MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
86. Permulaan.


__ADS_3

Demian berbaring di sofa, mata terpaku kepada koin yang terapit di antara ibu jari dan telunjuknya. Koin itu adalah sebuah misteri lain yang sekarang menyumbat di benak Demian, tidak menemukan jawaban karena Jessica--sosok yang menyimpan misteri itu--hanya memberikannya kibasan tangan dan jawaban 'Aku mengantuk, aku akan memberikan penjelasan padamu di lain waktu'.


Bagaimana bisa Demian menunggu penjelasan di lain waktu? Bagaimana bisa Demian tersenyum dan menjawab 'Oke!' ketika isi kepalanya sekarang dipenuhi tanya?


Demian hanya tidak menyangka, bagaimana bisa gadis sebaik Jessica, gadis manis dengan pemikiran super logis itu--mempunyai sejarah alkoholic? Apa yang terjadi pada Jessica sampai dia menjadi pencandu alkohol? Sial, kata Jessica dan kata pecandu yang bersandingan dalam satu kalimat saja sudah sangat aneh di kepalanya. Bagaimana di realita?


Memiringkan posisi berbaringnya, Demian lalu menatap ke arah Jessica yang sudah tidur nyenyak di dalam gulungan selimutnya.


"*Mengesampingkan masalah koin itu, aku ingin membicarakan tentang kita, Demian. Aku mengerti situasimu. Aku paham posisimu tapi..., situasinya sudah menjadi rumit sekarang.--


Aku tidak bisa begitu saja menerimamu, menyambutmu dengan tangan terbuka dan suka-cita. Aku tidak bisa karena aku..., aku sedang menjalin hubungan dengan Jake*." adalah ucapan Jessica sebelum dia mengakhiri konversasi mereka.


"Apa kau menyukai Jake?"


"Aku perlu bicara pada Jake," sahutan Jessica membuat Demian menggigit bibir bawahnya, ia merasa sedikit tidak menyukai jawaban itu. "Aku perlu berpikir..., aku perlu mensortir ulang isi kepalaku. Lebih tepatnya, aku perlu membuat keputusan matang sebelum melakukan apa pun. Terlebih bila itu menyangkut perasaanku kepadamu."


"Aku mengerti..." jawab Demian. Ia memaksakan senyum mekar di parasnya.


Situasi ini lebih baik, pikir Demian. Lebih baik daripada pertengkaran. Lebih baik daripada berjauhan dari Jessica dan tidak mampu mengatakan apa pun padanya.


Kembali pada situasi Demian saat ini, ketika ia masih berada di sofa, pukul dua dini hari, dan tidak bisa tidur sama sekali. Sebuah pesan muncul di layar HP Demian, menciptakan kedipan cahaya yang menarik matanya. Demian menggapai benda persegi panjang tersebut dan menghela napas lelah saat dia tau siapa yang mengiriminya pesan itu.


Orang itu adalah Oscar Brown.


[Kerja bagus dalam mengekspos dirimu, Demian. Aku salut.]


Pesan sarkastik itu sudah jelas sekali bermaksud untuk mengolok-oloknya. Namun, walau tau dirinya sudah diejek oleh Oscar, entah mengapa Demian tidak merasakan penyesalan. Demian merasa lega, sebenarnya. Ia merasa lebih baik setelah berhasil menuangkan isi hatinya kepada Jessica. Demian senang pada fakta kalau Jessica tidak membencinya.


[Tertawalah sepuasmu, keparat!]


Demian membalas pesan itu sebelum kembali menaruh ponselnya ke meja. Setelah cahaya dari ponselnya menghilang dan meninggalkannya di kegelapan, barulah Demian mengantar dirinya ke dunia mimpi. Ia tertidur lelap dengan harapan bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Jessica esok hari.


*


Demian terbangun keesokan harinya setelah mendengar suara derap langkah berisik dan bunyi plastik yang bergemerisik dengan plastik lain. Karena Demian adalah tipe orang yang gampang terbangun dan sensitif pada suara, kesadarannya seketika terkumpul sempurna setelah ia mendengar lebih jelas bunyi sandal yang berderap di lantai.


