
"Aku ingin tau apa alasanmu mendekati Jake selama ini, bos?"
Ketika Jessica mengira kehidupannya akan berjalan normal seperti semula, ketika Demian tidak ada di hidupnya, ketika Jake tidak mengganggunya melalui pesan-pesan cerewet yang mengajaknya bertemu, Jessica malah dihadapkan kepada salah satu trio pengacau hidupnya--Angela Lancaster!
Bagaimana bisa dia melupakan Angela Lancaster?
Jessica merasa seakan-akan ia baru menelan bola kasti ketika Angela mengungkit tentang pembicaraan empat mata mereka yang tertunda. Tidak, daripada tertunda, Jessica melupakan perihal pertemuan itu.
Jessica terlalu sibuk berdebat dengan batinnya sendiri menyangkut Demian sampai ia melupakan si kekasih hati dari pria yang sudah menempeli kepalanya sejak dua hari lalu.
Karena Angela sudah menagihnya, Jessica merasa tidak sopan bila ia terus mengulur waktu. Jadi, di sinilah Jessica dan Angela sekarang. Di sebuah meja yang berada di sudut ruang, dekat smoking area, menghadap pintu keluar dan jauh dari perhatian dan keramaian.
Jessica duduk berhadap-hadapan dengan Angela, menunggu gadis itu membuka mulutnya. Namun, tidak seperti ekspektasi Jessica, setelah Angela membuka mulutnya, Jessica merasa gadis itu lebih baik tidak bicara.
"Apa maksudmu dengan 'tujuanku' mendekati Jake?" Jessica mengulang tanya Angela dengan harapan bahwa gadis itu hanya salah dalam cara menyampaikan pertanyaannya.
Jessica berharap ia tidak mengartikan ucapan Angela sebagaimana cara gadis itu mengatakannya. Karena itu sangat menghina.
Tujuan? Apa dia pikir Jessica mempunyai tujuan miring mendekati Jake? Jessica..., mendekati Jake? Susunan dari pertanyaan itu saja sudah salah. Bukan Jessica yang mendekati Jake, demi Tuhan!
"Kau tau apa yang kumaksudkan," ujar Angela. Tidak ada perasaan bersalah setelah menuding Jessica dengan ucapannya. "Dengar..., Bos..., aku mungkin menghormatimu di tempat kerja ini, tapi di luar sana, kau tidak memiliki arti apa pun bagiku. Orang yang berarti bagiku, seperti yang kau tau, adalah Jake."
"Dan?"
"Dan aku tidak akan membiarkan bila sesuatu yang buruk terjadi padanya."
Jessica mengangguk-angguk, "Bisa kau definisikan lebih jelas lagi arti buruk ini?"
"Kau tau, bila kau sampai memanfaatkannya, aku tidak akan memaafkanmu."
Oke, cukup sampai di sana sebentar.
Jessica, setelah mendengar ucapan Angela, terdiam sejenak. Ia menatap Angela dengan mata penuh tanya. Di antara ribuan pertanyaan yang bersahutan di benaknya, hal yang paling mengganggu benak Jessica adalah, di mana letak otak gadis yang berada di hadapannya sekarang?
"Angela," ujar Jessica kemudian. Ia memaksa dirinya untuk tidak tertawa besar di sana. Kebiasaan buruk Jessica adalah tertawa ketika sangat marah. Tawa iblis.
"Mari tidak bertele-tele dan jujur pada satu sama lain." Jessica lalu menyilangkan lengannya di atas meja. "Ucapanmu barusan mengindikasikan kalau aku mendekati Jake untuk memanfaatkannya, bukan?"
"Aku tidak mengatakannya seperti itu. Aku hanya mengatakan bila..."
"Kau bilang kau hanya mempunyai hormat kepadaku di tempat kerja, dalam kata lain, di tempat ini..., tapi kau tidak menunjukkan perilaku hormat sama sekali, Angela. Sekarang, kau berada di Elixir. Kau tau siapa yang mempunyai tempat ini? Siapa yang memberikanmu upah? Orang itu adalah aku."
"..."
"Aku meladenimu dengan omong kosong ini ketika kau seharusnya bekerja, membersihkan setiap sudut meja yang ditinggalkan pelangganku. Kau seharusnya bicara baik-baik, Angela."
"Aku sudah bicara baik-baik," bantah Angela. Dia memberanikan diri menatap mata emerald Jessica yang jatuh ke arahnya, menghakiminya.
"Untuk bicara baik-baik, kau perlu memperbaiki intonasimu. Meninggikan suaramu, dan memberikan ekspresi tajam seperti itu..., apa seperti itu caramu memberikan hormat kepada atasanmu?"
