MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
41. Racun Di Kepala


__ADS_3

Rutinitas pagi Jessica selama ini konsisten dengan membantu Ethan membuka Elixir dan sarapan di sana. Jessica mungkin meninggalkan rutinitas itu untuk sesekali ketika ia teler dan tidak bisa bangun pagi, ketika ia harus pergi dan beberapa hal urgen lain yang membuatnya tidak bisa membuatnya membantu Ethan. Tapi itu jarang terjadi.


Aktivitas pagi Jessica harusnya konsisten dengan turun ke Elixir ketika waktu menunjukkan pukul tujuh. Namun, aktivitas itu disela oleh keberadaan Demian.


Si bajingan sialan mesum itu!


Jessica sudah berpakaian bersih dan harum, siap pergi untuk bekerja. Namun, di tengah langkah mondar-mandir Jessica yang sedang membereskan kamarnya dari jejak semalam, Demian tiba-tiba memanggilnya. Tangan terulur meminta Jessica menyambutnya.


"Ada apa?" Jessica mengira ada sesuatu yang salah pada kopi Demian, jadi ia mendekat sambil masih menenteng sprei yang kotor.


Ia menyambut tangan Demian ragu-ragu, tidak tau sama sekali kalau itu adalah perangkap iblis yang membelenggunya dalam obsesi gila Demian yang sekarang tersenyum penuh kemenangan.


Sekarang, setelah menyentak Jessica paksa ke atas pangkuannya, Demian mendongak ke arah Jessica sambil memeluk pinggang gadis itu erat.


"Kau tidak perlu tergesa-gesa," ungkap Demian.


Dia adalah bajingan!


"Lepaskan aku," ucap Jessica. Ia merasa tak nyaman berada di atas pangkuan Demian. Kendati mereka sudah bergelut panas tanpa sehelai benang, Jessica masih tidak terbiasa berada di dekapan pria itu dalam keadaan normal.


"Aku akan melepaskanmu kalau kau menciumku." Ucapan Demian terdengar kekanakan, Jessica enggan menuruti kemauan Demian yang layaknya perangkap setan. Siapa yang tau kalau dia menipu?


"Jesse," Demian mengelus dagunya manja di permukaan blouse hitam Jessica yang menguarkan aroma strawberry yang samar di sana.


Demian begitu ingin menggigit Jessica, melahapnya tak bersisa.


"Aku harus bekerja," keluh Jessica. Ia menghindari tatapan Demian yang menusuk tembus ke jantungnya. Jessica takut ia akan menyerang pria itu dengan ciuman yang membabi buta secara suka-rela.


Mata itu menggodanya seperti apel yang sudah menggoda hawa.


"Aku sudah menuruti kemauanmu semalam, apa kau tidak punya urusan lain?!"


"Apa yang terjadi kemarin tidak akan masuk dalam hitungan hari ini. Sekarang adalah hari baru," Demian membuat-buat alasan. "Aku ingin memulai hariku dengan satu ciuman, please?"


"No...," Jessica menolak, kali ini ia berusaha bangkit lagi dari dekapan Demian.


Sialnya untuk Jessica, Demian memerangkapnya hingga ia duduk di dalam posisi yang cukup menyulitkan. Sulit karena sekarang Demian mendekapnya dengan kencang, dan ia tidak bisa bergerak nyaman dengan dadanya yang merapat di dada Demian.


Jessica duduk berhadapan di atas pangkuan Demian. Sedikit pergerakan membuatnya menyadari intensi dari tubuh Demian yang sudah bereaksi sejak tadi.


"Kalau begitu tidak perlu bekerja," ujar Demian sengaja. "Lagipula kau adalah bosnya, kau tidak punya kewajiban untuk turun absen di sana."


"Demian..." Jessica menopang tangannya di pundak Demian, mau tak mau, ia mencoba menuruti permintaan pria itu. "Hanya satu ciuman, ya? Aku akan membunuhmu kalau kau melakukan lebih."


Baiklah, daripada berlama-lamaan di sana dan membuang waktu, Jessica pun memutuskan jatuh dalam tipuan itu. Ia menangkup pipi Demian di tangannya dan memberikan pria itu sebuah kecupan di bibirnya.