Membuka mata secara perlahan dan membiarkan penglihatannya beradaptasi dengan cahaya pagi, Demian kemudian bangkit dari posisi berbaringnya. Ia bersandar di sofa sambil merilekskan penat di kepalanya.


"Selamat pagi," sapa sebuah suara, intonasi maskulinnya membuat Demian meninggikan sebelah alis saat itu juga.


Apa dia tidak salah dengar? Dia masih di kamar Jessica, kan? Demian ingat dia tidur di kamar Jessica semalam.


"Kalau kau sudah bangun, sebaiknya perbaiki penampilanmu dan bantu kami di bawah sana!!!" Suara itu menjadi lebih jelas. Demian--kendati masih mengantuk berat--menoleh ke sumber suara. Kepada Elliot Winchester yang sekarang membawa bertumpuk kotak hadiah dan menumpukkannya di dekat sofa.


Elliot menatap Demian seperti hama, "Perusak acara!" ucapnya sinis sebelum kembali meninggalkan Demian dan membanting pintu di belakangnya.


Demian--daripada marah--hanya mengendikkan bahu. Ia meringis lesu.

__ADS_1


"Kemana perginya Jessica di jam seperti ini?" Sekarang masih jam setengah tujuh, demi Tuhan!


Kehilangan minatnya untuk tidur kembali, Demian pun memaksakan dirinya berdiri dari sofa dan menuju kamar mandi. Demian membersihkan diri untuk beberapa waktu sebelum keluar dengan perasaan yang lebih segar.


Setelah mandi, Demian baru menyadari kalau barang-barang yang dibawa Elliot tadi adalah hadiah ulang tahun yang diterima Jessica. Kado-kado itu menumpuk di kaki sofa, ramai dengan warna-warna ceria.


Melihat kado itu, Demian jadi teringat kadonya sendiri.


Demian mempersiapkan kado untuk ulang tahun Jessica, sejujurnya. Namun, karena semalam situasinya menjadi sangat serius dan intens, Demian melupakan kadonya dan lebih fokus pada berbicara saja.


"Happy birthday to you..." Demian bersenandung kecil ketika ia melenggang menuju kemeja flanelnya yang tergeletak di bahu sofa. Ia menyanyikan lagu ulang tahun itu sambil memeriksa kantong flanelnya yang menyimpan sebuah kotak kado untuk Jessica.


Penyok dan kumal.


Kotak kado Demian sudah penyok dan kumal. Mungkin dia mendudukinya semalam, menjepitnya. Tidak, mungkin karena dia sudah menjadikan kemeja flanel itu bantalannya, tanpa sadar dia sudah meremukkan kadonya.


"Ugh, bagaimana sekarang?" Mana mungkin Demian membeli bungkusan baru, kan? Waktunya sudah cukup urgen sekarang.


Mendengar suara derap kaki lagi di dekat pintu, Demian pun dengan tergesa-gesa menumpukkan hadiahnya di sana. Berbaur dengan hadiah lainnya.


"Huh, kau sudah bangun..." Jessica masuk sambil membawa secangkir kopi di tangan. Itu adalah kopinya yang dibuatkan Ethan.


"Kau seharusnya membangunkanku," ujar Demian. Ia menaruh kemeja flanelnya kembali ke sofa dan melenggang menghampiri Jessica. Aroma sedap kopi yang menguar dari cangkir kecil itu membuat Demian jadi haus.


Ia mengambil gelas dari tangan Jessica dan menyesap sedikit isinya.


"Terima kasih," ujar Demian kemudian. Ia tersenyum tipis sambil menatap ke arah Jessica yang hendak memprotes ulahnya.


"Salahmu sudah membawa kopimu kemari," sahutan Demian membuat Jessica mencebik tak senang.


"Aku membawa kopiku karena aku tidak bisa bersantai di bawah."


"Apa yang mereka lakukan? Elliot tadi datang dan dia kelihatan sangat sibuk."


