MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
55. Membutuhkan Kejelasan.


__ADS_3

"Jangan lemas begitu, Jesse. Sebuah istana tidak dibangun dalam semalam, perlu kesabaran dan perhatian yang mendalam. Cinta juga sama..."


Hari ini, setelah mendengar laporan dari Jessica mengenai progress strategi mereka semalam yang ternyata 'Berujung tidak menyenangkan', Dania langsung mengeluarkan kata-kata menghibur untuk mendukung sahabatnya tersebut.


Jessica layu dan sayu. Harapannya untuk membuat Demian jatuh cinta sejak awal hanya seujung kuku saja, dan sekarang..., ketika tahap awal perencanaan mereka tidak berjalan mulus, adalah kewajaran bagi Jessica ingin mundur.


Tapi Dania tidak! Dia belum menyerah! Dania percaya pria seperti Demian bukan pria yang sulit untuk ditakhlukkan. Dania percaya Jessica bisa menakhlukkan makhluk buas itu. Jessica juga punya pesona, tau! Awas saja si keparat itu! Berani-beraninya dia membuat Jessica nelangsa!


"Percaya padaku, Jesse. Ini baru tahap awal. Dengarkan aku, kau akan berterima kasih padaku ketika kau berdiri di altar nanti..., aku akan menuangkan champagne untukmu sebagai perayaan sudah berhasil menakhlukkan siluman iblis itu."


"A-altar? Sejauh itu?" Jessica mungkin menyukai Demian, tapi berpikiran kalau mereka akan sampai ke pernikahan...? Apa Dania begitu percaya diri pada trik muslihatnya?


"Tidak ada tempat yang terlalu jauh untuk sahabatku tercinta. Sayangku, kau harus percaya diri. Kau mempunyai aku sebagai sohibmu, kau tau aku, kan? Sejak kapan aku pernah kalah menyangkut masalah pria?"


Tidak pernah, tapi kau juga sudah menjomblo beberapa tahun belakangan.


"Yang kau butuhkan sekarang adalah sikap persisten, Jesse. Sampai percobaan pertama ini berhasil, aku akan membawamu ke level dua yang lebih sulit lagi."


"A-ah..., begitukah?"


Dania mengangguk. Dia yang saat itu juga sedang berada di kamar Jessica, berdiri sambil menopang pinggang, menatap ke sekeliling kamar Jessica dengan penuh pertimbangan.


"Aku punya ide menarik," kata Dania setelah puas melihat-lihat.


"Apa itu?"


"Apa kau tau kapan Demian akan datang?"


Jessica menggaruk pipinya, menimbang-timbang. Jujur saja, Jessica tidak pernah memperhitungkan kapan waktu pria itu akan berkunjung. Yang Jessica tau adalah belakangan ini ia kerap menanti kedatangan pria itu. Seperti pemeran utama menyedihkan di novel angst.


"Tsk..., sangat payah. Mulai perhatikan hari dia biasa datang, dengan begitu kau tau harus mengenakan apa ketika dia tiba di sini."


"Aku pikir pakaianku baik-baik saja."


"Tidak ada yang salah dari penampilanmu, tentunya. Tetapi, karena kau sedang di medan perang, hal yang perlu kau lakukan adalah terlihat menggoda iman."


Jessica seketika bergidik jijik. "Aku tidak mau memakai sesuatu yang membuatku tidak nyaman."


"Honeeey, aku tau apa yang kau pikirkan. Jangan tolol, aku tidak akan menyuruhmu memakai lingerie atau bugil di kamarmu sendiri. Itu sama saja aku mengekspos perencanaan kita di depan Demian."


"Jadi...?"


"Ingat apa yang kukatakan, bukan? Pakai pakaian longgar dan besar, berbahan ringan dan tipis. Utamakan warna hitam dan putih, dua warna itu elegan. Lalu..., kalau kau berani, cobalah sesekali memakai croptop. Kau akan terlihat seksi dengan itu."


"E-eh, itu..., apa itu baik-baik saja?" Jessica tidak mau terlihat berubah drastis di depan Demian, pria itu akan memandangnya penuh kecurigaan.


"Tenang saja, sekarang masih musim panas. Malah aneh kalau kau terus-terusan berpakaian rapi dan sopan di musim ini."