Kecupan yang berawal dengan sebuah sentuhan ringan, dan perlahan-lahan berganti menjadi decakan lidah yang saling menekan penuh keagresifan.


Jessica, di atas pangkuan Demian merasakan bagaimana tangan pria itu merayap di balik blouse yang sudah merekat rapi di tubuhnya. Menyapu setiap inci permukaan kulitnya dengan belaian dan cengkraman yang membuat tubuh Jessica mengejang.


"Kau bilang hanya satu ciuman..." Jessica melenguh gerah ketika pada akhirnya, ia dan Demian kembali mengulang aktivitas semalam. Ia yang masih berada di atas pangkuan Demian, mengerang berulang-ulang ketika Demian membuatnya berpacu di atas pria itu.


Peluh membasahi tipis wajah dan leher Jessica, membuatnya semakin indah. Jessica yang berantakan dan tenggelam dalam kenikmatan adalah pemandangan idaman Demian. Ia menyukai ketika gadis itu meleleh di dalam panasnya, membuat ia turut gila di dalam candu baru yang sulit ia tinggalkan dalam beberapa menit saja.


Demian tidak ingin melepaskan Jessica dari dekapannya dan itu adalah pemikiran yang cukup menakutkan sekaligus menantang.


Ketika jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh, dekapan Demian di pinggang Jessica akhirnya melonggar juga. Ia mengecup rahang Jessica, sebelum memberikannya hujan kecupan yang ditanggapi Jessica dengan ringisan.


"Aku telat, kan..." Jessica menatap jam dinding. Dengan kondisinya sekarang, ia perlu mandi untuk membersihkan dirinya dari segala keringat yang keluar dari olahraga paginya bersama Demian.

__ADS_1


"Kau bosnya, apa yang salah dengan sedikit istirahat?"


Berbeda dari Jessica yang merengut, Demian terlihat santai-santai saja. Dia seperti pria yang tidak punya tujuan di hidupnya. Di sana, di hadapan Jessica, Demian mengukirkan namanya sendiri di kulit Jessica dengan jari telunjuknya.


Tanda kepemilikan, pikir Demian. Jessica adalah miliknya.


"Aku mau mandi," keluh Jessica. Ia mendorong pundak Demian dan berusaha bangkit dari pangkuan pria itu yang sudah menjadi sumber nestapa di pinggulnya.


"Boleh aku bergabung?"


Jessica lalu menoyor kepala Demian, "Jangan menggangguku lagi," kecamnya garang. "Dan kalau kau masih mempunyai sedikit kewarasan, aku harap kau membersihkan kamarku seperti sedia kala."


Kendati Jessica memprotesnya dengan ekspresi murka, Demian tetap duduk nyaman di sana. Tangan bersilang di dada. Ia memantau bagaimana Jessica memungut satu-persatu pakaiannya yang luruh di lantai.


Senyum yang terpatri di paras Demian saat itu menyiratkan jelas bagaimana ia merasakan kepuasan. Ia begitu puas karena telah berhasil membuat Jessica kehilangan kendali atas dirinya sendiri.


Dia terlihat menggemaskan dan manis. Dia memang terasa manis.


*


Menutupi jejak merah di lehernya, Jessica turun ke Elixir dengan atasan turtle neck berwarna hitam. Ia menyapa Ethan dan Dania dengan seulas senyum masam.


"Selamat siang," sapa Jessica. Ia merasa bersalah sudah lupa waktu.


Walau seperti kata Demian, dia adalah bos di sana, Jessica tidak merasa nyaman ketika alasannya meninggalkan pekerjaan adalah untuk berhubungan badan seharian. Itu menjijikkan. Apa dirinya binatang?


"Elli membuatkanmu waffle tadi, tapi karena kau tidak turun, Dania memakannya."


Dania hendak menyumpahi Ethan atas ucapannya yang blak-blakan, tapi Jessica menyela dengan kibasan tangan. "Tidak masalah," sahut Jessica. "Aku memang sedikit tidak enak badan, jadi aku tidak bisa turun tepat waktu."


"Jessica, apa kau sakit?" Elliot datang dari arah dapur sambil membawa sepiring makanan. Dia meletakkannya di depan tempat duduk Jessica.


'Maafkan aku, Elli.' Jessica mengatup bibirnya rapat-rapat. Rasa bersalah menyergap Jessica ketika ia harus berbohong kepada teman-temannya. Padahal teman-temannya tulus mencemaskannya. Ah, semua ini karena Demian sialan!


