MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
30. Dania, Oh, Dania.


__ADS_3

Pening luar biasa. Untuk sekedar membuka mata saja, Jessica membutuhkan usaha yang luar biasa. Ia merasa otot-otot yang berguna sebagai penggerak kelopak matanya sekarang sedang dalam mode malas.


Unggghhh~


Jessica mengerang sambil meregangkan kaki-kaki, lengan dan otot-otot di tubuhnya seperti kucing yang melakukan peregangan.


Hah, jam berapa sekarang?


Dengan pertanyaan baru muncul di benaknya, Jessica lalu menggapai-gapai nakas di sebelah tempat tidurnya. Mencari jam digital atau ponsel yang tunggu...,


'Kapan aku pulang?' Jessica--dengan mata yang masih menyipit dan berusaha beradaptasi dengan cahaya, memperhatikan langit-langit kamarnya yang familiar. Dia berada di kamarnya sekarang.


Apa itu berarti Jake yang mengantarnya pulang?


"Ugh..." Kening Jessica mengernyit sakit ketika pening akibat hangover kembali menusuk kepalanya. Memutar dunianya.


"Seseorang sepertinya bersenang-senang." Sebuah suara menyapa Jessica, entah dari mana.


"Apa aku terlihat bersenang-senang sekarang?" sahutan Jessica keluar otomatis.


Jessica baru menyadari kalau seseorang menegurnya, berada di kamarnya, ketika ia menapakkan kakinya di lantai yang dingin. Seseorang itu, tentunya, siapa lagi, adalah Demian Bellamy.


Kenapa pria itu pagi-pagi di sini?


"Kapan kau masuk?" tanya Jessica. Ia memijit keningnya sendiri.


"Dari tadi," jawab Demian enteng.


"Kau seharusnya membangunkanku," keluh Jessica. Ia mengembuskan napas panjang, menyiratkan kelelahan.


Mendekati Jessica yang masih duduk bertengger di sisi ranjangnya, Demian pun menyerahkan segelas air dan sebutir obat di telapak tangannya kepada Jessica. "Minum ini," ujar Demian.


"Ini?"


"Obat kuat."


"Huh?"


"Tolol. Ini aspirin, apa lagi?"


Jessica mencebik. "Kau tidak akan mati kalau kau berbicara baik-baik, idiot!"


Meskipun jengkel dengan cara penyampaian Demian yang terkesan kejam, Jessica tetap menerima sebutir aspirin tersebut dan meminumnya. "Terima kasih," ucap Jessica setelahnya.


"Mandilah dan hapus tatto bodoh itu dari kulitmu." Demian lanjut memerintah.


"Tatto?" Oh, benar juga. Jessica membuat tatto kembar dengan Jake. Jessica baru mengingat hal itu ketika Demian mengungkitnya. "Kenapa harus dihapus. Ini imut, bukan?"


"Imut kakiku."


"Aku tidak tau apa masalah hidupmu, tapi berhenti marah-marah. Ini masih pagi. Aku tidak mau merusak suasana hatiku dengan berurusan dengan kelabilanmu."


"Pagi, ya? Aku tidak tau kalau jam sebelas masih terbilang pagi bagimu."


"Jam sebelas?" Serius?


"Kau terlalu nyaman bergulung di dalam selimutmu, kau sampai melupakan waktu."


"Sheesh!!! Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Aku harus membantu di cafe sekarang..."


Mengabaikan Demian yang masih berdiri di dekatnya, Jessica bangkit dari tempat tidur dan melenggang panik menuju kamar mandi. Dia sampai lupa membawa baju ganti. Demian memperhatikan gadis itu menghilang di balik pintu kamar mandi dengan gelengan sinis.


"Kalau kau tau kau akan sangat sibuk hari ini, kau seharusnya tidak membuang waktumu dengan Jake keparat itu!" Demian bermonolog buruk.


Tadi malam, setelah mengantar Angela pulang, Demian langsung melaju menuju Elixir. Ia mendaki balkon kamar Jessica dengan harapan bisa mencecar gadis itu mengenai keberadaannya hari ini. Namun, setelah ia tiba di kamar Jessica dan menemukan gadis itu beristirahat dengan nyenyak, Demian mengurung niatnya.

__ADS_1


Demian berbaring di samping Jessica sepanjang malam. Ia mengistirahatkan tubuhnya di sana kendati isi kepalanya tidak mau beristirahat sama sekali. Isi kepala Demian di penuhi Jessica.


Pertanyaan-pertanyaan menyangkut kemana perginya gadis itu seharian mengacaukan pikiran Demian. Ditambah lagi, tatto di pergelangan tangan gadis itu...


Ugh, sejak kapan Jessica mencoret-coret tubuhnya? Apa itu pengaruh Jake? 


Apa bersama Jake sangat menyenangkan sampai dia kehilangan kewaspadaannya saat bersama si bajingan itu? Apa dia tidak takut bila Jake akan memanfaatkan tubuhnya yang mabuk dan melecehkannya? Situasi buruk bisa terjadi, tau!