Angela bungkam. Ia tau ia seharusnya melawan, tapi mengingat posisinya sekarang, ketika ia tidak berada di bawah belas kasihan siapa pun, ketika Jake tidak memihaknya..., Angela tidak bisa melakukan apa-apa. Angela tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Ia tidak memiliki siapa pun di sisinya yang bisa membantunya.
"Angela," Jessica kembali berujar. "Bahkan bila aku memanfaatkan Jake untuk kepentinganku sendiri, apa kau merasa kau berada di pihak yang pantas untuk bicara? Kau bukan siapa-siapa lagi untuknya. Sadarlah."
"Aku mungkin bukan siapa-siapa sekarang, tapi Jake adalah orang yang sempat menjadi bagian dari hidupku. Ketika dia dalam situasi yang tidak menguntungkan, aku..., aku berhak melindunginya."
__ADS_1
Haaaa~
Jessica merasakan kejemuan saat berbicara dengan Angela. Apa gadis ini masih menyukai Jake? Kalau iya, mereka sebaiknya bersatu kembali.
Situasi yang melingkupi Jessica saat ini bukan urusannya sama sekali. 'Oh, Tuhan..., limpahkan masalah tidak perlu ini pada orang lain. Aku tidak peduli pada apa pun!'
"Kau wanita yang bermoral tinggi, Angela." Jessica tidak berniat mengklarifikasi apa-apa sekarang. Ia sudah bosan.
"Begini saja, kalau kau merasa aku mengambil keuntungan dari hubunganku dan Jake sekarang, bagaimana kalau kau datang dan bicara dengannya langsung? Bicara denganku..., jujur saja, tidak akan mengubah apa pun."
Toh, yang melakukan pendekatan dengan gencar adalah Jake. Walaupun pendekatan itu bermaksud sebagai pelepas penat saja, sebenarnya. Jake hanya butuh teman. Ketika stressnya beres, dia akan melupakan Jessica. Tidak ada arti lebih di sana.
"Apa ini artinya kau tidak akan mundur sama sekali?" ekspresi wajah Angela mengencang, menahan geraman.
"Aku hanya berada di tempatku berada," sahut Jessica. "Oh, sekarang sudah nyaris jam 12 siang..."
Jumlah pelanggan yang masuk melalui pintu mulai berlipat ganda, Jessica memperhatikan tamu-tamunya mulai memencar di meja.
"Sebelum menutup pembicaraan ini, karena aku sudah mendengarkanmu, aku akan mengatakan satu hal." Jessica menegapkan punggungnya, ia siap berdiri dari sana setelah melontarkan ucapan terakhirnya.
"Aku adalah orang yang cukup profesional menyangkut pekerjaan, apa yang terjadi di luar hanya akan berada di luar. Jika sewaktu-waktu, aku menemukanmu mengajakku mendiskusikan masalah yang tidak berkaitan dengan pekerjaanmu sama sekali, atau ketika kau mempelototiku dengan kebencian..., aku akan dengan senang hati memberikanmu peluang untuk bekerja di tempat lain, mengerti?"
Jessica menunggu Angela untuk menanggapinya. Dia berdiri di sana, memperhatikan Angela dengan sepasang mata emerald yang tenang.
Menelan amukan, Angela pun mengangguk perlahan. "Aku mengerti."
*
Elixir sudah seperti anak bagi Jessica. Meskipun dunia runtuh di luar sana, Jessica hanya berharap kalau Elixir akan menjadi tempat ia bernaung untuk terakhir kalinya. Jessica tidak peduli pada hal lain.
Karena itu lah, dibandingkan romansa segitiga yang terjadi di antara Jake-Angela-Demian, Jessica akan sangat senang bila masalah itu tidak diseret masuk ke cafenya.
"Romansa hanya manis di awal saja," Jessica menghela napas. Ia berduka atas karamnya asmara romantis yang imut dan menggemaskan yang terjadi pada Angela. Sekarang kapal itu hanya berisikan drama dan nestapa.
"Sekarang aku jadi mengingat alasan mengapa aku tidak pernah terlibat dalam masalah percintaan."
Ethan terkekeh, "Jangan mencari pembenaran dari masalah orang lain."
"Aku tidak mencari pembenaran, hanya melihat contoh."
"Apa menurutmu adil untuk pria yang ingin mendekatimu tapi kau tolak karena menurut riset dan contoh yang kau buat, romansa hanya manis di awal saja?"
Jessica menatap Ethan sambil mengunyah sebuah strawberry. "Adil tidak adil, bukan masalah. Melindungi dirimu sendiri adalah prioritas."
"Aku setuju dan tidak setuju," sahutan terdengar dari belakang. Jessica menoleh dan menemukan Oscar datang.
Sebuah tas berwarna hitam ditaruh di atas konter, Jessica menatap tas itu dan merasa agak familiar.