Hari itu, kendati tubuh Jessica lelah luar biasa, ia tetap membantu di cafe sampai sore. Jessica merasa bersalah sudah berbohong, jadi ia akan menganggap lemburnya sebagai pelunas kesalahan.


Dania yang menemani Jessica, memperhatikan sahabatnya tersebut dengan kening bertaut. Ia beberapa kali memberitahu Jessica agar beristirahat saja, tapi Jessica menolaknya. Dania takut Jessica akan pingsan karena tadi siang dia mengatakan sedang tidak enak badan. Ethan juga berbagi kecemasan yang sama ketika sesekali ia mendapati Jessica mengatur napas lelah.


"Aku baik-baik saja," jawaban Jessica masih sama ketika untuk kesekian kalinya Ethan menegur Jessica mengenai kondisinya. Jessica tidak lelah bekerja. Tubuh Jessica lelah karena apa yang terjadi semalam dan tadi pagi menciptakan nyeri di punggungnya.


"Kau yakin kau baik-baik saja?"


Jessica menoleh ketika suara ramah menyapanya dari belakang. Oscar datang lagi, dan kali ini ia tampil seperti tamu yang berkunjung dari Hawai. Kemeja floral lengan pendek, celana berwarna putih di atas lutut. Sebuah kacamata hitam menopang poni hitamnya, menjadi bandana.


"Oscaaar?" Jessica terkejut atas penampilan Oscar yang sangat--abnormal?


Tidak, bukan berarti cara berpakaian Oscar adalah sebuah kelangkaan. Di Vegas, kebanyakan turis berpakaian seperti ini di jalan. Karena sekarang adalah musim panas, baju longgar dan pendek adalah kewajaran. Yang tidak wajar adalah pengguna baju itu sekarang.


Oscar kerap muncul di Elixir dengan penampilan semi formal. Dia selalu ditemani kemeja, celana panjang dan sepatu kulit yang mengkilap elegan. Jessica tidak mengira Oscar akan muncul di hadapannya dengan stylist dan segar.


"Apa aku aneh?" Oscar mundur selangkah dari Jessica dan memutar tubuhnya. "Aku mencoba sesuatu yang baru hari ini."


"Tidak, tidak." Jessica menyadari caranya menatap Oscar pasti berlebihan. Pria itu mungkin tidak nyaman.


"Maafkan aku, aku hanya terkejut. Ah, maksudku, kau habisnya..., agak berbeda, tapi itu tidak berarti buruk sama sekali. Kau keren, itu...ah..." Jessica jadi belepotan.


Oscar tertawa ringan. Sambil melangkah ke sisi Jessica dan duduk di atas barstool yang menghadap konter, Oscar juga membuat pesanan kepada Ethan.


"Kau juga tampil berbeda hari ini," kata Oscar lagi. "Itu tidak bermaksud buruk, oke?"

__ADS_1


"Oh-Oke." Jessica merona saat Oscar membalikkan kata-katanya. "Aku hanya kurang sehat hari ini."


"Kalau kau kurang sehat, kau sebaiknya beristirahat. Dengan begitu, sakitmu tidak akan memburuk." Oscar memberikan pendapat. "Iya kan, Ethan?"


Ethan mengangguk setuju. "Aku sudah mengingatkannya berulang-ulang."


Mungkin karena Oscar sudah menjadi reguler di Elixir, entah bagaimana, dia menjadi cukup dekat di lingkaran pertemanan Jessica. Ia bertukar kata dengan entengnya bersama Oscar, sesekali juga ia menyapa Dania, dan Elliot pun kerap menyapanya ketika pria itu keluar dari sarangnya di dapur.


"Tunggu," Oscar tiba-tiba menahan Jessica, seolah-olah Jessica yang berdiri di sebelahnya akan menguap di udara bila ia tidak menghentikannya. "Apa ini penyakit lain?"


"Y-ya?"


Oscar mengerlingkan matanya ke arah Jessica, terlihat misterius dan jenaka. "Kau tau..., apa lagi kalau bukan penyakit patah hati?"


"HAH?" Jessica kelepasan dalam memberikan tanggapan.


