MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
81. Sebelum Acara.


__ADS_3

Lelehan air mata yang menggenang di ujung jemarinya membuat Jake yang memagut bibir Jessica melepaskan pagutannya dengan keterkejutan. Seperti kesadarannya tiba-tiba datang dan memukul kepalanya kencang, Jake terperanjat saat ia menyadari Jessica tidak menikmati kecupan itu sama sekali.


Sebaliknya, gadis itu menangis.


"Maaf, maaf..." Jessica yang sadar dirinya menangis, spontan membalikkan punggungnya dari Jake. Ia menutup wajahnya sambil menyeka air mata yang tak henti meleleh di pipi.


"Maafkan aku," ujar Jessica kembali. Ia merasa bersalah sudah merusak suasana dengan tangisannya. Jake mungkin kecewa. Tidak, Jake mungkin akan menganggapnya sebagai sosok penuh drama.


Sialan, bagaimana bisa dia menangis ketika dicium oleh kekasihnya sendiri?


Jessica tidak mengerti dirinya sama sekali. Karena, demi apa pun, ini sangat tolol!


"Kau tidak perlu meminta maaf, Jess." Jake mendekati punggung Jessica dan memberikan usapan lembut di sana. "Salahku karena sudah memaksakanmu."


"Yaaah, tidak. Aku memang sudah melakukan kesalahan. Suasana hatiku agak buruk belakangan dan...hahaha, kau jadi melihatku seperti ini. Aneh, ya?"


"Apa yang kau katakan?" Dahi Jake mengerut otomatis. "Ini tidak aneh sama sekali. Kau tidak aneh sama sekali, Jesse."


Jake menarik bahu Jessica agar menghadapnya. Saat matanya bertemu dengan mata Jessica yang basah juga, Jake memberikan gadis itu sebuah senyuman lembut yang menenangkan.


"Semuanya adalah salahku," gumam Jake. "Maafkan aku yang sudah memaksakan hubungan ini. Aku bilang aku akan membantumu membuka hati kembali, tapi aku malah bertindak sesuka hatiku saja."


"..."


"Aku sudah tidak pengertian. Maafkan aku, Jessica."


"Maafkan aku juga. Aku akan berusaha lebih baik ke depannya." Jessica berujar dengan napas yang sedikit lebih lega. Ia menatap Jake dan seketika mengingat Demian.


Andai saja Demian sebaik Jake..., sepengertian Jake.


Andai saja pria itu mampu mencintainya juga.


"Aku sudah merusak pagimu, kurasa..." Jake menggaruk tengkuknya, salah tingkah. Ia mengingat pagutan yang ia tukarkan dengan Jessica dan merasa cukup berdosa ketika ia ingin mengulangnya.


Ia menatap bibir Jessica sekali lagi dan keinginan untuk membentur kepalanya ke dinding menjadi lebih kuat lagi.


"Kau tidak merusak apa pun. Aku senang kau sudah datang." Jessica bicara sambil mendudukkan dirinya di bangku teras balkon. Jake duduk di depan Jessica, menyesap teh yang Jessica buatkan sambil menahan senyuman.


Jake tau ini bukan pertama kalinya ia menjalin hubungan dengan wanita, tapi bersama Jessica membuatnya dilema. Segala hal yang ia ketahui selama ini menjadi tak berarti. Gadis itu, kepolosannya dan keambiguan tatapannya membuat Jake tidak tau harus berbuat apa.


Rasanya sangat sulit untuk bereaksi dan menanggapi keunikan Jessica, lebih sulit daripada ketika ia bersama Angela.


Ketika bersama Angela, semuanya terasa begitu mudah, begitu nyaman dan menentramkan. Ia tidak perlu memikirkan apakah tindakannya akan melanggar garis apa pun, tidak perlu mencemaskan reaksi Angela karena sama sepertinya, Angela juga menginginkannya.


Jake tidak perlu bersusah-payah merobohkan pertahanan Angela, karena Angela sudah merobohkan pertahanannya dengan suka-cita. Gadis itu menyerahkan hatinya dan Jake menerima hati Angela dengan tangan terbuka.


