situasi dan atmosfirnya membaik tadi, ia mengira Jessica akan sepenuhnya luluh padanya. Namun, dalam sepersekian detik, Jessica kembali dalam mode penuh pertahanan.


Ada apa?


Apa Demian tidak begitu menggiurkan? Apa pesonanya menghilang? Kemana perginya Jessica yang gampang lumer di dalam pagutannya?


"Jessica," tegur Demian kembali. Ia dilanda ketidak-senangan di sana. Bagaimana bisa Demian bergembira ketika Jessica sekarang lebih tertarik pada karakter fiksi daripada dirinya yang jelas-jelas nyata?


"Hmm?"


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Membaca, apa kau tidak punya mata?"

__ADS_1


Sialan. "Bukan itu maksudku."


"Lalu?"


Demian mengembuskan napas, ia mencoba bersabar dalam menghadapi Jessica yang tiba-tiba menjadi datar seperti papan setrika. Gadis itu mengabaikannya.


Sialannya, gadis itu mengabaikannya.


Apa yang Jessica lakukan sekarang bisa dikategorikan sebagai keajaiban dunia ke delapan, karena mengabaikan seorang Demian adalah sebuah kemustahilan.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Demian kembali. Jessica pasti mempunyai sesuatu melekat di benaknya. Sesuatu yang membuat dia mengabaikan Demian.


"Aku memikirkan Alecto sekarang."


"Alec who?"


"Alecto," ujar Jessica. Ia membalikkan novelnya ke arah Demian. "Aku berpikir tentang peluang menemukan pria sepertinya di dunia nyata."


"Jadi itu yang kau pikirkan sekarang?" Jadi Jessica memang sedang tidak menaruh minat pada dirinya sekarang. Jessica serius mengabaikannya demi seorang karakter fiksi?


Huh?


"Apa yang memangnya harus kupikirkan?" Jessica menatap Demian tak kalah heran. "Kenapa kau bertingkah aneh?"


"Aku...?" Demian mengernyit. "Aku bertingkah aneh?"


"Yaaa..., kau aneh." Jessica merasa seperti konfeti meledak di atas kepalanya sekarang. Merayakan keberhasilannya dalam membuat Demian kebingungan.


Hehehehe. Rasakan!


'Kalau tau seperti ini, aku akan bercerita pada Dania lebih awal. Huhuhu, apa dia cupid sungguhan? Kenapa temannya itu masih jomblo ketika dia mempunyai skill dalam memikat lelaki?'


"Lupakan saja," tukas Demian.


"Tsk..., terserah kau saja kalau begitu."


Pria itu akhirnya menyerah mencaritahu alasan mengenai kejanggalan sikap Jessica. Sebaliknya, ia berbaring di samping gadis itu dan menarik-tarik ujung kaos Jessica. Membelit kain baju gadis itu di jari-jarinya, memilinnya dan menjadikannya mainan pelepas kebosanan.


"Demian...?" Jessica menegur, mulai terganggu.


"Hmm?"


"Apa maumu?"


"Aku sedang bosan."


"Itu bukan berarti kau bisa menarik-tarik bajuku, ya ampun." Jessica menepis tangan Demian dari ujung kaosnya. "Jangan menggangguku, duh."


"Aku tidak melakukan apa pun."


"Demiannn??"


"Baiklah, baiklah. Bagaimana kalau jalan-jalan?" Demian mengubah posisinya menjadi tiarap. Dagunya kemudian ia labuhkan di atas lutut Jessica. Sambil menunggu reaksi Jessica pula, ia memberikan gigitan di sana.


"Aku sedang tidak mood keluar, aku berencana menghabiskan waktuku dengan Alecto seharian..., dan awww!"


Gigitan lembut Demian berubah menajam. Jessica memekik kesakitan.


"Apa kau piranha? Berhenti melakukan hal yang aneh!"


Demian tersenyum arogan, "Salahmu sendiri menyebutkan nama pria lain ketika aku ada di sini."


"Apa yang salah, memangnya? Toh, kau bukan siapa-siapa! Jangan mengaturku!"


"Apa kau membutuhkan status agar aku bisa mengaturmu?"


"Huh?"


"Kalau begitu ayo berpacaran, setidaknya dengan begitu kau akan mendengarkan apa yang kukatakan."


Tidak..., masalahnya bukan pacar seperti yang itu Jessica inginkan. Demian sialan. Apa dia tidak mengerti apa yang sudah dia ucapkan? Kejam!