"Apa salah?" Oscar bertingkah seakan-akan ia terperangah. Namun, jauh di balik topengnya yang memamerkan keramahan, Oscar tau apa yang terjadi pada Jessica.


Selembar kain tidak akan mampu menyembunyikan rahasia Jessica dari Oscar. Pria itu sudah menghabiskan masa remajanya di casino. Ia tau ketika seseorang menipunya, baik itu dari gestur tubuhnya atau suaranya.


Ia sangat tau apa alasan Jessica meringis ketika ia duduk di bangkunya, mengenakan turtle neck di musim panas, bahkan ketika Jessica sesekali mengurut belakangnya sendiri. Sungguh kasihan, Demian pasti mengerjainya semalaman.


"Mana mungkin Jessica patah hati." Ethan ikut membuka suara. "Kau tau sendiri dia anti-romantis, kan?"


"Aaaah, benar juga." Oscar menepuk meja ringan. "Aku hampir lupa kalau aku pernah mendebatnya mengenai permasalahan asmara."


"Lagipula, kalaupun aku patah hati, itu tidak akan mempengaruhi caraku berpakaian." Jessica tersenyum masam.


"Itu bisa mempengaruhi," kata Oscar kemudian, menyangkal penyangkalan Jessica. "Seperti aku misalnya, aku mencoba mengganti gayaku agar mood-ku sedikit segar daripada belakangan."


"Kau..., apa kau patah hati?"


Oscar yang berwajah babyface dan memiliki sepasang iris biru seindah samudera atlantik, patah hati? Kegilaan macam apa yang sedang terjadi di muka bumi ini? Setelah Jake, sekarang Oscar?


"Apa kau ditolak Selena Gomez?" Jessica membuat lelucon dalam keterpanaannya. Mustahil ada wanita di luar sana yang ingin mematahkan hati seorang Oscar Brown. Pria itu tampan, mapan, dan berkerpibadian menyenangkan. 


Apalagi yang kalian inginkan wahai wanita yang sudah beruntung mendapatkan Oscar? Apa keberadaannya saja tidak cukup untuk membuatmu bersujud syukur?


Oscar menopang dagunya, seolah jantungnya sudah diiris oleh seribu mata pisau. Seolah-olah ia memiliki hati untuk dipatahkan. Mengenaskan.


"Kau tau..., kehidupan asmara hanya untuk sosok yang kuat saja. Kurasa, aku tidak ingin mencoba lagi untuk sementara. Hatiku sudah remuk sepenuhnya."


"A-apa seburuk itu?" Jessica sepenuhnya tertipu dalam drama itu.


Oscar mengangguk sayu. "Ini hanya sebuah kisah klise, Jessica. Hanya cinta segi tiga yang bukan aku pemeran utamanya."


"A-ah..." Perasaan iba melingkupi Jessica. Ia mengingat bagaimana situasi itu pernah terjadi di hadapannya. Ketika Demian ditolak oleh Angela, Jessica merasakan keprihatinan yang sama.


"Mungkin yang salah adalah aku," ujar Oscar lagi. "Karena aku sudah menyerahkan segalanya, ketika dia tidak memilihku, aku merasa begitu kecewa. Semuanya adalah salahku."


'Bagaimana dengan itu?' gumam Oscar di kepalanya, ia menatap Jessica dengan harapan gadis itu akan merasakan familiaritas dalam ceritanya dengan hubungan Jessica dan Demian sekarang. Ia ingin gadis itu terbenam dalam keraguan dan ketakutan, itu menyenangkan.


Oscar lalu melanjutkan, semakin muram. "Aku pikir, ketika dia terus berlari ke arahku, dia akan menaruh hatinya padaku. Aku terlena pada kehangatan yang kami bagi berdua, tidak menyadari kalau hatinya tidak akan pernah tertuju padaku sama sekali."


Senyum Jessica yang dimaksudkan untuk memberi ketenangan dalam diri Oscar perlahan-lahan memudar. Ekspresi Jessica seperti rembulan yang tertutup awan, kelam-redam.


"Andai saja aku mendengar nuraniku saat itu," tambah Oscar sekali lagi. "Bahwa, dia tidak akan pernah mencintaiku, aku mungkin tidak akan memegang harapan apa pun. Aku tidak akan terluka."


*

__ADS_1


__ADS_2