"Walaupun begitu, sampai kapan aku harus melakukan ini? Jika Demian tidak akan jatuh cinta padaku..., setidaknya, aku ingin memberikan batasan waktu atas harapanku, Dania. Aku tidak bisa menunggu cinta pria itu selamanya dan bermain intrik denganmu."


Jessica tidak ingin menyia-siakan waktu.


Menerima pertanyaan Jessica sebagai kebenaran, Dania pun mengangguk penuh persetujuan. "Aku tau," katanya. "Karena itu..., aku akan sebisa mungkin tidak membuang waktumu."


"..."


"Ulang tahunmu yang ke-29 tepat di 24 September nanti, bukan?"


Jessica mengangguk--mengiyakan.


"24 September, maka itu sekitar tiga minggu lagi karena kita masih di ujung Agustus."


"Ada apa dengan ulang tahunku?" tanya Jessica, ia tidak mengerti korelasi perbincangan mereka dengan ini.


"Aku sedang membuat batas target untuk perencanaan kita," ujar Dania. "Aku rasa, hari ulang tahunmu adalah batasnya."

__ADS_1


"Oh..."


"Karena itu adalah pergantian usia untukmu menjadi lebih dewasa, aku ingin kau move on dari apa yang terjadi pada dirimu di usia 28." Dalam arti lain, Dania ingin Jessica melepaskan segala problema yang sudah terjadi di hidup Jessica ketika dia berada di usia 28, pada hari pergantian usianya tersebut.


"Baik bila kau gagal atau berhasil..., hari itu akan menjadi penentuan dari hasil akhir rencana kita. Sampai saat itu juga, aku mau kau tidak menyerah."


"Baiklah, kalau begitu. Aku akan berusaha keras mengikuti instruksimu." Jessica merasa lebih puas ketika Dania membuat batasan waktu untuk project mereka. Setidaknya, ia tau sampai kapan ia harus berjuang.


Di pergantian usianya nanti pula, Jessica bertanya-tanya. Jantungnya berdegup dalam keantusiasan yang membakar dada.


Nanti, apakah ia akan berhasil membuat Demian sebagai kekasihnya atau tidak?


*


Situasi yang buruk menimpa pemimpin Bellamy.


Kendati Demian dan Oscar sudah tidak mempunyai akses informasi ke tempat keramat tersebut, berita yang terjadi di sana berujung menggapai mereka dengan sendirinya. Mungkin karena kejadiannya yang tiba-tiba, pihak Bellamy tidak mampu menutup informasi itu lebih cepat dari media.


Apa pun itu alasannya, berkat kecerobohan mereka dalam menutup informasi itu juga, Oscar jadi mengetahui satu hal.


Christian Bellamy--dalam perjalanan bisnisnya di Milan--mengalami kecelakaan.Dari sumber informasi Oscar, Christian berkendara dalam pengaruh narkotika. Antara pria itu memakai obat terlarang dalam keadaan sadar atau...


"Dia sudah pasti diracuni," kata Adam. Di dalam pertemuan Demian dan Oscar, Adam melibatkan diri karena dia juga penasaran pada apa yang sudah terjadi.


"Kurasa itu memang benar. Tidak mungkin kepala di Bellamy lalai dalam menjaga dirinya sendiri." Oscar mendukung opini Adam. "Seseorang pasti sudah tak sabaran ingin menjadikan Erthian penerus di Bellamy, mereka sampai nekad meracuni atasan mereka sendiri."


"Apa itu artinya beberapa pihak sudah meninggalkan Christian dan berfokus pada Erthian?"


"Mungkin, bagaimana menurutmu, Demian?"


Demian--kendati menyimak konversasi Oscar dan Adam, terpikir hal lain. Ia tidak begitu menaruh kepedulian pada situasi yang terjadi di Bellamy sekarang.


Maksud Demian, bahkan bila informasi mengenai kematian Christian sampai ke telinganya, Demian mungkin hanya akan mengirimkan setangkai bunga.


Demian merasa ia sudah meninggalkan Jessica dengan kesia-siaan. Ia mendapat laporan mengenai informasi yang urgen sedang terjadi di Bellamy. Namun, ketika ia sampai di Bronze, ia malah mendapat informasi mengenai kecelakaan Christian yang hanya melecetkan kuku kakinya saja, alias sama sekali tidak berbahaya. Dia tidak mati.


