
Ia terus teringat saat-saat yang membuatnya geram beberapa waktu sebelum latihan.
'Ooo ... jadi beginiii cara mainnya ... ' gumam Susan dalam hati, mendapati udang dibalik batu.
Winnie dengan sengaja menaruh urutan namanya diatas nama Adi, yang notabene adalah pria yang sudah menjadi kekasih sahabatnya sendiri, Susan. Usia Adi 'pun terbilang jauh lebih muda, cukup tampan, dengan paras belasteran.
Sebagai sebuah pengalaman bagi Susan, jika kekasih dibiarkan begitu saja. Bukan tidak mungkin, terjadi kisah tikung-menikung antar teman kalau pacar terlihat menggiurkan.
Dicky (21), sahabat Susan sedari masa SMP. Parasnya tampan, bertubuh tinggi, dengan garis keturunan Betawi-Inggris. Dicky seorang mantan kapten basket saat keduanya mengemban pendidikan di sekolah yang sama.
"Teman tak tau malu, ambil saja kalau kau suka ... habiskan sekalian! jangan lupa tulangnya kasih kucing!" Susan mengutuk pelan.
Tapi kuurungkan karena akan sia-sia saja, pasti dia lebih dulu curhat!' gumam Susan saat membaca pesan dari sahabatnya, Dicky..
'Kenapa membuang muka, Winnie ..., canggung? atau merasa bersalah?' kata-kata itu muncul dalam benak Susan yang melihat ekspresi Winnie yang berbeda dari biasanya.
'Ah! sial kena juga kakiku!' gumam Susan. Saat mendapat serangan di kaki oleh lawan tanding dalam latihan karate kali ini. Rasa tidak terima dalam hatinya, kala menghadapi sahabatnya yang bertubuh tinggi, Winnie. Atau ... pernah jadi sahabat, lebih tepatnya.
Tekad kuat Susan kali ini adalah mengalahkan Winnie. Selain terpancing emosi, untuk pertama kalinya ia tidak ingin lengah semata-mata takut menyakiti tubuh sahabatnya sendiri. Anggaplah ini sebuah latihan karate, sudah jelas tidak akan membuatnya pingsan, menurut Susan.
'Sekadar tendangan tidak akan menyakitinya bukan? hahaha,' gumam Susan dalam hati.
Dalam situasi seperti ini sekiranya Winnie dengan mudah melepaskan serangan pukulan atau tendangan yang mungkin tidak dapat terelakkan. Tapi tubuh kecil bisa lebih gesit bukan? Hanya itu yang terbesit dalam pikiran Susan.
Saat menambahkan namanya di urutan absen
'Sedikit dendam manis kulancarkan pada
Dan kali ini, Susan membiarkan Adi memilih tindakannya sendiri.
Susan tidak merasa berhak menentukan apa-apa, kala ia pun tidak bisa memberikan perasaan sepenuhnya untuk Adi. Pilihannya adalah, mengikuti permainan Winnie, atau membiarkannya begitu saja.
****
__ADS_1
Sesaat menunggu kendaraan umum usai pulang latihan sore itu, pesan masuk ke ponsel Susan.
Dicky [ San, pulang latihan aku kerumahmu ya! ]
'Hhh ... dasar tokek! bisa-bisanya mengganggu waktu istirahatku, setengah mati rasanya aku pun ingin cerita pada Dicky tentang hari ini. tepat dibawah nama Adi. Hal sepele yang membuatnya puasdan kini, keduanya pun berada di Universitas yang sama. Entah siapa yang posesif, hanya mereka berdua yang kala itu.
menusuk dari belakang. Memintanya, untuk mendekatkan Winnie dengan Adi, tentunya, atas permintaan Winnie sendiri
Mereka berdua tumbuh di lingkungan yang sama, tahu kenapa sulit untuk dipisahkan.
"Ada apa lagi ..., tokek!" ejek Susan dengan nada malas dan enggan membuka mata.
"Kok tau? aku kan belum bilang Assalamualaikum! kalian ini ... anak psikologi belajar perdukunan, ya?" ucap Dicky, sambil tersenyum kecil.
"Gak usah bawa-bawa bidangku. Mana ada tamu datang pake manjat balkon orang, kalo dilihat tetangga lain gimana? dikira maling kamu!" ucap Susan. Ia sigap bangkit dari rebahnya dengan sangat terpaksa, dan duduk terhuyung di sisi tempat tidur.
"Biar sensasinya beda, pangeran juga manjat menara hahaha," balas Dicky.
