MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
22. Misteri Lain.


__ADS_3

Untuk beberapa alasan yang Jessica tidak ketahui, Angela menatapnya dengan ekspresi yang memendam kecurigaan dan ketidak-senangan. Jessica tidak tau apa yang salah.


Apakah ini karena Jessica yang menemui Jake dan berinteraksi dengan pria itu melalui chat singkat, atau karena Demian? Tunggu, Demian seharusnya tidak masuk hitungan karena kedekatan mereka adalah rahasia.


Lalu, apa ini karena Jake?


Jessica tidak mengerti sama sekali. Maksudnya, bukankah Angela dan Jake sudah berpisah? Jessica sangat yakin dan sangat sadar pada realita tersebut karena ia menyaksikan sendiri bagaimana Angela mencampakkan Jake. Malam itu, tanpa penyesalan, Angela membalikkan punggungnya meninggalkan Jake.


Tsk..., ini mulai membuat Jessica tidak nyaman. Jessica tidak suka melibatkan masalah pribadi pada pekerjaan. Bila masalah Angela memang menyangkut Jake, maka itu adalah masalah personal. Angela tidak seharusnya menatap ia seperti kecoa di bak mandinya.


"Jesse," panggilan Ethan menarik perhatian Jessica. "Aku punya kabar spesial untukmu."


"Apa itu?"


"Situs Las Vegas Guide Room menyinggung Elixir di salah satu lamannya sebagai salah satu cafe yang  wajib dikunjungi oleh wisatawan yang berkunjung ke Vegas."


"Eh?" Jessica terpana. Las Vegas Guide Room--atau LVGR adalah sebuah situs lokal yang mempromosikan kota Vegas baik itu kepada wisatawan, atau kepada penduduk Vegas sendiri. Jessica kerap membaca konten di LVGR, dan sama sekali tidak pernah membayangkan kalau Elixir akan disebutkan di sana.


"Kapan mereka mampir kemari?" Jessica tidak ingat pernah menerima tamu penting dari LVGR sampai-sampai ia mendapatkan promosi dari situs tersebut.


"Aku juga tidak tau," kata Ethan. Ia menyerahkan tab-nya kepada Jessica. "Aku pun baru membaca artikel ini tadi pagi, adikku yang menyampaikan informasi ini padaku."


"Waah, siapa penulisnya?" Jessica pun--dengan excited--men-scroll layar tab untuk menemukan nama jurnalis yang sudah berbaik hati mempromosikan Elixir.


Ketika jari Jessica berhenti menggulir layar ke bagian teratas artikel, sebuah nama tercetak miring berwarna biru tercantum kecil di samping judul artikel itu--Oscar Brown.


"Oscar Brown..." Jessica melafalkan nama itu dengan senyum tertahan. "Apa dia pahlawan? Serius, yaaaa???? Aku harap bisa bertemu dengannya dan menyalaminya langsung."


Meskipun artikel itu hanya menyebutkan Elixir dalam dua paragraf singkat, Jessica merasakan ketulusan pria itu di setiap ketikannya. Promosi kecil ini sangat berarti bagi Jessica, bukan hanya karena promosi itu membantu nama Elixir naik, tapi karena Jessica jadi bisa mengerti sudut pandang Elixir di mata orang lain.


"Ah, aku harus mengabadikan artikel ini." Jessica mengepalkan tangannya penuh antusiasme, "Ini adalah langkah awal untuk Elixir menjadi cafe berbintang lima."


"Semoga saja, semoga saja." Ethan mendukung penuh suka-cita. Senyum mekar di wajahnya ketika melihat Jessica menjadi sangat ceria.


"Kita harus merayakan ini, Ethan!" kata Jessica lagi. "Bagaimana kalau kita ke Hello Bar malam ini?"


"Aku tidak keberatan," Dania--muncul sejak kapan--menyahut setuju. Ia merangkul Jessica dan menaruh separuh bobotnya di pundak Jessica. Mereka sampai terhuyung bersama.


"Aku akan mengabari Elli nanti," sanggup Ethan.


"Baiklah, kalau begitu..."

__ADS_1


Sementara Jessica didominasi oleh kebahagiaan yang membuncah, seorang pria di sudut bar menyesap kopinya dengan seulas seringai jenaka bermain di parasnya. Pria itu--Oscar Brown, memperhatikan Jessica dari sudut matanya dan mengangguk-angguk terpana.


'Jadi itu mainanmu, Demian. Tidak buruk juga.'


*


Urusan Demian di Carson nyaris selesai.


Mengesampingkan fakta bahwa selama di sana Demian harus terbenam dalam setumpuk pekerjaan yang menyita perhatian, Demian sama sekali tidak melupakan Vegas. Atau lebih tepatnya, Angela?


Dalam dua pekan yang bergerak lamban, Angela tidak berhenti menghubungi Demian. Ia rutin menanyai kabar Demian dan mengingatkan Demian agar selalu menjaga kesehatan. Untuk beberapa kesempatan, Demian bahkan berteleponan semalaman dengan Angela.


Mereka membahas topik ringan mengenai keseharian Angela. Terkadang, topik berat pun menyelip di sana dan Angela tidak akan mampu bersuara karena isakannya menjadi lebih dominan.


Angela, dari sepengetahuan Demian, masih menaruh kesedihan mendalam terhadap hubungannya dengan Jake yang kandas di tengah jalan. Entah apa masalah mereka, Angela tidak pernah mau bicara.