"Menjengkelkan, sangat menjengkelkan." Demian mengutuk isi kepalanya yang dipenuhi oleh Jessica.


*


10 menit kemudian, Jessica keluar dari kamar mandi dengan wajah bersemu merah.


Demian tau alasan dari rona itu, apa lagi kalau bukan karena Jessica yang keluar hanya mengenakan handuk saja?


Belakangan, ketika Demian kerap mengunjungi Jessica dan menginap di sana, gadis itu selalu konsisten untuk berganti baju di kamar mandi.


Dia cukup pemalu dalam hal menunjukkan tubuhnya. Padahal Demian tidak merasa ada hal yang memalukan di sana. Jessica mempunyai porsi tubuh yang proposional, dia seharusnya bangga mempunyai tubuh ideal yang tanpa cacat dan luka.


"Aku lupa mengambil pakaianku," kata Jessica.


Pengakuan itu tidak perlu, tapi ia mengatakannya untuk meredakan kegugupan dan rasa malu yang membuncah di dadanya.


Untung saja sekarang sudah menjelang siang. Jika ini malam, Demian tidak yakin Jessica akan berada di posisi aman. Demian tidak yakin kalau ia mampu mempertahankan kewarasannya. Terlebih ketika Jessica tampil menggemaskan dengan wajah yang memerah sempurna.


Tengkuk polosnya yang mengalirkan air dari rambutnya juga...,


Oh, betapa Demian ingin menjadi handuk yang mendekap Jessica. Memikirkan kalau air di tubuh gadis itu menyentuh kulitnya, sial...


Dari mana datangnya imajinasi hewan ini?


Setelah memilah dan memilih baju yang akan dia pakai, Jessica kembali mengunci dirinya di kamar mandi.


*


"Ke-kecupan cinta?" Mana mungkin. Demian mana mungkin berani menyentuhnya ketika ia tertidur. Itu tidak masuk akal. Itu sama saja Demian melakukan pelecehan.


Eh, tunggu..., apa mereka membahas Demian? Apa Dania tau Demian berada di kamarnya?


"Kau tau, apa pangeran Jake Allendale mengirimkan pesan cinta kepadamu..., seperti 'Good morning my beauty~'. Ahahaha." Dania kembali tertawa. "Romantisnya..."


"Tunggu, apa maksudmu..., Jake?"


"Siapa lagi, idiot?" Dania memiting leher Jessica dan menarik sobatnya itu agar duduk di sampingnya.


"Sejak kapan kau menjalin hubungan dengannya? Kenapa kau tidak pernah cerita? Aku nyaris stroke saat melihat Jake memapahmu turun dari taksi, oh, ditambah lagi kalian berdua menghabiskan seharian bersama...Kyaaaaa..., Jessica, apa musim semi sudah mendatangimu lebih awal?"


"Dania kau berlebihan..." Jessica tertawa hambar atas tudingan yang ditunjukkan Dania untuknya. Itu sangat tidak masuk akal. "Aku dan Jake tidak berkencan atau menjalin hubungan apa pun, oke?"


"Hei, kau tidak berniat menyembunyikan informasi itu dariku, bukan?"


"Aku serius, aku tidak..." Ucapan Jessica terjeda ketika matanya tanpa sengaja menangkap sosok Demian yang juga menghampiri meja bar. Pria itu mengambil tempat duduk yang biasa ia duduki. Tidak begitu jauh, tidak pula begitu dekat.


Dania turut menoleh dan terkesiap.


"Se-selamat datang di Elixir," sapa Dania. Dia sepertinya terlalu asik menggoda Jessica sampai tidak menyadari kedatangan Demian.


"Kau datang cukup siang hari ini," Ethan menyapa Demian. Biasanya, Demian hanya datang pagi dan malam. Tidak pernah di antaranya.


"Aku melewatkan malam yang berat dengan seseorang..., aku baru bisa pergi sekarang." Demian lalu menoleh ke arah Jessica. "Situasi yang sama sepertinya juga terjadi padamu."


"Bos kami tidak menghabiskan malam yang berat, dia menghabiskan satu hari penuh yang menyenangkan. Iya kan, Bos?" Dania mendahului Jessica.


"Kemana kalian pergi? Kau pergi dari jam sepuluh pagi dan pulang pukul sepuluh malam..., apa hotel? Apa kalian pergi ke hotel?"

__ADS_1


"Daniaaa?"


"Oho? Apa yang kau pikirkan sampai wajahmu merona? Maksudku adalah makan malam di hotel, Jessica..., apa kau memakan sesuatu yang lain di sana?"


Jessica mencebik. "Aku dan Jake tidak singgah ke hotel mana pun. Apa kau sinting?"


