
Jantung Jessica berdegup kencang. Ia duduk di dalam taksi yang melaju menuju Elixir ketika waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Jessica, dalam kata lain, melarikan diri. Jessica melarikan diri dari Demian yang terlelap di sebelahnya.
Jessica terbenam dalam perasaan yang membingungkan. Tidak seperti Demian yang dengan entengnya tidur, setelah terbenam dalam euforia, Jessica menemukan rasionalitasnya. Rasionalitas yang mengatakan kalau apa yang ia dan Demian lakukan adalah kesalahan.
Bukan berarti Jessica membenci apa yang sudah terjadi. Jujur saja, Jessica sangat menikmati setiap sentuhan Demian di tubuhnya. Setiap usapan jemarinya, hembusan napasnya, bibirnya. Semua Itu layaknya fatamorgana. Begitu indah untuk menjadi realita.
Kembali lagi, Jessica tidak menyesali apa pun.
Hanya saja, kendati ia tidak mempunyai penyesalan, ia menemukan dirinya dalam sejuta pertanyaan.
Mengapa Demian melakukan itu dengannya? Ketika pria itu habis berkencan dengan Angela? Demian tidak mencintainya, itu tidak mungkin. Jessica sudah tau fakta itu, tapi Demian menciumnya. Pria itu memberikan pergerakan duluan. Dia yang lebih dulu menarik Jessica ke dalam dekapannya.
"Apa karena adrenaline?" Jessica bertanya-tanya. Orang yang dikuasai adrenaline kerap melakukan hal gila. Demian semalam sudah dikejar-kejar oleh sekelompok gangster, tidak menutup kemungkinan adrenaline-nya akan membuncah.
Tapi, apa adrenaline saja cukup untuk membuatmu menanggalkan kewarasanmu sendiri?
'Lalu aku? Apa yang terjadi padaku?' Jessica menggigit bibir.
Ia mengingat bagaimana ia menyambut pagutan Demian, bagaimana ia menggantungkan lengannya di leher pria itu seolah hidupnya berada di ujung jurang. Dia--semalam--begitu menginginkan Demian. Mungkin karena itu lah Jessica merasa ia sudah membuat kesalahan.
Bagaimana bisa ia menginginkan pria yang tidak mencintainya?
'Aku pasti sudah gila!' Jessica menghela napas panjang lagi dan lagi.
Ketika akhirnya taksi yang ia tumpangi tiba di Elixir, Jessica pun turun dan memberikan bayaran kepada supir tua yang sudah mendengar helaan napas jenuhnya sepanjang jalan.
Jessica tiba di kamarnya, tubuh terasa lelah luar biasa. Ia menuju kamar mandi dan segera membasuh peluh dan saliva yang mengering di tubuhnya, jejak dari sentuhan Demian di sana.
Saat itu juga, Jessica menatap kepada tatto pudar di pergelangan tangannya. Ia ingat bagaimana Demian menggigit pergelangan tangannya. Itu pemandangan yang sangat menggugah mata.
Panas kembali merayap di wajah Jessica, tidak peduli kalau sekarang ia berada di bawah shower yang mengguyurnya dingin dan basah.
*
Jessica bukan tipe gadis yang masih menaruh kepercayaan pada hal-hal yang terbilang kuno dan ideal. Jessica tidak menaruh kepercayaan kalau berhubungan badan hanya harus dilakukan hanya kepada pasangan yang dicintai dengan sepenuh hati.
Tanpa mempunyai perasaan, seseorang bisa tidur dengan pria atau wanita mana pun. Selama gairah terlibat di sana.
Perasaan semacam cinta dan asmara tidak perlu terlibat sama sekali.
Iya, benar.
Apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Demian bukan sesuatu yang perlu ia pikirkan secara berlebihan!
Seharusnya, ia tidak berlebihan menganalisa sebuah one night stand!
Baiklah, baiklah. Jessica mengaku, Jessica hanya sedang mencari pembenaran atas kegundahan yang merayap di dadanya sekarang. Jessica masih sulit percaya kalau ia sudah bergelut dengan Demian, Demian dari semua manusia di bumi ini. Mengapa Demian?
"Aku pikir aku akan melakukan itu dengan orang yang kucintai..." Jessica menggaruk kepalanya gusar. "Jessica, oh, Jessica. Sadarkan dirimu, keparat! Jangan terbawa suasana! Itu hanya one night stand. Tidak ada yang istimewa. Kau tidak perlu memikirkan semuanya secara berlebihan. Stop overthinking!"