"Aku menyampaikan perihal ini padamu karena kupikir kau akan tertarik," Oscar mengganti posisi duduknya jadi menghadap Demian. Di dalam kamar yang kerap dijadikan ruang pertemuan tersebut, Adam dan Oscar sama-sama menaruh perhatian mereka kepada si bungsu Bellamy yang sekarang bertopang dagu bosan.


"Aku lebih tertarik kalau kecelakaan itu mencabut nyawanya."


"Ohoo, tidak sopan kepada ayahmu sendiri." Oscar bicara seolah-olah dia pria bermoral saja.


"Omong kosong," tukas Demian.


Ayah di mata Demian adalah sesosok pria yang menjadi superhero di dalam keluarganya. Seorang pemimpin yang mengayomi, melindungi dan mencintai.


Seorang ayah seharusnya memberikan kehangatan, tetapi keberadaan Christian di hidup Demian tidak pernah semulia dan setinggi itu. Jika ada hal yang mengingatkan Demian menyangkut sosok Christian, maka kebiadaban adalah kata yang tepat.


"Hei, hei, hei..., kalau Christian sampai mati, kau tidak akan mempunyai perisai lagi, tau. Semua orang bisa menargetkan nyawamu semata-mata agar Erthian berada di posisi yang solid."


"Apa kau pikir keberadaan Christian melindungiku?" Demian lebih baik mati. "Dengar, Oscar, kau mungkin tidak tau, tapi si keparat itu hanya peduli pada dirinya sendiri. Dia tidak pernah peduli pada keselamatanku atau siapa pun."


"Daripada mendebatkan jati diri dan posisi seorang Christian Bellamy, bukankah kalian berdua seharusnya mendiskusikan hal yang lebih penting?" Adam menjadi sosok yang satu-satunya berkepala dingin di sana. Seperti sebuah fatamorgana, biasanya dia yang paling gampang meledak-ledak.


"Benar, sesuatu yang lebih penting..." Demian dan Oscar menyetujui ucapan Adam. Namun, jalan pikiran keduanya begitu bertolak belakang.


"Kita sebaiknya memikirkan siapa dalang yang berusaha mencelakai Christian--", "Apa pria fiksi lebih menawan daripada pria di dunia nyata?"---Pertanyaan keluar serentak dari bibir Oscar dan Demian, tumpang tindih tanpa kesinambungan.


"Apa?", "Apa?"--kata mereka serentak lagi.


Adam mengernyit aneh. "Demian, apa kau mempunyai sesuatu yang menyumbat kepalamu? Apa kau tidak sadar siapa yang menjadi topik pembicaraan kita dari tadi?"


"Tidak, tunggu..., bukankah kalian yang mengajakku membicarakan hal yang lebih penting?" Demian memprotes balik. Dia tidak merasa bersalah walau sekarang dia sedang dipelototi aneh oleh dua rekannya tersebut.


Oscar sampai mengangkat sebelah alisnya. "Apa menurutmu membahas pria fiksi lebih penting daripada memikirkan dalang yang sudah mencelakai ayahmu?"

__ADS_1


"Aku tidak mencemaskan situasi Christian karena yang mencelakainya pun tidak cukup kompeten untuk membunuhnya. Christian akan membereskan masalah itu sendiri tanpa campur tanganku. Juga, motifnya sudah jelas bukan?"


"..."


"Mereka mencelakai Christian agar dia kehilangan kekuatannya dalam memimpin Bellamy, siapa lagi yang nekad melakukan itu kalau bukan pendukung Erthian?" Demian bicara tanpa menaruh pikiran panjang terhadap apa yang terjadi di sana. Dia sudah hapal mati pola kerusuhan di Bellamy.


"Christian masih dalam keadaan prima, dia lebih sehat dari Erthian, sulit untuk menariknya turun dari posisinya sebagai pemimpin di Bellamy. Aku percaya hanya dalam sekali tindakan, Christian akan membereskan hidup orang yang sudah bermain-main dengan nyawanya. Dia bukan orang yang kubenci tanpa alasan."


Christian itu pria menakutkan di hidup Demian. Selama 23 tahun hidup di pangkuan Christian Bellamy membuat Demian menjadi duplikat dari monster tersebut.


Demian takut pada dirinya sendiri ke tahap ia ingin melarikan diri dari sarang monster itu. Ia tidak mau berakhir seperti Christian yang tidak memandang penting orang lain selain dirinya sendiri. Demian tidak ingin berakhir seperti Erthian.