Situasinya akan lebih mudah bila Jake Allendale berselingkuh dan menjadi seorang bajingan. Demian bisa mendatangi pria itu langsung dan menginjak wajahnya seperti keset. Sayangnya, situasi itu tidak terjadi. Sesuatu yang lebih rumit--, sesuatu yang hanya Angela dan Jake ketahui lah yang menjadi alasan mereka berpisah.


"Haaaah," memikirkan Angela, hati Demian seperti ditimpa batu raksasa. Beban berat berkumpul di dadanya.


"Aku dengar dari Oscar kau sangat tidak sabaran untuk pulang, sepertinya Oscar mengatakan kebenaran." Adam--kacung Oscar--ikut menemani Demian ke Carson. Si pirang platina itu menyerahkan secangkir kopi kepada Demian yang duduk merana di sofa.


"Kau dan Oscar banyak bicara, rupanya." Demian mengkritik Adam balik.


"Jika itu menyangkut dirimu, Demian. Oscar adalah orang yang paling tertarik."


"Aku harap dia mengetahui aku tidak mempunyai ketertarikan pada sesama jenis," jawaban Demian membuat Adam tertohok. Apa-apaan?


"Kau tau ketertarikan yang diberikan Oscar berbeda daripada yang kau pikirkan, bukan?"


"Entahlah, menurutmu?"


Adam mencebik. "Kalau bukan karena latar belakang keluargamu, Oscar mana mungkin peduli padamu."


"Nonsense."


Demian meraih cangkir kopi di meja dan menyesap isinya sedikit. Rasa pahit yang meresap di lidahnya membuat Demian jadi teringat pada satu gadis yang tidak pernah menghubunginya sama sekali. Jessica Cerise.


'Dia pasti bersenang-senang karena aku sudah tidak pernah mengunjunginya,' Demian agak jengkel saat membayangkan wajah riang Jessica. Demian lebih suka ketika gadis itu merengek jengkel di dekatnya, dengan mata emerald yang berbinar gerah.


"Bicara soal Vegas..., kita akan kembali besok, kan? Ah..., memikirkan perjalanan pulang, aku jadi lelah duluan." Adam menyela lamunan Demian dengan keluhannya. "Oh..., berbeda dariku, kau pasti berada di posisi yang antusias, kan? Karena kau sangat tidak sabaran pulang."

__ADS_1


Demian--mengabaikan Adam--menoleh keluar jendela. Pemandangan kota Carson terurai di bawah sana, menyusut kecil di bawah kaki mereka.


Carson adalah kota yang indah dan lebih tenang dibandingkan Vegas. Demian cukup nyaman berada di sana, tentunya. Ia menikmati ketenangan tersendiri yang kota itu ciptakan. Tetapi, seperti yang Adam katakan, sesuatu tentang Vegas membuat Demian ingin pulang.


Bukan berarti Demian enggan meninggalkan Vegas dan menaruh ketergantungan pada kotanya para pendosa itu. Demian hanya sudah sangat terbiasa di sana. Ia menikmati segala kekacauan yang terjadi di sana, segala keriuhan yang memekakan telinganya. Setiap tumpahan darah yang ia alami, setiap luka dan setiap orang yang ia kunjungi di sana membuatnya ingin segera kembali.


Demian menjadi tidak sabar.


"Aku jadi penasaran, apa kau menjadi tidak sabar pulang karena kau ingin bertemu wanita itu?"


Wanita? Apa maksud Adam adalah Angela? Kening Demian bertautan heran.


"Kau tau maksudku, si pemilik cafe..." Adam mengganti posisi duduknya menjadi bersilang kaki. Ia bersandar di sofa dan memperhatikan reaksi Demian yang dari heran menjadi lebih heran.


"Jessica Cerise, kalau aku tidak salah?" Adam mengingat-ingat. "Oscar memintaku mencari informasi menyangkut wanita itu."


"Benar-benar mengesankan, aku takut Oscar benar-benar jatuh cinta padaku." Demian iritasi atas keingintahuan berlebih yang Oscar tunjukkan padanya.


"Oscar mencaritahu informasi menyangkut orang-orang yang mengelilingimu demi kebaikanmu sendiri." Adam membela Oscar, lagi dan lagi. "Kau sendiri tau kehidupan macam apa yang kau tinggalkan di Italy. Kau tidak bisa mempercayai penuh siapa pun di sini."


"Yayayaya," Demian memutar mata. Dia tidak bisa membantah Adam bila itu menyangkut latar belakangnya sendiri.


"Jadi, apa yang kau temukan menyangkut Jessica?"


Adam terdiam sebentar ketika pertanyan itu Demian lontarkan ke arahnya. Ia menyembunyikan sesuatu di balik paras bimbangnya, Demian tau itu. 


"Tidak ada yang istimewa," kata Adam kemudian. Setelah membuat jeda panjang.


"Kau yakin?"


"Kau bisa menanyai Oscar mengenai detailnya, aku merasa tidak nyaman bila harus membahas masa lalu orang yang tidak begitu kukenali."


Demian memandang Adam dengan selidik tajam, tapi Adam tetap bungkam.


Tau kalau jawaban hanya akan keluar bila ia mencecar Oscar, Demian pun mengakhiri topik menyangkut Jessica sampai di sana saja. Demian kembali menaruh perhatian pada ponselnya ketika ia menerima sebuah pesan dari Angela.


[Aku rasa Jake menjalin hubungan dengan bosku. Demian, apa aku sebegitu mudahnya dilupakan?]


Jake..., dengan Jessica?


*

__ADS_1


__ADS_2