Sambil mengomeli dirinya sendiri, Jessica mengecek jam di dinding. Sekarang sudah jam 12 siang. Jessica belum turun ke Elixir sama sekali dengan alasan flu. Dania mengantarkan makanan untuknya tadi pagi, dan Jessica terpaksa bertingkah idiot seperti gadis yang sungguhan sakit.
"Yang sakit adalah mentalku, kan?" Jessica membatin bosan.
"Uuffft, aku iri dengan orang lain yang mampu begonta-ganti pasangan dengan entengnya." Jessica mengembuskan napasnya panjang, lagi dan lagi.
Selama ini, ketika Jessica menonton drama romansa, hubungan one night stand selalu digambarkan sebagai hubungan kasual yang akan dilupakan dalam semalam. Partner yang melakukan hal tersebut juga tidak akan menaruh pikiran panjang di sana, seolah-olah itu tidak mempunyai arti apa-apa.
Tidak, mungkin itu memang tidak mempunyai arti sama sekali.
__ADS_1
"Yang sibuk mencari arti adalah aku," bisik Jessica lagi. Kali ini semakin depresi. "Jessicaaa..., please, kembali normal! Dia tidak menyukaimu atau apa pun! Dia hanya..., dia..."
Demian selalu menggodanya, mengusilinya dengan tatapan jenaka dan suara rendah menggoda. Jessica sempat mengira kejahilan yang pria itu tujukan padanya adalah karena Demian menaruh minat padanya, tetapi keberadaan Angela meruntuhkan teori itu seketika.
Demian..., mengapa Demian mengombang-ambingkan perasaannya?
"Aku harus menemukan solusi..." bisik Jessica lagi. Ia meraih ponselnya di atas meja dan mengetikkan hal tertolol yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
'Cara move on dari pria yang sempat aku sukai?'
Pertanyaan itu ia ketik dalam sepersekian detik. Ia membacanya dan merasa malu pada dirinya sendiri. "Sejak kapan aku menyukai, Demian? Jessica, kau idiot! Aku tidak menyukainya, tidak. TIDAK!"
Perang batin itu berlangsung untuk beberapa waktu hingga akhirnya dering ponsel Jessica menyela dan meredakan kebisingan di otaknya. Sebuah nomor tanpa nama mendarat di layar ponselnya, memanggilnya.
"Halo?" Jessica lekas menjawab.
"Seseorang menghilang."
"Eh, ya?" Jessica mengerutkan keningnya.
"Seseorang menghilang dari sampingku semalam."
Oh, oh!
Hanya dengan ungkapan itu, Jessica segera menyadari siapa gerangan yang menghubunginya sekarang. Suara itu..., oh, jadi seperti ini suara Demian di telepon? Tidak! Itu tidak penting! Kenapa Demian menghubunginya? A-apa dia marah?
"Demian?" Jessica melafalkan nama Demian dengan rona merah kembali merayap di wajahnya. Tanpa mampu ia kendalikan, segala ingatan mengenai kejadian semalam terputar di benaknya. Mempermalukan ia untuk kesekian kalinya.
"Aku ingat sudah berpesan padamu untuk jangan pulang. Mengapa kau meninggalkanku sendirian?" Suara Demian menyiratkan keluhan. "Apa kau tipe gadis dingin yang akan mencampakkan pria setelah kau memakainya dengan puas..."
"A-apa yang kau katakan?!" suara Jessica meninggi dalam kepanikan.
Ucapan Demian berlandaskan pada kenyataan yang ia temukan di tempat tidurnya semalam. Jessica bukan gadis yang akan bergonta-ganti pasangan sesuka-hatinya, lebih baik, dia adalah gadis dengan kemurnian layaknya biarawati.
Demian dalam kata lain..., adalah yang pertama bagi Jessica.
Meredakan kekehannya, Demian lanjut bertanya. "Jadi, bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?"
"Kenapa denganku? Tentu saja aku baik."
"Oooh, baguslah kalau seperti itu. Aku mencemaskanmu, mengingat aku sudah menguras tenaga dan energimu semalam."
"Kututup ya?" Jessica kembali memberi peringatan kepada Demian. Suaranya penuh kejengkelan. Serius, pembahasan vulgar adalah hal yang sangat tabu bagi Jessica. Ia merasa tidak nyaman luar biasa.
"Tunggu, tunggu..." tahan Demian. "Mengapa kau begitu buru-buru?"
"Karena kau hanya bicara omong kosong, aku tidak punya waktu untuk mendengar ocehanmu."
"Kau jadi menggemaskan, aku jadi ingin menemuimu sekarang."