"Jadi..., dari mana datangnya pemikiran tentang pria fiksi barusan? Apa itu lebih mengganggu pikiranmu sekarang?"


Demian menggaruk dagunya bimbang, "Kurasa..."


Demian penasaran terhadap sesosok pria bernama Alecto yang sekarang dibaca Jessica pagi dan malam. Seolah-olah pria itu nyata, dia mendambanya dengan penuh cinta. Itu menjijikkan.


Kau seharusnya jatuh cinta pada pria di dunia nyata! Bukan rekayasa!


"Apa ini Angela lagi?" Adam penasaran.


Jujur saja, Adam sangat penasaran pada kelanjutan asmara Demian. Bukan karena permasalahan itu penting untuknya, tapi karena taruhannya dan Oscar sangat mahal. Adam tidak mau kehilangan motornya tercinta.


"Tidak, tidak mungkin itu Angela." Oscar meralat keantusiasan Adam dan menjatuhkan harapan pria itu ke lantai. "Itu sudah pasti Jessica, kan?"


"Dari mana kau tau kalau itu Jessica, Demian bisa saja membahas Angela."


"Bego, Demian sama sekali tidak peduli Angela menempeli Jake setiap hari, kenapa dia harus cemburu kalau Angela naksir dengan karakter fiksi. Sudah pasti yang dia pikirkan adalah Jessica."


"Tunggu, siapa yang kau bilang cemburu?" Demian tidak cemburu. Mana mungkin dia cemburu. Dia hanya..., um, tidak senang? Pokoknya, Demian hanya tidak menyukai Jessica yang menaruh atensinya pada hal yang tidak penting.


"Kau." tuding Oscar.


"Aku tidak cemburu, idiot."


"Kalau begitu, mengapa kau jadi penasaran kalau situasi itu tidak mengganggumu?"


"Mengganggu bukan berarti cemburu, idiot. Berhenti menafsirkan pertanyaanku kejauhan. Lagipula, bukan urusan kalian kalau itu Angela atau Jessica, kan?!"


Oscar memutar mata, "Penyangkalan yang membosankan. Kau harus berhati-hati, Demian. Kalau kau menutup mata pada perasaanmu sendiri kau bisa ditikung dari orang yang tau pasti isi hati mereka sendiri."


"Tsk, jangan bicara omong kosong." Demian mendecih dengan ekspresi jijik terukir di parasnya. Karena malas mendengar omongan Oscar yang sok bijak dan dewasa, Demian jadi beranjak dari sofa. Ia memakai jaket kulitnya sambil merogoh sebuah kunci dari kantong celana.


"Aku akan pergi sekarang, aku harap kau berhenti menghubungiku bila informasi yang kau terima hanya informasi tak penting seperti tadi."


"Bagaimana bisa aku tau itu tidak penting?"


"Apa aku harus membantumu berpikir sekarang? Gunakan otakmu, jeez. Menyebalkan!" Setelah menyahut Oscar dengan suara menyiratkan kejengkelan, Demian pun berjalan meninggalkan dua orang tersebut.


Oscar dan Adam yang ditinggalkan kemudian melempar lirikan satu sama lain.


"Kenapa dia jadi sangat marah?" Oscar menggerutu.


"Itu karena kau mendiagnosanya cemburu." Adam terkekeh.


"Apa aku salah? Lihat ekspresinya, dia benar-benar cemburu." Kejengkelan Demian sekarang tertular ke Oscar, si manis berwajah babyface itu menyesap scotch di hadapannya dalam sekali tegukan, wajah meredam geram.


"Jika seperti ini terus, aku mungkin akan kehilangan hotel Emperor," Oscar merasakan kegagalan di ujung tangannya. Taruhannya dan Adam akan menemukan akhir pahit yang tak menyenangkan.


"Mengapa kau menjadi tidak percaya diri? Kupikir situasi sedang berada di pihakmu sekarang. Maksudku, Demian cemburu dengan Jessica loh..., bukankah itu artinya dia mempunyai perasaan khusus yang mulai tumbuh--"


"Kau tidak tau apa-apa, Adam..." Oscar memotong. "Pria yang tidak memahami hatinya sendiri adalah pria yang kerap kalah di pertarungan seperti ini."


Permasalahan hati dan cinta membutuhkan kejujuran di dalamnya.

__ADS_1


*


__ADS_2