Jake berbahagia.


Tapi, Angela...,


Andai saja ia tidak hadir dengan segudang ego besarnya, hubungan mereka mungkin akan berjalan normal seperti biasa. Jake bisa jatuh hati tanpa perlu membatasi dirinya sendiri, bisa mengatakan apa pun tanpa meresahkan apa pun.


Jika saja Angela tidak membenci latar belakangnya, segala kekayaannya, Jake mungkin...


"Jake...?"


"Uh, ya?"

__ADS_1


"Apa rasanya tidak enak?" Jessica jarang membuat teh jadi ia tidak tau rasa yang pas untuk tamunya yang penikmat teh ini.


"Ini enak, Angela."


"Angela?"


Mata Jake membulat terpana. "Jessica, maksudku Jessica. Maafkan aku."


"Aaah, ahaha...tidak masalah kok. Santai saja." Jessica tersenyum masam di sana.


Sepertinya, tidak hanya dirinya yang bersusah-payah dalam membangun keharmonisan hubungan baru ini, Jake juga...


'Dia mungkin belum bisa merelakan Angela sepenuhnya.' Jessica membatin iba.


*


Selepas Jake pergi, Jessica melangkah gontai menuju tempat tidurnya. Ia meraba kembali jejak kecupan Jake di sana dan merasakan kehampaan mengisi dadanya.


Jika ia menerima keberadaan seorang Jake Allendale di hidupnya, bukankah itu berarti sama dengan dirinya yang menutup segala tentang Demian dari kehidupannya?


Tentunya, secara logika, Jessica menyadari bahwa melupakan Demian adalah pilihan terbaik saat ini. Namun, kendati kepalanya dipenuhi oleh suara-suara aktivis yang menuntut kebenaran, kebajikan dan menekannya untuk meninggalkan hal-hal buruk yang berkaitan dengan Demian, hati Jessica berkata lain.


Hati Jessica tidak sanggup untuk merelakan Demian begitu saja.


Rasanya, menerima kecupan dari pria lain seperti menghapus jejak Demian di hidupnya. Membiarkan Jake berkeliaran di kamarnya, menggunakan mugnya, semua itu bagi Jessica adalah hak istimewa Demian.


Jessica tidak mau kehilangan segala hal-hal yang berkaitan dengan Demian, tapi ia sangat tau kalau keinginan hatinya adalah kesalahan.


Ia tidak seharusnya menangisi pria yang sudah menanamkan luka besar di dadanya.


Jessica lelah dengan perdebatan non-stop yang terjadi di kepalanya. Jessica butuh istirahat dan melupakan segalanya barang sejenak saja.


Jessica ingin melupakan segala sakit yang menikam jantungnya, ia ingin berhenti membenci dirinya sendiri dan tenggelam dalam perasaan bersalah.


Jessica lelah, jadi..., sebagai obat dari segala depresi yang menumpuk di benaknya saat ini, ia membuka laci nakasnya dan mengambil sebotol bir dari sana.


Obat dari segala permasalahannya telah di tangan. Ia tidak perlu memikirkan apa pun dan menangisi siapa pun.


Sudah cukup.


*


Setelah pertemuan dengan Jake, Jessica tidak turun ke cafe dengan berbagai alasan.


Dia masih menerima makanan dari teman-temannya, tentunya. Beberapa sapaan cemas juga. Namun, kecemasan mereka tak bertahan lama karena Jessica mengatakan dia sibuk dengan pekerjaan dan tidak mau diganggu, jadi semua orang memutuskan mundur.


Setidaknya, sampai hari ulang tahunnya tiba. Jessica hanya bisa mengurung dirinya sampai hari itu karena sore ini, sebuah pesta akan harus ia hadiri.


Di hari yang sama...


Dania berlari mendaki kamar Jessica. Beberapa tas belanjaan dengan brand ternama terukir di luarnya berada di tangan Dania. Tas belanjaan itu juga adalah alasan mengapa Dania sangat antusias.


"Jesse," teriaknya, kali ini sambil mengetuk pintu. "Jesse?"