Kendati ucapan Demian membuat perut Jessica seperti digelitik seribu tangan, Jessica mempertahankan intonasinya agar tetap garang. Ia demi apa pun, tidak ingin tampil lemah di hadapan Demian. Apa yang ia rasakan tidak boleh ketahuan.
"Demian," panggil Jessica dengan suara tenang. "Satu..." dan dia mulai menghitung.
"Eh?"
"Dua..., kalau kau tidak bicara sampai hitungan ke lima, aku akan memutuskan panggilan ini dengan segera."
"Hei, padahal aku baru bersenang-senang.."
__ADS_1
"Tiga," lanjut Jessica.
"Baiklah, baiklah." Demian menyerah. "Aku hanya ingin menyampaikan padamu untuk tidak mencemaskanku."
"Kenapa aku harus mencemaskanmu?" Jessica mengerutkan dahinya, bertanya-tanya. Apa Demian akan melakukan sesuatu yang ekstrim di luar sana?
"Kau tau...," kata-kata Demian menggantung. "Seingatku, kau adalah gadis yang gampang mencemaskan siapa pun."
"Aku tidak seperti itu," bantah Jessica.
"Aku serius, Jesse. Kau ingat apa yang terjadi semalam, kan? Maksudku..., sebelum kita melakukan itu..."
"Demian!"
"Ahahahahaha, aduh. Maafkan aku. Maksudku, kau sadar aku dikejar banyak orang semalam, kan?"
Jessica ingat. Dia ingat bagaimana pemandangan Demian yang dikejar oleh belasan orang membuat Jessica panik dan dibanjiri oleh kekhawatiran. Jessica baru bernapas lega ketika ia berhasil mengamankan Demian di sisinya.
"Apa mereka masih mengejarmu?" tanya Jessica, ia sedikit penasaran.
"Begitulah," sahut Demian. "Untuk sekarang, aku akan menetap di hotel ini untuk beberapa waktu. Sampai situasinya tenang, aku belum bisa menemuimu."
"O-oh." Itu alasan yang masuk akal, tapi Jessica tidak merasa antusias. "Apa itu tempat yang baik untuk bersembunyi? Hotel, maksudku?"
"Seperti yang kukatakan semalam, hotel itu adalah tempat terbaik untuk bersembunyi di depan mata."
"Oh..., begitu. Aku tidak mengerti maksudmu sama sekali."
"Eh, lalu kenapa kau menanggapinya dengan Oh?"
"Yaaah," Jessica mengendikkan bahu.
Alasan Demian bersembunyi di Emperor adalah perintah Oscar. Karena yang mengejar Demian sekarang adalah segerombol genk motor, mereka tidak akan mempunyai akses ke hotel Emperor.
Terlebih bila itu Presidential Suite yang hanya diperuntukkan tamu-tamu eksklusif. Berbeda situasi kalau yang mengejar Demian adalah polisi, tempat Jessica akan menjadi tempat teraman di dunia.
"Aku harap kau baik-baik saja," ujar Jessica, dia bermaksud tulus. "Jaga kesehatanmu."
"Apa kau ibuku?"
"Apa kau mau mati?"
"Ahahahaha," Untuk kesekian kalinya, Demian tertawa di telinga Jessica. Suaranya begitu ringan dan nyaman, Jessica merasakan kelegaan. Setidaknya, kendati sudah diteror ke sana kemari, Demian tidak merasakan depresi.
"Demian, aku tau ini bukan urusanku, tapi aku agak penasaran..." Jessica menggigit bibirnya sebelum bertanya. "Mengapa kau tidak memberikan perlawanan kepada orang-orang yang mengejarmu?"
"Ah, itu..." Demian termangu. Berbeda dari Jessica yang bersantai di tempat tidurnya, Demian yang duduk di teras balkon kamar hotelnya mencermati pertanyaan Jessica dan berusaha menemukan jawaban simple yang bisa memuaskannya.
"Kalau kau tidak mau menjawab jangan berbohong," kata Jessica lagi.
"Eh, apa-apaan?" Demian bahkan belum mengatakan apa pun.
"Aku harus bekerja sekarang, sampai jumpa." Memutuskan panggilan teleponnya, Jessica lalu merebahkan punggungnya di tempat tidur.
Untuk beberapa waktu ke depan, Demian tidak akan datang menemuinya.
Secara rasional, kabar itu merupakan kabar yang bagus. Namun, daripada merasakan kegembiraan, Jessica memejamkan mata dengan sebuah pertanyaan baru menyeruak ke dalam benaknya.
'Beberapa waktu ke depan itu..., berapa lama?'
__ADS_1
*