"Eh, kenapa?" Dania jadi sedikit kecewa. Ia menoleh ke arah Demian yang menikmati kopi hitamnya dalam ketenangan. "Kalau kau pergi berkencan, kau seharusnya singgah ke hotel, kan?" tanya itu ditujukan untuk Demian.


"Pastinya," jawaban Demian membuat pipi Jessica semakin merah padam. Pembicaraan semacam ini membuatnya tidak nyaman.


"Apa jangan-jangan Jake bukan tipe pria yang akan melakukan itu di hari pertama berkencan, ya?"


"Sudah kubilang kami tidak berkencan." Demi Tuhan, Jessica ingin menyelam di dalam bak cuci piringnya sekarang.


"Jake yang kalian bicarakan, apa Jake Allendale?" Demian pura-pura idiot. Jessica tau dia berpura-pura.


"Mm. Kau tau, rivalmu..., ups." Dania spontan menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Aku harap ucapanku tidak menyinggungmu."


"Tidak, mana mungkin. Meskipun ucapanmu menyinggungku, kau masih mempunyai kebebasan untuk bicara."


"Y-yah, baguslah kalau begitu."


'Dania, jangan tolol, please? Ucapan Demian itu sarkastik. Dia akan mematahkan lehermu kalau kau bicara sembarangan!' Jessica membatin penuh keputus-asaan. Tuhan, tolong lindungi Dania dari monster berwajah tampan itu!


"Maafkan aku sedikit tidak sopan, aku Dania." Dania memperkenalkan dirinya pada Demian.


"Kau Demian, bukan? Aku cukup mengenal tamu-tamu kami, tidak..., lebih tepatnya aku sering mendengar Angela menyapamu 'Demian, Demian' setiap kau di sini. Ahahaha."


"Hahaha, begitu rupanya." Demian turut tertawa. "Kau sepertinya sangat perhatian pada situasi yang terjadi di sini."


"Tentunya, itu adalah pekerjaanku." Dania menjawab Demian dengan sedikit kesombongan. "Kau tau, dulu..., ketika kau baru-baru kemari, kami semua sangat takjub pada..."


"Da-Dania!" Jessica melebarkan mata. Jangan mengucapkan sesuatu yang bodoh, idiot!


"Takjub kepada apa?" Demian menarik perhatian Dania kembali. Ia tidak akan membiarkan Jessica menutup mulut sahabatnya tersebut.


"Takjub pada..." Dania menjadi heran, mengapa Jessica bereaksi berlebihan? Padahal Demian kelihatan santai-santai saja.


"Kami cukup takjub pada..., visual kalian. Penampilan..., semacam itu. Kau tau, wajah kalian cukup di atas rata-rata bukan? Kami sempat mengira kalian adalah model. Hehehe."


"Hmmm, aku percaya Jake sering memperoleh pertanyaan seperti itu." Demian bertopang dagu. "Tapi aku, kurasa aku tidak cukup menakjubkan."


"Jangan merendah begitu..." Dania menarik Jessica ke dalam rangkulannya. "Bosku ini adalah fans nomor satu wajahmu!"


Tamat. Tamat sudah nasib Jessica. Segala harga dirinya dan pencitraannya, semua itu runtuh di tanah. Dania sudah mengungkapkan jati diri Jessica yang sesungguhnya, sudah tidak ada jalan kembali dari sini.


"Benarkah? Aku merasa sangat tersentuh." Sorot mata Demian menajam dalam ketakjuban. Informasi itu seperti harta karun.


"Asal tau saja, ketika kau dan Jake berebutan perhatian Angela di sini, aku dan Jessica sampai bertaruh mengenai siapa yang akan Angela pilih. Aku menang tentunya, karena aku memilih Jake. Tapi bosku, dia tetap mendukungmu sampai akhir."


"Hmmm..., sangat menarik, apa yang kalian pertaruhkan? Maksudku, aku merasa bersalah sudah membuat bosmu kalah dalam pertaruhannya?" Demian menaruh perhatiannya kepada wajah Jessica yang memerah.


"Jessica mempertaruhkan sepuluh strawberry kalau kau akan menang, dan sekedar informasi, Jessica sangaaaaaat menyukai strawberry. Sayang sekali."


Dania mengobrol santai dengan Demian di sana. Tidak menyadari kalau ucapannya telah membuat Jessica menyusut takut. Jessica menutup wajahnya dalam telapak tangan, menghindari lirikan Demian yang sesekali jatuh ke arahnya.


Jessica takut dia akan dibunuh oleh Demian. Huhu!


Bagaimana perasaan Demian bila mengetahui kalau kisah asmaranya yang penuh lika-liku dan nelangsa, malah menjadi bahan taruhan oleh dua gadis berpemikiran dangkal? Demian pasti menganggapnya tidak berperasaan.


Jessica jadi merasa bersalah. Ya Tuhan!


Jika Dania akan dibunuh oleh Demian, Jessica sudah tidak merasa keberatan!


*

__ADS_1


__ADS_2