Jessica lalu melenggang santai menghampiri sofa, sekilas matanya menyorot pada hadiah yang bertumpuk di sana. "Mereka sedang kerja bakti membersihkan sisa pesta semalam."


"Aku harus membantu kalau begitu, mengingat aku sudah menjadi perusak pestamu."


Jessica menatap Demian dengan kening terangkat miring. "Seseorang sadar diri."


"Aku hanya bertanggung jawab," ujar Demian. Senyumnya terlukis riang.


"Kalau kau merasa sangat bertanggung jawab, silakan membantu Ethan dan Elliot sekarang. Mereka sangat sibuk, kasihan."


"Bagaimana denganmu?"


"Aku akan membuka hadiah-hadiahku terlebih dahulu. Harus mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang dan meminta maaf sudah pergi tanpa pamit semalam..."

__ADS_1


"Aaah..." Demian langsung merasa bersalah ketika Jessica mengungkit ulahnya semalam. Ia sudah menciptakan kericuhan dengan kedatangannya yang tiba-tiba, Demian tidak akan terkejut bila Elliot mau menggorengnya di wajan raksasa.


"Teman-temanmu akan semakin membenciku," ujar Demian.


"Aku tidak tau tentang benci tapi mereka sudah jelas tidak menyukaimu."


"Sangat membantu, Jesse. Kau sangat senang, ya, dengan situasiku sekarang?"


"Kau harus merasakan risiko dari ulahmu yang sudah berani menipuku. Kau tidak tau kalau aku punya teman-teman yang keren, kan?"


"Well, setidaknya aku mempunyai Ethan..." Iya, setidaknya, Ethan tidak akan membencinya. Demian percaya pria itu tidak akan bersikap bengis padanya.


"Kukatakan padamu, Demy..., Ethan hanya manis pada semua orang..., tapi dia jarang memihak siapa pun. Jika kau tidak mau dikecewakan, sebaiknya jangan terlalu berharap dia akan membelamu setiap saat."


Jessica kemudian tertawa ketika Demian mencibir ucapannya.


"Baiklah, baiklah. Terserah. Mereka bebas memusuhiku, yang penting kau tidak."


"Apa aku mengatakan aku sudah memaafkanmu?"


"Kau akan memaafkanku. Maksudku, mustahil untuk tidak memaafkan pria keren sepertiku, kan?"


Ketika Demian mulai narsis, niat Jessica untuk menggoda pria itu buyar seketika. Ia memberikan Demian tatapan bosan yang menyiratkan pengusiran. "Turunlah ke bawah sana dan bantu Dania," perintah Jessica.


Dan tepat sebelum Demian melenggang menuju pintu kamar Jessica yang tertutup, Dania yang disebutkan namanya pun datang dengan gedoran yang cukup kencang.


"Jesse..." panggil Dania dari luar, suaranya menyiratkan lelah. "Apa Demian sudah bangun?"


"Ya...," Demian yang menjawab, kali ini sambil membukakan pintu untuk Dania. Sobat Jessica yang mengenakan tanktop putih dan sarung tangan tebal itu berdiri di depan pintu, mata menyorot ke arah Demian dengan penuh penilaian.


"Saudaramu datang," ujar Dania.


"Saudara?"


"Saudaramu, siapa lagi?"


"Ah..." Mendengar ucapan Dania, Jessica dan Demian seketika bertukar pandangan. Erthian Bellamy telah tiba di Elixir.


"Dia menunggumu di bawah, sepertinya urgen."


"Mm, baiklah. Aku akan datang."


Mengerti kalau dia sudah tidak bisa melarikan diri lagi, Demian menghela napas jengah. Ia melempar tatapannya ke arah Jessica sebelum berpamitan dari sana.


"Aku akan menemuimu kembali," kata Demian, dan Jessica membalas tatapannya dengan seulas senyum keprihatinan.


Oh, betapa Jessica berharap Demian akan baik-baik saja. Ia begitu cemas terhadap sosok Erthian yang sudah menjadi teror di hubungan mereka.

__ADS_1


"Sampai jumpa." bisik Jessica, jantungnya berdegup resah.


...****************...


__ADS_2