Sesampainya Susan di rumah, ia kembali mempertimbangkan kedatangan Dicky yang nyaris tidak pernah absen untuk menemuinya kala waktu senggang, atau setelah pulang kuliah.
Susan merentangkan tubuh seluas-luasnya di atas tempat tidur yang ia idam-idamkan selama seharian ini.
'Nikmatnyaaa ... coba saja ada tukang pijit gratis kalau sedang lelah begini ... gak usah ahli pijat-memijat, asal ganteng saja sudah termaafkan hehehe.' canda Susan dalam pikiran.
Baru saja ia perlahan memejamkan mata, buyarlah sudah harapan untuk istirahat. Saat Susan mendengar langkah kaki berat yang menuju ke arahnya.
Susan mencoba membelalakan matanya yang lelah, lalu melirik ke arah pria berbadan bongsor yang berdiri bersandar, di ambang pintu kupu-kupu yang terbuka lebar.
"Yaaa yaaa ... lagipula percuma juga manggil kamu dari pintu depan, Kak edo juga gak akan dengar kalau sudah main game." ucap Dicky, sambil melangkah masuk.
Dicky meraih tas Susan yang tergeletak di sofa, dan melemparnya ke arah tempat tidur, kemudian ia duduk di sofa tunggal itu. Susan hanya terdiam, berusaha mengembalikan kesadaran.
Buat Susan, meskipun Dicky adalah sahabat sekaligus tetangga yang sudah dikenalnya bertahun-tahun sejak masa SMP, namun keduanya yang kini sudah tumbuh dewasa dan sudah wajib menjaga sikap masing-masing.
__ADS_1
Apalagi karena suatu kebiasaan, Dicky sering menyambangi kamar Susan yang berada di lantai dua, hanya sekadar bertemu dan bercakap-cakap berjam-jam lamanya. Bahkan, pernah sekali Dicky tertidur di teras balkon karena malas untuk pulang.
"Depan yuk!"ajak Dicky menunjuk ke arah balkon.
"Mau ngapain sih hah—?" ucap Susan malas.
"Pakai tanya-tanya, bangun ah! pemalas. Ayoo— !" Dicky menarik sebelah tangan Susan untuk membantunya bangun.
'Huuhh ... mulai lagi dia!' Batin Susan.
Diteras lantai dua itu, mereka bisa sanggup menghabiskan waktu selama berjam-jam sekadar untuk bercanda, dan berbagi cerita satu sama lain. Sambil memandang ke arah jalan, atau menggoda orang yang lewat di jalan depan rumah, dari kejauhan.
,
Dicky memang cukup menghibur perasaan Susan, sekaligus kadang menyebalkan, dengan tawa dan candaan konyolnya. Itulah sebabnya, Susan pantang mengecewakan Dicky, kala ia dibutuhkan, sekalipun dalam keadaan lelah.
Kegemaran Dicky terbilang aneh. Ia lebih suka datang melalui beranda kamar Susan yang berada di lantai dua rumahnya. Memanjat melalui pijakan tanaman rambat lalu menuju pilar penyangga balkon. Tapi hal itu hanya berani ia lakukan ketika kedua orang tua Susan sedang pergi keluar kota.
Entah apa obsesinya, tapi Dicky jadi terbiasa dengan cara seperti itu. Menyusahkan dirinya sendiri.
'Spiderman?? tentu saja bukan. Spiderman tidak bertubuh bongsor,' menurut Susan terhadap sahabatnya yang ganteng-ganteng sering gila itu.
Dicky memang lebih baik dari sahabat lain yang dikenalnya. Susan hanya memikirkan hubungan persahabatan ketimbang percintaan yang rumit, tentulah memuakkan baginya yang terbiasa punya pacar, kemudian dibiarkan begitu saja.
Beberapa teman pria 'pun, sering terlibat cinta lokasi karena kenyamanan saat berada bersama Susan yang bersikap apa adanya. Tidak memandang bagaimana pun sosok sahabatnya, tidak perlu tampan atau popular, cukuplah jika saling tulus.
Hingga detik ini Dicky lah yang selalu banyak mengisi kekosongan waktu.
'Daripada berteman dengan wanita yang selalu rumit dengan keluhan-keluhan tentang masalah percintaan serta persaingan, mereka seringkali drama kalau sudah jatuh cinta. Kecuali Dicky, dia memang ribet setiap waktu.' menurut Susan.
.
.
__ADS_1
Bersambung