"Jika suatu saat kau yang jatuh cinta pada seseorang, tapi karena mindset-mu, kau jadi menahan diri dari mendekati orang itu. Bukankah pada akhirnya kau malah menyakiti dirimu sendiri?" Oscar melanjutkan topik Jessica sebelumnya.
"Kurasa..., mungkin?"
"Lagipula, untuk orang yang jatuh cinta, setiap pengalaman akan berbeda..." Oscar lalu mengisyaratkan satu kopi hitam kepada Ethan.
"Kau yang menjadikan kegagalan mereka sebagai contoh, tidak akan adil kepada mereka yang berhasil. Tidakkah kau merasa itu cukup picik?"
__ADS_1
"Itu..."
"Skakmat," kata Ethan menyambung, ucapannya ia tujukan kepada Jessica yang terpana dan sulit menimpali ucapan Oscar.
Ethan lalu menyerahkan secangkir kopi kepada Oscar. Ethan tersenyum riang. "Senang memiliki tamu yang bijaksana."
"Aku hanya ingin mengobrol," Oscar tersenyum. "Aku tidak bermaksud mengalahkan atau mendebat siapa pun. Juga, maaf sudah menyela."
"Tidak, tidak masalah." Jessica mengibaskan tangan. "Aku senang kau datang."
"Aku mempunyai banyak pekerjaan belakangan, merawat satu bawahan prodigi sangat memakan waktu dan biaya."
"Aaah, apa itu penulis lain?" Di sepengetahuan Jessica, Oscar hanya seorang jurnalist yang menulis tentang Vegas.
"Begitulah," Oscar mengulum senyum tipis. "Anyway, kalian membicarakan masalah asmara sebelumnya, apa ada seseorang yang jatuh cinta? Jessica, mungkin?"
"E-eh, aku?" Jessica melebarkan mata, tawa mekar seketika. "Ei, tidak, tidak. Mustahil."
"Kenapa mustahil? Kau sepertinya hanya beberapa tahun lebih muda dariku, orang seusiaku kebanyakan sudah menikah. Kau juga..., tidak menutup kemungkinan akan mengalami hal yang sama."
"Tidak..., maksudku, untuk jatuh cinta, seorang pria harus ada terlebih dulu, kan?"
Oscar menatap Ethan, mempertanyakan keseriusan ucapan Jessica. Ethan menjawab tatapan bingung Oscar dengan endikan bahu.
"Apa tidak ada laki-laki yang menarik minatmu?" Oscar lalu menggoda Jessica. "Kupikir Ethan cukup tampan."
"E-Ethan kasus berbeda," Jessica mengibaskan tangan sambil tertawa hambar. "Ethan sudah seperti saudaraku, Elli juga."
"Mungkin masalah pertama yang Jesse perlu lalui terlebih dahulu adalah membuka hati," Ethan menambahkan obrolan mereka. "Aku rasa dia mempunyai cukup banyak pria mengirim signal cinta ke arahnya. Dia hanya terlalu menutup mata."
"Ooooh, itu lebih masuk akal," kata Oscar. Karena, jika masalahnya adalah nihilnya keberadaan seorang pria, maka itu tidak masuk akal. Jessica--di mata Oscar, cukup menarik perhatian. Penampilannya pun merupakan tipe ideal laki-laki yang mengincar hubungan normal.
Mustahil tidak ada pria mendekatinya.
Juga, apa dia menutup mata menyangkut keberadaan Demian dan Jake yang mengorbit di sekitarnya?
"Jangan membuat teori sendiri," Jessica membantah Ethan dengan ringisan. "Memang sekarang bukan waktuku saja, kan? Kau tau..., takdir juga dibutuhkan."
"Ya, kurasa..." Oscar mengangguk atas ucapan Jessica.
Oscar bisa saja mengatakan beberapa patah kata untuk menyanggah ucapan Jessica. Namun, Oscar menahan diri. Ia ingin tembok pertahanan diri Jessica tetap tinggi, itu akan menjadi halangan yang sulit untuk Demian.
Sesuatu yang menyulitkan Demian akan menjadi tontonan yang menyenangkan.
"Lagipula," ujar Oscar kemudian. "Cinta bukan sesuatu yang dapat kita paksakan."
Selagi Oscar menyesap kopinya dengan tenang, Jessica kembali termangu. Ia memikirkan ucapan Oscar dan bagaimana cinta berbeda-beda terhadap orang yang menjalaninya.
Jessica jadi bertanya, apakah bila cinta terjadi padanya dia akan menjalani kisah yang berbeda pula?
Kata-kata itu terlalu manis di telinga. Jessica takut pada realita yang akan menamparnya dengan kasus yang sama.
Cinta, kah...?
Kenapa dia jadi memikirkan cinta? Siapa yang akan ia cintai, memangnya?
__ADS_1
*