__ADS_1


"Aku hanya mau berpacaran dengan pria yang mencintaiku," tukas Jessica. Matanya membengis. "Berhenti mengatakan omong kosong, ya! Kalau kau bosan, pergi saja sana! Sialan! Inilah alasan aku single beberapa tahun belakangan, pria sepertimu adalah alasannya! Tidak berperasaan!"


"Kenapa jadi kau yang marah?"


"Karena kau bego," sahut Jessica. "Aku membencimu, benci, benci, benci!"


Kau seharusnya tidak bermain-main dengan perasaan wanita dengan enteng!!!Terutama mengajaknya berpacaran! Apa dia tidak merasa kalau ucapannya bisa membuat Jessica salah paham?


'Apa aku sebegitu tidak berartinya di mata Demian sampai mengungkit masalah pacaran tidak membuatnya segan? Apa aku bukan perempuan? Apa dia melihatku sebagai wanita gampangan?'


"Jessica..."


"Jangan mengajakku bicara, aku bisa tambah membencimu."


Sekarang, Jessica sangat tidak yakin kalau dia sudah berhasil dalam melaksanakan trik yang Dania sugestikan. Masalahnya, sekarang Jessica dilanda kekecewaan berlipat ganda di hadapan Demian.


Daripada membuat Demian nelangsa dan menginginkannya, Jessica merasa Demian lah yang memberikan pengaruh itu padanya. Demian yang membuatnya nelangsa dengan kata-kata tak berperasaannya.


Cinta, jika Demian mencintainya, pria itu akan berhati-hati dalam memperlakukannya, berhati-hati dalam bicara. Namun, Demian yang berada di hadapannya sekarang tidak peduli pada perasaannya. Tawaran pacarannya yang keluar dengan mudah mengindikasikan jelas kalau dimatanya, berhubungan dengan Jessica adalah suatu lelucon saja.


'Kenapa aku bisa mencintai bajingan sepertinya?'


Jessica membatin sambil melirik Demian dari sudut matanya. Walaupun pria itu sadar Jessica sedang dalam mood yang buruk, dia malah mengutak-atik ponselnya. Sibuk sendiri.


Oh, jangan bilang dia sedang menghubungi Angela?


Yaaah..., itu sudah pasti sih!


Urgh! Menjengkelkan!


"Kau tau Demian..." Jessica kembali bicara, tapi kali ini tersimpan kemirisan di nada suaranya.


"Hmmm?" Demian tidak menoleh sama sekali. Sebuah pesan mendarat di ponselnya, datang dari Oscar. Sesuatu yang cukup urgen dan penting. Pesan itu pun berujung menarik perhatian Demian sepenuhnya, sampai ia melupakan kejengkelan Jessica.


"Demian..."


"Hmm?"


"Lupakan saja," Jessica menghela napas. Tentu saja, sedikit intrik tidak akan mengubah dunia.


Tolol, Jessica. Mengapa dia berpikir kalau trik yang diberikan Dania akan efektif dalam sekali percobaan? Mustahil, sangat mustahil.


Demian tidak seperti dirinya yang gampang jatuh cinta. Pria itu sudah mempunyai seseorang lain di dalam hatinya, dan untuk menendang orang itu keluar dari benak Demian, sebuah godaan ringan tidak akan cukup. Tidak pernah cukup.


"Well..., karena kau sedang sibuk dengan Alecto-mu...,"


Demian mengantongi ponselnya kembali ke dalam saku celana. Ia menapakkan kedua kakinya di lantai dan siap beranjak. Jessica mengamati tindakan Demian tanpa suara. Pria itu akan meninggalkannya. Sangat terbaca.


"Aku mempunyai urusan penting yang harus kuurus, sampai ketemu di lain waktu." Demian memungut jaketnya di sofa, matanya memindai kembali ke arah Jessica dan menyadari kalau gadis itu sudah sibuk dalam bacaannya. Sesuatu tentang si Alecto keparat itu sudah menyita perhatian Jessica sepenuhnya.


Sialan, betapa Demian ingin membakar novel itu sekarang!


"Jessica," tegur Demian. Kali ini dengan suara lantang.


Tidak mungkin mengabaikan teriakan Demian barusan, Jessica mendongak geram.


"Apa-apaan?"


"Aku akan pergi," kata Demian sekali lagi.


"Ya terus?"


"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?" Sampai jumpa atau apa pun itu? Hati-hati di jalan, jangan lupa makan, hubungi aku nanti!


Ada banyak opsi, tapi Jessica tidak mengatakan apa pun. Tidak peduli.


Jessica, seraya menatap Demian yang hendak meninggalkannya..., akhirnya berucap.


"Jangan lupa tutup pintunya rapat."


Keparat!

__ADS_1


*


__ADS_2