Suara langkah terdengar dari dalam dan Dania semakin antusias. Ia tidak sabar menunjukkan isi tas tersebut kepada Jessica. Ia tidak sabar mempermak sahabatnya sejelita mungkin sampai semua tamu malam nanti terkesima.


"Jesse????" Dania heboh luar biasa dan...

__ADS_1


"Kenapa kau menjadi sangat berisik?" Jessica muncul di depannya dengan aroma alkohol yang menyengat. Ekspresi Jessica santai, tapi Dania tidak bisa santai sama sekali. Ia memasuki kamar Jessica dan menatap seisi ruang dengan leher spontan meremang.


Pemandangan itu sangat familiar dengan situasi di beberapa tahun lalu dan itu menakutkan.


Kamar dengan tirai yang tak terbuka, lampu yang menyala di siang bolong, beberapa botol alkohol di meja, baju kotor di mana-mana, piring-piring kotor, semuanya tergeletak di dekat sofa. Dekat kepada tempat Jessica melenggang dan duduk dengan santai sekarang.


"Aku sedang sibuk bekerja," kata Jessica, ia menunjukkan laptopnya yang menampilkan tabel excel kepada Dania.


"Katakan apa yang ingin kau katakan."


"Jesse, apa yang terjadi di sini?" Dania menatap Jessica seperti sobatnya itu sudah gila.


"Apa yang terjadi di sini?"


"Kau..., apa kau sadar dengan lingkar hitam di matamu? Apa kau ada tidur?"


"Aku banyak kerjaan, aku akan tidur ketika aku selesai." Jessica menanggapi seolah kecemasan Dania tidak berarti sama sekali.


"Jesse, hari ini ulang tahunmu."


"Aku tau, jam tujuh, kan? Aku tidak akan terlambat."


"Kau...," Dania sampai kehilangan kata-kata. Apa ini Jessica temannya?


"Jessica, kau akan berulang tahun malam ini. Kau harusnya mempersiapkan dirimu dengan baik. Kau seharusnya..., tidak seperti ini."


"Aku siap, kau tau. Apa maksudmu?" Jessica terkekeh.


"Apa tampil berantakan berarti siap?" Dania akhirnya kembali mengomel. Ia mendorong tirai jendela Jessica hingga terbuka, membuka pintu balkon lebar-lebar juga agar udara segar masuk.


"Kau akan berusia 29 tahun hari ini. Kau seharusnya bisa merawat dirimu lebih baik dari ini. Kau bukan vampire, berhenti mengurung dirimu di kamar dan mandi!"


"Tsk..., sudah kubilang aku sedang bekerja, kan?" Jessica menyandarkan kepalanya ke sofa, ia memperhatikan bagaimana Dania sekarang menyibukkan diri dan memungut segala pakaian kotor, dan piring bekas makannya ke dapur.


"Tinggalkan saja semuanya di situ, aku akan membereskan semuanya nanti."


"Kau saja tidak beres sama sekali, bagaimana bisa kau membereskan kamarmu?"


"Apa-apaan?" Jessica merengut.


"Jessica, pokoknya, demi apa pun, mandi sekarang! Bersihkan dirimu, sadarlah! Jangan merusak nama baik Elixir dengan tampil berantakan seperti ini. Aku sudah membawakanmu baju, aku akan meriasmu setelah kau mandi!"


"Uuughhhh, bawelnya..."


"Jessica?!"


"Baiklah, mam. Akan aku lakukan." Jessica berdiri dari sofa sambil memberikan hormat singkat kepada Dania. Saat itu juga, ketika ia hendak melenggang menuju kamar mandi. Ia terseok oleh langkahnya sendiri dan mendarat ke lantai.


"Aku tidak apa, aku tidak apa." Jessica bangkit dari jatuhnya seraya mengibaskan tangannya ke mana-mana, menenangkan entah siapa.


Dania yang memantaunya hanya geleng-geleng kepala.


Jessica, oh, Jessica.


Gadis itu begitu teler untuk bisa berdiri dengan dua kakinya sendiri, bagaimana caranya dia bisa menghadapi pestanya dengan normal nanti?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2